Sweet Temptation

Sweet Temptation
Menghilangngnya Aliya


__ADS_3

Di dalam mobil Aliya masih menangis membuat lelaki di dekatnya bingung, apa yang harus dirinya lakukan agar gadis itu bisa tenang, terlebih lagi dia sudah berbohong pada Revandra bahwa ia tak bersama Aliya.


"Al, berhentilah menagis


Aliya kemudian menatap wajah Axcel yang bingung, lalu memohon pada lelaki itu untuk membawanya pergi dari situ, sebelum nanti Revandra menemukannya.


"Bawa aku pergi kak Axcel."


"Baiklah, aku akan membawamu pulang."


"Tidak, aku tidak mau pulang.!" rengek Aliya.


"Lalu kau mau kemana.?"


"Terserah kak Axcel, bawa aku kemanapan yang ku kehendaki."


"Baik, kita ke apartemenku saja, di sana tak ada seorang pun, kau bisa menenangkan dirimu." ucapnya seraya mencap gas meninggalkan tempat itu.


Sepanjang jalan Aliya hanya menagis saja, Axcel yang melihatnya merasa iba, kenapa setiap ia bertemu dengan gadis itu pasti dalam keadaan menagis. tidak hanya sekali tapi sudah tiga kali. masalah apa yang kau hadapi Aliya ? ucap Axcel yang hanya mampu bertanya dalam hati,


Di apatemen Axcel menyuruh Aliya masuk, dan duduk di sofa, sejak tiba di apartemen Axcel, perasaan gadis itu sedikit lega dan tak takut lagi Revandra akan menemukannya. Tiba-tiba perut Aliya berbunyi lantaran kelaparan, membut wajah Aliya memerah karna malu suara perutnya di dengar Axcel.


Mengerti bahwa Aliya sedang kelaparan, Axcel lalu berjalan ke kulkas dan mengambil roti untuk Aliya makan, tapi sebelum itu ia menghangatkannya di pemanas baru di berikan pada Aliya. Tampa menunggu lama Aliya menyatap roti hangat itu dengan lahapnya. Karna apartemen itu tidak terlalu di gunakan jadi hanya roti yan ada di dalam kulkas, Axcel menggunakan apartemen itu saat dia sedang benar-benar ingin sendiri saja.


Melihat Aliya makan roti dengan lahapnya, terukir senyum di bibir sexy yang bagian bawahnya terbelah milik Axcel. Sebenarnya ingin sekali rasanya ia bertanya tentang apa yang terjadi, tapi ia mengurungkan niatnya. Tak mau jika Aliya kembali sedih. Axcel kemudian berdiri dan meraih jasnya yang sempat ia lepas tadi.


"Mau ke mana kak Axcel.?" tanya Aliya yang rasa laparnya sudah teratasi.


"Mau pulang.!"


"Kenapa tak menginap di sini bersamaku.?"


Axcel kemudian mendekati gadis itu, lalu tertunduk melayangkan kecupan pada kening Aliya sambil mengusap rambutnya.

__ADS_1


"Cantik, aku adalah lelaki normal, aku tak mau jika tiba-tiba aku kehilangan kewarasanku lalu menyakitimu, jadilah gadis penurut Aliya, aku pulang dulu." kembali Axcel mengecup kening Aliya lalu menegakkan badanya dan berbalik pergi meninggalkan Aliya.


Karna terlalu lelah, dan waktu juga sudah tengah malam, Aliya membuka sweternya dan masuk ke dalam selimut, ia berusaha memejamkan matanya. Bebrapa lama mencoba, tapi matanya tak bisa terpejamkan, selalu saja terbayang-bayang saat Revandra mencengkram leher Magie tepat di hadapannya. Membayangkannya saja Aliya sudah merasa gemetaran.


Di balik pintu apartemen Axcel berdiri dan meremas jas di tangannya.


"Aliya apa yang sebenarnya terjadi, Gadis polos dan periang yang ku temui beberapa bulan lalu sudah hilang, kini berubah menjadi gadis yang tatapanya selalu kosong. Kau bahkan menyuruhku berbohong pada ayahmu. Entah apa yang akan di lakukan ayahmu padaku andai saja dia tau saat ini aku yang menyembinyikanmu." Ucap Axcel lalu beranjak pergi meninggalkan apartemen itu.


