Sweet Temptation

Sweet Temptation
Penolakan Aliya


__ADS_3

Sesaat ruangan itu menjadi hening, hingga Reyno menatap Revandra, seolah menginstruksikan lelaki itu agar memerintahkan kepada Aliya untuk memberi mereka ruang, Mengerti dengan tatapan Reyno, Revandra beralih menatap Aliya


"Aliya.! istrirahatlah, aku rasa kau sudah lelah." Ucap Revandra lembut, gadis itu hanya mengangguk, lalu begegas ke kamarnya untuk istirahat.


Sebentar setalah Aliya berlalu Revandra kembali menatap Reyno dengan tatapan penuh pertanyaan.


"Jadi, hal apa yang anda risaukan.?"


"Aku tak tau harus memulai dari mana, tapi sunggu ini, membuat hatiku sangat kacau."


"Maksud anda apa.?"


"Presedir Revan, Aku... telah..." Tapi belum juga Reyno melanjutkan kata-katanya Aliya kembali ke bawah, lantaran tak bisa berada di kamarnya, gadis itu penasaran, jangan-jangan ada sesuatu yang di rencanakan oleh Revandra dan Reyno.


Kedua lelaki dewasa itu berbalik ke arah Aliya yang sudah menuruni anak tangga dan menghampiri mereka.


"Ada apa Al.? bukankah aku sudah menyuruhmu istirahat.?"


"Tapi Aliya tidak bisa."


Kedatangan Aliya membuat Reyno mengurungkan niatnya untuk mengatakan sesuatu pada Revandara. Ia merasa mungkin belum waktunya ia mengatakan itu, maka ia menegakkan badannya ingin pergi dari dari rumah itu,


"Papa mau kemana.?"


"Papa ingin mengambil pakaian papa di rumah, lalu menyewa hotel untuk tinggal sementara, sampai semuanya benar-benar bisa terkendali."


"Kenpa mesti ke hotel papa.? tinggallah di sini bersama Aliya dan ayah Revan." ucap gadis itu memohon lalu menatap Revandra.


Mengerti dengan tatapan gadis kecil itu, Revandra memanggil pelayannya untuk mempersiapkan kamar untuk Reyno.


"Saya rasa tak perlu Presedir Revan."


"Kenapa kamu tidak mau tinggal di sini papa.? apa papa juga membenci Aliya, sehingga papa sudah tidak ingin bersama Aliya di ruangan yang sama.?"


"Bukan seperti itu Aliya... hanya saja,"


Karna pada dasarnya Aliya tidak ingin menerima penolakan atas keiinginannya, gadis itu menampakan wajah masam seperti biasanya saat Revandra tidak mengindahkan keinginnanya, maka Aliya berlaku demikian pada Reyno,


"Tidak, Aliya mau papa di sini bersama Aliya."


Melihat putrinya memohon, kembali Reyno duduk di sofa dan menyandarkan pundaknya seraya menarik nafas dalam-dalam.


"Baiklah Al, aku aka tinggal untuk sementara waktu."


"Benarkah.?"


"Tentu saja." jawab Reyno membuat gadis itu menjadi gembira, seolah keresahan dan sakit hati yang ia rasakan karna Laila, hilang entah kemana. Sifat Aliya memang begitu, manja, periang, mudah menerima, dan kadang plin-plan. Dan satu lagi yang minus dari gadis itu, yaitu saat dirinya menginginkan seseuatu, ia tak mau mendengar penolakan dan apapun itu ia harus mendapatkannya, itulah sifat yang di dapat dari Revandra yang mengasuhnya dengan kemanjaan yang tiada tara.


Hingga malam tiba, Reyno masuk ke kamar yang sudah di siapkan pelayan tadi, begitupun dengn Aliya dan Revandra, masing-masing masuk ke kamarnya setelah mereka menyelesaikan makan malam bersama.


***

__ADS_1


Di dalam kamar saat Aliya hendak tertidur, tiba-tiba ganggang pintu bergerak, dan Revandra masuk dengan langkah pelan. Jantung gadis itu berdegup sangat kencang seperti mau copot rasanya, matanya menatap Revandra yang hanya mengenakan baju kaos dan celana pendek biasa, Sudah lama sekali Aliya tidak melihat Revandra berpakaian santai seperti itu.


"Ay...Ayah.!" Ucap Aliya terbata-bata,


"Ya Aliya.!"


"Kenapa kamu datang ke kamar Aliya malam-malam bengini ayah.?"


"Tidak bisakah.?"


"Tidak, hanya saja, Aliya sedikit canggung, rasanya sudah lama sekali kita tidak berada di satu kamar yang sama." kata Aliya malu-malu


"Apa kau keberatan aku di sini.?"


"Tidak."


"Lalu mengapa kau berkata demikian.?"


"Ayah...!"


Revandra lalu duduk di tepi pembaringan dan memegang pipi gadis di hadapanya


"Aliya, berhentilah memanggilku Ayah, tidakkah kau merasa aneh, jika kau terus memanggilku dengan sebutan ayah.?"


"Lalu dengan sebutan apa seharusnya memanggilmu ayah.?"


"Kau bisa memanggilku Revan."


"Terserah kau saja gadis kecil."


Perlahan Revandra mengecup kening gadis itu, sebentar kemudian kecupan itu singgah di bibir mungil Aliya, hingga beberapa saat Aliya terbuai, Revandra kemudian menurunkan kecupannya ke leher jenjang gadis itu.


