
Beberapa waktu lalu, Revandra mendapat sebuah pesan dan meninggalkan Magie dalam keadaan hampir tidak sadarkan diri, wanita itu menjadi amukan Revandra karna sangat frustasi, ditambah lagi Magie memaki Aliya, membutnya semakin geram bersimpuh emosi.
Revandra mengendarai mobilnya dengan kecepatan rata-rata hingga akhirnya ia sampai di depan sebuah hotel xx. Lelaki itu berlari masuk ke sebuah kamar setelah bertanya pada rsepsionis tentang penghuni kamar itu
Betapa terkejutnya Revandra melihat Aliya yang sudah tidak memakai pakaian terlebih lagi pipi gadis itu memerah seperti sudah ada yang memukulnya. Revandra buru-buru ke hotel itu setelah Axcel mengiriminya pesan tentang keberadaan Aliya.
(Presedir Revan, Aliya ada bersamaku di hotel xx, jangan samapi aku sudah mendapatkannya baru kau datang). Isi pesan yang dikirim Axcel.
Axcel lebih memilih memberitahukan keberadaan Aliya pada Revandra dan meninggalkan gadis itu, jika saja ia terus di kamar itu, dirinya tidak bisa menjamin apa yang akan di lakukannya kepada gadis yang begitu menggoda, dan sudah membangkitkan g*irahnya.
Di kamar hotel, Revandra mendekati Aliya, lalu memasukka dua jarinya ke milik Aliya, untuk memeriksa, jangan sampai Axcel benar-benar melakukan seperti apa yang ia katakan di pesan itu.
Perasaan lega Revandra ketika ternyata tak ada bekas seperti sudah melakukan s*x di dalam sana. Lalu menarik kembali jarinya, menatap lekat wajah gadis di hadapannya. Kau sungguh bodoh Revan, seharusnya kau mengusir Magie sebelum Aliya kembali" makinya pada diri sendiri sambil meremas rambutnya karna frustasi, akibat ke llalaiannya, ia membuat gadis itu terluka.
Perlahan Revandra mengecup lembut bibir gadis itu, dan perlahan pula mata gadis itu terbuka saat merasakan bibirnya tertimpa sesuatu, benar saja, Revandra tengah menciumnya. Segera saja Aliya mendorong tubuh Revandra.
"Jangan sentuh aku Ayah, aku benci padamu, Aliya membecimu, sangat membencimu," ucapnya di sertai air mata yang bercucuran.
"Dengarkan penjelasanku Aliya, kumohon sebentar saja." sambil menarik Aliya kedalam pelukannya. Tapi gadis itu meronta, dan berusah melepaskan dirinya.
"Tidak, aku membencimu ayah, jangan sentuh Aliya." rengeknya dalam rontanya.
Revandra tetap berusaha memeluk gadis itu, hingga tampa sengaja Aliya menampar wajah Revandra. Sesaat lelaki itu terdiam, baru kali ini Aliya berani menamparnya. Seketika emosinya meluap. Revandra mendorong tubuh Aliya sehinga berbaring di kasur, lalu memaksa Aliya,
__ADS_1
Sedetik kemudian Revandra berhasil membenamkan miliknya pada milik Aliya, dan memberikan hentakan pada gadis itu. Dibalik perasaanya yang kacau Aliya memeluk tubuh kokok lelaki itu, ia merasa kesakitan di bawah sana karna Revandra terlalu kasar melakukannya, tak kuasa menahan, Aliya mengigit bahu Revandra, membuat lelaki itu sadar akan tindakannya, tapi apa boleh buat semuanya sudah terlanjur. Kembali ia memberikan hentakan pada Aliya namun sudah sangat lembut, berangsur-angsur rasa sakit yang dirasakan gadis itu berubah menjadi k*nikmatan tiada tara. sampai pelepasan terjadi berkali-kali, Aliya hanya pasrah, melawanpun ia tak mampu, badan Revandra begitu kekar.
Setelah puas, Revandra mengendong Aliya ke kamar mandi, membersihkan sisa-sisa aktivitas panasnya, tampa memperhatikan bahwa mata gadis itu mengelurkan air mata dengan tatapan kosongnya. Setelah membersihkan Aliya dan diri sendiri, Revandra kembali membawa Aliya ketempat tidur, gadis itu hanya diam, bukan karna k*nikmatan yang di berikan Revandra terhadapnya, melainkan karna dirinya masih syok lantaran baru pertama lelaki itu mencembuinya dengan sangat kasar.
Dalam tangisnya, gadis itu akhirnya terlelap juga, Revandra memeluk gadis itu dengan rasa bersalah.
"Maafkan aku Aliyah, maafkan aku jika sangat kasar terhadapmu malam ini," bisiknya pelan dan lembut di telinga Aliya, tapi tak ada jawaban dan pergerakan dari gadis itu. Sampai Revandra juga ikut terlelap.
***
Esok hari Revandra membawa Aliya pulang ke rumah, Magie juga sudah pergi dari rumah itu sejak semalam. Revandra tak tau harus berbuat apa agar gadis itu mau berbicara padanya. Berkali-kali ia mencoba mengajak Aliya berbicara namun gadis itu tetap diam di sofa sambil memeluk lututnya, pandangannya kosong membuat Revandra benar-benar hampir gila, dirinya sangat frustasi sehingga menendang sebuah hiasan guci yang setingi tubuhnya yang ada di ruang tamu, tapi tetap saja tak ada pergerakan pada Aliya.
