
Hari yang di tunggu-tunggu Revandra akhirnya tiba, di usia Aliya yang genap dua puluh tahun, akhinya bisa mendaftarkan pernikahan mereka. Begitu pula dengan Aren dan Andre, berbeda dari Revandra dan Aliya, Aren dan Andre tidak mengadakan resepsi.
Di sebuah kamar rias pengantin Aliya duduk di depan cermin, memandangi dirnya yang begitu cantik dengan gaun putih yang melilit di tubuhnya.
"Kamu cantik sekali Al." Puji Aren yang terpesona dengan kecantikan Aliya.
"Aku juga merasa begitu."
Pintu kamar rias itu terbuka, dan masuklah sesosok pria yang Aliya rindukan.
"Selamat atas pernikhanmu gadis cantik.!"
Aliya kemudian menoleh dan berlari kecil ke arah pria itu. Dengan sergap ia memeluknya,
"Kak Axcel."
"Ya, aku kembali."
Axcel kemudian melayangkan sebuah kecupan hangat pada kening Aliya, dan Aren hanya diam menyaksikan pemandangan itu, toh ini untuk yang terakhir kalinya, setelah ini, mereka sudah tidak bisa sembarangan lagi. Kemudian pintu kamar rias kembali di buka, dan Revandra yang sudah mengenakan setelan jas masuk menghampiri mereka.
"Selamat presedir Revan." Ucap Axcel sambil mengulurkan tangannya.
"Terimah kasih Axcel, andai saja waktu itu kamu tidak ada, mungkin saja aku sudah kehilangan Aliya."
"Sudahlah, itu sudah tugasku melindunginya sebagai seorang yang di anggap saudara oleh Aliya.
"Baiklah, kalau begitu mari kita kelur, para tamu sudah menunggu kita."
"Ok.
__ADS_1
Aliya keluar sambil mengandeng tangan Revandra yang sudah ia nikahi, tak sedikit para wanita-wanita menatap Aliya dengan tatapan sinis karna bersanding dengan Revandra yang menjadi idola di antara kaum wanita-wanita cantik. Lain dengan para istri-istri pebisnis yang berebut memperkenalkan diri dengan keramahan yang sama sekali tidak menarik perhatian Aliya, karna gadis itu tahu, meraka semua hanya bersikap palsu padanya.
Sejak dulu, Aliya lebih memilih sendiri dari pada berteman dengan orang yang memiliki maksud hati, dulu waktu sekolah, saat semua teman sekolahnya tau bahewa Aliya memiliki ayah setampan Revandra, banyak perempuan mendekatinya, menawarkan sebuah pertemanan yang ujung-ujungnya hanya ingin mendekati sang ayah. Dan kini semua orang berlomba mendekatinya ketika tahu bahwa keluarga Aliya bukanlah orang sembarangan, Meskipun Mintle grup tidak sehebat Gramentha, tapi tetap saja Mintle grup masih sangat berkuasa di bandingkan dengan pebisnis yang lain.
"Pegal ya.?" Revandra yang seakan tahu bahwa sang istri sedang kelelahan, memilih memapahnya ke sebuah kursi yang tidak terlalu jauh dari posisinya. Membelah kerumunan, yang sejak tadi sok akrab demi menarik perhatian, entah itu perhtian Revandra atau perhtian Reyno sebagai pemimpin grup Mintle. Yang jelas Aliya sangat risih, namun ia beruntung karna Revandra mengerti dengan keadaannya.
"Tahu akan seperti ini, sebaiknya tadi kita duduk di pelaminan untuk menunggu orang-orang yang menghampiri kita.
"Tapi itu akan membuat kita lebih lelah Ay.! tamu undangan tidak akan ada habisnya, mengingat Siapa kamu dan papa."
Alasan Revandra untuk mengambil konsep resepsi yang menghampiri tamu dari pada menunggu di pelaminan, karna tadinya Revandra ingin beramah tama pada tamunya, menyambut sebagaimana tuan rumah pada umumnya. Tapi ternyata, tamu-tamu terlalu penasaran dengan hubungn Aliya dan Revandra sebelumnya hingga berakhir dengan sebuah pernikahan yang tidak di duga.
