Sweet Temptation

Sweet Temptation
Kesimpulan Reyno


__ADS_3

Melihat Aliya yang sangat geram padanya, Emma melangkah mundur hingga akhirnya ia terpojok, Aliya terus saja mendekatinya dengan botol wine di tangannya.


"Pergi dari sini, dan jangan pernah kembali lagi, jika kau tidak pergi, maka botol ini akan segera melayang di kepalamu."


Rupanya gadis sialan ini tidak main-main dengan ucapannya, luka di keningku saja belum sepenuhnya sembuh jika aku berlama-lama di sini, mungkin saja luka ini akan bertambah.' pikir Emma dalam hati. Karna takut Aliya benar-benar melayangkan botol itu di kepalanya ia segera berlari meninggalkan rumah Revandra.


"Nona Aliya, tolong lettakan kembali boto itu." ucap kepala pelayan yang terkejut setelah Emma berlalu.


"Tenanglah, aku tidak benar-benar berniat melayangkan botol ini ke kepala tante Emma, aku tau botol wine ini adalah salah satu koleksi ayah Revan,"


Aliya ingat saat umurnya masih sebelas tahun, Revandra tega meninggalkannya beberpa minggu hanya untuk mendapatkan wine itu. meskipun Aliya merengek ingin ikut, tapi Revandra tidak membiarkan hal itu, lantaran tidak mungkin baginya membawa seorang anak kecil yang belum pernah ketempat-tempat mengerikan dimana wine itu berada.


"jika tante Emma datang lagi, jangan ada di antara kalian yang membuka pintu untuknya. untuk kali ini saya masih memberi kalian toleransi, taoi tidak lain kali."


"Baik nona Aliya," serentak para pelayan menjawab, baru kemudin mereka berlalu meninggalkan kamar itu.


Sesaat kemudin kamar Revandra menjadi hening, Aliya melemparkan dirinya ke tempat tidur, memejamkan matanya lalu terbersit saat pertama kali Revandra melakukan hal itu padanya. Seketika wajahnya merona. Sudah lama sekali Aliya tidak merasakan kehangatan Revandra. Ia kemudian meraih foto Revandra yang ada di atas meja sebelah pembaringan. lalu menatapnya.


"Ayah Revan, maafkan aku, beberapa hari terakhir aku sudah menolak keinginanmu, jujur saja aku juga sangat merindukan kehangatan itu, tapi entah kenapa aku merasa belum siap untuk melakukannya, setelah semua yang terjadi belakangan ini. Aku juga takut apa yang akan kau lakukan jika suatu saat kau tau aku pernah hampir melakukannya dengan pria lain dan itu sendiri aku yang memintanya, sejak saat itulah aku sedikit canggung untuk melakukanya bersama denganmu." Gumam Aliya.


Sebentar kemudian aliya meletakan kembali bingkai foto itu dan beranjak dari kamar yang di penuhi dengan aroma Revandra yang membuat Aliya kecanduan dengan aroma itu.


Gadis itu menuruni anak tangga, dan mendapati Reyno sudah duduk di sofa ruang tamu sambil *******-***** rambutnya. Aliya kemudin menghampirinya.


"Papa.!" panggil Aliya membuat lamunan Reyno buyar.


"Ya Aliya."


"Apa yang papa risaukan.?"


"Ahh, tidak ada, hanya masalah kantor saja."


"Papa.!"


"Emm..."


"Apa papa sudah mendapat ide untuk berurusan dengan bibi.?"


"Apa kau ingin aku memberinya perhitungan.?"

__ADS_1


"Biar bagaimanapun dia adalah bibiku dan masih istrimu papa.!"


"Tapi dia sungguh wanita yang hatinya busuk, dia juga yang memisakhan aku dan ibumu. Apa kau akan memaafkan dia semudah itu.?"


"Tidak, Aliya tidak bilang akan memaafkan bibi."


"Lalu,"


"Kalau begitu terserah padamu saja papa, Apapun yang akan papa lakukan Aliya akan mendukung itu, asalkan hal itu tidak membut kak Danile sakit hati dan membenci papa."


Reyno kemudian meraih putrinya ke dalam pelukannya.


"Maafkan papa Aliya, karna kesalahan dan ketidak percayaan papa pada ibumu membuatmu menderita."


"No.! Aliya tidak menderita, selama Aliya bersama ayah Revan, Aliya sangat bahagia. Meskipun beberapa hari terakhir Aliya memang sempat depresi dan trauma karna masala-masalah yang kita hadapi akhir-akhir ini." Sergah Aliya saat melepaskan pelukan Reyno.


"Apa kau sungguh bahagia bersama dengan Revan.?"


"ya papa ! buktinya Aliya sudah kembali pada diri Aliya lagi."


