
"Revandra, sepertinya kami datang di saat yang tidak tepat." ucap seorang pria yang baru saja datang dan menyaksikan pemandangan panas tadi.
Revandara berbalik ke sumber suara dan menatap tajam lelaki yang baru saja datang itu, sedang seorang gadis di samping lelaki itu terpaku dan meneteskan air mata.
"Om Revan, aku tidak menyangka..." sambil berlari disertai air mata yang mengalir.
"Andre, sejak kapan kau tiba.?"
"Baru saja,"
"Andre, semua tidak seperti yang kau duga."
"Aku tau."
"Tapi Aren melihat semuanya, aku takut..."
"Tak usah kau pikirkan Aren, aku akan memberinya penjelasan tentang ini, selesaikan saja masalahmu dengan Megie." ucap Andre berbalik mengejar Aren,
Magie bingung, dan bertaya-tanya siapa gadis yangbmenagis tadi.
"Revan, siapa gadis tadi ? dan mengapa dia menagis.?"
"Magie sudahlah, aku tak banyak waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanmu, dan aku harap ini untuk yang terahir kalinya kau berlaku seperti ini, dan jangan sekali-kali katakan pada putriku." berlalu meninggalkan Magie yang terlihat kesal.
Sejak malam itu, Revandra tidak pernah pulang ke rumahnya, ia lebih memilih untuk tinggal di kantor selama tiga hari terahir. Ia tak mau jika Magie kembali memggodanya dan ia akan terbuai, dan akan membuat Aliya kecewa.
"Revan." panggil Andre sesaat setelah masuk ke ruangan Revandra, membuat lamunan Revandra buyar.
"Ah, kau mengagetkanku."
"Sudah tiga hari kau tidak pulang."
"Aku tak bisa tinggal di rumah itu selama Magie ada di sana."
Andre mengangguk-anggukan kepalanya seraya mengusap-usap dagunya, dan kembali bertanya pada lelaki yang seperti sedang gunda gulana.
"Hari ini, hari terahir Aliya di rumah keluarganya, apa kau akan menjemputnya.?"
"Ya, lalu bagai mana dengan Aren, apa kau sudah memberinya penjelasan.?"
"Tenang saja, aku sudah memastikan dia tidak akan mengatakannya kepada Aliya."
__ADS_1
"Baguslah, lebih baik aku menjemput gadis ku sekarang," ucap Revandra.
Belum juga ia berdiri ponselnya menerima sebuah pesan dari Aliya.
(Ayah, aku sudah hampir sampai di rumah)
pesan itu membuat Revandra tersentak, ia buru-butu beranjak hendak pulang.
"Ada apa Revan.?"
"Shiit...!, Aliya sudah dalam perjalanan pulabg, dan sebentar lagi akan samapi di rumah, aku takut Magie akan mengatakan sesuatu padanya." bergegas meninggalkan Andre.
Benar saja apa yang di katakan Revandra Aliya sudah lebih dulu bertemu dengan Magie, gadis itu tertekun saat melihat Magie yang sangat cantik dan anggun, tapi jika di bandingkan dengan Aliya, Aliya masih sedikit lebih cantik dari wanita itu.
"Hallo, Kau sudah tumbuh jadi gadis cantik Aliya." ucap Magie membuat Aliya bingung, siapa wanita ini.? dan apa yang di lakukan di rumah kami.? tanya Aliya dalam hati.
"Maaf, tante siapa ? dan di mana ayahku"
"Masuklah dulu cantik, nanti kita bicara di dalam." ucap Magie dengan senyum hangat.
Gadis itu hanya menurut saja ajakan Magie untuk masuk ke dalam rumah,
"Tante siapa.?" kembali Aliya bertanya setelah duduk di sofa.
Bergetar perasaan Aliya, rasanya hatinya seperti tertusuk ribuan pedang, jantungnya berdegup kencang seakan mau copot, sedikit lagi matanya hampir saja mengeluarkan air mata namun masih bisa ia tahan. lalu seorang lelaki menghampirinya membuat Aliya seketika berdiri dan memeluk lelaki itu.
"Ayah...! Aliya kangen."
"Ayah juga sayang," mengusap lembut rambut gadis itu. kemudian beralih pandang pada Magie yang duduk santi di sofa.
"Maaf Magie, aku akan mengantar Aliya untuk istirahat." berlalu tampa mendengar jawaban dari Magie, membawa Aliya masuk ke kamarnya, sebab kamar Aliya sedang di gunakan oleh Magie.
Revandra memeluk Aliya di kamarnya, melepaskan kerinduan selama tiga hari terakhir.
"Ayah, siapa wanita itu.?"
"Dia Magie, mantan pacarku, dia juga wanita yang menyakitiku dan memilih menikah dengan pamanku, karna dia aku bertemu ibumu dan menikahinya."
