Sweet Temptation

Sweet Temptation
Amarah Revandra


__ADS_3

Aliya diantar oleh Revandra ke kampusnya seperti biasanya. Aliya bersikap manja pada lelaki itu tampa peduli lagi dengan sopir yang mengemudi. lantaran sopir itu takut dengan Revandra ia tak berani menoleh dan melihat apa yang terjadi di jok belakang. Gadis itu sibuk menghujani wajah Revandra dengan ciumannya. Revandra hanya diam saja, sesekali ia juga membalas ciuman gadis itu.


Merasa cukup puas menciumi Revandra, gadis itu kembali pada tempat duduknya dan mengancing kembali bajunya yang sempat di buka Revandra dan meremas benda kenyal di balik baju itu. sadar bahwa saat ini mereka sedang berada di luar, Revandra berusaha menahan gairahnya yang hanpir meledak.


"Ayah.!"


"Emm..."


"pulang dari kampus, Aliya mau belanja sama Aren, boleh ya." pinta Aliya manja.


"Ok..."


Aliya turun dari mobil, tapi sebelum itu iya menyempatkan untuk memberi lelaki itu kecupan di kedua pipi Revandra, dan satu lagi kecupan hinggap di bibir sexy lelaki itu.


"see you ded." ucap Aliya berlari menghampiri Aren yang sejak tadi menunggunya sambil melambaikan tangan pada Revandra.


Aren menyipitkan matanya melihat kemesraan ayah dan anak itu. Kalau untuknya tidak masalah melihat pemandangan yang seperti itu, tapi bagaimana tanggapan orang-orang di sekitar, toh meraka tau kalau Aliya dan Revandra adalah ayah dan anak, bukan sepasang kekasih yang hanya Aren dan Andre yang tahu.


"Aliya, tidakkah kau merasa aneh berlaku seperti itu pada om Revan.?"


"tidak ada yang aneh,"


"Jelas Anehlah Al, teman-teman kita tak ada yang tau kalau hubunganmu dengan om Revan bukan hubungan ayah dan anak. bagai mana jika mereka melihat pemandangan tadi, apa kau tidak takut mereka akan berpikiran yang bukan-bukan terhadapmu.?"


Sejenak gadis itu berpikir dan membenarkan ucapan sahabatnya itu.


"Ok ! lain kali aku akan berhati-hati." jawabnya. Aren hanya mengeleng-geleng kepla, betapa tidak sahabatnya kini sedah di mabuk cinta. cinta dari seorang peguasa yang terbilang cukup kejam dan di takuti dalam lingkungan bisnis maupun hal lain.


***


Setelah kelas selesai Aliya dan Aren bergegas ke sebuah Mall ternama di sekitar kampusnya. Aliya melihat sebuh gaun berwarna merah dengan model yang simple, tapi terlihat sangat anggun. Ia mencoba meraih gaun itu, namun seorang gadis yang seusia dengannya dan berdandan menor sekali membuatnya terlihat lebuh tua dari usianya merampas gaun itu.


Aliya menjadi jengkel dengan ketidak sopanan gadis itu.


"hei.. aku duluan yang melihat gaun ini." ucap Aliya sebal


"tapi aku menginginkan gaun ini, kau tidak punya hak, aku pikir kamu juga tidak bisa membeli gaun ini, harganya sangat mahal. dilihat dari penampilanmu kau pasti dari kalangan rendahan."


Saat ini Aliya memang hanya mengenakan stelan bisa yang tidak mencolok, hanya baju yang berbahan kain sifon dengan model sederhana dan rok sebatas lutut, meskipun pakaian yang di kenakan Aliya sangat sederhana, tapi harganya bisa mencapai ratusan juta. dan itu membuat Aliya tetap cantik.


Tak mau kalah Aliya menarik gaun itu, menurutnya apapun itu selama ia suka ia harus mendapatkanya, itulah akibat dari kemanjaan yand diperolehnya dari Revandra.


"Tidak, aku mau gaun ini." tarik Aliya, membuat gadis yang tadi terjatuh ke lantai. seorang wanita menghampiri mereka dan segera sajaenampar Aliya.

__ADS_1


"Auu...! teriak Aliya karna kesakitan."


"Kau tak apa Al.?" tanya Aren.


"Sakit" sambil menagis.


Mendengar ada keributan, asisten menejer dan seorang lelaki muda menghampiri mereka. gadis yang terjatu tadi berlari menghampiri pemuda itu.


"Ada apa ini.?" tanya pemuda itu.


"Danile, gadia itu mendorongku, ia tak mau memberikan gaun yang aku suka. sayang aku sangat menyukai gaun itu." rengeknya.


"Benar apa yang dikatakan Anna ?"


"Benar Danile," ucap wanita yang menampar Aliya barusan.


