
"Lalu pakaian siapa yang kau pakai.?"
"Pakaian kak Axcel."
Revandra hanya manggut-manggut, jauh di lubuk hatinya, ingin sekali rasanya dia mengamuk melihat gadis kecilnya mengenakan pakaian pria lain. Tapi di sisi lain ia tak mau membuat gadis itu kembali membencinya jika dirinya melakukan hal tersebut, Lalu matanya tertuju pada arah meja yang di atasnya ada sebuah kemasan obat, jaraknya dan jarak meja terlalu jauh, Revandra tidak dapat membaca obat apa yang ada di meja itu, ia lebih memilih bertanya langsung pada Aliya.
"Obat apa yang ada di sana Al.?"
"Oh... itu hanya obat insomnia, beberapa hari ini Aliya tidak bisa tidur, jadi Aliya meminta kak Axcel membelikan obat insomnia." jawab Aliya berbohong, dan memilih untuk tetap merahasiakan apa yang terjadi semalam dengan Axcel.
Sebenarnya Revandra sangat penasaran dan tidak yakin dengan jawaban Aliya, tapi jika ia mengingat lagi saat Aliya mengabaikannya, Revandra menepis rasa penasaran dan tidak yakin itu.
Lelaki dewasa itu membawa Aliya pulang hari itu juga, tampa mengganti pakaian yang di kenakan Aliya, gadis itu hanya meraih salah satu sweter milik Axcel yang ada di lemari. Revandra yang melihat itu sejenak berfikir. Sedekat itukah mereka, sampai gadis ku sangat lancang memakai pakaian seorang pria lain.? tanyanya dalam hati.
Di rumah Aliya di sambut Oleh Aren, Andre dan juga Danile, tak lupa lelaki tua mintle dan ayahnya. Hanya Laila yang tidak ikut.
"Oh Aliya, kau membuat semua orang khawatir sayang.!" ucap Reyno seraya memeluk Aliya, setelah yang lain bergantian memeluk gadis itu.
"Maafkan Aku Paman, jika aku membuat semuanya khawatir."
Mendengar Aliya memanggilnya paman, lagi-lagi Reyno merasa hatinya sangat sakit. Matanya berkaca-kaca, tapi dengan sekuat tenaga Reyno berusaha agar air matanya tidak menetes, Tapi Revandra sadar bahwa Reyno sedang tidak baik-baik saja.
"Aliya, berhentilah memanggilnya paman, dia adalah ayah kandungmu sayang.!" Karna Aliya selalu mengikuti perkataan Revadra, maka gadis itu mulai memanggil Reyno dengan sebutan yang sepantasnya.
"Papa...!" ucap Aliya yang membuat Reyno akhirnya bersimpuh air mata. Hilang sudah sosok tegas pada Reyno yang membuat Laila jatuh cinta padanya, ketika putrinya memanggil dirinya dan mengakuinya sebagai ayah kandungnya.
Beberapa menit ruangan sedikit hening, lalu Revandra mulai membuka suara.
"Berhubung, kalian semua sudah berada di sini, aku punya sesuatu yang akan aku katakan pada kalian."
Mendengar Revandra bersuara suasana yang tadinya mulai mencair dari keheningan seketika menjadi tegang.
"Aku akan menikahi Aliya,"
Tersentak lelaki tua Mintle dan Reyno mendengr itu, berbeda dengan Danile, Aren dan Andre, ekspresi mereka tetap tenang, toh mereka juga sudah tau dengan rencana Revandra.
"Kapan.?" tanya Reyno berusah tenang, padahal di dalam hati sangat terkjut, bagaimana tidak, Di mana di dunia ini seorang ayah akan menikahi putrinya sendiri. Meskipun bukan putri kandung tapi tetap saja, Revandra adalah pria yang merawatnya sedari kecil, melihatnya tumbuh, mendidiknya hingga menjadi seorang gadis yang baik. ucap Reyno dalam hati.
__ADS_1
"Besok aku akan mendaftarkan pernikahan kami di pengadilan, dan Resepsi akan di adakan dua bulan dari sekarang."
"Tidakkah itu terlalu cepat presedir Revan.?" tanya lelaki tua Mintle.
"Ya! apa kau tidak terlalu terburu-buru presedir Revan.?" sambung Reyno.
Revan memicingkan matanya, ia akui bahwa dirinya memang sangat terburu-buru, tapi jika ia tidak melakukannya, ia takut gadis kecil itu akan benar-benar pergi dari sisinya.
"Aku mengutarakan niatku pada kalian karna aku berfikir kalian keluarga Aliya, bukan berarti untuk menikahinya harus dengan persetujuan kalian." ucap Revandra dengan nada menekankan pada kalimat terakhirnya.
Mendengar ucapan revandra yang menekankan, membuat mereka hanya bisa diam. Bukan karna mereka menyetujui ke inginan Revandra untuk menikahi Aliya, tapi mereka takut lantaran tahu bahwa tidak ada yang tidak bisa seorang Revandra dapatkan jika lelaki itu sudah berkehendak. Terlebih lagi Aliya juga tampak senang dengan rencara Revandra itu, meskipun dalam keadaan terburu-buru.