Gadis itu hanya menatap serpihan guci yang pecah di lantai, para pelayan yang mendengar guci pecah, tak ada yang berani mendekat, terlebih lagi Revandra dalam keadaan yang seperti itu.
"Haruskah aku tidak membencimu ayah.?" ucap Aliya yang tiba-tiba membuka suara, membuat Revandra yang tadi berdiri membelakanginya berbalik dan duduk di samping Aliya.
"Akhirnya kau mau berbicara padaku Aliya, aku sangat frustasi kau mengabaikanku." ucapnya lembut, tak terasa air matanya menetes jatuh dan membasahi tangan Aliya.
Aliya yang merasa tangannya tertimpa cairan, ia berusaha mendongkakan kepalanya dan menatap lekat lelaki di hadapannya. Ia melihat Revandra sedang menangis, baru kali ini Aliya melihaya, seorang Revandra yang begitu tegas dan kejam, meneteskan air matanya.
Tapi tetap saja gadis itu tidak berkata apa-apa, ia hanya menatap wajah lelaki itu, baru kemudian kembali merubah posiainya dengan memeluk lututnya.
Sudah tiga hari Aliya bersikap seperti itu, Ia bahkan tidak pernah tidur di kamarnya atau pun di kamar Revandra, gadis itu memilih untuk tidur di ruang tamu, Revandra hanya mengikutinya saja tampa berkata apa-apa. Asalkan dia tetap bisa melihat Aliya berada di rumah itu sudah tak ada masalah baginya. Tapi sampai kapan ia harus menerima perlakuan tak perduli Aliya padanya.
__ADS_1
Selama tiga hari itu Aliya tidak mau bertemu siapa-siapa, Keluarganya sudah datang dan berencana membawanya pergi dari rumah Revandra, tapi gadis itu menolak, bahkan Aren sudah membujuknya, tapi gadis itu tetap saja diam dan memilih mengurung diri di kamar.
Diruang tamu Aren dan Andre beserta Revndra duduk tampa ada yang mengeluarkan kata-kata, sampai Aren sudah tidak tahan dan akhirnya membuka suara.
"Om Revan aku sungguh tak menyangka om Revan berbuat seperti itu pada Aliya, gadis itu sangat mencintaimu, bahkan rela mengorbankan tubuhnya untuk kau nikmati, agar kau tetap berada di sisinya, tapi om Revan justru mengecewakannya, andai saja aku dan Andre tidak datang waktu itu, mungkin saja om Revan sudah tidur bersama wanita itu." ucap Aren diserta dengan tangisnya yang pilu dan memaki Revandra.
"Kau salah paham Aren... malam itu aku memang hampir kehilangan kewarasanku, tapi bayangan-bayangan Aliya membuatku sadar dan menghentikan tindakanku, tapi saat aku hendak meninggalkan Magie, dia kembali memaksaku, aku berusah melepaskan diri tapi belum sempat, kau dan Andre sudah datang dan menyaksikan semuanya ." ucap Revandra tampa melihat Aren dan Andre yang duduk di depannya
"Tapi hal terahir yang membuat Aliya kabur, bagaimana kamu menjelaskannya Revan.?" tanya Andre
"Aku tidak menciumnya, Magie memang hendak melakukannya tapi aku menghindar namun sebelum itu Aliya sudah salah mengira dengan apa yang ia lihat."
Aren memincingkan matanya, dan meneliti setiap perkataan yang keluar dari mulut Revandra, dan ia memang tidak menemukan adanya kebohongan di sana. Resah hati Aren perlahan meredam, terlebih lagi Andre mengenggam tangannya, seolah memberi kekuatan untuk tetap tenang.
"Aku juga tidak tau, aku mencoba memberi gadis kecil itu penjelasan, tapi ia menolak dan terus mengabaikanku, bersyukur saat ini ia masih tinggal di sisiku, tapi aku takut dengan hari-hari kedepannya, jika dia terus saja seperti ini dan tetap tak mau mendengar penjelasanku, aku takut suatu saat ia akan benar-benar meninggalkanku Andre. Dan aku tak sanggup jika itu benar-benar terjadi." ucapnya.
Andre dan Aren berpamitan setelah mendengar penjelasan Revandra. Hingga malam tiba, Aliya merasa lapar dan kebetulan kamar tamu ada di lantai bawah, jadi ia tak perlu bertemu dengan Revand saat ia ke dapur. Aliya berdiri sejenak di ruang tamu melihat ke arah guci yang hanya tinggal satu, Ia teringat bahwa Revandra sangat menyukai kedua guci itu, tapi ia pula yang menghancurkannya.
"Aliya..." sebuah seuara wanita memanggilnya dari arah pintu. Aliya menoleh ke sumber suara, ia terpaku tak mampu bergerak, hanya air matanya yang mengalir melihat siapa yang memanggilnya
Bersambung...
*****
__ADS_1
AXCEL ATMAJA