
"Pembalut, Aliya lagi datang bulan."
"Kenapa tudak bilang dari tadi.?" Ucap Revandra kembali menegakkan badannya, sedang Aliya hanya tersenyum mengejek
"Itulah hasil dari ketidak sabaranmu, Aliya sudah berusaha memperingati tapi kamu tidak perduli ayah."
Revandra membenarkan ucapan Aliya, seharusnya ia memberi kesempatan pada Aliya untuk berbicara. Lelaki itu kemudian bangkit dari sisi Aliya yang masih menertawainya.
"Berhentilah tertawa gadis kecil, aku akan menghukummu beberapa hari lagi."
"Terserah..." masih dengan tawanya.
Lantaran malu, Revandra lebih memilih untuk mandi, Dan Aliya bergegas keluar dari kamar itu, menemui kepala pelyan untuk menyiapkan cemilan malam seperti biasanya.
Easok hari seperti biasa Revandra dan Reyno bekerja. Dan Aliya memilih untuk tetep di rumah, lantaran ada sedikit rasa malas untuk kuliah hari ini.
Di perusahaan Revandra dan Andre sedang melalukan pekerjaan-pekerjaan seperti biasanya. Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di depan pintu ruangannya.
"Biarkan saya masuk sekertaris sialan.!" Ucap Emma pada sekertaris Alin yang menghadangnya untuk masuk ke ruangan Revandra.
"Tapi presedir Revan sedang sibuk"
Emma tidak menghiraukan perkataan sekertaris Alin, Ia bahkan dengan berani menendang pintu ruangan itu, untung saja di sekitar ruangan presedir memang sepi, Emma berani menendang daun pintu itu karna merasa Revandra tidak akan menyakitinya, mengingat ia telah menyelamatkan nyawa lelaki dewasa itu.
Sekertaris Alin sekuat tenaga menggalagi Emma untuk masuk ketika pintu telah terbuka.
"Biarkan di masuk." ucap Revandra, dan tidak memperdulikan Emma yang sudah duduk di sofa.
Revandra tidak menghiraukan Emma sedikitpun, perhatiannya hanya tertuju pada lembaran kertas yang ada di tangannya untuk di periksa, begitu pun dengan Andre,
"Apa perlu saya panggilkan keaman presedir.?"
"Tidak perlu, biarkan dia berbuat sesukanya." ucap Revandra lalu kembali pada pekerjaannya.
Emma beranjak dari sofa dan lebih mendekat ke arah Revandra.
"Ravan.! kau harus bertanggung jawab.!"
"Apa yang harus aku pertanggung jawabkan.?" masih cuek terhadap Emma.
"Aku di permalukan di depan umum, bahkan vidioku sudah tersebar, dan mungkin saja tidak akan ada lagi seorang lelaki yang mau menikahiku kelak, jadi tinggalkan gadis kecil itu Revan." dengan nada membentak.
"Ohh, jadi maksudmu, jika suatu saat seorang gadis di permalukan di depan umum, maka aku juga harus meninggalkanmu untuk bertanggung jawab pada gadis itu.? begitukah maksudmu.?" kata Revandra mulai geram.
__ADS_1
Emma semakin maju, dan memukul meja Revandra, membuat lelaki itu menghentikan pekerjaannya dan menatap Emma. Revandra dengan sedikit kesabaran mencoba memberi pengertian pada Emma.
"Berhentilah Emma, aku sangat mencintai Aliya."
"Tidak akan.! Sampai kapanpun aku tidak akan berhenti, Awuu..."
Kalimat Emma terhenti dengan ringisannya saat Revandra tiba-tiba mencengkram lehernya dengan kesabaranya yang sudah tidak bisa ia tahan.
"Kamu memang perempuan tidak tahu diri, aku benar-benar telah salah memperlakukanmu dengan baik, sekarang jangan salahkan aku jika aku menghancurkanmu, Ingat Emma, aku sudah berusaha memberimu kesempatan, tapi kamu justru memilih untuk di lenyapkan, jangan salahkan aku jika aku melenyapkanmu dari dunia ini." Ujar Revandra seiring dengan cengkramannya di leher Emma yang semakin kuat.
Revandra tidak perduli sama sekali dengan wajah Emma yang menampilkan ketersiksaannya, Sedangkan Andre tetap diam melihat kejadian itu.
"Aku sudah habis kesabaran, jadi biarkan aku melenyapkanmu."
Cengkraman Revandra membuat Emma tidak bisa lagi bernafas, hingga akhirnya ia jatuh dan tak sadarkan diri saat Revandra melepaskan cengkraman itu.
"Andre.! Lemparkan dia ke jalan. Dan semua properti yang sudah aku berikan padanya, tarik semua.! jangan ada yang tersisa." Perintah Revandra dengan nada tinggi.
"Tenanglah Revan.! ingat wanita ini pernah menyelamatkanmu."
Revandra kemudian kembali duduk di kursinya, lalu menatap Andre kemudian menatap tubuh Emma yang sudah tidak berdaya namun masih bernafas.
"Jadi apa yang kau sarankan untuk wanita ini.
