Sweet Temptation

Sweet Temptation
Ketakutan wanita itu


__ADS_3

Setibanya di rumah, dengan kesal Danile melemparkan jaketnya dan duduk di kursi. seorang wanita paruh baya menghampinya


"Sayang kamu kenapa, baru juga pulang dari luar negri langsung kelayapan, pulang-pulang malah marah-marah"


"Mama, Danile sangat marah hari ini." jawabnya ketus.


"Apa yang membuatmu marah Danil.?" terdengar sura dari arah tangga, Danile dan ibunya memutar kepalanya melihat kakek Danil berjalan menuruni anak tangga dengan di bantu pelayan pribadinya.


Danile menghela nafas panjang lalu menceritakan secara rinci apa yang terjadi dengannya hari ini.


"Seseorang bernama Revandra mengacaukan acara shoping ku bersama pacarku."


Kakek Danile terkejut mendengar nama Revandra disebut oleh cucunya. lelaki tua itu mengangkat alisnya dan mencoba lebih mendekat pada Danile, ia menghentakkan tangan tuanya di bahu cucunya.


"Danile, seorang Revandra, tidak bisa kau singgu nak,!"


"Memangnya kenapa.? ia bahkan memecat asisten menejer di Mall itu."


Lelaki tua itu mengkerutkan keningnya, sebenarnya ada rasa takut di dalam dirinya mendengar nama Revandra.


"Sebenarnya apa yang terjadi.?"


"Demi putrinya, orang yang bernama Revandra itu menekan kami semu yang ada di Mall itu."


"Danile, sebaiknya lain kali kau jangan berurusan denga putrinya, keluarga kita memang cukup berkuasa tapi di banding dengan Revandra, keluarga kita tak ada apa-apanya."


"Revandra adalah penguasa di kota ini, hanya dengan menjentikan jari, semua yang melawannya akan musnah." ucap Laila ibunya Denile, wanita itu memang tahu banyak tentang Revandra.


"Dan juga, di kota ini tak ada yang tidak tau tentang kekejamannya dalam berbisnis, begitupun dengan masalah putrinya, semua orang tau Revandra begitu menyayangi gadis itu, pernah suatu kejadian di Mall Rubby tempo hri, hanya karna gadis itu di tindas, Revandra memect semua staf menejemen Mall itu, dan menutup restaurant baratnyang ada di Mall itu. jadi kakek harap kau tidak mencari masalah lagi dengan putrinya." sambung lelaki tua itu.


Danile sejenak berfikir, sekejam itu kah seirang yang bernama Revandra ?.


"Sudahlah Danile, apa kau sudah siap untukenjalankan perusahaan mengantikan kakek.?"


"Danile rasa belum kakek, Danile masih kepengen bermain-main sebentar."


"Baik, jika kau sudah siap katakan saja, kapanpun itu, kakek akan langsung menyerahkan perusahaan ketanganmu." ucap lelaki tua itu, lalu berbalik dan pergi meninggalkan Danile dan ibunya.


Danile masih terngiang-ngiang dengan kejadian di Mall tadi, ia juga sempat menatap lama wajah gadis itu, lalu matanya tertuju pada ibunya yang sedang menyiapkan cemilan untuknya. Lelaki muda itu menatap dalam wajah ibunya dengan penuh arti. Sadar akan tatapan putranya, Laila mengernyitkan dahi lalu melontarkan pertanyaan pada putranya.

__ADS_1


"Mengapa kau menatap ibu seperti itu.? apa ada yang salah dengan wajah ibu.?" ucap wanita itu sembari menghentikan aktivitasnya.


"mama, apa mama memiliki saudara kembar.?" tanya Danile pada ibunya membuat wanita itu terkejut, detak jantungnya terasa seakan mau copot.


Meskipun dirinya saat ini tengah di selimuti rasa kaget dan di dalam rasa kaget itu juga terselip rasa takut yang amat sangat, wanita itu mencoba bersikap tenang.


"mengapa kau bertanya seperti itu Danile.?"


"Putri Revandra sangat mirip dengan mama, tadi saja saya sempat berfikir kalau gadis itu adalah saudara saya, mama, apa jangan-jangan mama punya saudara kembar dan dia menikah dengan Revandra.?"


Duar... !


Serasa tertimpa tangga perasaan Laila mendengar penuturan putranya. terkejut, takut, bingung bercampur menjadi satu dalam dirinya, seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan.


***


"Aliya kau tak apa sayang.?" tanya Revandra setelah sampai di rumahnya dan memeriksa keadaan gadis dalam pangkuannya itu setelah menyuruh sopir mengantar Aren pulang.


"Aliya tidak apa-apa."


"Lalu mengapa kau masih meteskan air matamu sayang.? apa pipimu masih sakit.?"


