Sweet Temptation

Sweet Temptation
Rindu


__ADS_3

Di sebuah restoran barat, Revandra dan seorang wanita yang seumuran denganya sedang makan malam. wanita itu berpakaian terlalu glamor dan mencolok, tapi semua itu tidak mengurangi kecantikannya, namun jika di bandingan dengan Aliya, wanita dewasa itu tak ada apa-apanya.


"Revan, betah sekali kau melajang, tidakkah kau berfikir untuk mencari wanita sebagai pendampingmu dan penghangat tempat tidurmu.? Revan aku sudah lama mengejarmu, tapi kau selalu mengabaikanku, semua perhatianmu hanya tertuju pada gadis kecilmu itu, tapi dia juga membutuhkan sosok seorang ibu."


"Emma, tidak kah kau terlalu banyak bicara. Aku menemanimu makan malam bukan untuk membahas kehidupan peribadiku. Dan juga jangan salah artikan perhatianku padamu, semua itu kulakukan hanya untuk menebus utang budiku terhadapmu karna telah menyelamatkan nyawaku saat itu."


"Tapi Revan, aku sangat mencintaimu, aku rela jadi ibu untuk Aliya."


Brak...


Lelaki dewasa itu menghantam meja, untung saja mereka berada di ruangan yang tertutup sehingga tak ada orang yang mendengar ucapan mereka kecuali para pelayan restoran yang siapa untuk di panggil jika mereka membutuhkan sesuatu.


"Dia tidak membutuhkan seorang ibu. Ada aku sudah cukup baginya. Dan jangan pernah mengusikku lagi kecuali saat kau butuh uang." sambil melemparkan sebuah cek sebesar lima miliar ke meja.


Setiap bulan Revandra selalu, memberikan cek sebesar lima miliar kepada Emma sebagai kompensasi karna telah menyelamatkan Revandra dari kecelakaan enam tahun yang lalu, andai saja waktu itu Emma tidak mendonorkan darahnya pada Revandra, mungkin saja Revandra telah meninggal, karna saat itu Revandra membutuhkan donor darah O dan rumah sakit sedang tidak ada persediaan.


Emma yang saat itu belum kenal dengan Revandra, menawarkan diri untuk mendonorkan darahnya, toh dia juga yang membawa Revandra ke rumah sakit, dia hanya kebetulan lewat di tempat lokasi kecelakaan tunggal yang di alami Revandra di jalan yang sepi. Hingga sampai saat ini Revandra membiayai kehidupan Emma. Tidak hanya cek lima milliar saja, jika Emma meminta lebih, maka Revandra memberinya. Revandra juga membuka bisnis untuk Emma di luar negri yang berkembang cukup pesat.


Selama beberapa tahun Emma cenderung tinggal di luar negri mengurus bisnisnya, itulah Aliya tidak pernah bertemu dengannya. Saat Revandra kecelakaan pun, Reanda menyembunyikan itu dari Aliya, dengan alasan keluar negri untuk bisnis, padahal yang sebenarnya dia tetap berada di kota S dan sedang di rawat di rumah sakit. Revandra menitipkan Aliya pada Andre saat itu selama dua bulan.


"Revan, kumohon pertimbangkan ini." mohon Emma, tapi lelaki itu memilih berbalik dan pergi meninggalkan Emma yang sedang di landa rasa kesal,


"Andai saja gadis kecil itu tidak ada, aku pasti sudah berada di samping Revan dan menjadi istrinya." sambil meremas kain lap di meja itu.


Emma tidak tau bahwa Aliya bukan anak kandung Revandra, sebab Revadra tidak pernah bercerita tentang itu ke Emma. Hanya Andre dan Aren besrta orang kepercayaan Revandra yang tahu kalau Aliya bukan anak kandung Revandra, dan satu lagi yaitu direktur iniversitas tempat Aliya kuliah, ia merahasiakan tentang Aliya karna direktur itu takut terhadap Revandra.


Di rumah Revandra mencoba menghubungi Aliya berkali-kali namun tak dapa tersambung. begutu pun dengan kedua orang yang ia suruh untuk mengawasi Aliya, Revandra tak bisa menghubungi merek.

__ADS_1


"Sudahlah, mungkin saja di puncak tidak ada sinyal." ucapnya, karna Emma ia sangat kesal hari ini. Revandra kemudian masuk ke kamar mandi. Di bawah guyuran air shower yang hangat, lelaki dewasa itu kembali membayangkan tubuh Aliya yang sudah menjadi candunya. Akhirnya membuat bangit naluri kelelakiannya. Andai Aliya ada, mungkin gadis itu sudah dimangsanya tampa ampun.


