Sweet Temptation

Sweet Temptation
Menutupi masalah


__ADS_3

Revandra dan Reyno pulang secara bersamaan, dan di sambut hangat oleh Aliya. Mereka bertiga makan malam setelah Revandra dan Reyno berganti pakaian.


"Bagaimana kuliahmu hari ini Aliya.?" tanya Reyno di sela makannya.


"Aliya tidak ke kempus."


"Kenapa.?"


"Malas saja."


"Aliya, pendidikan penting, kali ini aku masih akan mentolerirmu, tapi tidak lain kali." Sergah Revandra dengan nada datar. Aliya hanya mengangguk menandakan bahwa ia mengerti.


Setelah makan malam, mereka masing-masing masuk ke kamar, Tak butuh waktu lama untuk Aliya menjemput mimpinya. Revandra masuk ke kamar Aliya untuk mengecek seperti biasanya. Dan mendapati gadis itu sudah terlelap. Ia kemudin duduk di samping pembaringan dan membelai lembut ujung kepala Aliya dan menatapnya dengan tatapan penuh arti.


Puas menatap gadis itu, Revandra meninggalkan kamar Aliya dan kembali ke kamarnya. Berganti Reyno yang masuk ke kamar Aliya. Seperti yang Revandra lakukan, Reyno juga menatap lekat wajah putrinya, lalu beralih pandang pada bingkai foto yang ada di meja belajar Aliya. Ia lalu meraih bingkai itu


"Laili, putri kita sudah dewasa, dan sebentar lagi akan menikah, tapi apa kamu tidak keberatan jika dia menikah dengan orang yang pernah menikahimu.? Sejujurnya aku belum bisa menerima ini, tapi putri kita sangat menginginkan pernikahan ini, ia sangat mencintai Revandra. Dan apapun itu asalkan putri kita bahagia, maka aku akan bahagia pula." Ucap Reyno sambil memandangi bingkai foto di tangannya.


Setelah puas memandangi foto itu, Ia meletakkan kembali ke tempat semula, Baru kemudian kembali menatap putrinya dan mengusap pipi mulus gadis itu, Merasa pipinya di elus, Aliya tiba-tiba terbangun dan mendapati Reyno sedang menatapnya.


"Papa.!" sambil mengucek matanya.


"Maafkan papa Aliya, papa sudah mebangunkanmu."


"Tidak apa-apa."


"Aliya.! papa ingin bertanya sesuatu padamu nak."


"Apa itu papa.?"


"Apa kau yakin ingin menikahi Revandra.?"


"Aliya yakin."


"Apa kau tidak ingin memikirkannya lagi.?"


"Tidak."


"Tapi, Aliya, selisi umur kalian enam belas tahun, Meskipun Revandra memang tidak terlihat seperti umurnya, tapi tetap saja ia jauh lebih tua darimu."


Aliya kemudian lebih mendekatkan diri pada Reyno, dan memeluknya


"Papa, umur tidak ada artinya dalam percintaan, Aliya mencintainya. Dan lagi tiga puluh lima tahun bukanlah umur yang sangat tua. Seperti yang papa bilang barusan, umurnya tidak terlihat seperti tiga puluh lima tahun."


"Baiklah sayang, jika kau sudah yakin dengan pilihanmu, maka papa akan mendukungnya."


"Benarkah papa.?"


Reyno hanya mengangguk, dan melihat seberkas senyum yang tersirat pada garis bibir putrinya menandakan gadis itu sangat bahagia. Mau tidak mau dirinya harus menerima pilihan putrinya.


Puas berbincang-bincan dengan Aliya, Reyno kembali ke kamarnya dan merebahkan diri di pembaringan, Ia menatap langit-langit kamar itu, terbersit bayang-bayang Laili yang membuatnya meneteskan air matanya. Tak dapat memejamkan matanya, Reyno kembali keluar dari kamar hendak mencari sesuatu untuk keronkongannya. Dan mendapati Revandra sedang duduk di sofa, Ia kemudian melangkah ke arah Revandra.


"Presedir Revan.! kau belum tidur."


"Ya.! saya ingin menyegarkan pikiran saya, lalu Anda sendiri kenapa belum tidur.?"


"Sama sepertimu, saya juga ingin menyegarkan pikiranku."


"Kalau begitu, jika tidak keberatan maukah anda menemani saya minum.?"

__ADS_1


"Baiklah."


Revandra menuangkan segelas wine dan menyodorkannya kepada Reyno, dengan senang hati Reyno menerimanya.


"Mau rokok.?"


"Boleh."


Kedua lelaki dewasa itu menikmati wine sambil menyulut rokoknya sesekali.


"Sepertinya ada sesuatu yang sedang anda pikirkan pak Reyno, jika tidak keberatan, mau kah anda menceritakannya kepada saya, mana tau saya bisa membantu."


"Aku tidak tau harus mulai dari mana, tapi sepertinya aku memang harus memberitahumu tentang masalah ini."


"Apa itu."


"Lima belas tahun yang lalu, karna sangat marah mendengar perselingkuhan Laili dengan suami Laila, aku di kuasa oleh nefsuku, hingga akhirnya aku merencanakan kematian suami Laila."


