
Semakin wanita itu melangkah mendekati Aliya, semakin Aliya mundur hingga akhirnya gadis itu terpojok di dinding dan menyenggol hiasan kaca yang ada di meja di samping ia berdiri.
"Jangan mendekat, jangan dekti aku." ucap Aliya seperti sedang tertekan. Tapi wanita itu tetap mendekat dan hendak meraih tangan Aliya. Belum sempat wanita itu meraih tangan Aliya, Revandra sudah berlari menuruni anak tangga karna terkejut dengan suara barang yang jatuh, ia segera mendorong tubuh wanita itu dan meraih Aliya ke pelukannya.
"Mau apa lagi kau kemari.?" ucap Revandra yang mulai geram
Aliya hanya diam saja saat Revandra memeluknya, bukan karna ia ingin tapi lantaran ia takut dengan wanita yang menghampirinya. Di dalam pelukan Revandra Aliya melihat tubuh wanita itu penuh dengan bekas seperti sudah di aniaya.
"Maafkan aku Revan."
"Berhenti minta Maaf Magie, lihatlah sekarang, karna kau, gadis kecil ini mengabaikanku."
"Aku hanya ingin minta maaf ke pada Aliya."
"Pergilah Magie, apa pelajaran yang ku berikan padamu belum cukup.? atau ingin menambah lagi.?"
"Revan luka ini saja belum sembuh kau sudah mau menambahnya lagi ? di mana rasa kasihanmu padaku ?, biar bagaimana pun, kita berdua pernah menjalin asmara Revan, bahkan kita melakukan hal-hal yang sangat jauh." berlinag air mata.
"Diam kau Magie, jangan kau membuat gadis kecil ini mendengarkan hal-hal yang sudah terjadi di masa lalu." Melepaskan pelukan Aliya.
"Revan kasihani aku, lihatlah tubuhku bekas cambukanmu, ini belum sumbuh, aku hanya dantang untuk mohon maaf pada gadis ini."
Tak,
Berdegup kencang jantung Aliya mendengar apa yang telah di lakukan Revandra terhadap Magie. Gadis itu mulai gemetaran, ada rasa takut yang mengerogoti tubuhnya. terlebih lagi saat ini Revandra seperti hendak melakukan sesuatu pada Magie, benar saja, Revandra kembali mencengkram leher Magie membuat Aliya semakin takut.
"Dengar Magie, jika kau tak berhenti sampai di sini aku benar-benar akan membunuhmu." ucap Revandra pada Magie yang saat ini sedang berusaha melepskn tangan kekar Revandra.
Aliya yang melihat itu, matanya mulai berkaca-kaca, ia semakin takut, ia takut jika suatu saat Revandra marah kepadanya, lelaki itu akan berbuat demikian padanya seperti apa yang tengah ia saksikan di hadapannya. perutnya yang tadi terasa lapar kini seperti di penuhi dengan sesuatu.
Tak kuasa melihat sesuatu yang membuatnya takut, Aliya berlari masuk ke kamar tamu dan mengunci pintu dari dalam, baru kemudian berbaring di ranjang menarik selimutnya hinga menutupi seluruh tubuhnya. Di balik selimut Aliya sangat gemetaran. Selama ini Aliya memang tahu sifat Revandra jika lelaki itu marah, tapi belum pernah ia melihat lelaki itu marah kepada wanita sampai seperti hendak membunuh.
Kalau saja yang di cengkram dan di siksa oleh Revandra adalah laki-laki, Aliya tidak takut, tapi kali ini berbeda, kejadian di Mall beberapa bulan yang lalupun, Revandra hanya menampar dua kali wajah wanita yang menindasnya, tidak sampai seperti yang ia saksikan tadi.
Teriakan dan gedoran pintu dari luar di dengar kencang oleh Aliya, tapi ia tak mau membuka pintu itu.
"Aliya, jika kamu tidak membuka pintu ini, aku akan mendobraknya."
Mendengar itu, akjirnya Aliya segera membuka pintu, lalu Revandra segera memeluknya dan gadis itu hanya diam saja tak ada pergerakan, ia hanya mengitip sedikit di balik pekukan Revandra, dan melihat Magie sudah tidak ada.
"Aliya maafkan aku."
"Ayah, aku ingin ke tempat om Andre,"
"Untuk apa kau kesana sayang.?" tapi tak ada jawaban, membuat Revandra menuruti permintaan gadis yang tak mau melihat wajahnya itu.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mengantarmu."
"Tidak, biarkan aku pergi sendiri."
"Tidak bisa, aku harus mengantarmu."
"Ayah, jika ayah tak mau mendengarkan ku, aku akan bunuh diri ayah." ucapnya dengan nada datar dan mengancam.
