Sweet Temptation

Sweet Temptation
Cemburu


__ADS_3

Sesaat setelah melepas kerinduan, Revandra mengajak Aliya untuk mandi bersama, gadis itu menurut saja. Di kamar mandi Aliya dan Revandra berdiri dengan tubuh polos di bawah guyuran air shower yang hangat, Revandra memperhatikan Aliya yang sedang membersihlan dirinya,


"Shiitt..! aku bangkit lagi" ucapnya pelan agar tidak di dengar oleh Aliya,


Tubuh Aliya benar-benar telah menjadi candu baginya, ia lalu memutar tubuh gadis itu berhadapan dengannya, menc*umi Aliya dengan penuh ga*irah, Hingga beberapa saat, c*uman itu merambah ke leher, turun ke benda kenyal milik Aliya, lalu ke perut, baru kemudian ciumannya hinggap di bagian inti Aliya.


Revandra memaikannya di sana, membuat gadis itu mengeluarkan l*guhan-l*guhan yang begitu menggoda bagi Revandra. Beberapa menit lelaki itu bermain di inti Aliya, ia kembali berdiri dan ******* bibir Aliya,l.


"Aliya, Aku masih pengen" gadis itu hanya mengangguk. Tidak butuh waktu lama Revandra menyandarkan Aliya ke dinding lalu menekankan inti miliknya ke milik Aliya. hujaman demi hujaman Revandra berikan pada Aliya, hingga beberapa saat mereka mencapai k*puasannya.


Pagi hari seperti biasa Revandra dan Aliya sarapan bersama, kebetulan hari itu adalah hari libur, dan memilih untuk tinggal di rumah menikmati waktu lebih banyak. Lalu tiba-tiba ponsel Revandra berbunyi, dan raut wajah Revandra berubah seketika mendengar apa yang dikatakan oleh si penelfon.


"Ayah ada apa.?" tanya Aliya bingung melihat wajah lelaki dewasa itu berubah seketika.


"Aliya sepertinya, aku tidak bisa menemanimu hari ini, nanti aku memerintahkan sopir untuk menjembut Aren, agar kamu tidak sendirian."


"Ada hal penting apa Ayah, sehingga ayah mau meninggalkan Aliya, padahal Aliya sudah menantikan hari libur ini, jarang-jarang kita bisa menikmati libur bersama." wajah Aliya kecut.


"Emma masuk rumah sakit, aku harus segera ke sana. Ayah pergi dulu ya.!"


Dengan sangat buru-buru Revandra, meninggalkan Aliya tapi sebelum pergi, lelaki dewasa itu menyempatkan diri untuk mengecup bibir gadis itu.


"Lagi-lagi Emma, siapa Emma itu,? dan kenapa baru akhir-akhir ini aku baru mendengar namanya." gumam Aliya


Aren segera datang kerumah Revandra begitu mendapat telfon dari lelaki dewasa itu, ia kemudian masuk ke kamar Aliya setelah pelayan mengantarnya sampai depan pintu, dan mendapati sahabatnya terlihat sedang kesal.


"Al, kamu kenapa.?"


"Aren, aku kessal sama Ayah, setiap ada sesuatu yang bersangkutan dengan wanita yang bernama Emma, Ayah selalu mengabaikanku, buktinya saja sekarang, begitu ayah mendapat sebuah panggilan dan itu mengenai Emma, ayah langsung meninggalkanku."


"kamu tau siapa Emma.?"


"Tidak,! ayah tidak pernah membicarakannya, dan juga aku belum pernah melihat bagaimana rupanya. Ren, bagaimana jika wanita itu lebih cantik dari pada aku, dan ayah benar-benar tergoda, lalu meninggalkanku...?" ucap Aliya sambil meneteskan Air mata.


Melihat Aliya seperti terbebani dengan masalah wanita yang bernama Emma, Aren memeluk hangat sahabatnya itu, siapa Emma ini sehingga bisa membuat om Revan mengabaikan Aliya begitu saja, lebih baik aku bertanya pada Tuan Andre nanti, mungkin dia tau siapa Emma ini.! ucap Aren dalam hatinya.


"Al, dari pada kamu memikirkan seauatu yang tidak jelas, bagaimana kalau kita jalan-jalan.?"

__ADS_1


"Ok.!"


Kedua sahabat itu bergegas dan meninggalkan rumah itu, tampa diantar sopir.


***


"Aren, aku kepengen makan es krim di toko itu," ucap Aliya sambil menunjuk ke sebuah toko es krim,


Namun langkahnya terhenti ketika tiba-tiba gadis itu melihat sosok yang begitu femeliar, Ayah untuk apa ayah kemari, dan siapa yang dia belikan es krim.? tanya Aliya dalam hati.


"Al, kamu kenapa.?"


"Aku melihat..." baru saja Aliya mau melanjutkan perkatannya terhenti, ia melihat Revandra masuk ke dalam sebuah mobil dan di jok belakang mobil itu ada seorang wanita yang tengah duduk sambil menerima es krim dari Revandra.


