Sweet Temptation

Sweet Temptation
Amarah yang meluap


__ADS_3

Buk...!


Sebuah tinju, mendarat di kedua wajah lelaki yang hendak membawa Aliya. Kedua lelaki itu jatuh tersungkur, tapi mereka masih mendapatkan berkali-kali pukulan dari seseorang yang baru saja datang. Setelah puas memukuli kedua lelaki itu, baru kemudian orang itu membawa Aliya.


Di luar Bar xxx itu, lelaki yang menolong Aliya mencoba menyadarkan gadis itu, sambil menepuk-nepuk pipinya.


"Al, bangun Aliya..." membuat gadis itu membuka matanya dan melihat samar-sama siapa yang menolongnya. Setelah beberapa saat meneliti, gadis itu sadar siapa yang ada di hadapannya.


"Kak Axcel..."


"Kau mabuk Al, biarkan aku mengantarmu pulang. tapi gadis itu menggeleng bahkan merengek tak mau pulang, Axcel bingung, ia harus membawa Aliya ke mana.


"Kalau begitu biarkan aku menelfon ayahmu agar menjemputmu."


"Tidak, tidak, jangan telfon pria tua brengsesek itu." kembali Aliya merengek, lalu tak sadarkan diri.


Axcel bingung, terpaksa ia membawa gadis itu ke hotel. Sesampainya di kamar hotel, Axcel mebaringkan tubuh Aliya di kasur, lalu menyingkirkan beberapa rambut yang menghalangi wajah cantik gadis itu.


"Ahh... Andai saja aku tidak datang, mungkin saja kau sudah di bawa oleh mereka Al," ucapnya, yang memang kebetulan Axcel berkunjung ke Bar itu karna membicarakan bisnis dengan rekan kerjanya ayahnya di salah satu ruangan tertutup.


Setelah Axcel selesai dengan urusannya, ia hendak meninggalkan tempat itu, tapi matanya tertuju pada gadis yang hendak di bawa pergi oleh dua orang pria, dan gadis itu terasa femeliar baginya. Sebentar Axcel menghampirinya, dan benar saja, gadis itu Aliya yang sudah hampir hilang kesadarannya dan hendak di bawah oleh kedua pria tak di kenal itu.


Di kamar hotel Axcel membuka jasnya karna sedikit gerah. Tiba-biba saja dua tangan melinggar di pinggangnya, memeluknya dari belakang. Lelaki itu hendak berbalik, tapi terhenti saat suara berat terdengar di telinganya.


"Jangan berbalik, tetaplah seperti itu, hanya sebentar saja." ucap Aliya yang sudah sedikit sadar memeluk Axcel dari belakang, gadis itu menyandarkan wajahnya ke punggung Axcel. Lelaki itu tetap diam menuruti ucapan Aliya.


Beberapa menit berlalu, Axcel berbalik untuk memeluk Aliya, tapi betapa terkejutnya dia saat mendapti gadis itu sudah tidak berpakaian. Di tubunya hanya tersisa bra dan cd saja, membuat Axcel berusaha menelan salivanya. jantungnya berdetak kencang, tapi ia menyingkirkan pikiran-pikiran kotor di kepalnya dan memeluk Aliya seraya mengusap lembut rambut panjang gadis itu.


"Hal apa yang membutmu seperti ini Al ? Aliya yang ku kenal adalah gadis yang polos, periang dan ceria, bukan gadis yang seperti ini, sperti sedang banyak masalah" namun lelaki itu tak mendapat jawaban.


Aliya melepaskan pelukannya dan menatap tajam wajah Axcel, lalu memegang kedua pipi lelaki itu, sedetik kemudin sebuah kecupan menempel di bibir lelaki itu, membuat lelaki itu tersebtak kaget, ia berusah mendorong tubuh Aliya, tapi gadis itu sudah terlanjur ******* bibi Axcel dengan lembut


Tak bisa lelaki itu pungkiri, ia sangat menyukai Aliya yang mengabil inisiatif untuk menciumnya terlebih dahulu, Ciuman aliya jatuh keleher Axcel, membuat Axcel melepaskan g*irahnya yang dengan susah payah ia tahan. kecupan demi kecupan aliya berikan pada leher lelaki itu, bahkan meninggalkan bekas di sana. Sedang sesuatu yang ada di bawah sana sudah meronta ingin keluar.


lelaki itu semakin terkejut saat tangan Aliya mulai menyusup masuk ke dalam celananya, tapi Axcel buru-buru menghentikannya, membuat gadis itu menatapnya lekat sambil meneteskan air mata.


"Kenapa, kenapa kak Axcel menghentikanku ?, bukankah kau mencintaiku ?, apa kau juga tidak menginginkan aku seperti ayahku.?"

__ADS_1


"Aliya, tenangkan dirimu. Aku memang sangat mencintaimu, aku juga menginginkanmu, tapi tidak dengan cara seperti ini Aliya." tapi gadis itu tidak mau mengerti, ia kembali ******* bibir terbelah yang sexy milik Axcel itu.


Plak...