"Menejer, usir gadis itu." perintah Danile, karna menejer itu tau siapa Daniel ia hanya menurut saja dan hendak mengusir Aliya.


Wanita itu melangkah ke arah Aliya dan merampas gaun yang di genggam Aliya.


"itulah akibat jika kau berani berebut barang dengan pitriku, asal kau tau pacarnya itu dari keluar besar di kota ini dia berasal dari keluarga Mintle, Danile Mintle, dan di baru kembali dari luar negri kemarin" ucap wanita itu dengan sombong, membuat para pengunjung Mall sebagian berkumpul dan saling berbisik.


"Tidak pak menejer, gaun itu terlebih dahulu di lihat oleh gadis ini" sela karyawan toko sambil menunjuk Aliya.


Aliya sudah tidak tahan lagi dengan penghinaan yang ia rasakan.


"Aku akan menelfon Ayahku, dan memberitahu perlakuan kalian terhadapku."


"Lihatlah gadis kecil ini, sudah tak punya uang, beraninya hanya mengadu pada ayahnya. cih..! pasti ayahnya juga sudah sangat tua dan tak bisa berbut apa-apa" ucap Wanita itu lagi.


"Silahkan saja telfon ayahmu, aku ingin lihat, apa yang bisa dia lakukan untuk membantumu, toh kalian hanya orang rendaha.!" serga asesten menejer.


Sesaat setelah Aliya menghubungi Revandra, seorang pria yang tampan dan berwibawa muncul, setiap langkahnya mendominasi orang yang di lewatinya, siapa yang tidak kenal dengan Revandra, hanya orang yang tinggal di goa atau kampung saja yang tidak mengenalnya.


"Apa yang terjadi disini." tanya Revandra tegas.


"Ayah..." seketika Aliya berlari kepelukan lelaki itu.


"Kenapa Aliya, kenapa pipimu memerah." namun gadis itu tak menjawab dan hanya menagis di pelukan Revandara.


"Siapa yang bisa menjelaskan apa yang terjadi di sini.?" dengan suara keras dan lantang yang membuat siapa saja yang mendengarnya akan ketakutan.


"Maaf tuan, tadi nona ini terlebih dahulu melihat gaun itu, tapi gadis yang disana merampasnya... dan asisten menejer mengusir nona ini" ucap karyawan yang sebelumnya membantu Aliya.

__ADS_1


Revandra kembali bertanya pada Aliya untuk memastikan.


"Benarkah itu Aliya.?"


"Ya Ayah, wanita jelek itu bahkan menampar wajahku, Dia juga bilang kalau ayah adalah pria tua yang tak bisa berbuat apa-apa" Seketika emosi Revandra berapi-api dan melangkah ke arah wanita yang menampar Aliya, tampa kata-kata Revandra menampar kembali wajah wanita itu.


"Siapa kau ? berani sekali menamparku, tidakkah kau tau anakku berpacaran dengan Danile dari keluarga Mintle.?"


Revandra terdiam sejenak seperti memikirkan sesuatu. Baru kemudian kembali berkata.


"Kau yang siapa beraninya kau memukul putriku. yang aku saja tak pernah melakukannya."


"Lagi-lagi Revandra menampar wanita itu sampai tersungkur ke lantai.


"Ada apa ini." ucap menejer umum yang baru datang.


"Apa yang membawa Presedir Revan ke toko ini.?"


Duar...


bagai disambat petir asisten menejer yang tadi bersikap tidak sopan, ternyata yang ia singgung adalah putri dari seorang penguasa.


"Putriku di tindas di sini, bahkan wajah cantiknya terluka."


"Maaf Presedir Revan, ucap asisten menejer itu yang mulai gemetaran ketakutan.


"Kedua ibu dan anak ini yang menindas putri anda. saya hanya melerai tampa tau bahwa gadis ini adalah putri anda."


"Mejener umum, pecat asisten menejer ini, dan posisinya di gantikan oleh karyawan yang membatu putriku, dan kedua ibu dan anak ini, penjarakan mereka setidaknya lima sampai enam tahun."


"Baik Presedir."


Revandra pergi membawa Aliya dari tempat itu. tampa peduli pada ibu dan anak serta asisten menejer yang menindas Aliya memohon ampu. Pengujung yang berkumpul berbisik.


"Kasian sekali mereka,.menyinggung orang yang salah."


"Ternyata gadis cantik itu adalah putri Revandra yang kabarnya sangat di sayangi."


"Itulah akibat jika melihat orang dengan tampilan luarnya saja."


Berlalunya Revandra membuat Daniel menyipitkan mata, dan memandangi bayangan Revandra yang sudah mengilang. Revandra tidak memberi pelajaran pada Danile, karna ia punya cara tersendiri untuk berurusan dengan Danile setelah mendengar nama keluarga Danile.


Bersambung...

__ADS_1


******


__ADS_2