
"Selamat malam gadis cantik." ucap sosok lelaki itu seraya melangkah masuk ke kamar Aliya. Tepat di hadapan Aliya, langkahnya berhenti, dan entah apa yang merasuki gadis itu, dirinya langsung memeluk lelaki itu.
"Kak Axcel,"
"Ya, Aliya ini aku.!" sambil membelai lembut rambut gadis yang memeluknya.
"Ada apa kak Axcel datang malam-malam begini.?" tanya gadis itu setelah melerai pelukannya.
"Ini baru pukul sembilan belas Aliya, bukan malam-malam sekali," sambil mencubit manja pucuk hidung gadis itu.
"Lupakan itu, apa yang membuat kak Axcel tiba-tiba datang kesini.?"
"Kau pergi tampa pamit kemarin, aku khawatir jadi aku berfikir untuk memastikan apakah kau baik-baik saja."
"Lalu dari mana kamu tau aku ada di sini.?"
"Dari maps di ponselmu, Revandra saja yang bodoh waktu itu tidak berfikir untuk mencarimu melalui maps ponselmu."
Meledaklah tawa Aliya saat mendengar Axcel menyebutkan bahwa Revandra bodoh.
"Kenpa kau tertawa.?"
"Tidak, hanya saja, aku penasaran dengan tanggapan Revandra, saat tau kau menyebutnya bodoh."
"Sudahlah, sebaiknya aku pulang sekarang."
"Kak Axcel, kau baru saja datang, belum genap sepuluh menit kau sudah mau pulang." ucap Aliya dengan wajah masam.
"Aliya, tidak pantas untukku berada malam-malam begini di rumah yang di dalamnya tinggal seorang gadis cantik."
Aliya hanya mengangguk menandakan perkataan lelaki itu ada benarnya. Baru kemudian entah apa lagi yang merasukinya, gadis itu kembali memeluk Axcel dengan erat, seolah tidak ingin berpisah dengan lelaki yang telah bersamanya akhir-akhir ini.
"Aku antar ke bawah ya.?"
"Tidak perlu, istirahatlah, aku juga ingin mengatakan sesuatu pada Danile masalah pekerjaan."
"Apa kau dan kak Danile melakukan kerja sama antar perusahaan."
"Benar sekali, ya sudah, aku pamit yah. Jangan bertingkah ok" ucap Axcel sambil melayangkan kecupan di kening Aliya, membuat gadis itu merona.
__ADS_1
Axcel keluar dari kamar Aliya, di sambut oleh Danile yang menunggu di depan pintu kamar.
"Bagai mana Axcel.? apa kau sudah puas memastikan gadis itu baik-baik saja." kata Danile yang sudah tau bahwa Axcel mencintai sepupunya itu,
Andai saja dia bisa memilih, dirinya lebih memilih Aliya bersama dengan Axcel, tapi semua itu tidak mingkin. Sekarang Mintle grup sudah berada di bawah naungan Gramentha grup milik Revandra.
"Ya.!" jawab Axcel sambil berjalan menjauh dari kamar Aliya
Langkah mereka terheti tepat di ambang pintu.
"Axcel, apa kau tidak berencana membuat Aliya berada di sisimu.?"
"Untuk saat ini tidak, aku sudah senang melihanya bisa tertawa di sisi Revandra, meskipun sejujurnya sangat sakit buatku, tapi jika suatu saat Revandra membuatnya terluka dan menagis lagi, aku sungguh tidak tau, apakah aku masih bisa membiarkan Aliya berada di sisi Revandra atau mungkin saja aku akan membawanya kabur dari kota ini."
Danile mencengkram bahu Axcel, bertujuan memberi semangat pada lelaki itu.
"Jika Aliya jodohmu, sebagaimanapun Revandra menahannya di sisinya, gadis itu pasti akan menjadi milikmu, tapi ada satu hal yang ingin aku tanyakan padamu Axcel."
"Apa itu,?"
"Selama ini Aliya dan Revandra tinggal bersama, dan tidak menutup kemungkinan bahwa mereka akan melakukan hal-hal yang tidak sewajarnya."
"Aku mencintainya dengan tulus Danile, dan jika suatu saat gadis itu benar-benar menjadi milikku, aku tidak perduli dengan hal-hal yang telah gadis itu lakukan bersama Revandra"
"Baiklah Axcel, aku mengerti."
"Ok, kalau begitu aku pamit dulu, mengenai kerja sama perusahaan, aku akan mengirimnya besok," Ucap Axcel kemudin berbalik meninggalkan rumah keluarga Aliya.
***
Malam kian larut, Aliya sedang berbicara dengan Revandra melalui telfon.
