
Melihat Reyno hendak meneteskn air matanya, lelaki tua Mintle menatap Aliya lalu seperti yang Reyno lakukan tadi, lelaki tua itu beralih ke sebuah gelang yang di kenakan Aliya, seketika lelaki tua Mintle lngsung memeluk Aliya, yang sudah sangat ingin memeluk gadis itu waktu pertama kali bertemu beberapa bulan lalu, tapi gadis itu hanya diam saja.
Beberapa detik di peluk oleh lelaki tua Mintle, Aliya berusaha melepaskan diri, matanya hanya tertuju pada wanita yang mirip ibunya. Melihat wanita itu, seakan bisa membuat rasa rindunya pada ibunya sedikit bisa terobati, namun wanita itu terlihat cuek pada Aliya.
"Aliya akhirnya kami menemukanmu anakku." ucap Reyno sembari memeluk Aliya,
"Maaf pak Reyno, dari mana anda bisa menyimpulkan bahwa Aliya adalah anakmu.?" sengaja Revandra bertanya.
"Aku sendiri yang memberikan nama itu, terlebih lagi Jasmin adalah nama ibuku," jawab Reyno yang sudah meneteskan air mata.
"Bukankah nama Aliya bisa saja sama dengan nama yang di miliki gadis-gadis yang lain.?"
"Nama memang banyak kesamaan presedir Revan, tapi gelang yang dikenalan Aliya adalah gelang milik Laili putriku dan hanya keluarga kami yang memiliki gelang seperti ini." sambung lelaki tua Mintle.
"Baiklah kalau begitu, bisakah kita berbicara di tempat yang sedikit nyaman.?" pinta Revandra.
Lelaki tua Mintle kemudian menuntun Revandra dan Aliya ke sebuah ruangan di susul oleh Danile, Reyno dan Laila yang sejak tadi dipenuhi perasaan-perasaan tak menentu. Setelah mereka semua masuk di ruangan dan duduk di sofa, lelaki tua itu mulai membuka suara.
"Jadi presedir Revan, bagaimana ceritanya sampai akhirnya Aliya bisa menjadi putri anda.?"
"Lima belas tahun lalu aku bertemu dengan ibunya, dan menikahinya, hingga akhirnya ibunya meninggal dan akulah yang merawat gadis kecil ini, karna saya tidak tahu tentang keluarganya, hanya gelang ini yang ibunya bawa,"
"Lalu kenapa Presedir Revan tidak mencari tahu tentang keluarganya.?" tanya Reyno."
"Saya terlalu sibuk dengan pekerjaanku, dan fokus merawat Aliya seperti pesan terahir ibunya."
Sejenak ruangan menjadi hening, kemudian keheningan berhenti ketika lelaki tua Mintle bertanya pada Danile yang sejak tadi hanya diam.
"Kenapa kau hanya diam saja Danile, sejak tadi hanya aku dan ayahmu yang bereaksi."
"Aku sudah tau kalau Aliya adalah keluargaku."
"Sejak kapan kau tau.?"
"Awal aku bertemu Aliya, aku sudah merasakan hal yang aneh tentangnya, lalu kakek bercerita padaku tetang bibi waktu itu, dan dengan koneksiku, aku mencari tahu semuanya, ternyata dugaan ku benar, Aliya adalah sepupuku." ucap Danile dengan nada santai.
"Lalu mengapa kau tidak memberi tahu kami Danile.?" bentak Laila.
"Aku hanya berfikir lebih baik diam."
__ADS_1
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan masuk seorang pelayan membisikkan sesuatu pada pak tua Mintle.
"Nanti kita lanjutkan pembicaraan saat acara selesai, di bawah banyak tamu yang mencariku dan Danile,"
"Ok.!"
Lelaki tua Mintle bergegas disusul Danile dan Reyno.
"Sebentar aku menyusul ayah, aku masih ingin bersama gadis ini," ucap Laila.
Setelah mereka bertiga berlalu, hanya Aliya dan Revandra beserta Laila yang ada di ruangan itu.
"Aliya, bolehkah bibi memelukmu sebntar,.?" ucap Laila, membuat gadis itu sangat senang, ia berfikir jika dirinya memeluk bibinya, rasa rindu pada ibunya bisa terobati, sebab wajahnya begitu mirip.
Aliya segera berdiri dan memeluk bibinya, begitupun Laila segera memeluk Aliya, Aliya sangat senang dan memeluk Laila sangat erat. Tapi pelukan itu langsung terlerai ketika Laila membisikkan sesuatu padanya.
"Jangan berfikir aku menerimamu gadis sialan."
buk...!