Revandra kemudian mengendong gadis itu masuk kedalam kamarnya, dan membaringkannya, lelaki itu duduk di tepi sambil mengusap-usap kepala Aliya lembut, ****..! berani sekali mereka melakukan ini pada Aliya, ucap Revandra dalam hati dan mengeretakkan giginya.


Melihat lelaki itu seperti ada yang di fikirkan, Aliya meraih pipi Revandra, membuat lelaki itu menunduk, sebentar kemudian tangan Aliya berpindah dan mengalungkannya di leher Revandra.


"Apa yang ayah pikirkan.?"


"Aliya, jika suatu saat keluargamu mencarimu dan menemukanmu, apa kau akan meninggalkan Ayah.?"


Gadis itu tersenyum, lalu mengecup lembut bibir Revandra dan tersenyum setelah melepaskan kecupannya.


"Aliya tidak akan meninggalkan Ayah, kecuali jika Aliya mati, dan juga Aliya tidak butuh apa-apa selain Ayah tetap ada di sampingku."


"Benarkah.?" gadis itu mengangguk pelan.


Revandra melayangkan l*matan di bibir gadis itu, dan itu terjadi cukup lama sampai nafas Aliya memburu. Sadar akan nafas Aliya yang terengah-engah,


Revandra melepaskan l*matannya. dan merubah menjadi ciuman di leher Aliya, Lelaki itu bahkan meninggalkan jejaknya di sana.

__ADS_1


Revandra mengubah posisinya naik ke atas gadis itu. dan mulai menc*mbunya lalu berbisik dengan pelan ketelinga gadis itu.


"Aliya, boleh.?" Gadis itu mengangguk menadakan ia memberi kebebasan pada lelaki itu untuk melakukan apa saja yang ia mau.


Lelaki itu kemudian menurunkan c*umanya ke perut melus Aliya, sambul berbisik pelan


"sebaiknya harus ada Revandra kecil di dalam sini secepatnya, agar mereka tak dapat merbut Aliya dariku tapi kami baru melakukannya sekali, apa itu akan langsung terjadi.?" ucap Revandra kembali melanjutkan Aksinya,


"Ah...!" Desa Aliya saat menerima hentakan-hentakan n*kmat dari Revandra.


Malam ini Revandra berencena akan melakukannya sebanyak mungkin agar ia tidak akan kehilangan gadis itu. Hentakan demi hentakan dari Revandra membuat gadis kecil itu terkulai lemah, sesaat mereka berdua telah mencapai puncaknya.


Mereka kembali berbaring setelah selesai membersihkan diri masing-masing. Revandra kemudian memeluk pinggang ramping Aliya dari belakang dan membenamkan wajahnya di leher gadis itu. menghirup wangi khas dari tubuh gadis itu.


Aliya mengeliat geli, hendak berbalik menghadap Revandra, tapi lelaki itu menghentikannya.


"Tetap seperti ini sayang.! hanya sebentar saja. jangan bergerak."


Gadis itu menuruti permintaan Revandra, beberapa saat berlalu, tak ada lagi pergerakan pada Revandra, pelan-pelan Aliya berbalik dan mendapati lelaki itu telah tertidur. Aliya mengusap lembut pipi lelaki yang terlelap di hadapannya. Menatap wajahnya penuh arti lalu bergumam.


"Ayah, Aliya sayang sama Aliya."


Tersirat sebuah senyum di bibir Revandra mendengar kalimat yang di ucapkan gadis itu, ternyata lelaki itu belum benar-benar terlelap,


Ada makna tersendiri bagi Revandra dengan kalimat yeng di lontarkan gadisnya. suatu kebahagian besar bagi Revandra dapat bertemu dengan Aliya, dalm hidupnya, Revandra tak pernah mencintai seorang wanita satu pun. Sekalipun ia selalu bermain-main dengan wanita di luar sana, namun tak sekalipun lelaki itu mengucapkan kata-kata cinta pada mereka.


Dan kali ini. Revandra telah benar-benar menemukan cintanya, meskipun cinta itu pada gadis kecil yang ia besarkan dengan tangannya sediri. memanjakannya, menyanginya sepenuh hati. Tak pernah sedikitpun lelaki itu menolak permintaan Aliya, meskipin terkadang Aliya meminta hal-hal aneh seperti berlibur hanya berdua di sebuah pulau terpencil.


Saat itu Aliya berumur tiga belas tahun, gadis itu meminta Revandra membelikannya sebuah pulau di tempat terpencil dan meminta berlibur di sana. Dengan syarat hanya berdua dengan Revandra tanpa membawa wanita-wanitanya. Revandra menyanggupi permintaan Aliya saat itu.


Ding...


Sebuah pesan masuk ke ponsel Revandra.


(Aku sudah menemukan apa yang kau inginkan, aku menunggumu di bar xxx) isi pesan dari Andre


Bersambung....


******

__ADS_1


__ADS_2