***
Esok hari setelah dari pengadilan untuk mendaftarkan pernikahan Aliya dan Revandra terlihat lesu saat semaua sudah berkumpul kembali di rumah Revandra.
"Bagaimana hasilnya Revan.?" tanya Andre.
"Mengapa kau tampak lesu sekali.? bukankah seharusnya kalian bahagia sudah mendaftarkan pernikahan kalian.?" Sambung Aren.
"Ya, apa yang membuatmu begitu lesu presedir Revan.?" sela Danile kemudian.
"Pengajuan kami ditolak pengadilan."
"Apa penyebabnya.?" tanya Reyno
"Aku di tuduh memaksa seorang gadis kecil untuk menikah denganku, bahkan jika aku nekat menikahinya, maka aku akan di kenakan pasal pelecehan gadis di bawah umur, lagi pula umur Aliya belum mencapai umur untuk menikah. Terlebih lagi, Aliya baru boleh menikah saat umurnya mencapai dua puluh tahun, dan itu masih beberapa bulan lagi, baru enam bulan yang lalu kita merayakan ulang tahun Aliya, dan untuk mendaftarkan pernikahan kami di butuhkan enam bulan lagi."
Mendengar penuturan Revandra, ingin sekali rasanya Andre tertawa, tapi ia mengurungkan niat itu lantaran keadaan yang tidak memungkinkan. Lalu Danile memberanikan diri membuka mulutnya untuk berbicara dan melontarkan pertayaan pada Revandra dengan hati-hati.
"Preaedir Revan, bukankah kau adalah penguasa kota S ini, dan kau bisa saja melakukan seauatu untuk melegalkan pernikahan kalian."
"Benar apa yang kau ucapkan Danile.! aku bisa saja berlaki demikian, tapi untuk urusan pernikahan, aku tidak ingin main-main, semuanya harus di laksanakn dengan sebaik mungkin." jawab Revandra
"Ayah.! selama ini kamu bisa menunggu Aliya tumbuh jadi gadis seperti ini, bukankah menunggu beberapa bulan lagi tidak apa-apa."
Revandra memutar tubuhnya menghadap gadis itu, benar apa yang di katakan Aliya, dirinya selama ini bisa menunggu, hanya beberapa bulan saja. ucapnya dalam hati.
__ADS_1
"Baiklah gadis kecil, aku akan menunggu.!" ucap Revandra pasrah.
"Ayah...!"
"Emm..."
"Aliya ingin menginap di rumah keluarga Aliya, boleh.?"
"Baiklah.! tapi kau harus pulang besok."
"Terimah kasih."
Setelah pembicaraan itu, Danile dan keluarganya membawa Aliya ke rumah mereka dengan perasaan yang sangat senang. Terlebih lagi pernikahan terunda yang artinya dirinya masi punya banyak waktu untuk menikmati hari-harinya bersama Aliya.
Berlalunya Danile dan keluarganya, Andre kembali berbicara pada Revandra.
"Sabarlah Revan, hanya beberapa bulan saja, sebenarnya beberapa hari yang lalu aku juga sudah mencoba mendaftarkan pernikahanku dengan Aren, tapi ditolak dengan alasan Aren masih di bawah umur."
Maka meledaklah tawa Andre dan Revandra, ternya mereka berdua memiliki nasib yang sama. Sama-sama mencintai gadis di bawah umur.
Di rumah keluarga Aliya, kedatanganya tidak di sambut oleh Laila, wanita itu bahkan mengabaikan Aliya seperti biasanya.
"Sabarlah Al, tak usah kau perdulikan bibi mu." ucap lelaki tua Mintle, menenangkan cucu perempuannya
"Benar apa kata kakek Aliya, kau hanya perlu membuat dirimu senyaman mungkin berada di rumah ini." ucap Danile kemudaian, gadis itu hanya mengangguk.
"Papa, apa boleh malam ini Aliya tidur denganmu dan juga kak Danile?"
"Oh... putri kecilku, tentu saja boleh, aku sudah tidak memelukmu begitu lama, dan itu terjadi lima belas tahun yang lalu."
Mendengar Aliya meminta Reyno untuk tidur dengannya bersama Danile juga, mata Laila melotot tidak senang.
Hingga malam tiba, Aliya sudah menunggu Reyno dan Danile di kamarnya, tak lama ganggang pintu bergerak membuat gadis itu melompat dari tempat tidur untuk menyambut Reyno dan Danile Tapi semua tidak sesuai apa yang gadis itu harapkan.
Ketika pintu terbuka, Aliya sangat terkejut melihat sosok yang masuk kekamarnya. Gadis itu diam terpaku, tak mampu rasanya gadis itu untuk menggerakan kedua kakinya.
Bersambung...
__ADS_1
******