Sweet Temptation

Sweet Temptation
Pengumuman ke publik


__ADS_3

Seminggu sejak tragedi mengerikan itu terjadi, seminggu pula Aliya tidak sdarkan diri lantaran syhok. Begitupun dengan Danile, Luka tembak yang ia terima mengakibatkan dirinya kehilangan banyak darah. Pemakaman lelaki tua mintle, hanya di hadiri Reyno dan yang lain, sedangkan Laila tidak di ketahui di mana keberadaannya.


Setelah di jemput oleh seseorang yang berseragam petugas kepolisian tempo hari, mobilnya mengalami kecelakaan dan jatuh ke jurang. Tak ada yang tau dia meninggal atau selamat.


Selly dan Aren setia menemani Aliya di rumah sakit. Aren melirik jari Aliya dan senyum bahagia terpampang di wajahnya melihat jari-jari itu mulai bergerak. Ia segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Aliya. Revandra dan Reyno juga sudah berkumpul di kamar inap Aliya. Setelah dokter memeriksa, keadaan gadis itu, akhirnya perlahan ia membuka matanya.


"Kak Axcel," hanya itu yang kelur dari bibir pucat gadis itu. Ia kembali mengingat-ingat kejadian minggu lalu, membutnya menangis sekencang-kencangnya, karna jujur saja Ia belum bisa menerima semua yang telah terjadi.


Saat Aliya membuka mata, Revandra segera memeluk erat gadis itu, memberinya ketenangan.


"Di mana kak Danile.?"


"Danile masih belum sadar sayang, kalau Axcel dia..." Ucap Reyno yang berdiri di samping Revandra. Tapi belum sempat Reyno melanjutkan ucapannya, Aliya sudah memotongnya.


"Sudahlah papa, Aliya mohon jangan di bahas lagi, Aliya sangat terpukul papa.!" Dalam isak tangisnya.


"Tenanglah Aliya, semuanya akan baik-baik saja." Ujar Revandra sambil mengelus rambut gadis yang ia cintai.


Tiba-tiba ponsel Reyno berdering, membuat suasana menjadi hening, Raut wajah Reyno berubah ketika ia mengakhiri panggilan setelah seseorang memberi tahunya sesuatu, Pria dewasa itu kemudian menatap Revandra, seolah-olah meminta Revandra untuk mengikutinya keluar dari ruangan itu. Mengerti akan tatapan Reyno, Revandra beranjak dan menitipkan Aliya pada Selly dan Aren.


Reyno dan Revandra beserta Andre, berdiri di depan pintu kamar rawat Aliya.


"Apa itu pak Reyno.?"


"Ini tentang Emma.?"


"Kenapa dengan wanita itu, bukankan anda sudah memberinya pelajaran yang setimpal.?" Tanya Andre.


"Dia hamil. usia kandungannya sudah satu bulan, apa kau tau dengan siapa Emma berhubungan sebulan yang lalu."


Revandra sejenak berfikir, dan mengingat bahwa dirinya telah melemparkan Emma untuk beberapa orang pria,


"Mungkin saja itu anak para pria yang aku perintahkan untuk memberinya pelajaran sebulan yang lalu."


"Lalu apa yang akan kau lakukan Revan.?"


"Tidak ada, kirim Emma kembali ke luar negri dan biarkan anak itu lahir."


Setelah beberapa saat berdiskusi ketiga lelaki itu di kejutkan dengan kedatangan dokter, memberitahu bahwa Danile sudah sadar. Reyno segera bergegas ke ruangan Danile di rawat sedang Revandra kembali masuk di susul Andre


"Kau sudah sadar nak.!"


"Papa.!"


"Ada apa nak.?"


"Di mana Aliya.? dan bagaimana dengan mamaku.?"


"Aliya sudah sadar sejak tadi, dan mamamu dinyatakan meninggal dalam kecelakaan saat perjalanan menuju kantor polisi, Sedangkan kakekmu...."


"Ada apa dengan kakek.?"


"Ia juga sudah meninggal, saat mengetahui bahwa mamamu terlibat dalam peristiwa seminggu yang lalu."


Danile bersimpuh dengan air mata, dia tidak hanya kehilangan ibunya, tapi di saat yang bersamaan ia juga telah kehilangan kakeknya, Reyno hanya bisa memeluk Danile yang berurai air mata,


***

__ADS_1


Sebulan berlalu, semenjak sadarnya Aliya, keadaan Danile juga sudah membaik, dan bisa pulang ke rumah, sedang Aliya, masih murung, dan tak banyak melakukan aktivitas, ia hanya berdiam diri di kamarnya. Aren dan Selly tetap setia dan selalu berusaha menghibur gadis itu.


Kejadian yang mereka alami sebulan yang lalu, tentu saja menjadi berita hebo di kalangan masyarakat dan bisnis, tapi itu semua hanya sebentar lantaran Revandra menekan berita itu, agar publik berhenti. Aliya sedang termenung di kamarnya menghadap jendela dan menatap keluar. Revandra masuk dan duduk di samping gadis itu.


"Sayang, aku punya sesuatu untukmu." Tapi Aliya tidak menoleh, bahkan tidak menjawab sepata katapun, ia tetap menatap ke luar jendela. Revandra kembali memanggilnya dengan lembut.


"Aliya."


"Ya.!"


"Aku punya sesuatu untukmu."


"Apa itu.?"


"Lihatlah." Sambil memberikan ponselnya pada Aliya yang saat ini sedang melakukan panggilan vidio.


Aliya dengan malas meraih ponsel Revandra, dan menatap layar ponsel itu, air matanya mengalir membasahi pipinya ketika ia melihat siapa dengan siapa Revandra melakukan anggilan vidio.


