
"Jam segini kamu belum bangun Sayang?" sapa seorang pria dewasa yang tampan sembari masuk ke sebuah kamar bernuansa biru muda. Lelaki itu duduk di samping tempat tidur dan berusaha membangunkan putrinya yang masih nyaman dalam tidurnya. Meskipun sinar matahari telah menerobos masuk melalui sela-sela jendela kaca. "Sayang, ayo bangun sudah pagi. Bukankah hari ini kamu ada ujian semester?" tanya lelaki dewasa itu lagi. Namun, gadis yang dibangunkan tidak ada pergerakan sama sekali.
Revandra adalah seorang pria dewasa yang masih lajang, bukan berarti belum menikah. Usianya kini menginjak tiga puluh lima tahun dan telah sukses menjalankan bisnisnya dalam berbagai bidang. Pria itu memiliki putri yang bernama Aliya, usia sembilan belas tahun. Revandra begitu menyayangi gadis kecil itu.
Revandra memanjakan Aliya dengan cara apapun yang diminta putrinya akan dikabulkan selama itu masih normal dan dibatas kemampuanya.
Tapi kenyataan yang sesungguhnya, Aliya bukanlah putri kandungnya melainkan anak dari seorang wanita yang dinikahinya lima belas tahun yang lalu dengan suatu alasan. Namun, perempuan itu meninggal dunia seminggu setelah pernikahan. Sejak saat itulah Revandara merawat dan menjaga Aliya layaknya putri kandungnya. Dia begitu menyayangi gadis kecil itu.
"Ugh ...," leguh Aliya sedikit bergerak.
"Come on, get up, Aliya. Kalau tidak, ayah akan menarikmu ke kamar mandi, lalu memandikanmu dengan air dingin," kata Revandra mengancam. Hal itu dilakukannya, karena dia tahu jelas kalau Aliya begitu anti mandi dengan air dingin. Apalagi di pagi hari.
"Please don't threaten me," kata Aliya sambil mengucak matanya.
"Bangunlah, aku tidak ingin kamu gagal dalam ujian semester ini. Cepatlah mandi dan berangkat ke kampus. Pak Aris akan mengantarmu," tutur Revandra.
"Ayah ..."
Gadis itu memelototi pria dengan jenggot halus di sekitaran wajahnya, lalu ia merai wajah tampan itu. Aliya mencoba mencari jawaban dari sana, mengapa bukan sang ayah yang mengantarnya. Melainkan seorang supir.
"Don't think too much. Hari ini akan ada tamu yang datang ke rumah, jadi aku tidak bisa mengantarmu," jelas Revandra, seakan-akan dia mengerti dari tatapan putrinya itu.
Dengan wajah kecut dan masam, Aliya melangkah masuk ke kamar mandi, Dia begitu kesal terhadap Revandra, demi seorang tamu ayahnya bahkan tidak mengantarnya ke universitas. Padahal hari ini adalah ujian semester tingkat pertama untuknya. Dia membutuhkan semangat dari sang ayah.
"Hum, dasar! Dia lebih memilih menemui orang lain dari pada mengantar putri semata wayangnya untuk kuliah," gerutu Aliya di dalam kamar mandi. 'Tamu seperti apa yang akan datang menemui ayah?' pikirnya.
Sebentar kemudin, Aliya telah selesai dengan aktivitasnya memperisapkan diri untuk ke universitas. Aliya berlari menuruni anak tangga. Di sana sudah ada Revandra sedang duduk di meja makan ditemani secangkir kopi hitam yang berbau harum, tidak lupa di samping cangkir kopi itu ada sebuah laptop untuk memeriksa pekerjaannya.
"Selamat pagi, Ayah," sapa Aliya berlari menghampiri Revandra, lalu mencium kedua pipinya.
__ADS_1
"Pagi, Sayang," jawabnya membalas kecupan putrinya seperti biasa.
Revandra kemudian menarik kursi untuk Aliya sembari menunggu pelayan menyiapkan makanan mereka. Tidak berselang waktu lama, pelayan membawakan makanan mereka. Ketika makan, Aliya tidak fokus pada makanan yang ada di hadapannya. Dia terus memandangi wajah tampan seorang pria yang berstatus ayah tirinya. Revandra yang melihat wajah putrinya penuh dengan pertanyaan, kembali menatap gadis itu dan berkata. "Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa aku sudah melakukan suatu kesalahan kepadamu, gadis kecil?" tanya Revandra menyelidik.
"You have changed," jawab gadis itu ketus.
"What do you mean, honey?" tanya Revandra semakin bingung.