"Apa kau sudah makan gadis kecil.?"
"Sudah, oh Ayah tadi.." Baru saja Aliya hendak mengatakan bahwa Axcel baru saja menemuinya, mengingat Revandra yang perna melayangka sebuah tinju di wajah Axcel hanya karna Aliya memeluknya di taman, membuat gadis itu mengurungkan niatnya
"Tadi apa saynag.?"
"Tadi aku makan malam sama kakek, papa dan kak Danile, itu membuat Aliya senang." Katanya berbohong, ia takut Revandra akan melakukan sesuatu yang berbahaya pada Axcel yang begitu baik padanya.
__ADS_1
Ganggang pintu terbuka, Danile dan Reyno masuk untuk tidur bersama Aliya.
"Ayah...! sudah ya, papa dan kak Danile sudah ada, dan sudah larut juga, kami akan tidur."
"Apa maksud kamu Aliya.?" tanya Revandra yang tiba-tiba kesal.
"Ya, Papa dan kak Danile ada di kamar Aliya, aku meminta mereka untuk tidur bersamaku malam ini."
"Apa ? Aliya mereka itu seorang pria."
"Aku tau, tapi mereka adalah keluarga kandungkung, jadi kamu tenang saja ayah. Sudah yah,"
Aliya mengakhiri penggilan itu tampa tau bahwa Revndra sedang geram mendengar gadis kecilnya akan tidur bersama Reyno dan Danile, biar bagaimanapun Mereka adalah seorang pria.
Pintu kamar Aliya kembali dibuka, dan terlihat lelaki tua Mintle masuk
"Tega sekali kalian ingin tidur bersama tapi tidak mengajakku. Apa kalian tidak menganggap keberadaanku.?"
"Tentu saja tidak kakek, Aliya pikir kakek tidak akan setuju jika tidur bersama Aliya, papa dan juga kak Danile." jawab Aliya sambil berlari memeluk kakeknya,
Malam itu mereka berempat tidur di kamar Aliya, Danile, Reyno dan juga lelaki tua Mintle tidur di bawah yang sudah beralaskan sesuatu yang tebal dan empuk, sedang Aliya tetap tidur di kasur.
Mereka melalui malam yang bahagia dengan tawa-tawa mereka sebelum tidur, tampa tahu bahwa Laila sedang uring-uringan di depan pintu kamar Aliya. Begitu pula dengan Revandra yang sangat cemas karna baru kali ini Aliya tidur dengan pria lain selain dirinya, meskipun itu adalah keluarganya.
Di sisi lain Axcel tersenyum bahagia, tenyata Aliya tidak berubah sedikitpun setelah gadis itu kembali ke sisi Revandra. Aliya tetap bertingkah seperti biasannya, bersikap manja padanya, meskipun Axcel tahu bahwa Aliya hanya menganggapnya sebagai kawan tempat menumpahkan segala keluh kesahnya, tapi tetap saja Axcel sudah merasa bahagia, asal gadis itu tetap tersenyum.
Kembali Axcel mengingat saat malam terahir ia bersama Aliya, ingin sekali rasanya saat itu Axcel menengelamkan miliknya pada milik gadis itu, tapi ia sadar, ia tak mau melakukan itu dalam keadaan Aliya yang seperti itu. Ia takut jika setelah melakukannya saat Aliya sadar nanti, maka gadis itu akan membencinya. Kalaupun memang ia harus melakukannya, mungkin setelah ia menikahi Aliya, itupun kalau Aliya adalah jodohnya kelak. pikirnya,
Malam itu Axcel menginap juga tidak tidur bersama Aliya, ia lebih memilih tidur di sofa, sedangkan Aliya di kasur, tapi tampa Axcel ketahui, saat ia sudah terlelap, ternyata Aliya bangkit dari tempat tidur, dan mendekati Axcel seraya melayangkan satu kecupan lembut pada bibir lelaki itu, Aliya tidak tau apa yang ia lakukan, hanya saja niat itu timbul begitu saja. Ia berfikir mungkin ia menyayangi Axcel layaknya seorang kakak.
Esok hari, Danile dan Reyno sedang ada di perusahaan untuk bekerja, sedang kakek tua Mintle, berada di ruang kerjanya. Aliya yang sudah ingin pulang di antar sopir keluarganya, tiba-tiba tangannya di tarik begitu kencang, sehingga gadis itu sangat ketakutan.
Laila menariknya dengan sangat kencang dan hendak mengatakan sesuatu pada gadis itu, tapi bibirnya tak mampu untuk berucap, matanya melotot, setelah suara tegas terdengar dari arah pintu.
"Apa yang kau lakukan padanya .?"
Bersambung...
******
__ADS_1