"Aliya.!"


"Kak Axcel..."


"Ya, gadis cantik, bagaimana kabarmu."


"Kak Axcel, aku pikir kau..." Ucap Aliya di sela isak tangisnya.


Setelah mengalami luka tembak waktu itu, Axcel memang sekarat dan di larikan ke rumah sakit, tapi karna lukanya mengenai bagian vitalnya dan rumah sakit kota S tidak mempunyai peralatan yang memadahi, terpaksa ayahnya membawa Axcel ke luar negri untuk menjalani pengobatan dan pemulihan.


"Aku bukan lelaki lemah Aliya. Kau pikir aku ini banci.? luka seperti itu tidak akan membunuhku."


"Berhentilah bercanda kak Axcel, kau sudah membuatku hampir kehilangan kewarasanku."


"Lalu kapan kau akan kembali.?"


"Untuk saat ini, aku belum bisa kembali, aku harus benar-benar pulih, tapi aku berjanji, aku akan ada di hari pernikahanmu."


"Benarkah.?"


"Tentu saja gadis cantik, jadi berhentilah menangis."


Panggilan vidio itu berakhir, Aliya segera memeluk Revandra.


"Terimah kasih ayah.!"


"Aliya bisakah kau berhenti memanggilku ayah.? dua bulan lagi kita akan menikah."


"Ay...!"


"Itu lebih baik."


Seminggu kemudian, Andre telah mengumpulkan para wartawan dan dan beberapa media lainnya sesuai perintah Revandra


"Ada apa ya.?"


"Tidak biasanya peresedir Revan mengadakan jumpa pers mendadak seperti ini."


"Aku juga tidak tahu," Ucap para wartawan saling berbisik.

__ADS_1


Setelah semua media berkumpul di suatu ruangan, Revandra, Aliya dan Reyno masuk ke ruangan itu dan duduk di atas panggung untuk menyampaikan seauatu. Para wartawan sudah siap dengan kamera dan pertanyaan-pertanyaan mereka.


"Saya mengumpulkan kalian di sini karna ada sesuatu yang ingi saya sampaikan. Pertama, dua bulan lagi saya akan melangsungkan pernikahan."


"Benarkah.? wanita mana yang berhasil mencuri perhatian anda presedir.?"


"Diamlah dulu, saya belum selesai berbicara." Bentak Revandra.


"Maaf." Ucap wartawan yang bertanya tadi.


"Kedua, gadis yang kalian kenal sebagai anakku, bukanlah anak kandungku, dan tentunya kalian juga sudah tahu siapa pria di samping saya." Ucap Revandra tegas sambil megarahkan ucapannya pada Reyno, baru kemudian kembali berbicara.


"Ya dia adalah Reyno dari Mintle grup, dan juga ayah kandung Aliya."


Para wartawan sebenarnya sedikit terkejut dengan penuturan Revandra, tapi bukan itu yang membuat mereka penasaran, melainkan dengan siapa Revandra akan menikah.


"dan yang terakhir yang akan saya sampaikan adalah, saya akan menikahi gadis ini. Aliya." Ucap revandra menekankan pada kalimat terakhirnya


Semua media terkejut,


"Bagaimana bisa anda menikahi gadis yang anda besarkan sendiri presedir.?"


"Itu bukan urusan kalian, dan lagi, orang tua kandung gadis ini juga sudah menyetujui pernikahan kami, Saya mengumpulkan kalian di sini bukan untuk meminta tanggapan kalian, melainkan mempublis hubungan kami. Itu saja yang ingin sampaikan. Jika ada yang keberatan, sialahkan berurusan dengan pengacaraku."


Revandra beranjak dan meniggalkan ruangan itu, bersama Reyno dan Aliya, tidak perduli dengan para media yang di penuhi oleh pertanyaan-pertanyaa mereka.


"Jika ada yang keberatan, silahkan, tapi kalian harus menerima konsekuensinya jika kalian menyebarkan berita-berita yang bisa merusak citra presedir Revan." Ucap Andre kemudin meninggalkan tempat itu.


Setelah pemberitaan tersebar, banyak yang mendukung hubungan meraka, tapi tidak sedikit pula yang menentang, tapi mereka tidak punya hak untuk melarang hubungan tersebut. Di tambah lagi mereka takut dengan Revandra, mereka semua masih menginginkan hidupnya. Hingga berita itu berlalu begitu saja. Mereka semua kini berlomba-lomba memberitakan pernikahan Revandra dan Aliya, tentunya bukan berita yang merugikan.


"Bagaimana Al.? apa kau senang.?"


"Sangat senang papa.!"


"Baiklah, hei ini sangat melelahkan, mari kita istrirahat."


Malam kian larut, Aliya dan Selly beserta Aren berkumpul di kamar Aliya.


"Al, apa kau mau cemilan malam.?" Tanya Selly.


"Boleh Aunty."


Selly tidak membung waktu, ia kemudin turun untuk mengambil cemilan. Dan lagi-lagi ia bertemu dengan Reyno yang baru datang,


"Tuan Reyno.? ada apa malam-malam datang ke sini.?"


"Putriku tinggal di sini.!" Ucap Reyno yang memang sudah tidak tinggal di rumah itu lantaran ia harus menemani Danile di rumah lamanya.


"Apa hanya ingin melihat putrimu saja.?"


"Tentunya juga ingin bertemu denganmu."


Reyno kemudian melangkah menghampiri Selly, dan memeluknya, Dada Selly yang berukuran besar sangat terasa mengganjal di dada Reyno membuat naluri lelakinya memuncak.


"Papa...! Aunty,!"


Bersambung....

__ADS_1


******


__ADS_2