
Revandra kembali kerumahnya, setelah mendapatkan apa yang ia inginkan dari Aliya. Lelaki dewasa itu turun dari mobilnya, dan seorang wanita cantik nan anggun berlari memeluknya, seketika Revandra tersetak karna pelukan wanita itu dengan tiba-tiba.
"Revan aku sangat merindukanmu," sambil memeluk Revandra.
"Magie...!"
"Ya, aku kembali Revan."
Revandra masih terpaku saat melihat wanita itu berdiri di hadapannya, wanita yang membuatnya menikahi ibu Aliya, wanita yang pernah menjadi pacar Revandra.
Saat itu Magie berusia dua puluh tahun, dan sedang menjalin asmara dengan Revandra, meskipun Revandra tidak begitu mencintainya tapi mereka berjanji untuk menikah, Hampir dua jam Revandra menunggu di depan KUA, tapi Magie tak kunjung tiba, dan pada akhirnya Revandra mendapat sebuah telfon yang mengatakan Magie lebih memilih menikahi paman Revandra yang jauh lebih tua dua puluh tahun dari Revandra yang tinggal di New York dan membawa sekaligus Magie. Revandra sangat frustasi dan pandangannya tertuju pada seorang wanita sedang berlari dengan putri kecil di tangannya.
Revandra menangkap wanita itu, dan bertaya apa yang terjadi padanya, setelah wanita itu menceritakannya pada Revandra, ia bertekad untuk menikahi wanita itu meskipun selisi usianya lebih muda lima tahun dari wanita itu, Dia adalah Laili, yang tengah depresi saat menghadapi kemelut di keluarganya. tak ada perayaan pesta, pernikahan hanya di saksikan beberapa orang, dan Revandra juga tidak mendaftarkan pernikahnnya, pernikan terjalin bermodalkan gaun pengantin yang sederhana.
"Revan..." panggil Magie membuyarkan lamunan Revandra.
"Kapan kau kembali.?"
"Tadi siang.!"
"Bagaimana kabar paman.?"
"Dia sedang berobat di Spanyol."
"Lalu mengapa kau tidak ikut.?"
"Kau tau sendiri Revan, bagaimana perangai orang tua itu. Dia tak mau membuatku khawatir"
Revandra kemudian mengajak Magie masuk ke dalam rumah.
"Sudah malam, sebaiknya kau menginap di sini saja."
"Ok, tapi di mana putrimu.?" tanya Magie, yang memang sudah tau tentang Aliya sejak lima belas tahun yang lalu.
__ADS_1
"Di rumah keluarganya."
"Jadi kau sudah memulangkannya.?"
"Tidak, hanya seminggu saja dia di sana, setelah itu, gadis kecil itu akan kembali padaku. Sudahlah Magie, kau istirahatlah di kamar Aliya, ruang tamu masih belum di bersihkan."
"Ok,!" Ucap wanita itu, lalu berajalan masuk ke kamar Aliya. Sedang Revandra masuk ke kamarnya.
Revandra sejenak terdiam setelah berbaring, dan menatap lngit-langit kamarnya. Perasaanya menjadi berkecamuk, tiba-tiba saja Magie kembali dari New York. Wanita yang dulunya pernah menjalin asmara dengannya dan membuatnya bahagia, tapi juga menjadi wanita yang menghancurkan hatinya.
***
Aliya terbangun dari tidurnya saat mata hari mulai menerpa wajah cantiknya melalui sela-sela jendela kamar, gadis itu kembali mengingat malam yang ia lalu bersama ayah tirinya tadi malam, seketika wajahnya memerah lalu membenamkan wajah cantiknya itu ke bantal, tampa sadar ada seseorang yang masuk ke kamarnya.
"Kau sudah bangun Al." tanya Danile membuat gadis itu terkejut.
"Ah, kak Danile, sejak kapan kamu masuk di kamarku.?"
"Makanya jangan terlalu banyak ngelamun, sampai kaupun tak sadar aku masuk."
Gadis itu tersenyum dengan wajah yang masih memerah, Danile lalu duduk di tepi pembaringan dan menghadap Aliya, seraya mencengkram lembut kedua bahu gadis itu.
"Al, aku tau bahwa apa yang kau rasakan pada presedir Revan bukanlah perasaan seorang anak pada ayahnya, tapi Aliya, kau harus hati-hati, tidak semua orang bisa menerima hubungn kalian, seperti yang kau tau, orang-orang sudah terlanjur mengenalmu sebagai putrinya, apa kata orang jika kelak hubungan kalian terbongar sebelum waktunya.?"
"Dari mana kak Danile tau tentang hubunganku dengan ayahku.?"
