
Aliya merasa kesal dengan kejadian di cafe, berani sekali wanita itu untuk bermimpi menikahi Ayah, tidak akan ku biarkan.! ucapnya dalm hati tiba-tiba ada seorang gadis yang pingsan, ayah gadis itu berteriak minta tolong, orang-orang yag ada di sekitar itu berkumpul tek terkecuali Aliya dan Aren.
"tolong siapa yang bisa membantu putriku?" mohon pria dewasa itu.
"Paman, beri saja putri paman nafas buatan,"
"Tapi nak,"
"Jangan menunggu waktu lama paman, lagian wajar kok kalau paman memberi nafas buatan pada putri paman. Ayahku juga selalu melakukannya padaku saat hendak tidur, bahkan kami sering mandi bareng.
"Berapa umur ayahmu nak.?" tanya salah satu orang yang berkumpul
"tiga puluh enam tahun, ayah juga selal..."
Ucapan Aliya terhenti ketika Aren menariknya. Shiit..! andai saja aku tidak menariknya dari kerumunan itu, mungkin saja ia akan mengatakan hal-hal yang telah ia lakukan dengan om Revan. sungguh gadis yang polos. ucap Aren dalam hati.
"Ren, mengapa kau menarikku,?" tanya Aliya dengan wajah polosnya.
"Aliya, kenapa kau begitu polos, Aliya lain kali kau tidak perlu mengatakan hal-hal yang om Revan lakukan terhadapmu kepada orang lain."
"Kenapa.? bukankan itu kenyataannya. Aku dan ayah selalu melakukannya."
Aren menepuk jidatnya, tak tau lagi, bahasa apa yang harus Aren berikan pada Aliya agar gadis itu mau mengeti dan tidak bersikap polos lagi. Aren memutuskan untuk meninggalkan tempat itu dengan menarik tangan Aliya. Aliya heran dengan sikap Aren yang mengajaknya pergi dan tidak berkata apa-apa lagi. Apa aku salah ngomong sama Aren yah.? kenapa dia diam saja.? tanya Aliya dalam hati.
"Ren, mengapa kau diam, apa kau marah padaku.?"
"Tidak Aliya, hanya saja aku merasa lelah hari ini dengan sikapmu, Aliya bisakah kau mengerti sedikit saja. Dan berhenti bersikap polos. Aku tak mau suatu saat kau mempermalukan dirimu sendiri Al, aku sahabatmu, jadi sudah sepantsnya aku perduli padamu, Aliya, mulai saat ini, jangan memberitahu pada orang lain tentang hubunganmu dengan om Revan, sebelum waktu yang di tentukan untuk mempublis hubungan kalian, dan kau juga tau kalau orang-orang mengenalmu sebagai putri om Revan. apa kau mengerti Aliya."
"Maafkan aku Ren, baiklah aku akan mencoba bersikap baik mulai sekarang, aku akan mencoba mengerti. Terimah kasih ya Ren, kau selalu ada untukku."
Kedua sahabat itu berpelukan, tiba-tiba Aliya melihat seorang lelaki tua yang sesak nafas, ia segera berlari untuk menolong lelaki tua itu.
"Kakek apa kakek tak apa.?"
"Tuan ini alatnya." ucap seorang supir yang berlari membawakan alat bantubuntuk meredahkan sesak nafas. segera saja Aliya merai alt itu dan membantu lelaki tua itu.
__ADS_1
Setelah beberapa saat lelaki tua itu kembali sehat seperti semula, kemudin ia menatap gadis di hadapannya. Entah mengapa ingin sekali rasanya lelaki tua itu memeluk gadis di hadapannya, tapi ia tak mampu sebab ia tak mengenal siapa gadis itu, lelaki tua itu melihat bayangan-bayangn putrinya ada pada gadis di depannya, sungguh mirip, cantiknya sama persis dengan putrinya lima belas tahun yang lalu,
"siapa namau nak.?"
"Aku Aliya, dan ini sahabat aku Aren.!"
"Kau mau kemana.?"
"Aku mau pulang kakek." jawab Aliya dengan senyum riang, dan hangat membuat lelaki tua itu semakin ingin memeluknya.
"Dimana kau tinggal.? biar aku mengantarmu.!"
Belum juga gadis itu menjawab, sebuh mobil verrary berwarna hitam singgah di hadapan mereka. Revandra turun dari mobil, seketika Aliya langsung memeluknya.
"Ayah..." Revandra membalas pelukan gadis itu.
Lelaki tua itu diam dan terpaku melihat Revandra memeluk gadis itu, terlebih lagi gadis itu memanggilnya Ayah.
"Presesir Revan, senang bertemu denganmu di sini.
