Sweet Temptation

Sweet Temptation
Kenyataan


__ADS_3

Dua hari berlalu selama Aliya tinggal di rumah keluarganya, membuat Danile, Reyno dan lelaki tua Mintle sangat senang, berbeda dengan Laila, tak pernah sekalipun ia mengajak Aliya untuk berbicara.


Di ruang kerja lelaki tua Mintle Aliya dan Danile sedang berbincang sambil memperlihatkan foto-foto ibu Aliya, sesekali meraka tertawa, menertawai foto kecil Aliya. Tapi tawa mereka terhenti, ketik pintu ruang kerja terbuka, terlihat Laila masuk ke dalam dan menarik Aliya dengan sangat kesal.


"Gadis sialan, kenapa kau harus muncul, dua hari kau di sini, suamiku mengabaikanku, perhatianya semua tertuju padamu, kau sunggu mirip p*lacur sialan itu, semua yang kusuka kenapa dia yang memilikinya. Sekarang kau, kau tiba-tiba muncul dan merebut perhatian suami dan anakku."


"Mama, apa yang mama katakan."


"Berhenti Danile, jangan menghalagiku, untuk memberitahu gadis sialan ini, kalau ibunya telah berselingkuh dengan ayahmu Danile."


"Mama...!"


Seketika Aliya jatuh tersungkur ke lantai, mendengar apa yang diucapkan bibinya, Revandra tidak pernah bercerita tentang perselingkuhan itu,


"Tidak, tidak mungkin, ibuku bukan wanita seperti itu." ucap Aliya disela tangisnya.


"Dan asal kau tahu Aliya, aku bahkan tidak percaya kalau kau sungguh anak Reyno, mungkin saja kau anak ibumu dengan lelaki liar di luar sana."


Bertambah pedih hati Aliya, ia menagis sekencang-kencangnya hingga tak dapat lagi bernafas, pada akhirnya gadis itu kehilangan kesadarannya. Danile, segera mengendong tubuh Aliya ke kamar, sebelum itu ia sempat berkata pada ibunya.


"Mama, jika sesuatu terjadi pada Aliya, aku tidak akan menolong mama jika Revandra melakukan seauatu pada mama.!" kemudian belalu meninggalkan Laila yang sangat emosi, Suaminya dan sekarang putranya, semua tperhatian mereka tertuju pada Aliya.


Laila melemparkan hiasan kaca yang ada di meja kerja di ruangan itu.


Di kamar Danile menidurkan Aliya yang sedang pingsan, Reyno masuk ke kamar itu untuk mencari tahu apa yang terjadi setelah ia melihat Danile menggedong Aliya.


"Apa yang terjadi Danile.?"


"Aliya pingsan, setelah mama mengtakan tentang ayahku yang main serong dengan ibunya."


Mata Reyno melebar dan sangat marah. Ia keluar dari kamar itu sambil berteriak memanggil Laila.


"Laila... di mana kau.?" teriaknya, membuat orang yang di panggilnya berlari ke arahnya, seakan akan tak ada yang terjadi.


"Ada apa Say..." belum sempat Laila berucap, kata-katanya di potong oleh Reyno.


Plak..."

__ADS_1


Sebuah tamparan mendarat di wajah cantik Liala, membuat wanita itu kaget, tak pernah sekalipun Reyno kasar kepadanya sejak menikah dengannya. Reyno memang sangat tegas, itulah Laila sangat menggilai Reyno, bahkan rela melakukan apapun untuk menjadikan Reyno suaminya. Berbeda dengan ayah kandung Danile, ia adalah pria pendiam dan tidak tegas. Laila menikahinya karna terpaksa,


Waktu itu Laila terlebih dahulu menikah dengan ayah Danile karna paksaan dari ayahnya, sampai setelah Laila melahirkn seorang anak, baru Laili datang membawa Reyno untuk menikah, melihat ketegasan lelaki itu, Laila jatuh cinta pada Reyno, berbagai cara ia lakukan untuk menghancurkan pernikahan Laili tapi tidak berhasil. Hingga saat ia melihat laili terjatuh dan suaminya menolong Laili, lalu ia memoternya, dan mengancam Laili sampai Laili depresi dan pergi dari rumah membawa putri kecilnya. Dan Laila membuat spekulasi tentang perselingkuhan suaminya dan Laili, dan entah dengan cara apa, Reyno mau menikahinya.


"Kenapa kau tega melakukan ini sayang.?"


"Laila, selama ini kau memaki ibunya aku bisa terima, karna dengan ucapanmu yang begitu meyakinkan saat itu, aku percaya perselingkuhan ibunya, Tapi jika kau berbuat sesuatu pada putriku kau akan mendapatkan akibatnya." ucap Reyno lalu berbalik dan meninggalkan Laila.


