
Sudah seminggu sejak Reyno mengetahui kebusukan Laila, ia juga sudah mulai terbiasa tinggal di tempat Revandra, Meskipun dalam seminggu itu setiap hari Reyno ingin pergi dari rumah itu, tapi niatnya selalu dihentikan putrinya, Setegas apapun Reyno, tapi jika Aliya yang memohon tetap saja ia akan luluh. Ia sudah kehilangan cintanya satu kali karna kebodohannya, dan ia tak mau kehilangan cintanya untuk yang kedua kalinya yaitu putri satu-satunya, putri tanda cinta antara dirinya dan Laili.
Pada dasarnya Reyno menikahi Laila karna Ia tak bisa melupakan Laila, dengan menikahi Laila, Reyno berfikir sama saja, toh rupanya sangat mirip, tapi pada kenyataannya, apa yang ia harapkan sangat berbeda. Ia juga belum tau dengan cara apa yang harus ia lakukan untuk memberi Laila pelajaran. Sebenarnya Reyno ingin meminta pendapat Revandra, tapi melihat Revandra akhir-khir ini sering mengalami frustasi setiap selesai mengecek kamar Aliya untuk memastikan apakah gadis itu baik-baik saja. Maka Reyno mengurungkan niatnya untuk bertanya.
Setelah selesai makan malam, seperti biasa Reyno masuk ke kamar untuk istirahat, begitupun Revandra dan Aliya, seperti biasanya saat tengah malam Revandra mengecek kamar Aliya.
"Ayah Revan.!"
"Aliya, kenpa belum tidur.?"
"Aliya masih ngobrol dengan Aren lewat chat."
Sebentar kemudian Revandra sudah duduk di tepi pembaringan menghadap Aliya yang kembali sibuk membalas pesan-pesan Aren, lalu mengabaikan Revandra.
"Aliya...!"
"Emmm..."
"Sudah seminggu kau menolak keinginanku sayang. Aku merindukan dirimu.!"
Mendengar ucapan Revandra yang menurutnya vulgar, Aliya memicingkan matanya, lalu menatap lekat wajah Revandra."
"Lalu apa yang harus aku lakukan ayah.? haruskah aku menuruti kemauanmu.?, sedangkan papaku masih ada di sini."
"Kalau begitu aku akan mengusir papamu." ucap Revandra dengan suara menggoda,
"Coba saja kalau berani. Jika kamu benar-benar mengusir papaku, maka kamu juga tidak akan melihat aku berada di sini lagi ayah."
Deg,!
Berdrtak kencang jantung Revandra mendengar ucapan Aliya yang seperti mengancam dirinya, Tidak, tidak aku tidak boleh memaksakan kehendak padanya, jangan sampai gadis kecil ini benar-benar pergi dari sisiku, dengan apa yang telah terjadi, ia tidak sekedar hanya mengancam. huufff, Memikirkanya saja membuatku merinding. Ucap lelaki dewasa itu dalam hati.
Revandra semakin mendekatkan wajahnya dan sedetik kemudian sebuah kecupan sudah melayang di bibir Aliya, yang lama kelamaan menjadi sebuah l*matan nikmat, Aliya juga sangat menikmati permain itu, hingga tangan Revandra mualai bergerak dan meremas benda lunak milik Aliya.
"Ughh..!" suara Leguhan terdengar dari bibir gadis itu, membuat Revandra semakin aktif.
"Ayah Revan.!" ucap Aliya setelah ciumannya terlepas. Panggilan Aliya membuat Revandra sadar, sial.! hampir saja aku kehilangan kewarasanku.! ucapnya dalam hati.
Lelaki dewasa itu kemudian kembali duduk dengan tegak, setelah tadi sudah hampir menindih Aliya. Sementara mata gadis itu tertuju pada tonjolan yang ada di balik celana kain yang di kenakan Revandra.
"Lihatlah Aliya, apa kau tidak merasa kasihan pada milikku yang sejak tadi sudah meronta.?"
"Salah kamu sendiri ayah,! kamu sendiri yang memulainya." ucap Aliya cemberut.
"Lalu bagaimana mengatasinya, tentu saja dengan keadaan seperti ini, aku tidak akan bisa tidur tenang."
"Berbaringlah, lalu lihat vidio ini" ucap Aliya sambil menuntun Revandra untuk berbaring, dan memberikan poselnya yang sudah terputar vidio xxx, baru kemudian meraih tangan Revandra, untuk memainkan miliknya sendiri.
"Aliya..." Bentak Revandra dengan nada sedikit keras
"Ada apa.?"
"Sudah cukup mempermainkanku. Kau ini, aku pikir setelah apa yang terjadi selama ini, kepolosanmu sudah hilang, tapi nyatanya tidak sama sekali." ucap Revandra, setelah Aliya menyarankannya untuk memainkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"kamu marah.?" tanya Aliya dengan rasa tidak bersalah sedikitpun, Sial.! di mana seorang wanita yang menyarankan kekasihnya untuk melakukan hal tersebut, kata Revandra dalam hati seraya menepuk jidatnya.
"Tidak sayang, aku tidak akan marah."