"Ayah lebih memilih menemui orang lain dari pada mengantar Aliya ke universitas," ujar Aliya semakin ketus. Meski Revandra mencoba untuk menjelaskannya, gadis itu tidak menerima penjelasan apapun. "Aliya tidak mau tahu. Kalau ayah tidak mengantarku ke universutas, Aliya tidak ingin berbicara lagi kepadamu, ayah."
Melihat putri yang disayanginya merajuk, pria dewasa itu tidak tega, lalu seperti biasa dia benar-benar harus membatalkan janji untuk bertemu dengan tamu tersebut. Revandra menghela napas dalam-dalam, dan menghembuskannya secara perlahan pula.
"Baiklah, ayah akan mengantarmu ke universits."
Demi putrinya, Revndra terpaksa mengalah saja.
"Is it true?" tanya Aliya kegirangan.
'Emma? Siapa Emma? Ah, mungkin itu salah satu rekan bisnis ayah,' pikirnya. Sebebarnya. Aliya sedikit kaget mendengar nama Emma disebut oleh ayahnya. Gadis itu bahkan melamunkan bagaimana wajah yang bernama Emma itu.
Aliya terkejut dari lamunannya ketika ayahnya bertanya jam berapa dia akan pulang, sampai-sampai sendok yang berada di tangannya terpental dan tidak sengaja mengenai baju Revandra. Gadis itu langsug beranjak dari tempat duduknya, lalu mengambil tissu, baru membersihkan kemeja Revandra.
"Sorry, i did not mean it," ucapnya sibuk mebersihkan kemeja pria dewasa itu. Aliya kemudia mendongak, mencari tahu apakah ayahnya marah atau tidak. Bibir mereka hampir saja bersentuhan, karena ketika mendongkak wajah Aliya begitu dekat dengan wajah Revandra. "Ayah, maafkan Aliay." ucapnya sekali lagi
"Sudahlah, kamu juga tidak sengaja kan," sahut Revandra. Gadis itu kemudian merangkul leher Revandra, lalu memeluknya.
"Sungguh?
"Em ... Jawabnya singkat"
__ADS_1
"My dad is the best," ucap Aliya sambil melayangkan kecupan di pipi kiri dan kanan pria dewasa itu.
Setelah selesai makan, Revandra mengantarkan Aliya ke universitas. Sebelum turun dari mobil Aliya meminta sesuatu kepada Revandra. Gadis itu meminta Revandra mengizinkannya untuk belajar menari
"Baiklah. Nanti aku akan mencarikan tempat les menari untukmu," kata Revandra.
" Oh, my Father ... thank you so much," ucap Aliya.
"Lalu, jam berapa kamu pulang?" tanya Revandra.
"Mungkin sekitar jam satu. Nanti hubunhi supir untuk menjemput," jawab gadis itu.
"Okay, kamu harus langsung pulang. Jangan berkeliaran ke mana-mana."
"Baik, ayah," jawabnya Aliya sembari berlari melambaikan tangan kepada ayahnya.
***
Di sebuah tempat duduk berbatu aliya duduk. Dia melepaskan tasnya, lalu menaruhnya di meja yang berbatu pula yang sengaja disediakan bagi para pelajar untuk beristirahat sambil mengerjakan tugas atau apapun itu.
"Aliya ...," sapa Aren, teman seuniversitasnya. "Ayahmu begitu tampan ya, Aliya. Bisa kamu kenalkan padaku?"canda Aren. "Meskipun usia kita dengan ayahmu terpaut enam belas tahun, ayahmu masih tetap tampan ya? Aku rela kalau dia mau jadi sugar daddy buat aku," celetuk Aren kemudian.
Aren adalah seorang gadis yang saat ini tengah dipelihara oleh seorang sugar deddy demi membantu kehidupan sehari-harinya, yang memang dia hanya anak yatim piatu.
"Sugar daddy apa, Ren?" tnya Aliya polos. Sungguhpun dia tidak mengerti apa maksud dari kata sugar daddy. Aren kemudian menepuk jidatnya. 'Oh, Aliya. Kamu sungguh gadis yang polos. Sugar daddy pun kau tidak tahu' batin Aren.
"Aliya, kata sugar daddy saja kamu tidak tahu? Sudahlah, Al. Suatu saat nanti kamu juga akan tahu."
Aren tidak ingin menjelaskan apa itu sugar daddy pada Aliya. Dia berfikir tidak ada gunanya menjelaskannya. Toh Aliya adalah gadis yang begitu polos dan tidak mengerti apa-apa tentang hal-hal yang berbau seperti itu. Sementra Aliya yang tak mengerti apa itu sugar daddy, membuat rasa ingin tahunya berkecamuk di dalam otaknya. 'Ah, nanti kutanyakan saja pada ayah,' pikirnya.
__ADS_1
******