***
Resepsi yang berjalan cukup lancar, meski di mulai dengan sedikit kehebohan pernikahan Aliya dan Revandra. Kini Revandra dan Aliya masuk ke kamar. Aliya dan Revandra tentunya sangat lelah, terlebih lagi malam yang kian larut, Tapi nyatana malam yang tidak lagi panjang itu tidak bisa keduanya sia-siakan, sebab kebutuhan yang sejak tadi meminta pelepasan. Hingga akhirnya, malam pertama untuk yang kesekian kali itu, menjadi aktifitas sepasang pengantin itu lakukan hingga menjelang pagi dan bangun saat matahari sudah berada di atas kepala.
huek... huek...
Aliya memuntahkan isi perutnya yang belum terisi apapun, terakhir gadis itu makan semalam sebelum tidur, hingga hari sudah siang, ia belum makan sedikitpun, bahkan air putih belum ia teguk, semua gara-gara Revandra yang terus-terus mengaulinya sepanjang malam, bahkan hingga pagi, sekalipun sudah bangun, lelaki itu kembali meminta jatahnya di pagi hari.
"Kamu kenapa sayang.?" Tanya Revandra yang berlari menghampiri Aliya,
"Ini gara-gara kamu Ay.!, Aliya jadi masuk angin kan.!" Ucap aliya kesal dan kembali memuntahkan isi perutnya, hingga Aliya lemas dan wajahnya semakin pucat, membuat Revandra cemas
"Kita ke rumah sakit sekarang. ok." Pinta Revandra, tapi Aliya menggeleng, tak mau ke rumah sakit, toh hanya masuk angin saja.
"Ay.! Aliya hanya ingin di buatkan teh jahe boleh.?"
"Baik sayang.! aku akan membuatkannya."
__ADS_1
Revandra segera berlari untuk membuatkan teh jahe seperti yang di minta istrinya. Tak butuh waktu lama untuk Revandra kembali ke kamar dengan segelas teh jahe hangat di tangannya, dan menyodorkannya kepada istrinya.
"Bagaimana perasaanmu sekarang.? apa sudah mendingan.?" Tanya Revandra setelah Aliya meneguk teh jahenya.
"Yakin tak mau ke rumah sakit.?"
"Tidak perlu Ay.! sebentar lagi juga smbuh, aku hanya butuh makan saja. Ini semua salahmu Ay.! kau tidak membiarkan aku istirahat dan makan sesuatu,"
Revandra kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, ia meringis merasa bersalah, karna memang benar apa yang di katakan Aliya tadi, Revandra tidak memberikan kesempatan pada Aliya, setidaknya minum air putih sekalipun. Tapi mau bagaimana lagi, Revandra saat itu sedang tegang-teganngnya, jadi tidak mungkin menghentikan aktifitasnya yang sebentar lagi akan mencpai puncaknya.
"Ya udah, kamu mau makan apa.? biar aku pesankan di online food."
"No.! Aliya mau kamu yang masak Ay.!" Bentah Aliya yang menolak di pesankn makanan, karna untuk saat ini Aliya hanya ingin makan masakan Revandra, skaligus menghukum lelaki itu karna membutnya masuk angin.
"Tapi itu akan lama sayang.! bukankah kamu sudah sangat lapar.?"
"Ya, tapi aku bisa menunggu hingga kamu selesai masak Ay.! Aliya hanya ingin spageti buatanmu saja."
Revandra mau tidak mau harus membuat makanan apa yang istrinya minta,
"Baiklah tunggu di sini, aku akan membuatkan untukmu."
Revandra kemudian melangkah ke dapur dengan berdecak pelan, sejenak ia berfikir, tidak biasanya Aliya sangat pemilih dalam makanan seperti ini, tapi mau bagaimana lagi, Aliya mengatakan bahwa itu adalah hukuman, jadi mau tidak mau, ia harus mengerjakan hukuman yang dirinya dapatkan, karna semua ini memang salahnya, yang mengabaikan perut kosong sang istri demi menyelesaikan urusan separuh bagian bawahnya.
Perminta Aliya tidak membuat Revandra sedikitpun merasa kesal pada gadis yang sudah ia nikahi itu, meskipun Aliya kembali meminta yang aneh-aneh. Dulu waktu masih menjadi putri Revandra, Aliya selalu meminta Revandra melakukan hal yang aneh-aneh, sekarang setelah menjadi istrinya, gadis itu kembali meminta sesuatu yang bisa saja sangat sulit Revandra lakukan, tapi lelaki itu tetap saja melakukannya, meskipun harus menguras, tenaga, otak dan uang.
Bersambung....
******
__ADS_1