"Oh,! Tuan Mintle, senag bertemu dengan anda." jawab Revandra.
"Ya, kami pergi dulu Tuan Mintle," ucap Revandra yang buru-buru mengajak Aliya dan Aren pulang setelah bertemu dengan lelaki tua Mintle itu. Aliya heran dengan sikap Revandra, seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
***
Di rumah Danile pulang dan segera masuk keruangan kerja kakeknya. Ia mencari-cari sesutu di dalam ruangan itu, hingga sampai pada laci meja, ia sangat penasaran apa isi laci itu, dengan keberaniannya, Danile membuka laci itu dan menemukan sebuah foto. Lelaki muda itu, mengambil foto itu dan mengkerutkan keningnya.
"Bukankah ini foto ibu.? kenapa kakek menyimpannya di sini," Danile meletakkan kembali foto itu dan melihat apa lagi yang ada di dalam laci itu.
Kembali Danile menemukan sebuah foto, di dalam foto itu Danile melihat ibu dan ayahnya beserta gadis kecil yang di gendong ibunya. Siapa gadis kecil ini ? apakah dia sauadara perempuanku.?" kalau betul berarti dia adikku. Tapi mengapa aku tidak ada di dalam foto ini.? tanya Danile bingung dalam hati.
Tiba-tiba pintu ruang kerja itu terbuka, membuat Danile terkejut melihat kakeknya masuk
"Apa yang kau lakukan di sini Danile.?"
__ADS_1
"Kebetulan kakek datang, aku ingin bertanya satu hal tentang foto ini.? mengapa di foto mama dan papa hanya ada gadis kecil ini,?
"Duduklah Danile, kurasa sudah waktunya kau tau apa yang terjadi."
Lelaki tua itu dudu di kursih kerjanya sedang Danile duduk di kursi depan meja kerja
"Danile, foto yang ada di tanganmu itu, bukan foto ayah dan ibumu, melainkan saudara kembar ibumu."
"jika memang ini saudara kembar mama, lalu kenap papa berfoto dengannya dan siapa gadis kecil ini.?"
"Danile, dia bukan ayahmu, ayahmu telah meninggal karna kecelakaan lima belas tahun yang lalu, dan bibimu Laili juga pergi saat itu membawa seorang putri kecil bersamanya, dan tiba-tiba saja bibimu meninggal bunuh diri walaupun mayatnyan tidak di temukan, dan saat itu muncul bukti-bukti perselingkuhan ayah kandungmu dengan bibimu, dan entah bagaimana cara ibumu bisa menikahi suami bibimu yang saat ini kau panggil ayah."
Danile semakin bingun, tapi itu tidak membuatnya berhenti mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.
"Lalu kenapa aku tidak pernah bertemu dengan ayah kandungku, ?"
"Saat kau lahir, kau di asuh oleh keponakan kakek di Amerika, mereka tidak mempunyai anak, mereka mengasuhmu agar merak juga bisa ketularan punya anak, hingga umurmu sepuluh tahun kau baru di pulangkan ke sini, dan saat kau pulang waktu itu, ibumu sudah menikah dengan suami bibimu. Dan selama kau di Amerika ayah kandungmu tak sekali pun datang menjengukmu, hanya ibumu yang datang, itulah sebabnya kau tak pernah melihat wajah ayah kandungmu, kau tau Danile, ayahmu adalah orang baik, aku benar-benar tidak percaya jika dia berselingkuh dengan bibimu.
"Lalu di mana gadis kecil ini kakek.?"
"Aku juga tak tau."
Setelah mendengar penjelasan kakeknya Danile keluar dari ruangan itu, ia teringat kembali pada Aliya yang begitu mirip dengan ibu dan bibinya.
"Mungkinkah gadis itu adalah putri kecil yang ada di dalam foto.? tapi semua orang tau kalau gadis itu adalah anak Revandra, bagaimana mingkin dia adalah gadis yang sama dengan putri kecil yang ada di foto, ahh... ini membutku frustasi...!" gumam Danile.
"Apa yang kau gumamkan Danile.?" sama Laila yang baru saja pulang dari suatu tempat, ntah dari mana dia, tak ada yang tau.
"Ah, Mama, tidak ada, aku hanya lelah, dan ingin beristirahat."
"Pergilah"
"Ok.! ma."
Setelah Danile berlalu Laila, masuk ke dalam kamarnya kemudian duduk di sofa membuka map yang berisi berkas yang sejak tadi ia bawa. Betapa terkejutnya ia setelah melihat isi dari berkas itu, matanya melotot, nafasnya memburu, dan seluruh persendian tulangnya serasa putus melihat apa yang tertulis di berkas itu
__ADS_1
Bersambung...
******