
"Ya syang.! dia adalah Laila, saudara kembar ibumu. Beberapa waktu lalu aku mengirimkan sebuah berkas kepada keluarga itu tampa mencantumkan siapa yang mengirimnya dan berkas itu di terima oleh Laila. Dan beberapa hari setelahnya aku memutuskan untuk bekerja sama dengan Mintle grup,
"Apa maksudmu Revan.?" tanya Andre bingung.
"kita semua tahu apa yang terjadi pada keluarga itu, dan aku berencena ingin mengenal lebih jauh lagi tentang mereka sebelum nanti mempertemukan mereka dengan Aliya. Aku ingin membuat pertemuan yang seolah-olah tidak disengaja. Dan kebetulan dua bulan lagi adalah ulang tahun Mintle Grup. Dengan adanya kerja sama kita dengan mereka, tidak mungkin mereka tidak mengundangku ke pesta itu kan.
"Lalu apa yang kau rencanakan selanjutnya Revan.?"
"Aku akan membawa Aliya ke sana, bukan sebagai anak mereka, aku akan membuat mereka menyadari keberadaan Aliya. itupun jika mereka tidak melupakan gadis kecil yang di bawah pergi oleh ibunya lima belas tahun yang lalu"
Lelaki dewasa itu kemudian menarik Aliya kedalam pelukannya mengusap dan mengecup puncak kepala gadis itu, sampai terdengar isakan pilu mengalihkan Revandra dan Andre.
"Jadi wanita itu benar-benar sauadara kembar ibu, ayah.? dan mengapa mereka tidak mencari ibu dan aku.?" tanya Aliya yang tiba-tiba merasa perih di hatinya dan berbagai spekulasi memenuhi otaknya.
"Kau akan segera tau sayang, jadi bersiaplah, jikapun mereka memang sengaja menyingkirkanmu dan ibumu, tak perlu sedih, ada Ayah, om Andre, dan Aren yang akan menjadi keluargamu " ucap Revandra yang masih dalam keadaan memeluk Aliya yang belum juga menghentikan tangisnya."
"Tapi om Andre, kenapa baru sekarang wanita itu muncul.?"
"Karna selama ini ia cenderung tinggal di Di Amerika, dan baru enam bulan terahir ia tinggal di kota ini, dan juga putranya baru sebulan yang lalu kembali. Kau ingat pria yang menindasmu di Mall beberapa waktu lalu, dia adalah putranya."
"Aliya ingat, namanya Danile."
Setelah memberi penjelasan pada Aliya Andre meninggalkan Ruangan itu, karana kondisi Aliya tidak memungkinkan untuk pulang, Revandra lebih memilih untuk menginap di perusahaan saja. Ia kemudian memipin Aliya masuk ke kamar yang ada di ruangan itu. Gadis itu duduk di tempat tidur, sedang Revandra melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sejak tadi Aliya termenung memikirkan semua yang dikatakan Revandra dan Andre. Aliya bingung apa yang akan ia lakukan saat bertemu dengan keluarganya nanti, apakah dia akan memeluk mereka atau memakinya. Revandra tidak memberi tahu pada Aliya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Aliya hanya tau bahwa wanita yang di jumpai di Mall adalah saudara kembar ibunya, dan Mintle grup adalah keluarganya.
Aliya tersentak kaget saat tiba-tiba saja Revandra memeluknya dari belakang,
"Apa kamu masih memikirkan tentang keluargamu.?" tanya lelaki dewasa itu dengan suara lembut seperti biasa. Gadis itu mengangguk membenarkan pertanyaan Revandra.
"Jangan terlalau di pikirkan, nanti kamu sakit, dan aku tidak mau itu terjadi." kemudian membalik tubuh Aliya agar menghadapnya.
__ADS_1
"Dengar sayang.! Keluargamu ada ataupun tidak, kau tetap memiliki Ayah selamanya. Karna sekaran ayah telah mengurus pernikahan kita." Kata Revandra, bibirnya terukir senyum hangat, berbeda dengan Aliya, ia malah terkejut.
***
Semingu setelah Aliya tau tentang keluarganya, gadis itu selalu mengurung diri di kamarnya, dan sekarang perasaannya jadi resah terlebih lagi Revandra menyinggung masalah pernikhan. Beberap waktu lalu Aliya sangat menginginkannya, tapi entah kenapa, sejak ia tahu siapa keluarganya ia menjadi ragu untuk menjadi istri Revandra.
Pintu kamarnya terbuka, Revandra melangkah masuk dan duduk berhadapan dengan Aliya di tempat tidur setelah mandi di kamarny. Aliya kemudian menatap wajah lelaki dewasa itu.
"Ay...Ayah benar-benar akan menikahi ku.?" tanya gadis itu terbata-bata.
