Sweet Temptation

Sweet Temptation
Hampir ketahuan Aliya


__ADS_3

Sejam yang lalu,


Selly terbangun dan melihat Aliya sudah terlelap di sampingnya, kemudian Selly meninggalkan kamar menuju dapur untuk mencari apakah ada sesuatu yang bisa untuk mengisi perutnya yang lapar.


Dan wanita itu di kejutkan oleh Reyno yang sudah duduk di meja makan di temani secangkir kopi dengan tab di tangannya untuk memeriksa pekerjaannya.


"Selamat malam tuan Reyno" Sapa Selly sambil duduk di kursi samping Reyno dengan sepiring cemilan yang ia bawa dari dapur.


"Malam nona Selly."


Pria dewasa itu kemudian meletakkan tabnya dan memperhatikan Selly yang sedang menyantap cemilannya dengan pelan.


"Kamu cantik Selly."


"Uhuk...! uhuk...!" Selly tersendak kala Reyno mengatakan dirinya cantik.


Reyno beranjak dari tempat duduknya lalu mengambilkan segelas air untuk Selly.


"Minumlah,"


"Terimah kasih tuan Reyno.!"


"Makan denfan pelan."


Selly hanya mengangguk, dan kembali pada cemilannya, sedang Reyno tetap dengan posisi berdiri di samping Selly, membut wanita cantik itu menjadi merona dan kikuk. Selly kemudian mengangkat kepalanya dan Reyno sedikit menunduk, Selly jadi malu-malu.


"Kenapa wajahmu memerah.?"


"Saya... saya malu tuan menatapku seperti ini."


"Kemarin saat menggodaku kamu tidak malu kau bahkan lebih berani."


"Aku masih berani tuan Reyno."


Selly memang tipe wanita yang tidak pernah berbohong dengan kata-katanya. Dengan keberaniannya, Selly menarik kera baju tidur Reyno dan segera ******* bibir pria dewasa itu. Ia kemudian berdiri tampa melepaskan ******* itu. Reyno yang sudah terbuai dengan permainan Selly, ia hanya mengikutinya. Kini tangan wanita itu melingkar di tengkuk Reyno, sedang Reyno mengangkat tubuh Selly naik ke meja makan, dan tangannya mulai menyelinap masuk ke gaun Selly.


Permainan tangan Reyno pada milik Selly membut wanita itu sering kali mengeluarkan leguhan-leguhan nikmat. Lalu Selly berbisik dengan lembut di telinga Reyno.


"Tuan Reyno, bisakah kita berpindah tempat.?"


Reyno tidak menjawab, ia hanya mengendong Selly dengan posisi kaki Selly menyilang di pinggang Reyno, sedang tangannya tetap melingkar pada tengkuk pria dewasa itu dan tetap dengan lumatannya. Di kamar Reyno membaringkan tubuh Selly lalu menindihnya dan melepaskan gaun tidur yang di pakai Selly. Tak butuh waktu lama, Reyno sudah memberi hentakan-hentakan di bawah sana.


Sedikit lagi mereka mencapai kepuasan, tapi tiba-tiba ganggang pintu bergerak dan pintu sudah terbuka lebar. Reyno melihat Aliya sudah berdiri di hadapan pintu dan Revandra berdiri di belakang Aliya menutup matanya gadis itu, lalu menarik kembali ganggang pintu dan menutupnya. Aliya kemudian melepaskan tangan Revandra dari matanya.


"Kenapa kamu menutup mataku.?"


"Tidak hanya ingin main saja."


"Sudah tengah malam, mana ada waktu main."

__ADS_1


Aliya kembali berbalik dan ingin membuka pintu kamar papanya, ia masih penasaran dengan apa yang ada di dalam. Tapi Revandra segera menahannya.


"Aliya, aku haus, bisa tolong bikinkan kopi untuk saya.?"


"Bikin saja sendiri, Aliya pengen melihat papa, dan lagi tadi Aliya mendengar ada suara wanita dari dalam sana."


"Oh... mungkin itu suara tv sayang, ayo tolong buatkan aku kopi, ya itung-itung sebagai pembelajaran awalmu sebagai istriku kelak."


"Baiklah, ayo, Aliya buatkan."


Revandra dan Aliya bergegas ke dapur sambil bercanda, Aliya sudah melupakan tujuan awalnya keluar dari kamar, Revandra lebih penting baginya.


Sedang di kamar Reyno, sudah selesai dan berbaring di samping Selly.


"Kamu tau nona Selly, tadi itu adalah semenit paling rendah dalam hidupku, ketika sedikit lagi aku mencapainya, putriku justru muncul di depan kamar, untung saja Revandra menutup matanya kalau tidak, saya tidak tahu bagaimana tanggapannya terhadapku."


"Salah tuan Reyno sendiri, mengapa tidak mengunci pintu."


"Aku lupa, g*irahku lebih tinggi dari pada mengunci pintu, sebaiknya kita harus lebih hati-hati."


"Baik, ya sudah, saya akan kembali ke kamar."