"Rasanya sudah lama sekali aku tidak menghirup aroma mu Aliya." gadis itu hanya diam tak tau harus menjawab apa.


Karna tak ada pergerakan dari gadis itu, Revandra melanjutkan aksinya mendorong lembut tubuh gadis itu lalu menindihnya, kancing-kancing baju Aliya sudah di lepaskannya, Sesuatu yang ada di bawah sana juga sudah menegang. Baru saja Revandra hendak membuka piayama Aliya, gadis itu menghentikanya.


"Ayah.!"


"Em.. kenpa sayang.?"


"Aliya... Aliya..."


"Ada apa.? apa kau keberatan aku menyentuhmu,? tanya Revandra, tapi gadis itu hanya diam seribu bahasa.


Sejujurnya, ingin sekali rasanya ia berucap untuk menolak Revandra, tapi kata-kata itu tidak bisa lolos dari kerongkongannya, ia hanya bisa menatap Revandra berharap Revandra mengerti arti tatapan itu. Benar saja, Revandar memang mengerti maksud tatapan gadis itu.


Selama ini, dirinya yang merawat Aliya, jadi tidak mungkin jika ia tidak tau mengeni tingkah, kelaukan maupun tatapan Aliya.


"Baiklah Al, aku tidak akan menyentuhmu malam ini." Meraih tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.


"Tapi, apa tidak masalah bagimu.?"

__ADS_1


"Tentu saja masalah Aliya, tapi aku tidak ingin memaksamu,"


"Aku akan membantumu."


Aliya merubah posisinya lalu meraih milik Revandra memainkannya dengan jari-jari yang lembut. Sebentar kemudian Revandra telah mencapai kepuasannya. Lalu meraih tisu untuk membersihkan sisa-sisa ciran di tangan Aliya. Baru kemudian meraih Aliya kembali ke dalam pelukannya untuk tidur.


"Kenapa kau menolak keinginanku Aliya.?"


"Maaf, tapi Aliya merasa tidak pantas kita melakukannya, sedangkan papa ku ada di sini bersama kita."


"Aku mengerti. Jadi jika papa mu sudah tidak ada, itu berarti kau membebaskanku untuk berlaku sesuka ku padamu.?"


"Aliya tidak bilang begitu." sambil mencubit perut kotak-kotak Revandra, membut lelaki itu, memekik.


"Ayah Revan,! bisakah malam ini kamu tidak tidur di sini.? aku sungguh tidak ingin papa merubah pandangannya terhadap kita. Meskipun papa sudah tau tentang hubungan kita, tapi kita juga harus bersikap sopan di hadapannya," dengan tatapan memohon.


"Aliya, gadis kecil ku sudah memiliki pemikiran dewasa." ucap Revandra seraya melayangkan satu kecupan di kening gadis itu sebelum meninggalkan kamarnya.


***


Di rumah keluarga Aliya, Danile sudah tau tentang apa yang terjadi siang tadi, dan lelaki muda itu merasa sangat kecewa pada ibunya. Ibu dan anak itu, beserta lelaki tua Mintle duduk di sofa dengan keheningan di ruangan itu, sebelum Danile kembali membukala suara.


"Mama, satu hal yang sekarang berkecamuk di pikiranku."


"Apa itu Danile." ucap Laila dalam isak tangisnya, Sejak siang tadi ia tak henti-hentinya mengelurkan air mata lantaran Reyno meninggalkannya,


"Apa kecelakaan mobil ayah kandung Danile, mama juga terlibat di dalamnya.?"


Mendengar pertanyaan anaknya Laila menatap dengan tatapan tajam.


"Meskipun aku yang membuat bibimu terkena serangan jantung mendadak, dan tidak menyukai ayahmu, aku juga tidak akan melakukan hal itu."


"Jangan berbohong mama.?" bentak Danile.


"Demi tuhan Danile, mama tidak ikut serta dalam kecelakaan ayahmu."


Danile kemudian menegakkan badannya, dan menatap serta meneliti setiap perkataan Laila, dan nyatanya ia benar-benar tidak menemukan kebohongan di sana.


"Lalu siapa yang ada di balik kecelakaan ayahku mama.?"


"Aku tidak tahu Danile, aku memang mengusirnya waktu itu, tapi tidak ada niatku untuk membunuh ayahmu, meskipun aku tidak menyukainya, tapi tetap saja dia adalah ayah kandungmu."


"Kenapa baru sekrang kau mengakui lelaki yang telah kau sakiti sebagai ayah Danile.? apa karna Reyno sudah meninggalkanmu Laila.?" Sela lelaki tua Mintle.


"Tidak ayah, maafkan aku."


"Berhentilah minta maaf, karna percuma, kau hanya tinggal menunggu waktu di mana Reyno atau Revandra akan memenjarakanmu, atas kematian wanita yang pernah mereka nikahi, terlebih lagi kau juga menyiksa perasaan putri mereka." kata lelaki tua Mintle lalu beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Laila, disusil Danile.


Laila semakin membenci gadis itu, ia memikirkan bagaimana cara menyingkirkan gadis itu, dan bagaimana pula cara agar orang yang ia cintai kembali padanya.


Bersmbung...

__ADS_1


***


__ADS_2