"Tentu, memangnya kapan aku bercanda dengan hal seperti ini, dan bukankah kau sangat menginginkannya.?"
Aliya sedikit ragu dan menggelengkan kepalanya tak habis fikir.
"Ta..."
"Kamu keberatan.?" tanya Revandra mengankat alis, menatap lekat gadis muda nan cantik di hadapannya
"Tapi Ayah, Aliya belum siapa, aliya tidak tau harus berbuat apa, terlebih lagi jika Aliya jadi ibu, apa yang harus Aliya lakukan.?"
Aliya mengangguk tegas, tak ada keraguan untuk perasaan itu
"Lalu apakah kamu mau menikah dengan Ayah.?" Kembali Revandra bertanya pada Aliya
"Kapan pernikahan itu Ayah rencanakan.?"
"Enam bulan, di hitung dari hari di mana aku mengambil kesucianmu." jawab lelaki dewasa itu dengan yakin.
Aliya mengerutkan keningnya. Mengingat kembali kapan aktivitas panas itu pertama kali mereka lakukan. Hingga akhirnya wajahnya memerah, itu terjadi sekitar hampir dua bulan lalu, berarti masih ada tersisa empat bulan
"Apa ayah yakin ingin menikahiku.?" tanya Aliya masih dengan keresahan di hatinya.
__ADS_1
"Apa kamu tidak bisa melihat keseriusan ku Aliya.? apa kamu ingin kita tetap seperti ini ? tampa ikatan legal melakukan hal-hal apapun seperti yang sering kita lakukan belakangan ini.? Sayang, kamu tahu bahwa aku menginginkanmu dan itu bukan hanya keinginan sesaat. Aku sadar sepenuhnya bahwa perasaan ini sangat dalam, dan aku tidak ingin melepaskanmu Aliya. Aku sudah terlanjur terperosok dalam cinta ini. please jangan meragukanku Aliya."
Revandra memohon, membuat mata gadis itu berkaca-kaca dan lengsung memeluk lelaki dewasa yang tampan itu.
"Aku bukan meragukan perasaan Ayah, tapi selama ini, orang-orang tahu bahwa aku adalah anak ayah, apa yang akan mereka katakan nanti jika tiba-tiba ayah menikahiku.?"
Itulah yang membuat Aliya sebenarnya merasa resah, semua orang terlanjur mengenal Aliya sebagai anak Revadra, akan sangat hebo jika mereka tiba-tiba menikah apa lagi dalam waktu dekat ini. Terlebih lagi, Revandra adalah salah satu pebisnis terkenal, dikenal sebagai penguasa kota S, dan sering di bicarakan di berbagai majalah bisnis, dan juga para wanita-wanita di luar sana yang mengidolakan Revandra.
"Mengapa harus memikirkan tentang itu.? untuk apa memikirkannya, sedangkan yang akan menjalankan pernikahan adalah kita.?"
"Tapi tetap saja ucapan orang lain akan terdengar dan tanggapan mereka tidak dapat kita abaikan Ayah.!"
"Kamu tidak perlu memikirkan hal itu, aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Dan pernikahan kita akan berlangsung dalam waktu empat bulan, karna sudah dua bulan terhitung sejak ayah mengambil kesucianmu. Dan yang paling penting, pernikahan akan berlangsung setelah kemelut yang ada pada keluargamu terselesaikan. Kamu hanya cukup mempersiapkan diri saja, selebihnya biar aku yang urus." ucap Revandra sambil melayangkan satu kecupan di pipi gadis itu.
Karna Aliya sangat menyayangi Revandra, semua kerisauan hatinya lenyap begitu saja, setelah Revandra memeluknya, gadis itu kembali ceria. Dengan sekuat tenaga ia mendorong tubuh Revandra sehingga terbaring di kasur yang empuk itu.
Aliya kemudian m*lepas bathrob Revandra, lalu menghujani lelaki dewasa itu dengan ciu*** yang m*rambah ked*da Revandra, Hingga akhiran ciu*** itu singgah di bawah sana. Aliya memainkan l*dahnya di sana, dan sesekali m*lum**nya seperti sedang makan es krim
"Aliya.. kamu,, agh !" pekik Revandra, dari mana lagi gadis kecil itu mendapatkan ide seperti itu. Pikirnya.
Revandra tidak tahan lagi ia merahi t*b*h Aliya
"Apa Aren yang mengajarkanmu hal itu.?"
"Tidak,"
"Lalu dari mana kau mengetahui cara-cara itu."
"Aliya m*lihatnya di int*rnet, dan Aliya penasaran sekali, jadi Aliya memperakteknya padamu." ucap gadis itu membuat Revandra menepuk jidatnya.
"Kau nakal Aliya." ucapnya dan mengambil alih, hingga mereka m*ncapai kepua***nya masing-masing.
__ADS_1
Bersambung...
******