Setelah Aliya menemani Revandra minum kopi, gadis itu kembali ke kamarnya dan mendapati Selly sudah ada di tempat tidur, bahkan wanita itu sudah terlelap. Sebenarnya, ingin sekali rasanya Aliya bertanya dari mana Selly, tapi gadis itu mengurungkan niatnya lantaran tak mau menganggu tidur Selly. Ia kemudian berbaring di samping Selly dan bersiap untuk tidur. Melihat Aliya sudah terlelap Selly tersenyum sambil mengusap dadanya dan menghela nafas lega.


***


"Hari ini Aliya pengen berbelanja, Ayah Revan temani Aliya yah.!" pinta Aliya pada Revandra.


"Tidak bisa sayang, hari ini aku harus bertemu dengan klien dari luar negri."


"Aku akan menemanimu gadis kecil.!" Sergah Selly."


"Baik, tapi papa juga harus ikut."


"Baiklah sayang." ucap Reyno.


Tidak seperti Revandra, Reyno tetap mengiyakan pinta Aliya, meskipun hari ini sebenarnya dia juga sedang banyak pekerjaan di perusahaan, tapi jika itu putrinya yang meminta, Reyno akan meninggalkan pekerjaan itu, toh ada Danile, sekalian dia bisa lebih belajar lagi.


Selesai makan, Aliya beranjak dan menuju kamarnya untuk ganti baju, Revandra kemudian menatap kedua orang yang masih sibuk dengan aktifitas makannya.


"Selly, pak Reyno, lain kali tolong kunci pintu. Saya tidak ingin Aliya melihat apa yang kalian lakukan. Jangan sampai pandangan gadis itu berubah terhadap kalian."


Selly dan Reyno hanya mengangguk, mereka memang bersalah dalam hal itu. Beberapa waktu kemudian Aliya sudah selesai menganti pakaiannya, dengan setelan baju kaos dan celana jeans, Rambutnya terurai panjang, membuat gadis itu terlihat sangat cantik, tidak lupa ia mengenakan sepatu vaforitnya yang di belikan oleh Axcel.


Revandra melirik Aliya, Sial.! kenapa gadis ini tidak merubah cara berpakaiannya, jika dia terus berpakain seperti ini setelah menikah denganku, orang-orang akan menganggap dia bukan istriku.! Ucap Revandra dalam hati.


"Aku sudah siapa, ayo Aunty, papa.!"


Di Mall Aliya sibuk berbelanja di temani Reyno dan Selly. Reyno kemudian memilihkan pakaian untuk Selly, lalu memerintahkan Selly mencobanya di kamar ganti, sedangkan Aliya sibuk sendiri memilih-milih pakaian di tuntun oleh pegawai toko itu. Reyno kemudian masuk ke dalam ruang ganti itu membuat Selly terkejut,

__ADS_1


"Tuan Reyno, apa yang kamu lakukan.? nanti Aliya memergoki kita."


"Tak apa, gadis itu sedang sibuk."


"Tapi... ak.."


Reyno segera memeluk Pinggang ramping Selly dan mencium leher jenjang Selly, lalu satu tangannya bergerak dan meremas d*da besar milik Selly, membuat wanita itu memekik.


"Awwuu..."


"Kamu wangi Selly.!"


"Tuan Reyno, keluarlah.!"


"Baik."


Puas memilih-milih, Reyno membayar belanjaan Aliya dan Selly, lalu meninggalkan toko itu. Aliya terlihat sangat senang. Kebetulan mereka bertemu dengan Laila saat hendak kelur dari Mall itu.


"Sayang...!"


Reyno tidak menghiraukannya. Laila menarik lengan Reyno hingga langkah mereka berhenti.


"Sayang, kenpa kamu tega melakukn ini sama aku.?" Ucap Laila memohon, tapi tetap saja Reyno tidak menghiraukannya,


Laila kemudian berbalik ke arah Selly, dan mulai mencaci maki Selly. Sedang Aliya takut pada Laila seperti biasa danemilih untuk diam.


"Kau, dasar wanita murahan. Apa kau tau dia adalah suamiku,"


"Tau.! Lalu.?"


"Itu tidak pantas, kau wanita ******, lepaskan lengan suamiku."


"Berhenti memanggilnya wanita ******, seharusnya kau bercermin. Yang murahan dan ****** itu kau,"


Mereka bertiga meninggalkan Laila yang menatap mereka dengan tatapan penuh kebencian.


"Setelah ini Reyno akan kembali padaku."


Hingga tiba di parkiran tiba-tiba Reyno mendapat telfon dari Danile. Danile bertanya tentan perusahaan, karna di situ sedikit ribut, Reyno meninggalkan Selly dan Aliya.


"Kalian tunggu sebentar, jangan kemana-mana."


"Ok, papa.!"


Setelah Reyno mengakhiri panggilan, ia kemudian berbalik, alangkah terkejutnya Reyno sudah mendapati Aliya dan Selly sudah tidak berada di tempat, hanya belanjaan saja yang teraisa berserakan di tanah.


Bersambung....


******

__ADS_1


__ADS_2