Sweet Temptation

Sweet Temptation
Malam yang panjang


__ADS_3

Malam ini Revandra pulang sangat larut, setelah kembali dari perusahaan ia merasa lelah dan segera berjalan ke kamarnya. Tersentak hati lelaki dewasa itu, melihat putrinya Aliya tidur di kamarnya, padahal selama ini Aliya tak pernah tidur di kamar itu.


Revandra kemudian duduk di tepi pembaringan dan menatap wajah pulas putrinya, tangannya yang hangat menyentuh pipi halus milik Aliya, seketika gadis itu mengeliat dan terbangun, lalu duduk berhadapan dengan Revanda sembari mengucek matanya.


"Ayah sudah pulang ?"


"Ya." jawab Revandra singkat sambil membelai rambut gadis itu.


"Ayah capek.?" Lelaki dewasa itu hanya mengangguk singkat.


Aliya kemudian mendekati Revandra dan segera hendak ingin melayangkan ciuman ke pipi sang ayah, namun lelaki dewasa itu lebih dulu memalingkan wajahnya, untuk menghindari tatapan Aliya, serta menghindari benda kenyal yang tadi tersentuh dan membangkitkan g*irahnya. maka seketika c*uman yang awalnya untuk di pipi kini melenceng ke bibir Revandra.


Keduanya terkejut, Gadis itu hendak menarik wajahnya agar menjauh dari wajah sang ayah, tapi Revandra terlebih dulu menangkap dan ******* bibir gadis itu.


Semakin membuat gadis yang baru mekar itu terkejut dan tidak tahu harus melakukan apa, sampai pada detik selanjutnya, Revandra melembutkan c*umannya, sehingga membuat gadis itu seketika terbuai meskipun ia hanya diam saja, bukan tidak mau membalas tapi gadis itu memang tidak tahu sama sekali cara untuk membalasnya.


Meskipun Aliya saat ini hanya diam, tapi lelaki dewasa itu tau bahwa Aliya menikmatinya. Semua itu dapat dilihat oleh Revandra dari mata Aliya dan jemarinya meremas kuat bantal yang ada di sampingnya, Gadis itu tidak mengerti dengan apa yang baru saja di lakukan oleh Revandra


"Ah..." hanya itu yang keluar dari bibir Aliya.

__ADS_1


"Maafkan aku Aliya ! Aku sungguh tak dapat menahannya." Ucap Revandra yang saat ini telah dirasuki iblis durjana


Tak butuh waktu lama Revandra kembali menyambar b*bir mungil Aliya dengan perlahan dan juga sedikit lembut, dan kali ini Aliya berusaha untuk membalasnya, yap ! sebenarnya memang ini yang diinginkannya agar ayahnya tidak perlu mencari wanita lagi di luar sana.


Tak bisa dipungkiri bahwa gadis itu baru pertama kali berc*uman. Sadar bahwa Aliya saat ini hampir kehabisan nafas, Revandra menurunkan c*umannya yang merambah ke l*her jenjang Aliya dan tangannya semakin nakal pula.


Saat ini bukan hanya Revandra yang dirasuki iblis durjana yang penuh api g*irah tanpa peduli lagi siapa yang mencembuny


Sejujurnya Aliaya tidak dapat mendeskrepsikan apa yang dia rasakan saat ini. yang jelas apa yang dilakukan oleh Revandra terhadapnya sangat n*kmat tapi juga menyiksa, dan tak dapat gadis itu pungkiri bahwa ia sangat menyukainya tanpa peduli lagi siapa yang melakukanya. Nafas gadis itu kini memburu, sementara Revandra tersenyum puas,


"Ayah,!


"Ayah,! Aliya capek, kepengen tidur."


Gadis itu sejenak termenung dan kembali bertanya pada sang ayah.


"Bagaimana Aliya membantu Ayah."


"seperti yang Aliya lakukan kemarin."

__ADS_1


Tanpa menunggu lama Aliya melakukan sesuatu yang ia lakukan kemarin saat di kamar mandi, kali ini Revandra tidak menuntunya, ia berinisiatif untuk melakukannya sendri. benar apa yang dikatakan Aren, bertingkah seperti biasanya saja, ayah benar-benar tergoda padaku. Ucap Aliya dalam hatinya disetai senyum tipis yang tersirat di pinggir bibirnya yang tak nampak oleh Revandra.


****


Malam yang dilalui Revandra dan putri tirinya itu sangat panjang, mereka saling melepaskan kehangatan, saling berpagut, namun Revandra sang ayah tiri tidak sampai menodai gadis yang selama ini ia anggap putrinya sendiri, meskipun perasaan itu kini telah berubah, dalam hatinya Aliya bukan lagi putri kecilnya, melainkah seorang gadis yang ia cintai.


Begitupun dengan Aliya, karna tak mau kehilangan ayahnya, ia benar-benar mengoda ayahnya, dan ingin sekali rasanya Aliya memberikan sesuatu yang pastinya selalu diidam-idamkan oleh seorang pria seperti Revandra, tapi gadis itu tidak tau caranya, haruskah dia yang memintanya sendiri ? agar ayahnya mau melakukannya ? atau menunggu sampai ayahnya sendiri yang meminta. pikiran itu berkecamuk di dalam otak Aliya yang saat ini tengah terkulai lemah.


Aliya membalikkan tubuhnya menghadap Revandra yang terlelap karna kecapean dari kantor, ditambah lagi aktivitas yang mereka lakukan barusan menambah penat. Aliya tersenyum memandangi wajah tampan yang tajam milik pria yang ia panggil ayah itu, tersirat senyum bahagia namun masih ada rasa yang bimbang.


Gadis itu menyentuh pipi lelaki dewasa itu dengan lembut dan mengusa-usapnya.


"Ayah, sebenarnya Aliya tidak tahu apa yang sudah kita lakukan, Aliya bingung, apakah semua ini karna Aliya memang menyukai Ayah atau hanya karna Aliya tidak ingin kehilangn sosok seorang ayah.?" Ucap gadis itu dengan nada sedikit pelan. Takut kalau-kalau ia akan membangunkan Revandra.


Beberapa saat Aliya berfikir, lalu mengubah posisinya membelakangi Revandra, entah kenpa tiba-tiba muncul perasan rindu dan rasa bersalah terhadap almarhum ibunya, butiran buriran bening tampa sadarenetes dan membasahi bantal,


"Ibu, maafkan Aliya, Aliya tidak bermaksud menyakiti ibu, Aliya hanya tidak ingin wanita-wanita itu merebut ayah dari Aliya, saat ini Aliya tidak punya siapa-siapa lagi, hanya Ayah yang Aliya punya." menahan suara isak tangisnya.


Malam semakin larut, gadis itu perlahan memejamkan matanya, Revandra yang tak tau apa yang dipikirkan gadis itu segera menarik tubuh Aliya dan mendekapnya. Aliya buru-buru menyeka air matanya, berharap lelaki yang saat ini mendekapnya tak tau apa yang ia pikirkan.

__ADS_1


Bersambung...


******


__ADS_2