Perasaan Aliya seperti dihantam benda yang sangat berat, sesuatu yang ia harapkan ternyata tidak sesua pikirannya. Gadis itu meneteskan air mata pedih, tangannya meremas gaunnya, sadar akan ada yang aneh pada Aliya, Revandra berdiri dan menghampiri mereka seraya melerai peluka yang penuh kepalsuan itu, lalu berkata pda Laila,
Berganti saat ini Laila yang dilanda ketakutan, kakinya bergetar hingga ia jatuh tersungkur ke lantai, perkataan Revanda bagaikan tusukan pedang yang menusuk jantungnya berkali-kali.
Tak tega melihat gadis itu menangis pedih, lelaki dewasa itu memilih meninggalkan tempat itu, dan hanya menyuruh seseorang untuk memberi tahu lelaki Mintle atas kepergiannya dan akan kembali membawa Aliya saat gadis itu sudah merasa lebih baiakan.
***
Seperti yang Revandra janjikan, ia memba Aliya ke keluarga itu setelah Aliya mersa baikan, meskipun sebenarnya Aliya sangat tidak ingin bertemu dengan Laila, tapi tidak bisa gadis itu pungkiri, ia juga sangat merindukan ayah kandungnya.
Setelah sampai di rumah keluarga Mintle, Revandra dan Aliya duduk di sofa setelah pelayan rumah itu mempersiapkan mereka masuk.
"Ayah, Aliya sangat gugup."
"Tak perlu gugup, aku ada di sini bersamamu.
Tak lama menunggu, lelaki tua Mintle beserta, Danile, Reyno dan Laila menghampiri mereka, dan duduk di sofa.
"Saya membawa Aliya kesini hari ini, bukan untuk memulangkanya, saya hanya ingin Aliya mengenal lebih dekat siapa keluargannya." ucap Revandra menekankan pada mereka.
__ADS_1
"Tapi presedir Revan, bisakah Aliya tinggal bersama kami untuk beberapa saat, kami baru bertemu dengannya setelah lima belas tahun ia menghilang."
"Tidak bisa," jawab Revandra Tegas.
Melihat lelaki tua Mintle dan Reyno memohon, Aliya berbalik menatap ayahnya, seoalah tatapan itu menandakan bahwa gadis itu ingin tinggal untuk bebetapa hari.
"Baik, tiga hari, aku beri tiga hari pada kalian untuk menikmati kebersamaan bersama Aliya."
"Tidak, itu terlalu singkat bagi kami, satu minggu," sergah Danile, jujur saja Danile sangat senag saat tau bahwa Aliya adalah keluarganya, bagaimana tidak selama ia belajar di luar negri, teman-temannya selalu memamerkan adik perempuan mereka, membuat Danile sangat iri, ingin rasanya ia juga memilki adik perempuan, pernah ia meminta pada ibunya tapi tidak ada tangapan apapun.
Berbeda dengan Laila, ia sangat tidak senag atas kehadiran Aliya, menurutnya jika Aliya tinggal di rumah itu, perhatian Reyno pasti akan beralih ke Aliya dan mengabaikan dirinya. Tapi karna takut pada Revandra, Ia hanya diam saja, tak berani untuk berucap
"Ok, satu minggu, jika dalam satu minggu kalian tidak mengembalikan Aliya padaku, kalian pasti tau apa yang akan terjadi."
"Terimah kasih presedir Revan" ucap Danile yang begitu sangat senang, akhinya ia bisa menikmati rasanya punya adik permpuan.
Setelah kesepakatan selesai Revandra mohon diri untuk pulang, sebelum itu ia mengecup lembut kening Aliya,
"Ayah akan menjemputmu, seminggu lagi gadis kecil,"
"Baik ayah," Sambil melayangkan kecupan di kedua pipi lelaki dewasa itu, baru kemudin Revandra meminta Laila untuk mengantarnya sampai di ambang pintu.
"Presedir Revan sangat menyayangimi Aliya," ucap Reyno setelah Revan dan Laila berlalu."
"Iya paman.! Ayahku sangat menyangiku."
Mendengar gadis itu memanggilnya paman, Reyno merasa sakit, betapa pedih hatinya ketika putri yang ia rindukan selama ini memanggilnya paman, tak terasa air matanya mengalir.
"Mengapa paman menangis.?" Tanpa kata-kata, Reyno memeluk Aliya,
"Berhenti memanggilku paman nak, aku adalah ayahmu." ucapnya dalam tangisnya.
Revandra dan Laila sudah sampai di ambang pintu, sebelum Revandra pergi, ia sempat berkata sesuatu pada Laila
"Jika kau berani menyentuh sehelai rambut purtiku atau membuatnya menderita selama berada di rumah ini, maka semua rahasiamu akan terbongkar dan kau akan kehilangan orang yang paling kau sayangi, ingat, saya belum sepenuhnya memberimu perhitungan atas meninggalnya istriku, ibu Aliya," kemudian berlalu meninggalkan Laila yang penuh dengan tekanan.
Bersambung...
******
__ADS_1