"Shiit... tenanglah Revan, hanya beberapa hari saja kau bertahan dan bisa menikmati candumu itu, ah... hanya dengan membayangkan tubuh gadis kecilku saja naluri lelakiku sidah meronta seperti ini." gerutu Revandra pada dirinya sendiri.


***


"Al, apa yang kau pikirkan.?" tanya Axcel saat melihat Aliya termenug di teras villa yang mereka sewa dan sudah tiga hari mereka ada di villa, malam ini adalah malam terahir bagi mereka untuk berlibur di puncak.


"Apa kau tidak ingin bergabung dengan mereka.?" ucap Axcel kembali sambil menunjuk remaja-remaja yang tengah berpesta barbequ di depan villa, Aren dan Marvel juga bergabung, hanya Aliya yang tidak.


"Tidak," jawabnya singkat


Axecel lalu duduk di hadapan Aliya dengan jarak yang sangat dekat, Aliya menatap wajah pria di depannya, kak Axcel tampan juga ya, tapi jika dibandingkan denga ayah, jauh sekali, ayah lebih tampan. Ucap Aliya dalam hati.


Axcel jadi kikuk karna tatapan Aliya. Pria itu semakin mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu, karna gadis di hadapannya hanya diam saja, Axcel mencoba untuk lebih dekat lagi dan hendak melayangkan kecupan pada bibir sexy Aliya, tampa ia sadari bahwa ada empat maya yang sedang memperhatikan Acxcel, orang itu suruhan Revandra, baru saja mereka ingin bertindak tapi Aren segera menghampiri Aliya.


Karna malu pria itu meninggalkan Aliya dan Aren, ia lebih memilih bergabung dengan yang lain ketimbang tetap disitu hanya untuk mempermalukan dirinya sendiri.


"Al, makanlah sedikit kau belum makan" sambil menyodorkan makanan ke Aliya.


"Ren, aku ingin pulang, aku rindu Ayahku. Mungkin ayah sedang khawatir, sudah tiga hari kita di sini tapi aku bulum memberi kabar pada ayah, karna tidak ada sinyal.


"Aliya, aku mengerti, tapi ini sudah jam tujuh malam. tidak ada kendaraan untuk pulang selain bus yang kita tumpangi, lagian besok juga kita semua pulang." bujuk Aren. Sesuai dengan sifatnya yang manja dan tak mau jika keiinginannya tidak dituruti, Aliya merengek tetap ingin pulang.


"Bukankah orang suruhan Ayahku juga membawa kendaraan ? pokoknya aku ingin pulang malam ini, kalau kau tidak mau ikut pulang tak apa.


"Baik-baik kita pulang, tapi kita harus pamit dulu sama yang lain.

__ADS_1


"Tak perlu, tulis saja catatan dan taruh di meja yang ada di kamar."


Mengerti dengan sifat manja sahabatnya Aren menurut saja. ia selalu ingat pesan Revandra padanya untuk menuruti semua permintaan Aliya. Setelah berkemas dan meninggalkan catatan di kamar, mereka berdua berjalan menuju ke arah dua orang yang sejak tadi memperhatikan mereka dari jauh.


"Pak aku ingin pulang."


"Baik nona, silahkan masuk," ucap lelaki penjaga itu dengan sopan pada Aliya.


Beberapa lama perjalanan Aliya telah sampai di rumah dan menyuruh orang yang menjaganya mengantar Aren pulang. Aliya berlari masuk ke ramah dan terus menuju kamar lelaki yang ia rindukan, berharap lelaki itu ada di kamarnya, tapi ternyata Revandra belum pulang. Gadis itu kemudian membersihkan diri, karna malas untuk ke kekamarnya, gadis itu memakai salah satu baju kaos Revanda yang berukuran over size. baru kemudian berbaring di ranjang


Tak butuh waktu lama untuk Aliya menjemput mimpinya. Revandara membuka pintu kamarnya dan terkejut melihat Aliya sedang tidur di kamar itu. Dengan langkah pelan Revandara menghampiri Aliya dan duduk di sampingnya. Menatap wajah gadis itu, dan melayangkan kecupan di bibir gadis itu.


"Ughh...!"


terdengar suara Aliya yang menurut Revandra sangat sexy dan menggoda. Tak tahan dengan suara itu, segera saja Revandra ******* lembut bibir Aliya. Aliya terbangun merasakan sesuatu menimpa bibirnya. matanya terbuka dan mendapati Revandra sedang mencium bibirnya.


Sadar Aliya terbangun, Revandra menghentikan l*matanya kemudian berbisik ke telinga gadis itu.


"Aliya sayang... kau sudah banhun ternyata."


"Ayah, Aliya rindu."


"Aku juga rindu, kau tahu Aliya, kau sangat sexy mengenakan kaos ini." ucap Revandra.


Bersambung...


******

__ADS_1


__ADS_2