
"Selamat siang presedir Revand." sapa lelaki yang baru saja mengejutkan mereka bertiga.
"Siang.! Ada urusan apa kau ke mari ? apa kau ingin membicarakan tentang kerja sama kita ?, kalau itu tujuanmu ke sini, maaf sekali, saat ini aku tidak bisa membicarakannya, kau tau sendiri pikiranku sedang kacau." jawab Revandra.
"Aku datang bukan untuk itu."
"lalu.?" tanya Andre penasaran.
"Tidak bisakah kalian mempersilahkanku duduk dulu.?"
"Baiklah, kau bisa duduk." ucap Danile mempersilakan lelaki itu untuk duduk di sampingnya.
Sebentar kemudin lelaki itu melepaskan kancing jasnya, lalu membuka suara
"Presedir Revan, aku punya sesuatu untukmu."
"Katakanlah, aku sungguh tidak punya waktu."
"Ini masalah Aliya."
Mendengar nama Aliya, Revandra, Andre dan Danile menjadi tegang, lalu menatap lelaki itu secara bersamaan.
"Apa kau tau di mana Aliya, Axcel.?"
"Tentu saja akiu tau."
"Jadi kau yang menyembunyikan gadis kecil itu," ucap Revandra yang emosinya mulai memuncak. Tapi Axcel tetap tenang, tak ada sedikitpun rasa takut yang terlihat pada wajahnya.
Revandra beranjak dari kursinya dan melangkah ke arah Axcel, hendak melayangkan tinjunya, tapi Axcel segera menahanya.
"Revandra tenanglah, biarkan Axcel berbicara dulu." sergah Andre.
Axcel yang tadinya tetap tenang, berubah raut wajahnya seolah meremehkan Revandra, baru kemudian kembali berbicara.
"Saat ini Aliya ada di tempatku, aku menemukanya empat hari yang lalu,"
"lalu mengapa kau mengatakan dia tidak bersamamu."
"itu karna gadis kecil itu merengek dan memintaku untuk berbohong, aku tak habis fikir Presedir Revan, kau sungguh berengsek, membiarkan seorang gadis kecil pergi sendiri bahkan tidak membawa uang sepersenpun, andai saja aku tidak datang, gadis itu sudah memberikan ponselnya sebagai bayaran untuk taxi itu,"
Revandra hanya terdiam, ia mulai meredam emosinya. Benar apa yang di katakan Axcel, bahwa dirinya adalah pria brengsek yang membiarkan seorang gadis kecil berkeliaran sendiri.
"Lalu di mana gadis kecil itu kau sembunyikan Axcel" ucap Revandra seperti memohon
"Dia ada di apartemenku, sepertinya dia sudah tenang, kali ini aku akan membiarkan kau membujuk dan menjemputnya. Aku tak tau apa yang terjadi antara kau dan Aliya presedir Revan, tapi jika suatu saat kau membuat gadis itu menagis lagi, jangan salahkan aku membawanya pergi dari sisimu."
__ADS_1
"Berani sekali kau mengancamku.?"
"Aku tidak mengancammu. Empat hari Aliya bersamaku, hanya tatapan kosong yang selau aku dapatkan, baru tadi malam gadis itu sepetinya sudah tenang, makanya aku menyuruhmu menjemputnya."
Revandra hanya diam membenarkan ucapan-ucapan Axcel.
"Baiklah presedir Revan, aku pergi dulu, aku harap kau ingat perkataanku tadi. Jangan sekali lagi memaksanya dan membuatnya menangis, saat ini aku mengalah, tapi lain kali tidak akan pernah" ucap Axcel tegas seraya beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan itu tampa melihat tatapan Revandra padanya.
"Kita sudah tau keberadaan Aliya, sebaiknya saya pulang dulu, untuk memberi tahu kakek dan ayahku tentang berita ini." kata Danile juga meninggalkan ruangan itu.
Berlalunya Danile, Andre tertawa mengejek pada Revandra, membuat Revandra menatapnya seperti tatapan ingin melahap Andre hidup-hidup.
"Apa yang kau tertawakan.?"
"Tentu saja menertawakanmu."
"Apa yang salah padaku.?"
"Tidak ada yang salah, hanya saja puas sekali rasanya melihatmu. Seorang peresedir yang terkenal kejam dan mendominasi diancam sama bocah yang lebih muda sembilan tahun darimu, dan kau malah tak berkata apa-apa, saat ancaman itu di lontarkan tepat di hadapanmu.
"Berhantilah menertawaiku Andre, saat ini aku memang merasa sedang dalam titik terendah diriku."
"Lalu apa yang kau tunggu Revan.? tidakkah kau merindukan gadis kecil itu, jemputlah dia dan berikan penjelasan padanya, dan ingat jangan samapai kau menakutinya."
