
Cahaya metahari menerpa kamar Revandra melaui sela-sela jendela kaca, Gadis cantik yang tadinya sedang terlelap dalam dekapan lelaki bertubuh atletis itu perlahan membuka matanya, menatap wajah tampan yang ada di hadapannya, sembari melayangkan sebuah kecupan di bibir sexy lelaki yang masih dalam lelapnya itu
Pelan-pelan Aliya melepaskan diri dari dekapan lelaki yang masih terlelap itu, berharap tak membangunkannya. Tapi ternyata perkiraan Aliya salah, Revandra sudah terbangun semakin mengeratkan dekapannya pada gadis itu.
"Ayah.!"
"Emm...!
"Aliya lapar."
Sadar bahwa hari sudah pagi dan saat itu memang sudah waktunya untuk sarapan, ia bergegas bangkit dan melepaskan dekapannya pada gadis itu, memberinya perintah untuk membenahi dirinya dan sarapan, gadis itu hanya menurut perintah dari sang ayah.
Sebentar kemudian, Aliya dan Revandra sudah berada di meja makan dan menyantap makanan yang sudah di siapkan oleh pelayan sesaat Revandra memberi perintah kepada mereka.
"Ayah.! Aliya kepengen belanja." sela Aliya di antara mulutnya yang sedang mengunya.
"Ok.!"
"Terimah kasih ayah." dengan senyum lepas dan bahagia.
Karna hari ini Aliya tidak ada jadwal kuliah dan Revandra harus bekerja, gadis itu memilih untuk berbelanja bertujuan menghilangkan ke jenuhannya. ia membuat janji dengan Aren bertemu di pusat perbelanjaan. dan seperti biasa Revandra mengatarnya ketempat tujuan gadis itu sebelum berangkat ke kantor.
Aliya dan Aren berjalan masuk ke Mall dan memilih-milih pakaian yang sesui dengan apa yang mereka mau.
"Ren, karna hari ini aku sedang bahagia, maka aku akan membayar semua belanjaanmu."
"Wah,,, benarkah. tapi apa tidak apa-apa Al.? kan itu uang om Revand.?"
"Tenang aja, uang ayahku tidak akan habis hanya karna membayar belanjaanmu. bahkan jika ayahku membeli Mall ini, uangnya juga tidak akan habis."
Gadis itu dengan bangga menceritakan tentang ayahnya, ya siapa sih yang tidak mengenal Revandra seorang pebisnis yang sukses terkenal yang telah sukses berbisnis dalam berbagai bidang, bahkan asetnya juga telah myebar luas di luar negri. Ia juga adalah pemegang saham terbesar di Mall Ruby salah satu Mall terbesar di Asia.
__ADS_1
"Meskipun kamu tidak menceritakan tentang om Revan, semua orang juga sudah tau kali...!" goda Aren membuat gadis itu menunjukan ekspresi sebal pada sahabatnya itu.
Setelah puas berbelanja di toko itu, Aliya hendak membayar di kasir, namun langkahnya terhenti, ada rasa tidak percaya yang menggelora di dadanya, matanya terasa hangat, hampir saja mengeluarkan air mata, namun ia masih dapat menahannya.
"Ibu...!" ucap Aliya seakan tak percaya saat melihat sosok wanita yang sedang membayar belanjaannya di kasir. meskipun ibunya meninggal saat umurnya masih empat tahun tapi gadis itu tak pernah lupa dengan wajah ibunya, terlebih lagi Aliya masih sering memandangi foto ibunya sebelum ia terlelap.
Cepat-cepat Aliya melangkah ke kasir dan semakin dekat, wajah wanita itu sangat mirip dengan ibunya, tak ada perbedaan sedikitpun, hanya saja wanita itu sedikit lebih tua dari ibunya lima belas tahun yang lalu.
Ingin rasanya Aliya menyapa wanita itu, tapi bibirnya tak mampu untuk berucap. ia hanya berdiri kaku di belakang wanita itu.
"Anak Nyonya cantik ya.!" ucap kasir itu setelah melihat wanita itu kemudian beralih pandang menatap Aliya, seakan-akan memberi tahu bahwa wanita itu sangat mirip dangan dirinya.
Wanita itu sedikit bingung
"Anak.? anak apa.? anaku laki-laki bukan perempuan dan sekarang sedang belajar di Amerika."