"Lalu kenapa kamu tidak melakukan seperti saran Aliya.?"
"Sudahlah, kau tidur saja, sudah larut, oh dan juga, hapus situs yang ada di ponselmu itu, besok aku akan berbicara pada Aren mengenai hal ini."
"Aren tidak ada sangkut pautnya dengan ini."
"Lalu kau akan berkata bahwa kau melihatnya sendiri.? aku tidak akan percaya itu gadis kecil."
"Tapi sungguh, bukan Aren."
"Sudah ya Aliya, kamu tidur." ucapnya sembil mengecup kening Aliya lalu berbalik meningalkan kamar Aliya.
Lagi-lagi Reyno melihat dari arah tangga Revandra keluar dari kamar putrinya dengan wajah kecewa dan frustasi.
***
Di kampus Aren dan Aliya mengikuti pelajaran seperti biasa, saat ini mereka berada di semeter dua bulan awal setelah libur beberapa minggu,
"Aren maafkan aku." ucap Aliya yang tiba-tiba meminta maaf pada Aren setelah kelas usai. Tentu saja hal itu membuat Aren heran.
"Kenpa kamu tiba-tiba minta maaf Aliya?"
"Tapi kamu jangan marah yah.?"
Plak,
Tamparan buku melayang di kepala Aren
"Auww... kenpa kau memukulku.?"
"Biar otakmu kembali berfingsi, aku merasa otakmu sudah mulai rusak akibat kelamaan bersama om Andre."
Meledaklah tawa kedua sahabat itu. Baru kemudin Aren kembali bertanya.
"Kenapa kau minta maaf Al"
"Anu Ren... Semalam aku menyarankan Revandra untuk meredam g*irahnya sendiri dengan memperlihatkan vidio xxx"
Buk...
Giliran Aren yang yang memukul Aliya dengan buku pelajaran.
"Auuw.. kenapa kau memukulku.?"
"Yang otaknya rusak itu kamu buka aku. Aliya aku kira kepolosanmu sudah hilang, nyatanya... ah sudahlah."
"Tapi bukan itu intinya Ren,"
"Lalu.?"
__ADS_1
"Revandra membuat ekspekulasinya sendiri bahwa kamu yang mengajari aku."
"Sepertinya aku harus siap mental kalau begitu."
"Maaf ya Ren,"
"Tidak masalah yuk makan siang, aku sudah lapar."
Tapi belum sempat beranjak ponsel Aliya berbunyi
"Halo,! sahut Aliya saat panggilan tersambung.
"Kamu di mana sayang.?"
"Masih di kampus sama Aren, kenapa.?"
"Aku jemput ya, kita makan siang bareng, sekalian ajak Aren."
"Bai... Baik." jawab Aliya terbata-bata, jelas saja ia sudah membawa masalah buat Aren.
Beberapa waktu kemudian, Revandra, Aliya dan Aren sudah ada di sebuah restoran untuk makan siang, Sejak kedatangan mereka, Revandra sejak tadi menatap Aren dengan tatapan tajam, membuat gadis itu merasa tertekan. Duh.. resiko punya teman kaya Aliya. ucap Aren dalam hati.
"Berhentilah menatap gadis ku Revan.!" Kata Andre yang juga sudah tiba. Sebelum mengajak Aliya dan Aren, Revandra terlebih dahulu mengajak Andre.
"Hal apa yang gadisku lakukan sehingga kau menatapnya sedemikian kejam."
"Tanyakan sendiri padanya."
"Maaf om Revan, lain kali saya tidak akan mengajarkan hal-hal yang seperti itu lagi," jawab Aren yang pasrah.
Melihat Revandra terlalu menekan Aren, Aliya berdiri dan memukul meja, membuat ketiga orang di dekatnya tersentak.
"Berhenti mengintimidasi Aren, bukankah semalam aku sudah bilang, kalau bukan Aren yang mengajarkannya."
Revandra tercengang melihat Aliya yang geram, lelaki itu kembali memgingat betapa depresinya dirinya saat Aliya tidak di sisinya, maka ia berfikir lebih baik mengalah.
"Maafkan aku Aren, aku sudah menuduhmu."
"Tidak apa-apa om Revan.!" jawabnya dengan senyum Lega.
Mendengar Revandra sudah mengakui kesalahannya, Aliya kembali duduk dengan senyum seperti biasanya. Tak lama pesanan yang mereka pesan tadi sudah ada, serentak mereka menyantap makanan itu tampa membuang waktu.
"Sekarang kita mau kemana.?" tanya Aliya setelah selesai dengan aktifitas makannya.
"Aku dan Andre ada sesuatu yang harus kami kerjakan di perusahaan, sebaiknya kalian pergilah bermain, tapi ingat jangan sampai kenapa-kenapa."
"Baik" jawab Aliya.
Setelah mereka semua selesai, Revandra dan juga Andre bergegas hendak meninggalkan tempat itu. Tapi langkahnya seketika terhenti saat seorang wanita memghadangnya dan memberikan dua sebuah undangan pada Revandra.
Bersambung...
******
__ADS_1