
Suasana malam di Amerika begitu tenang bagi Revandra yang sedang memikirkan sesuatu, tiba-tiba ponselnya berbunyi
"Hallo, bagaimna dengan apa yang saya minta apakah kamu sudah mendapatkannya.?" tanya Revandra pada si penelfon yang tak lain adalah sahabat sekaligus rekan bisnisnya Andre.
"Di mana kau sekarang.?"
"Saya di hotel xxx."
"Ok, tunggu aku." ucap Andre lalu mematikan panggilannya.
Beberapa hari yang lalu sebelum Revandra berangkat ke Amerika, ia sempat meminta bantuan sahabatnya untuk mencari tahu tentang latar belakang putri tirinya... ia tak mau jika suatu saat nanti keluarga Aliya datang dan merebut Aliya darinya, apalagi sekarang perasaan ayah kepada putrinya kini telah berubah, meskipun selama lima belas tahun ini tidak ada yang mencari keberadaan Aliya, Revandra tetap bertekad untuk mencari tahu.
Cukup lama Revandra menunggu kedatangan Andre, hari ini ia akan tahu tentang asal usul putri tirinya itu. hanya dengan bermodalkan sevuah gelang yang di kenakan ibu Aliya saat bertwmu dengannya, dan mengapa ibu kandung Aliya membawa putrinya dan meminta Revandra untuk menikahinya.
Beberapa waktu berlalu Andre telah tiba dan langsung masuk ke kamar Revandra setelah Revandra mempersilahkannya masuk. Lalu Mempersilahkan Andre untuk duduk di sofa.
"Apa yang kau dapatkan."?
"Tidak bisakah kau memberiku minum dulu.?" Protes Andre yang mendelik melihat Revandra yang tidak sabaran.
"Aku memanggilmu kesini bukan untuk berbasa-basi, jadi apa yang kau dapatkan.?
semoga saja kau tidak membuatku kecewa." ucap Revandra yang memicingkan matanya.
Revandra menatap laki-laki yang ada di hadapannya, membuat pria itu lagi-lagi mendengus karna Revandra yang tak bisa sabar sama sekali.
"Apa kau ragu dengan kinerjaku."
__ADS_1
Revandra kemudian melepas sedikit rasa tidak sabarannya itu, menyandarkan punggunya di sofa. Ia kembali bersikap tenang tanpa memperdulikan Andre yang sedikit jengkel dengan perlakuan Revandra.
"Jadi ! apa yang kau dapatkan.?" karna melihat Revandra yang masih sedikit tidak sabaran, Andre segera melemparkan map yang berisi berkas-berkas ke atas meja yang sejak tadi ia bawa. Sebenarnya ingin sekali rasanya Andre melemparkan map itu langsung ke wajah dingin Revandra yang menyebalkan itu, tapi semuanya tidak mungkin. Andre masih ingin hidup lebih lama.
Revandra menegakkan tubuhnya kembali dan tak lagi bersandar pada sofa. Baru kemudian mengambil map itu, tampa membuang waktu, Revandra langsung membuka map itu dan melihat isinya, membaca setiap lembar yang ada di dalamnya dengan seksama, kemudian kembali menatap Andre.
"Apa kau yakin ini benar.?"
"Jika kau merasa ragu, silahkan kau cari tahu sendiri, tak perlu meminta bantuanku." jawab Andre lirih.
Setelah meneliti kembali berkas-berkas itu, Revandra memasukkanya kembali ke map,
"Tapi apa alasan mereka mengusir ibu Aliya.?" Tanya Revandra yang masih penasaran sebab hal itu tidak ada dalam berkas itu yang Andre berikan padanya.
Aku tidak tau, karna selama ini hanya ada satu Nyonya yang sering dibahas dalam keluarga itu, tidak ada ibunya Aliya ataupun Aliya, Dan gelang yang kau berikan untuk keperluan penyelidikan padaku memang khusus di buat untuk keluarga itu saja, aku tahu itu dari pengrajinnya langsung.
Revandara menyipitkan matanya mendengar penuturan Andre dan kembali berkata.
"Apa kau serius?"
"Ya, untuk apa aku bermain-main dengan hal seperti ini.