"Tapi, tadi tante Magie bilang dia akan menjadi ibu Aliya,"
"itu tidak akan terjadi sayang, dua bulan dari sekarang kita sudah akan menikah kan ? jadi tak usah kau hiraukan dia. Kau paham sayang.?"
__ADS_1
Gadis itu mengangguk lalu berbaring di tempat tidur di susul Revandra setelah menganti pakaian kantornya menjadi setelan kaos dan celana pendek, lalu memeluk gadis itu hangat, hingga mereka tertidur pulas
***
Sudah dua hari sejak kepulangan Aliya dari rumah keluarganya, dan selama Magie di rumah itu, Aliya tidur dengan Revandra tentunya juga untuk melakukan hal-hal yang bisa melepaskan kerinduan diantara mereka.
Malam itu sekitar pukul sembilan belas nol nol, Aliya terbangun dan mencari di Revandra di sekitarnya, namun tak ia temui sosok yang di carinya. Gadis itu kemudian beranjak dari tempat tidur dan menganti pakain tidurnya dengan gaun sehari-harinya.
Gadis itu turun hendak mencari keberadaan Revandra, tapi betapa terkejutnya Aliya saat melihat Magie dan Revandra sedang berciuman di ruang tengah. Hatinya sangat sakit, tak mampu rasanya ia melangkah, dan hanya terdiam terpaku, Air matanya mengalir kencang.
"Ay...Ayah...!" panggilnya terbata-bata, membuat Revandra menoleh,
"Aliya..!"
Belum sempat Revandra menjelaskannya, Aliya sudah berlari meninggalkan rumah itu, saat itu Revandra hanya menggunakan celana pendek saja, jadi ia ke kamarnya dulu untuk memakai baju, lalu mengejar Aliya, tapi sudah terlambat, Aliya sudah tidak ada.
Aliya berlari sambil menagis, ia melihat ada seorang ibu-ibu, dan meminjam ponsel ibu itu untuk menghubungi Aren.
"Hallo, Aren, Ayah..." sambil menagis.
"Ayah, Ayah dengan wanita itu.."
"Al, sebenarnya aku tahu, tapi Andre melarangku untuk memberitahumu, tapi Al, percayalah om Revan bukan orang yang seperti itu."
Aliya langsung mengakhiri pangilan itu, tenyata mereka semua sudah tau tapi tidak memberi tahukan padanya, gadis itu merasa sangat kecewa pada orang yang sudah di anggap sahabatnya itu, Aliya kemudian pergi ke sebuah Bar, setelah mengembalikan ponsel ibu-ibu tadi.
Sedangkan Revandra sedang ketar-ketir mencari keberadaannya, lelaki dewasa itu sempat menelfon Andre dan bertanya, tapi jawaban yang ia dapatkan tidak sesuai dengan harapannya. Aliya tidak ada di rumah Andre, Andre memberi tahu Revandra bahwa Aliya bahkan marah pada Aren karna tak memberi tahunya mengenai ia dan Magie dan apa yang terjadi beberapa hari yang lalu
Revandra sangat frustasi, semua tempat yang sering Aliya datangi, lelaki itu menyusurinya, namun hasilnya tetap sama, Aliya tidak ia temui di mana pun
Di sisi lain, di sebuah Bar, Aliya memesan wine dengan kadar alkohol yang sangat tinggi, gadis itu tak pernah sekalopun meneguk Wine, tapi saat ini dirinya sedang di landa perasaan kecewa dan sakit hati. Dua botol wine sudah dihabiskannya, lalu dua orang pria menghampirinya.
"Nona, kau minum terlalu banyak, apa kah ayah dan ibumu tidak mencarimu.?" ucap lelaki itu yang sebenarnya berniat membawa Aliya masuk ke kamar dan menikmati tubuh Aliya, yang memang Aliya hanya menggunakan gaun sehari-harinya, yang tali pengait penghubung gaun itu sangat tipis.
"Ayah.? huh... ayah sudah tidak perduli denganku, semua tidak ada yang perduli dengangku, hahaha." ucap Aliya sambil tertawa, menertawakan dirinya, dan terhuyung-huyung saat berdiri.
Kedua pria itu mengambil kesempatan untuk membawa Aliya yang sudah setengah tidak sadar.
"Lepaskan aku, kau mau membawaku kemana.?" ucap Aliya yang masih sedikit ada kesadaran untuk tahu bahwa dirinya akan di bawah ke suatu tempat. Ia berusa meronta, tapi dengan ke adaannya saat ini, gadis itu tak bisa berbuat banyak.
"Tenanglah Nona, kami akan membawamu melihat bintang-bintang yang indah di surga, kau akan merasa seperti sedang terbang di langit, jadi jangan banyak bergerak. Biarkan kami membawamu nona cantik." ucap salah satu pria yang hendak membawa Aliya dengan senyum penuh n*fau.
__ADS_1
Bersambung...