***
"Kak Axcel, bukankah kau baru saja pergi, kok balik la..g..i." ucap Aliya kaget di kata terakhirnya. Gadis itu terkejut ternyata bukan Axcel yang datang melainkan sosok yang membuatnya takut hingga ia memilih bersembunyi di tempat Axcel.
"Ay..Ayah..!" dengan terbata-bata.
Melihat gadis yang sudah empat hari tidak berada di sisinya, Revandra langsung memeluk gadis itu dengan erat, Merasakan tubuh yang di peluknya gemetaran, Revandra melepaskan pelukan itu lalu menatap dalam wajah Aliya.
"Aliya, maafkan aku membuatmu takut." tapi gadis itu melangkah mundur.
Revandra yang melihat tanggapan Aliya terhadapnya merasa frustasi, gadis yang sangat ia cinta sepertinya sangat menolaknya. Air matanya mulai metes, seorang Revandra yang di kenal kejam dan tegas meneteskan air mata hanya karna gadis itu seperti takut padanya.
"Aliya, tolong sayang, jangan menyiksaku.! beri waktu aku untuk menjelaskannya padamu, please..!" mohon Revandra pada gadis itu.
"Sudahlah Ayah... tak ada yang perlu di jelaskan."
Mendengar Aliya menolaknya untuk menjelaskannya, Revandra teringat kata-kata Axcel tadi, jangan sekali-kali memaksanya,
"Baiklah Al, jika kamu tidak mau mendengarkan penjelasanku, aku akan pergi dan menunggumu sampai kau mau menerima dan mendengar penjelasanku." ucap Revandra kemudian berbalik sambil menyeka air matanya.
Baru saja Revandra mau melangkah keluar pintu, langkahnya terhenti, Aliya sudah memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Jangan pergi Ayah.!" ucap Aliya. Tak bisa ia pungkiri, meskipun Revandra sudah membuatnya takut dan trauma, jauh di lubuk hatinya, ia masih sangat mencintai sosok itu.
Revandra berbalik, dan kembali memeluk Aliya dengan erat, membuat gadis itu sedikit sulit untuk bernafas.
"Ohh..! Aliya, gadis kecil ku, akhirnya kau mau memaafkanku."
"Siapa bilang Aliya memaafkanmu ayah.! kau belum memberiku penjelasan." bertingkah kembali manja pada Revandra.
Betapa bahagianya Revandra melihat gadis kecilnya kembali bermanja seperti dulu.
"Baik, aku akan menjelaskannya." sambil menuntun Aliya untuk duduk di sofa.
"Apa yang akan kamu jelaskan ayah"
"Aliya, dengarkan baik-baik. Malam di mana kau melihataku bersama Magie, itu semua tidak seperti yang kau fikirkan."
"Tapi aku melihatmu menciumnya."
"Tidak sayang.! aku tidak menciumnya, Waktu itu, aku sangat haus karna sudah sangat tidak dapat menahan, aku turun tampa memakai baju dan hanya celana pendek saja, tapi Magie tiba-tiba menhadangku, dan hendak menciumku, tapi aku menghindar, namun sebelum itu kau sudah salah paham dan ku hanya melihat dari arah belakang, itulah kau melihat kami seperti sedang berciuman.
"Benarkah.?"
"Ya, pernakah aku membohongimu Aliya.?"
Gadis itu terdiam sejenak, memang benar Revndra selama ini tidak penah membohonginya sekalipun, meskipun hal-hal kecil tidak pernah Revandra sembunyikan. Lalu gadis itu menatap wajah Revandra dan kembali bertanya.
"Lalu, bagaimana kamu menjelsakan sesuatu yang di saksikan Aren dan om Andre saat aku tidak ada di rumah ayah.?" tanya Aliya yang memang sudah tau masalah itu dari Aren.
"Aku akui Al, aku hampir saja kehilangan kewarasanku, tapi bayang-bayangmu menghentikan ku. Dan saat aku ingin menghindari Magie, Aren dan Andre terlanjur melihatnya."
"Benarkah.?"
"Ya sayang.! Apa kau percaya denganku.?"
"Aliya percaya, tapi jujur saja, Aliya takut sama apa yang kamu lakukan pada Magie Ayah, aku takut kau akan berlaku demikian kepadaku."
Revandra menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan pula, kemudian memegang pipi Aliya dengan kedua tangannya.
"Aliya, selama kau hidup bersamaku, pernahkah aku berlaku kasar padamu.? Aku sangat menyayangimu. Jadi, aku tidak akan pernah menyiksamu seperti Magie, kau dan dia berbeda sayang.!"
"Tapi kenapa waktu itu kamu memaksaku Ayah.?"
"Aku sudah kehilangan akal saat itu, aku pikir dengan berlaku demikian, kau akan memaafkanku, tapi nyatanya kau justru lebih membeciku dan memilih menjauh dariku, taukah kau Aliya, aku sangat frustasi selama empat hari ini."
Bersambung...
__ADS_1
******