"Saya sudah tahu hal ini."


"Lalu kenapa kau diam saja, dan tak membuka suara."


"Karna aku merasa bahwa itu bukanlah sesuatu yang perlu di bahas."


"Tapi Presesir Revan, aku takut jika suatu saat Aliya tahu bahwa papanya adalah seorang pembunuh, maka ia akan membenciku."


"Gadis kecil itu akan membenci anda jika ia tahu kan.?"


"Apa maksudmu presedir Revan.?"


"Dia tidak akan membencimu jika ia tidak tahu, maka masalah ini tidak perlu di bahas lagi, cukup anda dan saya yang tahu, apa anda mengerti.?"


***


Seperti biasa Aliya dan Aren pergi ke kmpus, Revandra dan Reyno bekerja di perusahaan. Sedang Danile dan Axcel sibuk karna mereka baru baru ini bergabung di perusahaan mereka.


"Ren, ke taman hiburan yuk.!" ajak Aliya setelah pelajaran selesai


"Boleh."


Tiba-tiba ponsel Aliya berdering.


"Aliya, kamu di mana.?" Tanya si penelfon saat panggilan tesambung.


"Lagi di taman hiburan kak Axcel, apa kak Axcel mau ikut.?"


"Boleh, tentunya jika kau tidak keberatan."


"Tidak sama sekali. Tapi bagaimana dengan pekerjaanmu.?"


"Ohh, bisa di tunda."


"Baik, aku tunggu ya. Sekalian ajak kak Danile ya.!"


"Ok."


Setelah panggilan berakhir Axcel dan Danile bergegas ke tempat yang di tunjukan Aliya. Tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di taman hiburan itu.


"Aliya.."

__ADS_1


"Kak Axcel, kak Danile. Cepat sekali sampainya."


"Sudah tidak usah meledek, ayo masuk." ajak Aren.


Mereka kemudian masuk ke taman hiburan itu, dan timbul niat Aliya untuk bermain loller coaster setelah mencoba beberapa permainan lainnya.


"Kak Axcel, kak Danile, main itu yuk."


"Boleh, ucap Axcel."


Berbeda dengan Axcel, Aren dan Danile hanya diam saja, mereka berdua tidak berani untuk bermain sesuatu yang seperti itu. Aliya kemudian berbalik dan mendapati mereka tidak bergerak sedikitpun.


"Aren, Kak Danile, kenpa.? takut ya.? ack.! cemen banget sih."


"Tidak kok, siapa takut, aku berani, iya kan Ren.!" jawab Danile yang sok berani


"Kalau begitu mari."


Mau tidak mau Aren dan Danile terpaksa ikut bermain, dari pada terus-terusan diejek oleh Aliya, maka mereka memberanikan diri. Tapi belum juga permainan di mulai, Aren dan Danile sudah berteriak duluan, membuat Aliya menertawai mereka. Aren dan Danile, semaki kencang teriakannya saat roller coaster mulai berjalan. Hingga permainan selesai, Aren dan Danile merasa pusing dan mual, akhirnya mereka memuntahkan makan-makanan yang sempat merak makan tadi.


"Kau tak apa Danile.?" tanya Axcel seraya menepuk-nepuk punggung Danile. Sebenarnya ingin sekali rasanya Axcel menertawai Danile, tapi nitnya tertahankan


"Itulah, jika kau sok-sok berani." kata Aliya pada Aren.


"Sudahlah, mari kita pulang saja. Hari sudah sore, takutnya Revandra akan mencari kamu." Ajak Axcel


"Kami juga masih punya sesuatu yang harus kami kerjakan di perusahaan." sambung Danile.


Mereka pulang ke tempat tujuan masing-masing setelah puas bermain. Aren di jemput oleh Andre, sekalian mengantarkan Aliya pulang.


"Tidak mampir dulu om Andre.?" Kata Aliya setelah sampai di halaman depan rumah.


"Tidak perlu, aku harus menghadiri pesta perjamuan, Revandra dan papamu juga akan ada."


"Oh.. hati-hati di jalan om Andre."


"Baik gadis kecil."


Setelah Andre berlalu, Aliya masuk ke dalam rumah, dan mendapati Revandra sudah lenglap dengan setelan jasnya. Seperti yang di katakan Andre, mereka akan menghadiri acara perjamuan. Aliya kemudian lebih mendekat ke arah Revandra dan membetulkan dasi yang sedikit miring.


"Jangan pulang larut." bisik Aliya


"Ok.!" jawab Rvandra sambil mencubit pucuk hidung gadis itu.


"Ngomong-ngomong, kamu dari mana.?" kenapa baru pulang sekarang.?"


"Tadi Aliya singgah di taman hiburan."


"Lain kali jangan membuat khawatir, telfon dulu. ok."


"Ok."


Disela bercandaan Revandra dan Aliya tiba-tiba mereka di kejutkan oleh seseorang yang datang.


"Revandra, gadis kecil, aku kembali...!"


Bersambung...


******

__ADS_1


__ADS_2