Axcel menampar wajah Aliya, membut gadis itu berhenti, karna tak kuasa menahan sesak di dadanya, ia langsung tak sadarkan diri.


"Apa yang aku lakukan, maafkan aku Aliya, aku tidak bermaksud, hanya dengan cara ini kau bisa berhenti." ucapnya, lalu membawa Aliya ke tempat tidur dan memakaikan selimut ketubuh Aliya. Baru kemudian ia duduk dan menatap dalam wajah aliya.


"Aku sangat mencintaimu Aliya, aku juga sangat menginginkanmu, tapi tidak dalam keadaan seperti ini." ucapnya lalu melayangkan satu kecupan lembit pada bibir gadis itu.


***


Di rumah, Revandra sangat frustasi, sudah hampir tengah malam tapi ia tak juga menemukan Aliya, walaupun dengan bantuan Andre dan Aren.


Magie yang melihat Revandra sangat frustasi, mencoba mendekatinya dan menepuk pundaknya.


"Sudahlah Revan, dia akan kembali jika dia sudah bosan bermain-main di luar." ucapnya lebut,


Revandra berbalik dan mendorong tubuh wanita itu, lalu menatapnya dengan tatapan tajam dan dingin.


"Apa maksudmu Revan.?"


"Andai saja kau tidak kembali dan merusak segalanya, gadis kecilku tidak akan pergi."


"Revan, kau memakiku hanya karna gadis kecil itu. Revan ingat, dia bukan anakmu."


Lelaki itu lebih mendekat pada Magie.


"Siapa yang bilang aku menaggapnya anakku.?" dengan gerutukan giginya membuat Magie tertekan.


"A..apa.. maksudmu.?"


"Dia bukan anakku, melainkan calon istriku,"


Kata-kata Revandra yang menekan membuat Magie kesal, dengan berani ia memaki Aliya.


"Apa otak mu sudah rusak Revan, dia gadis yang kau besarkan dengan tanganmu sendiri."

__ADS_1


"Lalu.?" penuh amarah


"Atas dasar apa dia bisa menjadi calon istrimu, dia hanya seorang gadis yang dibawa ibunya, dan mungkin saja dia adalah anak haram."


Plak...


Revandra menampar Magie, lalu menjambak rambutya


"Sakit Revan... lepaskan." pinta wanita itu yang sangat kesakitan, perlahan Revandra melepaskan tangannya dari rambut wanita itu.


Magie tak habis fikir, hanya karna gadis kecil itu, Revandra berbuat seperti itu, layaknya seekor singa yang hendak menerkam mangsanya, sangat ngeri bagi Magie.


"Kau sudah gila Revan, demi gadis kecil sialan itu, kau memperlakukanku seperti ini."


Mendengar Magie yang memaki Aliya, membuat amarah Revandra meledak, ia kemudian berbalik pada wanita itu dan mencekik lehernya.


"Berani sekali kau memakinya, yang aku saja tak pernah memakinya. Dan meskipun dulu aku kita perna menjalin asmara, itu tidak akan menghentikanku untuk memberimu pelajaran" dengan amarah dan mata yang melotot seperti akan memangsa Magie


"Lep, lepaskan aku Revan, uhuk!" ucap Magi yang sudah ampir kehabisan nafas. Tapi tak sampai di situ, Revandra melepaskan cengkramannya di leher Magie lalu melepaskan ikat pinggannya, membuat wanita itu melangkah mundur hinga akhiranya ia terpojok di dinding.


Dengan tatapan kejam Revandra melilitkan sebagian ikat pinggang itu di tanganya, dan sebagiannya lagi di biarkan mengelantung. Magie yang melihat itu gemetaran lalu terjatuh ke lantai tak kuasa tetap berdiri.


Revandra semakin mendekat, lalu mencambuk tubuh Magie dengan ganasnya. Wanita itu berteriak kesakitan. Rasa perih akibat cambukan ikan pinggang, bahkan Revandra berulang kali melakukannya,


"Tolong siapa saja, tolong aku, Revandra sudah gila, ia sudah hampir membunuhku, tolong," Teriak Magie, membuat pra pelayan berkumpul, namun tak seorang pun yang berani menolongnya, meraka tahu sifat tuan mereka, para pelayan memilih untuk diam agar mereka tetap aman.


Revandra terus mencambuk Magie, hingga ponselnya berbunyi menghentikannya, ia lalu mengeluarkan ponselnya dan membaca pesan yang masuk. lalu berbalik pergi meninggalkan Magie yang sekarat tapi sebelum itu Revandra sekali lagi memberi wanita itu peringatan.


"Tinggalkan rumah ini, dan jangan muncul lagi di hadapanku," ucap Revandra pada wanita yang sudah hampir hilang kesadarannya lantaran rasa sakit yang di terimanya.


"Dan kalian, jangan coba-coba menolongnya. jika aku tau diantara kalian ada yang menolong, maka kalian akan tau akibatnya." bentak Revandra pada para pelayannya lalu pergi


Bersambung...


******


Note Author : sumpah, saya yang nulis, saya pula yang tegang,😅😅😅

__ADS_1


__ADS_2