
Di perusahaan Revandra sedang sibuk dengan pekerjaannya yang di bantu oleh Andre di sisinya. Lagi-lagi Emma datang dan langsung menerobos masuk ke ruangan Revandra, membuat kedua lelaki dewasa itu terhenti dengan aktifitasnya
"Apa maksud kamu dengan ini Revan.?" tanya Emma seraya melemparkan sebuah berkas ke meja.
"Aku tidak membutuhkan itu, aku hanya menginginkan posisi sebagai istrimu dan menjadi ibu gadis kecil itu. Revan tidak bisakah kau mengerti sedikit saja tentang pesaanku ? andai bukan diriku mungkin saja saat itu kau sudah tiada Revan.?" Keluh Emma dengan nada membentak.
Revandra kemudian menegakkan badannya dan tetap bersikap dingin.
"Aku tidak pernah meminta pertolonganmu, bukankah kau sendiri yang menawarkan diri, aku rasa satu persen aset dari Gramentha Grup sudah cukup untukku membalas budi, dan mulai saat ini kita tak perlu lagi berhubungan." ucap Revandra tetap tenang.
"Tidak Revan, itu tidak cukup untukku," air matanya mulai mengalir.
"Menurutku itu sudah cukup nona Emma,! satu persen aset perusahaan Gramentha grup tidak akan habis walaupun kau berfoya-foya tujuh turunan. Dan aset yang di berikan padamu ada di Amerika, jadi kau bisa tenang menjalani hidupmu di sana." sela Andre.
Beberapa waktu lalu, Revandra memang menyuruh seseorang untuk mengalihkan kepemilikan salah satu anak perusahaan dari Gramentha Grup yang ada di Amerika, dan itu adalah aset satu persen dari Gramentha grup, Revandra mengalihkan perusahaan itu atas nama Emma Kasio. Sesuai permintaan Aliya, untuk tidak lagi bertemu dengan Emma, hingga Rvandra memberikan saham itu kepada Emma.
"Tidak, Revan... aku mohon."
"Tolong keluar Emma, aku sedang bnyak pekerjaan hari ini, tak ada waktu untuk berurusan denganmu. Jika kau tak mau keluar, dengan senang hati aku akan memanggil keamanan untuk menyeretmu keluar."
"Ok, tapi ingat, aku tidak akan menyrah." mengabil kembali berkas yang ia lemparkan lalu berbalik meninggalkan ruangan Revandra.
Beberapa waktu berlalu sejak kepergian Emma, pekerjaan Revandra telah selesai. Karna merasa lelah Andre meninggalkan ruangan itu, tapi langkahnya terhenti ketika ada seorang wanita yang menghampirinya. Andre meneliti wanita itu dari ujung rambut hingga ujuk kakinya, baru kembali lagi kewajah cantik wanita itu yang terasa tidak asing bagi Andre,
"Permisi,! Apa Presedir Revandra Gramentha ada di ruangannya.? tanya wanita itu yang menyadarkan Andre dari penilaiannya sekaligus bingung.
"Ada, tapi anda siapa.? dan ada urusan apa anda menemui Presedir Revan,
"Saya Laili Mintle dari perusahaan Grup Mintle."
Andre terkejut mendengar nama wanita itu, selama beberapa waktu terahir lelaki itu menyelidiki tentang keluarga Mintle. Pantas saja wajahnya tidak asing, ternyata saudara kembar ibu dari gadis kecil itu. Ucapnya dalam hati. Kemudian mempersilahkan wanita itu masuk ke ruangan Revandra.
Setelah wanita itu masuk ke ruangan Revandra, Andre terkejut dengan kedatangan Aliya yang berlarian seperti biasanya. Belum sempat masuk, Andre menarik tangan Aliya beranjak dari tempat itu, dan masuk ke ruangan Andre.
"kamu mau ketemu Ayahmu.?"
__ADS_1
"Iya om Andre,"
"Tapi untuk sekarang tidak bisa, ayahmu sedang menerima tamu wanita."
"Om Andre, tamu Ayah siapa.?" tanya Aliaya setelah beberapa menit keheningan, Aliya masih kepikiran dengan ucapan Andre tentang Revandra yang kedatangan tamu wanita.
Saat ini pikiran Aliya sudah kemana-mana, gadis itu takut bahwa ayahnya itu mulai brengsek dan kembali lagi melakukan hal-hal seperti beberpa waktu lalu, meniduri wanita lain, sungguh jika itu terjadi, gadis itu berfikir tidak tahu sekecewa apa dirinya.
"Om Andre dari mana tamu Ayah.?"
"Oh.! dari Mintle Grup.!, lalu mengapa aku perhatikan akhir-akhir ini kau sering sekali datang ke kantor.?"
"Ayah sendiri yang meminta Aliya, lagian di rumah juga Aliya bosan" jawab gadis itu yang sudah duduk di kursih Andre.
