
Semenjak Laila mendapatkan sebuah berkas dari orang tak di kenalnya, pikiranya menjadi kacau, terlebih lagi Revandra menawarkan kerja sama pada perusahaannya, sebenarnya wanita itu tak mau bekerja sama tapi karna desakan lelaki tua Mintle, membuatnya terpaksa menerimanya.
Dua minggu lalu Laila menerima berkas yang isinya tentang Aliya, di mana Aliya tinggal dan penyebab kematian ibu Aliya yang sesungguhnya. Dan bagaimana cara ibu Aliya menikahi Revandra. Itulah yang membuat perasaan Laila jadi kacau, di tambah lagi, kenapa harus Revandra yang menemukan ibu dan anak itu, akankah semuanya terbongkar.? tidak, aku tidak akan membiarkan ini terjadi. susah payah aku mengatur semuanya. ucapnya dalam hati.
"Sayang, kau kenapa? apa yang kau pikirkan.?" tegur suaminya yang melihat Laili melamun di kamar.
"Ti...Tidak ada,"
Lelaki itu mengerutkan keningnya, merasa seperti ada yang di sembunyikan istrinya. ia kemudian duduk di samping Laila,sl seraya menarik kepala istrinya dan menyandarkannya di bahunya. Sesaat ruangan itu menjadi hening, hingga akhirnya Reyno kembali membuka suara.
"Laila, aku merindukan putri kecilku, saat itu ibunya membawa gadis kecil itu pergi. Dan setelah kabar kematiannya, sampai saat ini di mana gadis kecil itu berada. Apakah dia juga meniggal, dan jika dia tidak meninggal, di mana dia sekarang. Apakah dia hidup dengan tenang, atau justru menderita di jalan.
Wantita itu berpura-pura merasakan kesedihan suaminya. Cih...! putrimu baik-baik saja, dia bahkan hidup dengan damai di sisi penguasa kota S. Seharusnya waktu itu aku juga membuat gadis kecil itu lenyap. Ucap Laila dalam hati.
"Sudahlah sayang, jika memang kau ditakdirkan untuk bertemu dengan putri kecilmu, maka kalian akan bertemu."
"Tapi Laila."
"Sudahlah sayang tolong jangan membahasnya lagi, tidakkah kau ingat apa yang ibubya lakukan pada kita ?. sebenarnya aku tidak percaya dia bisa melakukan itu pada kita, tapi semua bukti cukup kuat untuk membuktikan perselingkuhan mereka." ucap Laila yang seakan-akan ibu Aliya lah yang bersalah, padahal yang sebenarnya terjadi, hanya dia yang tahu beserta orang-orang kepercayaannya.
Tiba-tiba ganggang pintu bergerak seperti ada orang yang hendak masuk, tanpa menunggu lama, Danile sudah muncul di ambang pintu dan melangkah ke arah Laila dan Reyno dengan wajah yang penuh dengan pertanyaan.
Lelaki muda itu duduk di sofa sedang Laila dan Reyno tetap pada posisinya di tepi pembaringan.
"Mama,,,"
"Ada apa.?"
"Aku sudah tau semuanya." ucap Danile tegas, membuat suasana menjadi tegang.
Melihat kedua orang di depannya menegangan Danile kembali membuka suara.
"Ibu aku sudah tau dia bukan ayahku, kenapa kalian sungguh tega pada bibi Laili."
"Nak, bukan kami yang tega pada bibimu, tapi ayah dan bibimulah yang melakukan pada kami terlebih dahulu." ucap Laila yang di selimuti rasa takut, takut kalau-kalau Danile juga tahu apa yang sebenarnya terjadi tentang kematian Laili.
"Mama, aku tidak percaya jika bibi dan ayahku melakukan itu, seperti yang ku dengar dari kakek, ayahku adalah orang yang baik, tidak mungkin main serong dengan bibi Laili."
"Danile berhentilah membuat keributan seperti ini, lebih baik kau mempersiapkan diri, dua bulan lagi adalah perayaan ulang tahun perusahaan, dan itu akan menjadi perkenalan buatmu sebagai pewaris perusahaan." bentak Laila.
__ADS_1
"Tidak aku tidak akan menjalankan perusahaan sebelum aku tau di mana gadis kecil yang di bawa bibi." Berdiri dengan emosi menatap Laila dan Reyno yang sudah dilanda ketegangan. Baru kemudian berbalik dan keluar dari kamar ibunya.
Berlalunya Danile membuat Lalila jatuh tersungkur kelantai tak kuasa menahan kakinya yang gemetaran. ia takut jika Danile benar-benar akan mencari tau tentang Aliya. terlebih lagi, mereka sudah pernah bertemu, Beberapa waktu lalu, Danile juga sempat bertanya tenta kemiripan Aliya dan ibunya.
