
Aliya terkejut dengan apa yang di dengar dari mulut lelaki muda di hadapannya. Gadis itu mengigit bibir bagian bawahnya dan mencoba untuk tetap bersikap tenang.
"Dari mana Kak Axcel tau.?"
"Beberapa hari lalu, aku tidak sengaja mendengarmu membicarakan tentang kau dan ayahmu pada Aren, aku begitu penasaran dan dengan koneksiku, aku mencri tahu semuanya, dan kudapatkan bahwa kau bukan anak kandung Presedir Revan, melainkan seorang gadia kecil yang di bawa ibumu saat menikahi presid Revan."
"Bukankah kau sudah tahu semuanya, jadi mengapa kak Axcel masih ingin mengejarku.?"
"Karna aku mencintaimu Aliya, bahkan sangat mencintaimu melebihi apapun. Dan masalah kau dan ayahmu, aku tidak perduli dengan itu, dan tidak akan menghentikan tekatku Aliya."
Sesaat keheningan melanda kedua remaja itu, mereka hanya saling menatap tanpa ada yang berbicar. Lalu keheningan itu berubah ketika tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Aliya.
"Aliya...!" Aliya dan Axcel serentak berbalik menoleh ke sumber suara,
"Om Andre," sapa Aliya
"Apa yang kamu lakukan di sini Aliya sayang.?"
"Tidak om Andre, aku hanya kepengen minum cafe late saja dan kebetulan seniorku juga ada di sini." ucap Aliya tidak jujur. Kemudin Andre berbalik menatap Axcel.
"Bukankah kau Axcel dari perusahaan Atmaja grup, Axcel Atmaja.?"
"Ya, pak Andre, kalau begitu aku pergi dulu, mungkin ada yang ingin anda bicarkan dengan Aliya."
Axcel kemudian berdiri dan meninggalkan tempat itu, tapi sebelumnya ia kembali menatap Aliya, berharap gadis itu bisa mempertimbangkan apa yang ia katakan tentang perasaannya.
"Apa yang om Andre lakukan di sini.?" tanya Aliya, belum sempat mendapat jawaban, suara seorang gadis memanggil Andre, dan suara itu sangat femeliar bagi Aliya.
"Al...Aliya,, " ucap gadis itu terbata-bata, seakan terkejut melihat Aliya.
"Aren, kenapa kau terbata-bata.?"
"Maafkan Aku Al, aku tidak bermaksud men..."
"Sudahlah Ren, aku sudah tahu kok tentang kamu dan om Andere," sambil melemparkan senyum hangat pada Aren yang membuat gadis itu merasa lega.
Kemudian Andre dan Aren duduk di meja yang sama dengan Aliya sambil menikmati Cafe Late yang mereka pesan.
"Jadi sejak kapan kau mengetahinya Aliya.?" tanya Andre dengan senyum
"Saat kita hendak kepuncak beberapa waktu lalu, aku melihat Aren turun dari mobil seorang pria, dan buatku pria itu sangat femeliar, dan setelah ku perhatikan ternyata itu adalah om Andre, aku juga sempat bertanya pada Aren untuk memastikan, tapi waktu itu Aren seperti tak mau membahasnya, jadi aku memilih untuk diam saja.
Andre tersenyum lembut pada Aliya, lalu ngusap lembut rambut gadis yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri. Terlebih lagi dirinya memang pernah tinggal bersama Aliya selama dua bulan saat Revandra mengalami kecelakaan. Perlakuan Andre pada Aliya tidak membut Aren cemburu sedikitpun, sebab ia tahu, bagaimana Andre menyayangi Aliya seperti putrinya sendiri.
__ADS_1
"Kalau begitu nikmati waktu kalian, aku harus pergi, ada sesuatu yang harus aku kerjakan." ucap Andre berdiri lalu melayangkan sebuah kecupan hangat di kening Aren.
Berlalunya Andre membuat Aliya menatap Aren tajam.
"Aren, apa kalian serius dengan hubungan kalian.?"
"Serius, memangnya kenapa.?"
"Aren tidakkah om Andre terlalu tua untukmu.?"
Tuk...!
Sebuah pukulan sendok mendarat di jidat Aliya. Tapi pukulan itu tidak terlalu sakit karna Aren melakukannya dengan pelan, hanya saja Aliya kaget,"
"Auww...! kenpa kau melakukan itu Ren.?"
"Lagian kamu berkata seperti tadi."
"Bukankah benar bahwa om Andre terlalu tua untukmu.?"
"Aliya, jika Andre yang umurnya dua tahun lebih muda dari om revan terlalu tua untukku, lalu bagaimana dengan om Revan untukkmu ?, dia lebih tua dari Andre."