Sebenarnya ia tidak takut pada Revandra karna menyembunyikan gadis itu, hanya saja lelaki itu mersa, apa yang ia lakukan salah, menyembunyikan anak gadis orang adalah tindakan yang salah. Ingin sekali rasanya Axcel menghububgi Revandra dan memberi tahu keberadaan Aliya, tapi di sisi lain dirinya juga tidak ingin membut gadis yang begitu ia cintai kembali bersesih dan marah kepadanya.


***


Di sebuah Restoran Revandra sedang makan siang bersama Emma, sebenarnya Revandra tidak ingin mengikuti kemauan Emma untuk makan siang bersama, sepanjang makan Revandra tidak berucap sepata katapun, ia masih memikirkan Aliya yang sejak semalam menghilang. Hingga aktivitas makan itu selesai, Revandra kemudian berdiri hendak meninggalkan Emma, tapi Emma menghalanginya.


"Mau kemana kau Revan, aku belum selesai makan."


"Emma minggir."


"Berhenti menghalangiku Emma, jangan sampai kau menjadi tempat luapan amarahku."


"Apa yang terjadi.?"


"Emma, aku sedang pusing, putriku menghilang sejak semalam, tak ada waktu untuk meladenimu terlalu lama." ucapnya lalu meninggalkan Emma. Meskipun Emma berteriak memanggil Revandra, tapi lelaki dewasa itu tidak peeduli dan teria melangkah hingga sosoknya menghilang dari restaurant itu.


"Berhentilah berteriak, orang-orang sedang melihatmu," ucap seorang wanita yang membuat Emma berbalik dan betanya.


"Siapa kau.?"


"Magie.!"


"Lalu mengapa kau menghentikanku.?"


"Tenanglah, aku tau saat ini kau berusah mengejar Revandra. tapi aku sarankan lebih baik kau berhenti mengerecoki Revandra."

__ADS_1


"Apa maksudmu.?"


"Revandra tidak akan memilihmu, kau tahu.? Aku adalah mantan kekasih Revandra lima belas tahun yang lalu, tapi aku tidak bisa memilikinya kembali, lantaran putri kecil yang ada di siainya."


"Lalu.?"


"Tahu kah kau nona.? Gadis kecil itu bukan putri kandung Revandra. Ia hanya seorang gadis kecil yang di bawa ibunya saat menikahi Revandra lima belas tahun yang lalu saat aku membatalkan pernikahanku bersama Revandra."


Mata Emma melotot. Dia kaget mendengar bahwa Aliya bukanlah anak kandung Revandra.


"Kau lihat bekas luka di tubuhku.? semua ini perbuatan Revandra saat aku mencoba memisahkannya dengan gadis kecil itu, aku hampir saja mati di tangannya. Aku hanya memperingatkanmu agar apa yang terjadi padaku, tudak kau rasakan."


"Revandra tidak akan melakukan itu padaku, aku adalah penyelamatnya."


"Kau pikir aku tidak tahu tentangmu nona Emma. Revandra sedikitpun tidak tertarik padamu."


Bergetar tubuh Emma, tenyata Magie tau tentang dirinya, tak kuasa menahan diri, Emma duduk di kursih lalu menatap Magie.


"Lalu apa.? apa yang kau rencanakan.?"


"Tidak ada, aku sudah menyerah mengejar Revandra, dan lebih memilih kembali pada suamiku di New York, aku berfikir lebih baik hidup tenang dengan kemewahan dari pada mengharapkan seauatu yang tidak bisa di capai."


Magie kemudian berbalik dan meninggalkan emma yang masih belum percaya bahwa Aliya bukanlah anak Revandra.


Semenjak kejadian malam itu, dimana Revandra menyiksanya tampa ampun, Magie memilih menyerah dan kembali ke New York, untuk menikmati hidupnya, dari pada tinggal tapi mendapat tekanan.


Sebenarnaya semalam, Magie ke rumah Revandra haya untuk meminta maaf pada Aliya, atas apa yang telah ia lakukan. Wanita itu juga bertujuan menjelaskan ke pada Aliya tetang apa yang sebenarnya terjadi bahwa dirinyalah yang menggoda Revandra, tapi gadis itu sudah keburu takut padanya.


Berlalunya Magie, membuat perasaan Emma tidak karuan, ia *******-***** gaunnya. Apa yang harus aku lakukan untuk menyingkirkan gadis itu dari sisi Revandra, harus kah aku melenyapkanya dari dunia ini.? agar aku bisa bersama Revandra. Pikir Emma dalam hati.


Bersambung....


******

__ADS_1


__ADS_2