"Aku juga tidak tau harus memberimu saran apa, menurutkun dengan vidionya yang sudah tersebar saat ini, Emma tidak akan berkeliaran lagi, itupun jika dia masih punya rasa malu."
"Apa yang harus kami lakukan pada wanita ini presedir Revan.?"
"Trserah kalian, jika kalian mau, silahkan kalian menikmatinya. Tentunya jika terjadi sesuatu pada wanita itu, maka kalian yang akan menanggungnya."
"Baik presedir." Mereka lalu membawa Emma entah kemana.
***
Di perusahaan Mintle grup, Reyno bekerja seperti biasa, lalu Laila menghampirinya, dan langsung memeluk tubuh lelaki yang ia rindukan, tapi Reyno hanya menatap Laila dengan tatapan penuh kebencian.
"Sayang.! aku merindukanmu." Kata Laila dengan berurai air mata.
"Persetan dengan kau." jawab Reyno sembari melepaskan pelukan Laila darinya dengan paksa.
"Tidak, tidak, aku mencintaimu sayang, kembalilah padaku, aku mohon, dan tinggalkan gadis sialan itu."
Mendengar Laila menyebut Aliya gadis sialan, wajah Reyno berubah, seketika emosinya berapi-api. Ia dengan kasar mendorong tubuh Laila hingga tersungkur kelantai, lalu berjongkok di hadapan wanita itu. Sambil memegang dagu Laila.
__ADS_1
"Sekali lagi kau menyebut putriku gadis sialan, jangan salahkan aku jika berbuat sesuatu yang kejam padamu. Ingat itu perempuan sialan.!"
"Dia memang gadis sial, dia merebutmu dari ku, dia mengacaukan usahaku bertahun-tahun untuk menahanmu tetap berada di sisiku."
Reyno yang tadinya sudah berbalik hendak meninggalkan ruangan itu, kembali ke arah Laila yang masih duduk tersungkur di lantai. Dengan amarah yang meluap-luap, Reyno meletakkan satu kakinya di atas paha Laila, baru kemudian menekankan pijakannya, membuat Laila berteriak kesakitan.
"Am...ampun.! Sayang ampuni aku,"
Mengingat wajah Laila sangat mirip dengan Laili, Reyno melihat Laili pada diri wanita itu, ia melihat Laili sedang memohon ampun padanya. Maka ia menghentikan tindakannya
"Andai saja wajahmu tidak mirip dengan ibu Aliya, aku tidak akan mengampunimu Laila, Camkan itu." Ucap Reyno sambil meraih jasnya, dan meninggalkan ruangan yang di penuhi dengan suara tangisan Laila. Wanita itu menagis bukan karna rasa sakit dari penyiksaan Reyno, melainkan karna Reyno masih tidak melupakan Laila.
"Lihat saja Reyno, kau akan kembali padaku jika gadis kecil itu sudah tidak ada, dia akan mendapat balasan atas apa yang kau perbuat padaku sayang.!." ucap Laila di sela tangisnya saat bayangan Reyno sudah tidak terlihat.
Di tempat lain, Emma terbangun di ruangan yang gelap, dengan keadaan yang sangat mengerikan. Tubuhnya di penuhi luka bekas cambukkan. Terlebih lagi ada rasa yang sangat sakit di bagian inti miliknya. Ia kemudian menatap ke arah bagian itu, dan mendapati beberapa cairan putih yang bercampur darah pada selangkangannya.
Emma berteriak histeris dengan keadaanya yang seperti itu
"Tidak, tidak... Aliya semua ini karnamu. Aku akan membalas semua kepedihan yang kudapatkan hari ini. Jika aku tidak bisa mendapatkan Revandra, maka kau juga tidak akan bisa mendapatkannya." Ucap Emma dalam tangisannya. Lalu dua pria besar menghampirinya saat mendengar Emma berteriak.
"Kau sudah sadar manis.?"
"Apa kau tahu siapa aku.?"
"Tahu, kau adalah wanita yang presedir Revan lemparkan untuk kami."
"Lalu kenapa tubuhku dipenuhi bekas cambuk seperti ini.? bukankah Revan hanya memerintahkan kalian menikmati tubuhku saja.?" tanya Emma yang masih berurai air mata.
"Ya.! Presedir Revan memang berkata demikian, tapi kami tidak bisa merasa puas dalam s*x jika tidak menganiyaya lawan main kami. Dan ini ponselmu, pergilah dari sini, dan jangan sekali-kali mengusik nona Aliya lagi."
Tampa berfikir panjang dengan keadaan yang setengah telanjang Emma berlari meninggalkan tempat itu, dan menuju ke rumah sakit. Tapi sebelum tiba di rumah sakit Emma menyempatkan diri untuk menelfon seseorang.
"Hallo.!"
"Ada apa.?"
"Aku menerima tawaranmu."
"Lalu kapan kita mulai.?"
"Sabarlah, biarkan mereka menikmati ketenangan terlebih dahulu, aku juga harus menyembuhkan luka-lukaku."
"Ok."
__ADS_1
Bersambung...
******