
Sudah tiga hari Aliya bersembunyi di apartemen Axcel dan sudah tiga hari pula ia tidak tidur dengan tenang akibat bayang-bayang Revandra saat mencengram leher Magie, dan itu membuat Aliya trauma. Untuk makan, Aliya hanya mememsan melalui onlinefood atau Axcel membawakannya makanan. Selama di apartemen Axcel, gadis itu hanya menggunakan pakaian-pakaian Axcel yang over size untuknya.
Aliya meraih ponselnya, dan mengubungi Axcel.
"Hallo, kak Axce, tolong nanti sebelum kesini, titip obat insomnia ya," ucap Aliya saat panghilang terhubung.
"Ok, kamu mau makan apa hari ini.?"
"Terserah kak Axce sajalah"
"Tunggu ya." lalu mengakhiri panggilan setelah pamit.
Di sebuah apotik, Axcel membeli obat yang di pesan Aliya, tapi tiba-tiba ponselnya berbunyi, dan berbalik untuk menerima panggilan itu, lalu seseorang bertabrakan dengannya mengakibatkan obat mereka terjatuh. Axcel berjongkok untuk mengambil obat itu, tapi orang yang menabraknya lebih dulu mengambilnya dan tidak sengaja memberikan obat yang salah karna kebetulan kemasannya sama, tampa memeriksanya Axcel hanya berterimah kasih dan berdiri seraya meninggalkan apotik itu.
Sesampainya di apartemennya, Axel memberi Aliya makanan dan obat yang ia beli tadi.
"Makanlah dulu Al, baru minum obatnya."
"Baiklah." ucap Aliya dengan senyum manis menghiasi bibirnya membuat Axcel terpesona.
Setelah makan, Aliya minum obat tampa membaca merek atau cara pemakaiannya, ia hanya meminumnya, sesuai kebutuhannya,
"Aku kepengen mandi Al, boleh.?"
"Inikan tempat kak Axcel, kenapa mesti injin ke saya." goda Aliya membuat Axcel hanya garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Baru kemudian meraih bathrobe dan masuk ke kamar mandi.
Beberapa menit berlalu, Axcel keluar hanya mengenakan buthrobe saja karna lupa membawa baju ganti masuk ke kamar mandi. Bathrobe tidak menutupi seluruh tubuhnya, hingga menampakkan otot otot yang terpahat indah. Baru saja Axcel ingin meraih baju yang ada di lemari, Aliya memanggilnya.
"Kak Axcel, kenapa rasanya panas sekali.? apa Ac tidak nyala ya.?". Axcel melirik ke arah Ac untuk memastikannya lalu berjalan melangkah ke arah Aliya,
"Acnya nyala kok." sambil menatap wajah Aliya yang tiba-tiba merona.
"Kak Axcel, panas sekali." ucapnya dan merasa ada sesuatu yang mengalir dalam dirinya. Desiran aliran yang mengarah ke area sensitfinya, membuat lelaki di hadapannya bingung dengan tingkah Aliya.
Axcel mencoba lebih mendekat untuk memeriksa apa yang terjadi pada Aliya, dan meletakkan telapak tangannya di kepala Aliya untuk mengecek suhunya, benar saja ada yang salah pada gadis itu, baru saja Axcel ingin menegakkan tubuhnya setelah tertunduk mengecek suhu Aliya, gadis itu tiba-tiba saja menarik bathrobe yang di kenakan Axcel dan melayangkan ciuman yang liar pada lelaki itu.
"Aliya, apa kau sudah gila.?" ucap Axcel setelah berusaha melepskan ciuman liar Aliya.
"Kak Axcel, tolong aku, aku ingin...aku... aku mau..."
__ADS_1
"Aliya, apa yang kamu katakan, tenangkan dirimu,"
Aliya tidak memperdulikan perkataan Axcel, gadis itu seperti kesetanan dan menarik Axcel ke pembaringan, lalu mendorong tubuh lelaki itu. Tapi lagi-lagi Axcel bisa lolos dari terkaman Aliya, dan mengecek obat apa yang sudah ia berikan pada Aliya, ia melihat apa yang tertulis di kemasannya. pil perangs*ng.
Belum sempat Axce meletakkan kemasan itu, Aliya kembali meraihnya dan mendorong tubuh atletis Axce hingga berbaring, kali ini Axcel tak bisa berbuat apa-apa lantara Aliya sudah menindihnya, m*ncembunya dengan liar. Tak dapat Axcel pungkiri bahwa di bawah sana sudah menegang tak kuasa melihat tubuh polos di hadapannya, karna Aliya sudah melepas kemeja yang ia kenakan.
Axcel mencengkram bahu Aliya dan membalikkan posisinya, sekarang dia yang menindih Aliya
"Aliya, aku..." kembali Aliya ******* bibir Axcel, hingga akhirnya Axcel mengikuti permainan Aliya, sampai kecupannya turun ke leher jenjang gadis itu. Sedang tangan Aliya sudah bermain di bawah sana, membuat Axcel semakin bertambah g*irahnya, sedang tangannya tetap di kepala Aliya, tak sekalipun Axcel menyentuh area-area sensitif Aliya.
"Apa kau sadar siapa aku Al.?"
"Ya, kau Axcel"
Aliya mengarahkan milik Axcel untuk membenamkannya di dalam miliknya, Tapi Axcel tiba-tiba berdiri menjauh dari gadis itu.