"oh maaf, saya pikir gadis di belakang nyonya, putri anda, kalian sangat mirip, seperti ibu dan anak." ucap kasir itu membuat wanita yang mirip ibu Aliya berbalik dan memandangi Aliya yang berdiri kaku.
siapa gadis ini ? ia sangat mirip dengan ku sembilan belas tahun yang lalu ?. tanya wanita itu dalam hati saat memandangi Aliya.
"Nyonya ini kartu pembayaranya." ucap kasir itu membuyarkan pikiran wanita yang terlihat sudah berumur tiga puluh sembilan tahun tapi masih sangat cantik dan elegan.
Wanita itu pergi tampa berbalik lagi pada Aliya yang berdiri kaku di dampingi Aren yang bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya.
***
Aliya termenung di dalam kamarnya sesaat kemudian seorang pria masuk menghampirinya dan duduk menepi di hadapannya.
"Sayang kau kenapa.?"
"Ayah.! apa ibu punya saudara kembar.?"
__ADS_1
"Emm... mungkin saja. memangnya kenapa.?"
"tadi saat berbelanja, Aliya melihat wanita yang sangat mirip dengan ibu, hanya saja wanita itu sedikit lebih tua dari wajah ibu yang ada di foto, tapi pembawaan dan cara bicaranya, bahkan cara berjalannyapun mirip ibu. dan wanita itu juga mengenkan gelang persis yang dipakai ibu di foto."
Gadis itu sangat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya di Mall tadi siang, andai saja waktu itu ia tidak menyaksikan langsung kematian dan prosesi penguburan mayat almarhum ibunya, gadis itu akan beranggapan bahawa wanita yang ia temui itu adalah ibunya bukan orang lain.
"Sayang, konon menurut orang-orang, di dunia ini kita memiliki tujuh saudara kembar yang sangat mirip, mungkin saja wanita yang kamu lihat itu salah satu kembaran ibumu." ucap Revandra lembut memberi penjelasan pada gadis itu. padahal dalam hatinya mersaresa, mingkinkah itu seseorang dari keluarga Aliya ? ini tidak bisa di biarkan aku harus mencari tahu tentang ini, jika wanita itu benar kembaran ibu Aliya, kenapa dia bisa tiba-tiba muncul dan kenapa baru sekarang ?. ucap Revandra dalam hati.
Sebentar Aliya sudah tertidur sambil bersandar pada dada bidang Revandra. lelaki itu kemudian membaringakan tubuh Aliya dan menarik selimut untuknya seraya melayangkan sebuah kecupan hangat di kening sang gadis. baru kemudian ia melangkah keluar meninggalkan gadis itu yang sudah terlelap dalam tidurnya.
Di ruang kerjanya Revandra duduk sambil memegang segelas wine di tanganya, seebntar-sebentar menuguk sedikit demi sedikit wine itu. tak mau menunggu waktu lama lagi, lelaki itu segera nenghubungi sahabatnya.
"Halo ! Andre aku punya sesuatu yang harus kamu selidiki.!" ucap lelaki itu setelah Andre menerima panggilannya.
"Apa itu.?"
"Hari ini gadis kecil itu bertemu seorang wanita yang sangat mirip dengan ibunya di Mall, aku harap kau tahu apa yang aku mau, segera dan cepat lakukan."
Revandra mengakhiri panggilannya sebelum Andre menjawabnya. itulah seorang Revandra yang tak mau menerima penolakan, apalagi itu menyangkut tentang gadis kecilnya itu.
Merasa puas berada di ruang kerjanya cukup lama, lelaki itu berdiri dan masuk kamar untuk membersihkan diri hendak tidur. sesaat kemudian pintu kamarnya terbuka dan gadis itu masuk melangkah ke arah pembaringan.
"Ayah.! Aliya kepengen tidur disini bersama ayah."
"Ok. ! kemarilah sayang." lelaki itu memeluk Aliya dalam dekapannya.
"jangan banyak bergerak nanti kamu tidak akan tidur, dan jika kamu tidak cukup tidur malam ini, besok kamu akan terlambat untuk kuliah."
Gadis itu menurut saja, seakan mengerti arti dari kata 'kamu tidak akan cukup tidur'
Bersambubg...
__ADS_1
******