Beberapa detik Laila teringat kata-kata Revandra yang membuatnya tertekan dua hari yang lalu, dan tekanan itu kembali ia dapatkan dari suaminya. Sungguh Reyno dan Revandra sama-sama tegasnya, hanya karna gadis sialan itu, mereka semua menekanku. Aku pernah membut ibunya meninggalkan rumah ini, dan itu tidak akan sulit bagiku sekali lagi membuat gadis sialan itu pergi dari sini. Ucap Laila dalam hati dengan air mata yang mengalir penuh kebencian.


***


Aliya baru terbangun dari pingsannya, dan mendapati Danile tertidur sambil duduk di sampingnya, ia mencoba membangunkan Danile.


"Kak Danile..." pangil Aliya sambil mengoncang-goncan tubuh Danile.


"Ah, kau sudah sadar Al." ucap Danile seraya mengucak matanya.


Ponsel Aliya berdering, segera Aliya menyambut panggilan itu setelah melihat siapa yang memanggilnya di tepon.


"Ayah..."


"Aliya baru bangun,"


"Turunlah, Aku ada di depan rumah keluargamu."


Gadis itu langsung melompat dari tempat tidur dan berlari menghampiri Revandra, tapi sebelum itu, ia sempat berpamitan pada Danile, dan lelaki itu mengiyakan.


"Ayah, Aliya kangen." seraya memeluk tubuh atletis Revandra setelah ia masuk ke dalam mobil, dan mengecup lembut bibir lelaki dewasa itu.


"aku juga kangen kamu, dua malam aku tidur tampa kamu di sampingku membutku frustasi."


Mendengar itu, Aliya merubah posisinya, duduk di atas paha Revandra dan menhadap lelaki dewasa itu. Revandra kemudian melonggarkan setelan kursi mobil agar sedikit berbaring. Aliya menengelamkan wajahnya di leher Revandra, membuat lelaki dewasa itu dapat merasakan hembusan hangat dari nafas gadis itu, dan baju kaos yang ia pakai terasa ada yang membasahi.


"Aliya, apa kau menagis sayang.?" tanyanya, tapi gadis itu tidak menjawab.


"Apa yang terjadi sayang, sehingga kau menangis begitu pilu.?"

__ADS_1


"Ayah, bibi, mengatakan kalau ibuku dan suami pertamanya main serong." ucap Aliya dalam isak tangisnya.


"Apa kau percaya.?"


"Tidak,"


"Lalu mengapa kau menagis."


"Hanya saja Aliya merasa sedih, awalnya Aliya berharap dengan melihat bibi, rasa rindu Aliya pada ibu akan hilang tapi, semuanya tidak seperti yang Aliya bayangkan Ayah, bibi justru terlihat sangat membenciku."


Lelaki dewasa itu memgusap lebut rambut Aliya,


"Sudahlah Al, kau tak perlu memikirkan sesuatu yang tidak benar, yang harus kau fikirkan sekarang, kau sudah membuat aku bangkit Aliya." ucap Revandra membuat Aliya berhenti memeluknya dan melihat ke bawah sana, di sana ia merasakan sesuatu yang membengkak seolah meronta ingin dilepaskan, terlebih lagi saat ini Revandra hanya mengenakna celana pendek yang berbahan tipis.


Tak ada suara yang keluar dari keduanya, mereka hanya saling menatap, hingga Revandra melayangkan ciuman di bibir gadis itu. Aliya terbuai dengan ciuman Revandra sampai nafasnya terengah-engah.


Lalu lelaki dewasa itu menurunkan ciumannya keleher jenjang Aliya, Sedang tangannya asik bermain di tempat lain,


"Aliya, boleh.?" tanya Revandra dengan suara menggoda.


"Di sini.?"


"Ya," gadis itu mengangguk, kemudian Revandra menenggelamkan miliknya pada milik gadis itu.


Pekik Revandar saat ia telah mencapai puncaknya, begitupun dengan Aliya, gadis itu terkulai lemah saat setengah jam lebih dalam permainan bersama Revandra berakhir.


Gadis itu tidak beranjak dari pangkuan Revandra, karna Revandra menahannya, membiarkan miliknya tetap berada di dalam inti Aliya. Hingga beberapa menit berlalu.


"Sudah malam, pulanglah Ayah.!"


"Kau mengusirku.?"


"Tidak, tapi jika ayah tetap di disini seseorang akan mendapati kita."


"Ok," Revandra menutut saja. Lalu mengamil tisu untuk menyeka sesuatu saat ia menarik miliknya yang tenggelam pada milik Aliya


Gadis itu keluar dari mobil dan membetulkan baju dan rok yang ia kenakan, dan melambaikan tangan pada Revandra setelah memberi kecupan pada kedua pipi lelaki dewasa itu.

__ADS_1


Tak sadar bahwa seseorang dari balik jendela melihat saat Revandra mengecup bibir gadis itu


Bersambung..


__ADS_2