"Sial, hampir saja aku kehilangan kewarasanku"
"Kak Axcel, kenapa kau mengabaikanku"
"Tidak Aliya, aku tidak tidak bisa." kembali gadis itu berdiri dengan tubuh polosnya melangkah ke arah Axcel yang juga sudah polos, membuat Axcel berusaha menelan salivanya. Aliya hendak memeluknya tapi Axcel keburu menggendong gadis itu masuk ke kamar mandi dan memasukkannya ke bak mandi, lalu megguyurnya dengan air dingin.
"Aliya tetaplah di sini sampai kau tenang." gadis itu hanya mengangguk, baru kemudin Axcel berdiri dan mengguyur dirinya dengan air dingin yang keluar melaui shower untuk meredam gairahnya yang hampir saja lepas kendali."
"Kak Axcel, maafkan aku."
"Sudahlah, tak apa, salahku yang tidak memeriksanya." lalu meraih bathrobe dan memakaikannya ke tubuh Aliya, lalu mengeddong gadis itu ke tempat tidur setelah ia mengenakan handuk, baru kemudian berpakaian.
"Kak Axcel mau kemana.?"
"Mau pulang."
"Tinggalah di sini malam ini."
Melihat Aliya memhon, lelaki itu tidak tega, dan akhirnya tinggal bersama Aliya.
***
Tiga hari tampa Aliya membuat Revandra frustasi, ia sudah mencarinya kemana-mana, tapi tak juga ia temukan. Bahkan Aren dan Andre beserta orang-orangnya membatu mencari keberadaan Aliya tapi tidak juga mereka temui.
__ADS_1
Andre yang melihat sahabatnya sangat frustasi juga tidak dapat berbuat banyak, ia sudah mengerahkan seluruh orangnya tapi tak juga mendapat hasil.
"Andre, sudah tiga hari Aliya menghilang..."
"Tenanglah Revan... aku yakin gadis kecil itu pasti baik-baik saja."
Hari ini sudah hari keempat semenjak hilangnya Aliya, tidak hanya Revandra dan Andre maupun Aren yang khawatir akan Aliya tapi Danil beserta ayah dan kakeknya juga sangat menghawatirkan di mana gadis itu. Lain denagan Emma dan Laila, tak sedikitpun ada rasa khawarir pada mereka, bahkan mereka menikmati hari-hari mereka seperti biasanya
Danile bahkan membuat ekspekulasi bahwa gadis kecil itu di culik lalu di jual ke luar negri,
Di perusahaan Revandra dan Andre beserta Danile berkumpul, tak ada yang berbica satu sama lain. Mereka hanya sibuk memikirkan berbagai ekspekulasi-ekspekulasi yang tidak-tidak
"Revandra..." teriak Emma yang baru saja masuk ke ruangan Revandra, membuat mereka bertiga tersentak dan menatap Emma secara bersamaan.
"Kenapa kau mengabaikanku ?. sejak kemarin aku menghubungimu, kau tak menjawab sekalipun."
"Nona Emma, tidakkah kau tau kami di sini sedang dalam situasi tegang memikirkan akan keberadaan Aliya." jawab Danile.
"Aliya, Aliya, kenapa hanya gadis sialan itu yang ada di pikiran kalian." ucap Emma yang membuat Revandra geram. Lelaki dewasa itu meraih cangkir berisi kopi dan melemparnya ke arah Emma.
Cangkir kopi yang dilemparkan Revandra tepat mengenai kening Emma, Revandra tidak perduli jika saja cangkir itu mengenai wajah cantik nan angkuh Emma itu. Emma bergetar, benar apa yang dikatakan Magie tempo hari, jika menyinggung gadis kecil itu, Revandra tidak perduli siapapun itu ia akan tetap menyiksanaya.
"Ka...kau..." ucap Emma terbata-bata di sertai rasa sakit di kening yang sudah tersayat pecahan cangkir kopi dengan tetesan darah yang keluar dari sayatan itu, membut wajah Emma di penuhi tetesan darah bercampur kopi
"Keluar..." teriak Revandra. Takut Revandra akan melakukan hal lebih parah dari itu, Emma berlari keluar dari ruangan itu.
Andre tidak heran sama sekali dengan perlakuan Revandra yang kejam itu, dia sudah tau watak dari sahabatnya itu, berbeda dengan Danile, ia sedikit kaget saat Revandra melempar cangkir ke arah Emma, baru kali ini ia melihat Revandra semarah itu. Benar kata orang-orang, jika menyangkut masalah Aliya, Revandra akan sangat kejam tampa perduli apapun. Ucap Danile dalam hati.
"Revan, tidakkah kau terlalu kejam dengan Emma, Emma sudah berkorban untukmu."
"Diamlah Andre.! tidak ada waktu untuk memikirkan wanita sialan itu."
"Presedir Revan, apa kau sudah melapor pada polisi tentang hilangnya Aliya.?"
"Tidak, jika aku melakukannya, banyak pihak yang akan terkena dampaknya, kau pasti sudah tahu siapa aku Danile, akan hebo jika di beritakan putri seorang Revandra menghilang." jawab Revandra.
"Tapi, tetap saja harus meminta bantuan pihak kepolisian, ini sudah empat hari." ucap Danile lagi.
"Tak perlu meminta bantuan." kata seseorang yang baru saja masuk ke ruangan itu, membuat Revandra, Andre dan Daniele menatap seseorang itu secara bersamaan dengan tatapan penuh tanya.
__ADS_1
Bersambung...
******