"Kenapa tidak jalan-jalan saja, atau hangout."
"Om Andre tahu sendiri bukan, bagaimana posisifnya Ayah"
Andre mengangguk-angguka kepala, ia juga sebenarnya tahu bagaimana perlakuan Revandra terhadap gadis kecil itu.
***
Satu dehaman itu mengejutkan Aliya dan Andre
"Sekertaris Alin.?" sapa Aliya dengan senyum hangat,
"Tadi aku membawakan teh untuk tamu Presedir Revan, dan aku sempat menatap wajahnya, dan tamu presedir sangat mirip drngan ibu nona Aliya bedanya wanita itu sedikit lebih tua dan lebih angkuh, sedangkan ibu nona, lebih anggun dan cantik."
"Sekertaris Alin yakin.?" Aliya bertanya untuk memastikan, ia sangat bingung, akhir-akhir ini kenapa begitu banyak orang-orang yang ia temui terlebih lagi wanita yang di Mall mirip dengan ibunya.
Belum sempat mendapat jawaban atas pertanyaannya, suara pintu terbuka yang mengalihkan perhatian Aliya, Andre dan juga Sekertaris Alin. Ketiganya kompak melihat ke arah pintu. Karna pintu ruangan Andre terbuka dan tepat di depan ruangan Andre adalah ruangan Revandra.
Mereka bertiga melihat Revandra keluar bersama tamunya, wanita yang sekertaris Alin gambarkan mirip dengan ibunya Aliya.
Untuk sesaat Revandra dan tamunya itu mengobrol, sebelum kemudian saling berjabat tangan, dan Revandra mempersilahkan tamunya itu pergi. Perhatian Aliya terus tertuju pada wanita itu. Aliya masih ingat bahwa benar wanita itu adalah wanita yang mirip ibunya yang di temui di Mall waktu itu.
__ADS_1
"Kalian sedang apa berkumpul di sini.?" Tanya Revandra yang tiba-tiba muncul di ambang pintu dan menatap tajam Andre dan sekertaris Alin, namun tatapnya berubah sangat lembut setelah melihat Aliya sedang duduk di kursi milik Andre. Revandra melangkah ke arah Aliya dan menarik pinggang gadis itu dengan posesif lalu melayangkan kecupan di kening Aliya, sebelum kemudian membawa gadis itu keruangannya di susul Andre.
"Ayah kenal dengan wanita tadi.?" tanya Aliya kepada Revandra sesaat setelah duduk di sofa ruangan itu.
"Baru kenal tadi."
"Kalau baru kenalan kenapa bisa datang kesini.?"
"Ayah, apa dia keluargaku.?" tanya Aliya yang pikirnnya masih tertuju pada wanita yang baru saja keluar dari ruangan ayahnya dan entah mengapa ada perasaan janggal yang menyelimuti hati gadis itu.
Aliya seakan tidak bisa mengabaikan sosok itu, ia merasa ada ikatan kuat dan perasaan yang melebihi batas normal seorang Aliya. Karna tidak biasanya pikiranya tergangu seperti itu hanya gara-gara sekertaris Alin mengatakan wanita itu sanagat mirip dengan ibunya, dia juga merasakan hal yang sama, terlebih lagi Aliya pernah berhadapan langsung dengannya.
Sekelabat pertanya-pertanyaan bersarang di pikiran gadis itu, ia benar-benar tak mengerti dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini.
"Ayah apa dia keluargaku.?" kembali Aliya bertanya pada Revandra karna belum mendapat jawaban.
"Sayang, apa kamu penasaran dengan keluargamu.?" tanya Revandra saat Andre sudah duduk di hadapan mereka
"Apa Ayah sudah tahu keberadaan mereka.?"
"Ya, Aliya." jawab Andre. membuat gadis itu menoleh pada sahabat ayahnya.
"Apa Om Andre juga tahu.?"
"Tentu, karna selama ini, aku yang mencari semua informasi tentang latar belakangmu." jawab Andre seraya menoleh pada Revandra dengan senyum meremehkan
"Sejak kapan om Andre.?"
"Belum lama ini. Ini begitu sulit bagi kami mencari tahu latar belakanngmu, yang hanya bermodalkan gelang giok yang di pakai ibumu lima belas tahun yang lalu.
"Kalian tahu di mana keluargaku.?" Aliya menatap Revandra dan Andre secara bergantian dan kedua lelaki dewasa itu mengangguk secara bersamaan. Mata Aliya sudah berkaca-kaca, gadis itu sendiri tidak tahu harus merasa lega atau justru sedih mengetahui kabar itu.
Tak ada lagi yang Aliya tanyakan. Membuat ruangan yang cukup luas itu menjadi hening. Tapi keheninga itu berubah ketika Aliya kembali membuka mulutnya dan berbicara.
"Jangan bilang wanita yang tadi itu..."
__ADS_1
Bersambung...
******