Aliya berbalik dan berlari, tak ada lagi keinginannya untuk makan es krim, hatinya bagai serasa di terkoyak sebilah pedang, Aliya berlari sedang Aren mengejarnya dari belakang.


"Aliya... tunggu..." tapi Aliya tidak berbalik ia terus berlari sampai ke sebuah taman.


Buk...


Gadis itu menabrak seseorang, ia kemudian mendongkakkan kepalanya, ingin mengetahui siapa yang ia tabrak.


"Ah,, kak Axcel maaf, aku tidak sengaja."


"Tak apa," sambil membantu Aliya berdiri.


"Eh,, kak Axcel, titip Aliya sebentar, aku mau beli minum di toko seberang." ucap Aren yang ngos-ngosan akibat mengejar Aliya barusan.


Axcel kemudian mengajak Aliya untuk duduk di kursi yang ada di taman. Lelaki itu, memopong Aliya dan menuntunnya untuk duduk, ia melihat ada air mata yang menetes ke pipi gadis itu.


"Aliya, kau kenapa.?" namun gadis itu tetap diam.


"Ada masalah apa Al, coba kamu ceritakan padaku, hal apa yang membuatmu menagis.?" tanya Axcel lagi , tapi gadis itu tetap diam saja dan air matanya semakin beecucuran.


Axcel lebih memilih untuk diam, lelaki itu merasa iba melihat Aliya menagis. Ia kemudian memberanikan diri meraih Aliya dan memeluknya, disandarkannya wajah gadis itu ke dadanya, lalu mengusap lembut Rambutnya, dan gadis itu hanya menurut saja, karna saat ini ia memang sangat membutuhkannya, tempat untuk bersandar.


Dari jauh ada sepasang mata dari seorang lelaki yang memperhatikan Axcel yang sedang memeluk Aliya, lelaki itu menggepalkan tanganya, dan wanita dengan kursi roda di sampingnya heran.

__ADS_1


"Revan, apa yang membuatmu begitu marah.?, humm... sepasang remaja yang serasi ya .?" ucap Emma yang tidak tahu siapa remaja itu,


Revandra sudah tidak tahan lagi, ia melangkah dengan wajah dingin yang di penuhi emosi menghampiri Aliya dan Axcel, disusul wanita dengan kursi roda di bantu oleh sopir.


Buk...!


Sebuah tinju melayang di wajah tampan Axcel,


"Berani sekali kau menyentuh gadis kecilku."


Aliya terhentak kaget tiba-tiba Revandra meninju Axcel, gadis itu terpaku dan diam, disertai tubuh yang gemetaran. Ingin sekali rasanya ia menyebut kata 'Ayah', tapi kata itu terhenti di kerongkongannya.


"Jangan pernah sekali lagi kau menyentuh gadis kecilku, jika kau masih nekat, aku akan berbuat merasakan yang lebih dari ini." ucap Revandra kembali sambik menarik tangan gadis itu.


"Ayah, sakit, lepaskan Aliya." Rengek Aliya seakan tak mau di bawah pergi oleh Revandra.


Sadar bahwa ia telah menyakiti tangan Aliya. Revandra berusaha menurunkan emosinya, dan mencoba membujuk Aliya dengan lembut.


"Aliya sayang, pulang ya, ikut sama Ayah." melihat lelaki itu memohon Aliya mengangguk pelan. Segera Revandra menggendong Aliya dan hendak meninggalkan tempat itu, namun langkahnya terhenti, ketika wanita dengan kursi roda menahannya.


"Revan kau mau kemana meninggalkan ku dalam keadaan begini.?"


"Emma, putriku lebih penting. Kamu pulang naik taxi saja. OK.!"


"Tapi,, Revan aku..." tak sempat melanjutkan, Revandra sudah meninggalkannya dengan membawa Aliya dalam gendongannya masuk ke mobil.


Emm terlihat sanagat kesal, bagaimana tidak, baru saja ia mengalami musibah patah tulang karna jatuh dari tangga, Revandra justru lebih memilih gadis yang baik-baik saja. Jadi itu putri yang begitu ia sayangi, chii... gadis kecil, aku akan merebut semua perhatian ayahmu darimu, tunggu saja, begitu aku mendapatkan Revan, kau akan ku tendang dari rumah itu. ucap Emma dalam hati, baru kemudian meninggalkan taman itu dengan jalan terpincang-pincang.


Sebenarnya lukanya tidak terlalu serius, hanya saja, ia menggunakan alasan itu agar Revandra mau menemuinya.


"Kak Axcel, di mana Aliya.?" tanya Aren yang baru saja kembali dari toko, ia cukup lama karna menunggu antrian untuk membayar.


"Sudah di bawa pergi oleh ayahnya." ucap pria itu sambil menahan sakit di pipinya.


"Ada apa dengan wajahmu.?"


"ah, ini hadiah dari Ayahnya Aliya, karna berani memeluk gadis itu." ucap Axcel seraya mengelus pipinya. mendapatkan sebuah pukulan dari Revandra membuat Axcel lebih bertekat mendekati Aliya, menurutnya itu menantang..

__ADS_1


Bersambung...


******


__ADS_2