"Bukan begitu, hanya saja, mengapa kau sangat ingin tahu tentang hal itu.? jika kau ingin mengantarkan Aliya ke keluarganya, bukankah apa yang ku berikan pada mu ini sudah cukup.?" sambil menunjuk map berisi berkas tentang data latar belakang Aliya.
"kau salah jika berfikir aku meminta bantuan mu untuk mencari tahu latar belakang Aliya hanya untuk memulangkannya ke keluarganya. Aku justru takut jika suatu saat ada orang yang mengaku keluarganya dan mengambil gadis kecilku, dia milikku Andre, tak seorang pun yang dapat merebutnya dariku." Tegas Revandra dengan nada menekankan pada kata-katanya.
Andre yang mendengar setiap ucapan-ucapan Revandra terkejut dan menganga. baru kemudian membuka bibirnya, memberanikan diri untuk bertanya.
__ADS_1
"Ka... Kau menyukai putrimu Revan.?" tanya Andre untuk memastikan apa yang dikatakan pria dingin di depannya itu.
"Apa kah salah.?"
"Tidak, hanya saja aku terkejut dan tak percaya, seorang Revandra yang berumur tiga puluh lima tahun yang sempurna dingin dan di gilai wanita-wanita karir, bahkan artis papan atas, bisa-bisanya menyukai gadis kecil yang masih berumur sembilan belas tahun, Aliya memang cantik dan tak kalah sexy dari wanita-wanita yang kau kencani selama ini, Tapi... bagai mana bisa kau menyukai anakmu sendiri.?"
"Dia bukan anakku, dia adalah gadia kecil yang ibunya bawa saat menikah denganku, aku memang membesarkannya dengan kedua tanganku, dan merawatnya seperti anakku sendiri, tapi bagaimana pun Aliya bukan anak kandungku. dia tidak terdaftar sebagai anakku di mana pun. Sedang data-data untuk keperluan sekolahnya masih menggunakan data-data dari ibunya sebagai orang tua tunggal, kami sama sekali tidak mendaftarkan pernikhan kami di pengadilan, jadi tidak ada larangan untukku menyukai putri tiriku.
Andre mengangguk-anggukan kepalanya, menandakan apa yang dikatakan oleh Revandra itu benar, tapi tetap saja Andre benar-benar tidak percaya bahwa Revandra jatuh cinta pada gadis kecil yang ia besarkan dengan tangannya sendiri.
"Jadi, apa saja yang telah kalian lakukan selma ini ? kau sudah mengajarkan berbagai hal pada gadis polos itu.? dan apa kau tidak merasa bersalah pada ibunya.?"
Lelaki dewasa itu terdiam sejenak, baru kemudian menjawab pertanya-pertanyaan Andre yang di lontarkan padanya.
"Awalnya iya, aku memeng sempat merasa bersalah saat itu, tapi setelah jujur dengan perasaan ku semuanya berubah, Aliya juga tidak keberatan, aku rasa gadis itu juga merasakan hal yang sama denganku" ucap Revandra yang terus terang pada sahabatnya itu.
Andre bukan hanya sekedar rekan bisnisnya tapi juga sahabatnya, tempatnya mencurahkan isi hatinya, dan segala keluh kesahnya, Revandra duga sudah menganggap Andre saudaranya.
"Kau tidak akan mengerti Andre.! lima belas tahun aku membesarkannaya, dan tiba-tiba saja perasaan ini berubah hanya karna aku menyentuhnya dengan tidak sengaja."
Revandara mengusap wajahnya saat mengingat kembali malam yang mendebarkan saat pertama kali ia menyentuh Aliya, sedang Andre memajukan tubuhnya penasaran dengan apa yang di ceritakn oleh Revandra. dan Revandra kembali melanjutkan ucapannya.
"Bagian dalam diriku tidak bisa mengabaikannya, aku merasa apa yang kulakukan benar, semudah itu aku membuang statusku sebagai seorang ayah, naluri lelakiku bangkit hanya karna gadiskecil itu."
Lelaki dewasa itu kembali menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa dan menatap langit-langit kamar hotel itu.
"Argh...! membayangkan saja membuatku merinding.
__ADS_1
Bersambung...
******