"Baik, baiklah, tapi kau harus di atar sopir."
"Tidak, aku ingin naik taxi saja, dan ingat jangan mengikutiku, jika aku tau, aku akan benar-benar menghilang dari dunia ini.."
Revandra memilih untuk mengalah saja,
***
Aliya pergi meninggalkan rumah Revandra sendiri, dan hanya membawa ponselnya saja, ia bahkan tak membawa uang sepersenpun. Revandra tidak menghawatirkan tentang itu, toh nantinya juga di rumah Andre, gadis itu akan mengenakan pakaian Aren, dan taksi juga pasti Andre akan membayarnya. pikir Revandara.
Tapi apa yang di harapkan Revandra tidak sesuai. Aliya justru berbelok Arah, tidak menuju rumah Andre. Ia kemudian meminta sopir taxi menurunkannya di jembatan, sopir itu menurut saja. Beberapa saat berlalu Aliya masi tetap pada posisinya, berdiri di pinggir jembatan dan menatap lampu yang berkelap-kelip di seberang sungai, membuat sopir taxi jenuh.
"Nona, mau sampai kapan kita di tempat ini.?"
"Maaf pak sopir aku lupa membawa uang."
"Maaf, aku sungguh tak punya uang, Bagaimana kalau pak sopir mengabil ponselku sebagai gantinya."
"Baik."
Baru saja pak sopir hendak meraih ponsel yang di sodorkan Aliya padanya, seseorang menghentikannya.
"Berapa tarifnya pak.?"
"Sekian," sambil menunjukan angka argo yang tertera. lalu Sopir itu tersenyum setelah ia mendapat byarannya, bahkan di lebihkan oleh orang itu.
Setelah diam sesaat, menunggu orang itu membayar biaya taxi, Aliya kemudian memeluk orang itu erat, dengan berlinang air mata, membuat baju berwarna biru muda milim seseorang itu menjadi basah.
Di rumah Revandra menghubungi Andre.
"Hallo, Andre apa Aliya sudah sudah tidur ?"
"Aliya.?" tanya Andre bingung.
"Ya, bukankah gadis kecil itu ada di rumahmu.?"
"Tidak ada Revan."
__ADS_1
"Sial..! dia berpamitan padaku untuk tinggal di rumahmu, ia bahkan tidak mebawa pakaian dan uang spersenpun. Aku membiarkanya karna aku pikir kau yang akan membayar taxinya setelah samapi di rumahmu."
"Aliya tidak menghubungiku."
Revandra mengakhiri panggilan telfon itu, dan bergegas ke garasi, lalu naik kemobil dan mengendarainya dengan kecepatan maximal. Ia mencoba menghubungi ponsel Aliya tapi tak ada jawaban, lalu menghubingi Danile di rumah Mintle, menanyakan. apakah Aliya ada di sana atau tidak. dan benar Aliya tidak sedang berada di rumah itu.
"Siapa yang yang menghubungimu malam-malam begini Danile," Tanya Laila dan Reyno yang melihat Danile sedang cemas setelah menerima panggilan, yang memang kebetulan mereka sedang duduk di ruang tamu untuk berbincang-bincng sebelum tidur.
"Presedir Revan."
"Ada apa dia menghubungi malam-malam begini.?"
"Aliya menghilang."
"Apa.?" kaget Reyno, Lain dengan Laila. di bibirnya terukir sentum puas. bagus, sekalian saja dia tidak di temukan. ucapnya dalam hati.
Revandra sudah mencari Aliya kemana-mana tapi tidak juga ia temukan gadia kecil itu.
"Di mana kau sayang, jangan menyiksaku seperti ini." nada khawati, lalu tiba-tiba ia teringat dengan Axcel, Revandra segera meraih ponselnya yang sempat di letakkanya tadi setelah menghubungi Danile. baru kemudian menelfon Axcel.
"Halo Axcel, apa Aliya sedang bersammu.?" tanya Revan setelah panggilan tersambung.
"Tidak, Aliya sedang tidak berada di sini."
Panggilan terputus setelah Revandra mendapatkan jawaban, lelaki itu memarkirkan mobilnya, dan membenrur-benturkan kepalanya pada stir mobil sambil memaki dirinya sendiri.
"Kau bodoh Revan, sangat bodoh, mengapa kau membiarkan gadis itu pergi sendiri, hanya karna kau takut ia mengakhiri nyawanya. kau sungguh bodoh Revan."Maki pada dirinya sendiri.
"Aliya kau di mana sayang..!"
Bersambung...
******
AREN
ANDRE
DANILE
__ADS_1