"Ah,, iya juga yah..." Meledaklah tawa kedua gadis itu yang sama-sama menyukai pria tua yang seharusnya menjadi ayah mereka. Memang jika dilihat dari umur, lelaki dewasa itu memang cocok untuk jadi ayah mereka, namun jika dilihat dari tampang, tak ada masalh jika menikah dengan pria dewasa itu.
***
"Aliya, apa yang kau risaukan sayang.?"
"Ayah, Aliya gugup."
"Buang rasa gugupmu itu, oh ya, pakai gelang peninggalan ibumu ini."
Aliya yang saat itu mengenakan gaun biru malam yang simpel namun terlihat sangat anggun, dengan bagian atasnya sedikit menampakkan belahan dada Aliya, membuatnya semkin cantik dan sexy. Gaun yang di kenakannya cocok dengan umurnya, dilengkapi dengan anting berlian yang menjulur sekitar lima senti meter panjangnya, serta kalung berlian yang melilit di leher jenjang gadis itu, membuatnya semakin bertambah cantik dan anggun sesuai dengan umurnya, tak lupa juga gelang giok yang Revandra pakaikan pada gadis itu.
Melihat gadis di depannya bertambah cantik, lelaki yang memakai setelan biru malam sangat serasi dengan gaun yang dipakai Aliya, lelaki itu terpesona dan hendak melayangkan kecupan di bibir gadis itu, tapi niatnya terhenti saat Aliya mendorongnya dengan lembut.
"Stop ayah, jika ayah menciumku, tidakkah kita akan terlambat." ucap gadis itu yang tahu bahwa Revandra tidak akan puas padanya hanya dengan satu kecupan saja. Dua bulan terakhir Revandra selalu berkata hanya satu kecupan saja tapi ujung-ujungnya merambah ke tempat lain dan bahkan berbut lebih sampai ia puas dengan tubuh gadis itu.
"Ah, hampir saja aku melupakan hal penting malam ini sayang, jika saja kau tak menghentikanku."
Revandara kemudin beranjak dengan Aliya, mengendarai mobil ketempat tujuan. Beberapa waktu berlalu, mereka telah sampai di pesta itu, disambut dengan jepretan kamera dari para reporte dan wartawan. Tak ada orang yang tidak terpesona dengan kecantikan Aliya.
"Wahh... ini kah putri Revandra yang sering di bicarakan itu,?"
__ADS_1
"Cantik sekali ya.?"
"iya Cantik, pantas saja Presedir Revand sangat menyanginya dan selalu memanjakannya"
Bisik para tamu yang hadir di tempat itu. Namun ada sepasan mata yang memperhatikan mereka, ia sangat benci pada gadis itu, ya siapa lagi kalau bukan Emma, sebagai pemilik bisnis ternama di Amerika ia juga di undang dalam perayaan ulang tahun Mintle grup itu.
Tampa tau ada orang yang begitu membencinya Aliya bersikap tenang dan tetap tingkahnya yang periang dan manja pada Revandra. Seorang lelaki paruh baya yang di dampingi putranya menghampiri Revandra dan Aliya.
"Selamat malam Presedir Revan.!" sapa pria itu.
"Selamat malam tuan Atmaja."
"ini putraku Axcel, dan sebentar lagi akan mengantikan posisiku di perusahaan."
"Aku sudah mengenalnya."
"Benarkah.?"
"Selamat malam Al," sapa Axcel pada Aliya.
"Selamat malam kak Axcel."
Melihat putrnaya dan putei Revabdra sudah saling dekat, timbul seauatu i pikiran pria Atmaja itu. tak mau menunggu lama, ia segera mengutarakn niatnya.
"Presedir Revan, sepertinya anak-anak kita sudah saling kenal, bagaimana kalau..." belum juga pria Atmaja itu mengutarakan niatnya Tuan besar Mintle telah berdiri di panggung, dan memperkenalkan Danile sebagai pewaris perusahaan Mintle Grup, di sertai pembukaan Acara perayaan pesta ulang tahun. serentak tamu-tamu yang hadir memberi tepuk tangan yang meriah.
pesta berjalan dengan lancar hingga Revandra membawa Aliya menghampiri pak tua Mintle beserta Laila, Danile dan juga Reyno.
"Selamat malam tuan Mintle," sapa Revandra.
"Selamat malam Presedir Revan."
"Ini putriku, Aliya, Aliya Jasmin."
"Selamat malam kakek."
Mendengar nama jasmin Reyno terbelalak karna terkejut, terlebih lagi wajah putri Revandra sangat mirip dengan almarhum istrinya, lalu matanya tertuju pada sebuah gelang giok yang di kenakan Aliya.
"Aliya Jasmin..." panggil Reyno dengan mata yang berkaca-kaca membuat kakek tua Mintle terkejut, sedang Laila diselimuti rasa ketakutan yang amat sangat menghantam jiwanya.
Bersambung...
******
__ADS_1