"Lalu bagaimana dengan Axcel."


"Aku hanya menganggapnya sebagai saudara saja,"


"Benarkah.?"


Sudahlahlah Reyno, tak perlu kau pertanyakan lagi, jika memang saat ini perasaan Aliya sudah goyah, itu adalah pilihannya. Ucap Reyno dalam hati yang mengambil keputusan bahwa perasaan putrinya telah berubah. Tampa tau siapa yang sebenarnya ada di hati petrinya.


***


Acara peluncuran produk terbaru dari merek terkenal AAED sangat meriah, pesata itu dihadiri banyak pebisnis dan para artis yang saat ini sedang naik daun. Revandra dan Aliya berjalan masuk ke ruangan persta yang di laksanakan di salah satu hotel terbesar di kota S.


"Kenapa om Andre dan Aren belum muncul.?"


"Tadi Aren dan Andre menghubungiku, sepertinya mereka tidak akan datang."


"Kenapa.?"


"Sudahlah Aliya, mungkin mereka sedang ada urusan lain yang lebih penting."

__ADS_1


Aliya mengangguk, menandakan ia sudah mengerti. Lalu tiba-tiba seorang lelaki paruh baya menghampiribya dengan seorang pemuda di sampingnya.


"Selamat malam Presedir Revan." sapa Atmaja.


"Selamat malam pak Atmaja."


"Selamat malam Al." sapa Axel pada Aliya yang sejak tadi diam melihat Axel.


"Se..selamat malam kak Axel." dengan senyum hangat.


Revandra mulai mengerutkan kening, ada perasaan tidak senang, saat Aliya membalas sapaan Axcel.


"Aliya mari kita ke sebelah sana, di sana ada kue vaforitemu loh" ajak Axcel sambil menunjuk meja yang berisi kue dan makanan-makanan untuk menjamu tamu


"Benarkah.?"


"Ya.!"


"Kalau begitu apa kak Axcel tidak keberatan membawaku ke sana.?"


"Kau mau kemana Aliya."


"Ayah...! pleasa tidak sekarang. ok.! lagian ini hanya makan kue.!"


Mendengar jawaban seperti itu, Revandra mengerti bahwa Aliya meminta ia memberi sedikit kelonggaran. Ia takut jika dirinya menghalangi Aliya, maka gadis itu akan marah lagi padanya, jadi ia hanya pasrah merelakan Aliya pergi bersama Axcel ke arah lain.


"Sudahlah Presedir Revan, putrimu bukan lagi anak-anak yang harus kau tekan. Usianya sudah hampir menginjak dua puluh, jadi berikanlah kebebasan untuknya," Ucap Atmaja, yang belum tahu bahwa Aliya bukan putri Revandra.


Ingin sekali rasanya Revandra memberi tahu pria paruh baya di hadapannya itu, bahwa Aliya bukanlah putrinya, melainkan calon istrinya. Tapi ia menepisnya. Dan merasa ini bukan tempatnya. Akan ada waktu di mana Revandra mengenalkan Aliya sebagai calon istrinya kepada semua orang, dan ia harus bersabar sampai waktu itu tiba.


Beberapa saat Atmaja berlalu, sedang Revan tengah berbicara dengan para pebisnis-pebisnis lain tidak lupa sesekali ia memperhatika Aliya dari arah yang berbeda, dan tidak ada yang aneh pada Aliya dan Axcel.


Revandra merasa haus dan memanggil pelayan untuk membawakannya segelas minuman. Tak lama seorang pelayan sudah datang dengan segelas anggur di bakinya, dan menyodorkannya pada Revandra.


Baru saja Revandra ingin meneguk anggur itu, pebisnis yang lain menghampirinya untuk menyapanya dengan ucapan selamat malam. Tentunya Revandra tidak bisa tidak menghiraukan mereka, meskipun Revandra berada jauh di atas para pebisnis-pebisbis itu, tapi tetap saja ia harus bersikap sopan pada mereka.


Ia merasa, jika para pebisnis itu takut padanya, bukan berarti ia harus berlaku semena-mena kepada mereka, Revandra membalas sapaan meraka dengan sopan tapi tetap dengan wibawa, dan prilaku yang tegas serta tatapan tajam yang menindas, seolah-olah memberi tahu mereka bahwa seorang Revandra tidak bisa mereka lawan.


Akhirnya setelah puas berbicaraa dengan Revandra, para pebisnis itu berlalu, dan Revndra mulai meneguk anggur yang sejak tadi ia pegang. Hingga beberapa saat berlalu. Kepalanya mulai merasa pusing dan ada rasa kantuk yang tidak bisa lelaki dewasa itu tahan.

__ADS_1


Bersambung...


******


__ADS_2