"Aliya, aku tidak buta. tempo hari di Mall saat kau membuat keributan dengan pacarku, aku melihat tatapan presedir Revan tak seperti menatap anaknya, melainkan menatap gadis yang ia cintai. Dan aku semakin yakin ketika semalam aku melihatmu berciuman mesra dengannya dari balik jendela."
"Jadi apa yang harus aku lakukan kak Danile,"
"Bertingkahlah seperti biasanya, dan usahakan hubungan kalian tidak terbongar sebelum waktunya. Apa kau mengerti gadis cantik.?"
Gadis itu hanya mengangguk, dan terukir senyum di bibir pria muda di hadapannya, ia tak menyanga ternyata Danile adalah sosok yang hangat, berbeda dengan ibunya, yang sangat membencinya, padahal Aliya sangat berharap bibinya itu bisa menghilangkan rasa rindu terhadap ibunya, tapi kenyataannya, bibinya justru mengabaikannya.
__ADS_1
***
Sudah empat hari Aliya, di rumah keluarganya, Revandra sangat kesepian, ia sangat merindukan gadis itu, sabarlah Revan, hanya tersisa tiga hari lagi, kau bisa bersamanya lagi. ucap Revandra dalam hati.
Revandra tersentak kaget ketika Magie membuka pintu kamarnya,
"Revan ayo kita makan malam."
"Ok, tunggulah di bawah, aku akan segera turun dan kita makan bersama."
Beberapa saat Magie menunggu, akhirnya Revandra muncul dengan baju kaos polos yang memperlihatkan tubuh Atletisnya di padukan dengan celana kain pendek menambah kesensualan lelaki itu.
Magie yang melihat itu terpana. Lima belas tahun ia tidak melihat Revandra yang menggoda, membuatnya sulit untuk menelan ludahnya. Pemandangan seperti ini selalu Magie lihat di New York, bahkan pria tampa busana. Tapi tubuh Revandra yang sekarang ada di hadapanya sukses membuatnya menegang dengan desiran panas yang mengalir di area sensitifnya.
Wanita itu tampa ragu berlari dan mengecup Revandra, Revandra tentu saja terkejut, tak menyangka wanita itu akan bergerak cepat hingga dirinya tidak sempat menghindar. Sekarangpun Magie terlalu sulit lelaki dewasa itu singkirkan, Magie terus mencembu Revandra dengan tangan yang sudah melingkar, menekan tengkuk Revandra untuk memperdalam ciumannya.
Gerakan Magie yang begitu lihai, membuat Revandra terbuai dan mulai mengikuti permainan Wanita itu. Revandra sadar Maggie tidak sepolos lima belas tahun yang lalu, tapi ia tidak menyangka bahwa wanita itu akan seliar ini. Bahkan satu tangan Magie sudah turun menyusuri dada bidang Revandra di balik baju kaosnya. Sedang satu tangannya yang lain meremas rambut Revandra.
Wanita itu bergerak sangat aktif membuat Revandra sulit untuk mempertahankan kewarasannya untuk tidak bertindak lebih. Maggie benar-benar adalah wanita penggoda yang begitu ahli, hingga berhasil menghilangkan kewarasan Revandra.
Lelaki itu sesaat kehilangan kewarasannya dan mengambil alih tindakan lalu mendorong tubuh Magie hingga menempel di dinding
"Kau nakal Aliya." bisik serak Revandra di depan wajah wanita itu. Magie sempat tertegun mendengar itu, tapi ia segera menepisnya mungkin saja dirinya salah dengar dan memilih melanjutkan aktivitasnya.
Revadra tidak ingin ini berlanjut tapi g*irahnya sudah menguasainya, terlalu sayang untuk di hentikan, tapi terlalu brengsek jika di teruakan sampai ke ranjang. Disisi lain lelaki itu ingin menengelamkan miliknya di dalam milik Magie, tapi bayangan Aliya terlintas di pikirannya seolah memperingtakannya untuk tidak lepas kendali.
Berperang dengan kesadaran dan n*fsu Revandra mendoring tubuh Magie, ia teringat akan pernikahannya dengan Aliya yang tersisa dua bulan lebih, lelaki dewasa itu tidak ingin membuat Aliya kecewa.
"Maaf Magie." Ucap lirih Revandra dan memilih menjauh dari wanita itu.
"Revan..." panggil Magie dan kembali menghujani lelaki itu dengan cembuannya, tapi dengan sekuat tenaga Revandra menolak,
Belum juga cembuan Magie terlepas, dua orang yang baru saja masuk ke rumah itu terpaku dan terkejut menyaksikan pemandangan panas di hadapannya, membuat salah satu dari mereka meneteskan air matanya.
__ADS_1
Bersambung...
******