"Kau kenapa sayang.?" ucap Reyno sambil membantu Laila berdiri dan menuntunya kembali ke kasur.
"Aku sangat lelah, karna Danile, aku hanya ingin bersitirahat saja."
***
Di mobil, dalam perjalanan mengantar Aliya ke kampus, Aliya melakukan hal-hal seperti biasanaya, selalu menghujani Revandra dengan kecupan kecupan di bibirnya. Lalu berbisik pada lelaki dewasa itu
"Ayah, apa yang Aliya lakukan kemari itu sudah benar atau belum.?"
"Yang mana maksudmu.?"
"yang seperti ini loh Ayah,." mengambil buah pisang yang sempat mereka beli di jalan tadi, lalu memperaktekan caranya pada Revandra.
Shiit...! gadis kecil ini semakin berani mempermainkaku, ucap Revandra dalam hati.
"Ayah, apa sudah benar seperti ini.?"
"Aliya, mulai saat ini kau tidak diperbolehkan untuk mempelajari hal-hal yang seperti itu,"
"Bukankah sebentar lagi aku akan menikahimu Aliya.?"
"Tapi tetap saja Aliya ingin mempelajarinya, orang yang sudah menikah belum tentu tidak akan berselingkuh, jadi Aliya akan tetap berusaha untuk mencega hal itu terjadi."
"Baiklah, kau boleh mempelajarinya, tapi biarkan ayah yang mengajarimu gadis kecil." wajah Aliya memerah terlebih lagi tangan Revandra sudah menyusup masuk ke dalam bajunya. Sopir yang mengemudi tidak berani untuk berbalik, ia hanya pasrah saja dengan apa yang Ayah dan anak itu lakukan.
Beberapa waktu, mobil itu singgah di depan univeraitas tempat Aliya belajar. sebelum turun dari mobil, seperti biasa Aliya memberi kecupan di kedua pipi lelaki dewasa itu, baru kemudian beranjak, sambil melambaikan tangan pada Revandra.
"Al..."
Terkejut Aliya saat seorang pria menepuk pundaknya dari belakang.
"Kak Axcel, bikin kaget saja." sambil menyapu dadanya.
"Ada apa kak.?" tanya Aliya kemudian.
__ADS_1
"Al, sebentar lagi ulang tahun perusahaan Mintle Grup akan di adakan. maukah kau menjadi pasangan untukku.?"
"Tidak," jawab Aliya sengkat.
"Kenapa Al.?"
"Karna aku akan pergi dengan Aayahku."
"Oh,,, baiklah, tapi Al, ada yang ingin aku bicarakan padamu."
"Tapi Kak Axcel, menurut aku tak ada yang perlu kita bicarakan.
"Kumohon Aliya sebentar saja."
"Baiklah," Aliya setuju karna merasa kasihan pada pria itu yang memohon dengan sepenuh hati.
Kedua remaja itu berjalan ke salah satu cafe terdekat yang ada di sekitar kampus. Mereka duduk dan memesan segelas cafe late, di sertai sepotong kue kesukaan Aliya, tak lama menunggu, pelayan cafe membawa pesanan mereka.
Aliya tampak senang melihat kue favoritnya sudah ada di hadapannya. Sebab, sudah lama ia tidak makan kue seperti itu semenjak masalah yang di hadapinya. Dengan senag hati gadis itu menyantap kue itu, gemas akan kelakuan Aliya, Axcel mengeluarkan poselnya.
Creck...!
pria itu memotret Aliya, dan Aliya terlihat tidak keberatan, jadi Axcel sekali lagi mengambil gambar Aliya. Setelah selesai dengan kuenya, gadis itu kembali pada Axcel.
"Jadi kak Axcel, apa yang ingin kamu bicarakan dengan ku.?"
Lelaki muda itu menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya secara perlahan. Lalu meraih jemari Aliya.
"Aliya, sebenarnya aku menyukaimu, aku berniat untuk mengejarmu, jadi, maukah kau menjadi kekasihku Aliya.?"
Gadis itu terkejut dengan pengakuan lelaki muda di hadapannya. ia kemudian menarik tangan
"Tapi kak Axcel, aku sudah punya orang yang aku cintai, dan aku sangat menyulai orang itu, apapun akan kulakuan untuk tetap berada di sisinya."
"Aku tahu Aliya," ucap lelaki muda itu membuat hati Aliya sedikit tegang
"Kak Axcel tau siapa peria yang aku suka.?"
"Ya, aku tahu, kau menyukai Ayahmu Aliya...!"
__ADS_1
Bersambung...
******