
Pera pelajar yang mengikuti acara liburan di puncak sudah berkumpul di depan bus mereka, ada tiga puluh dua pelajar yang ikut acara itu termaksud Marvel dan senior yang bernama Axcel.
Aliya sudah berada di depan bus tetapi Aren belum muncul, beberapa menit menunggu, dari kejauhan Aliya melihat Aren turun dari mobil seorang pria, mencium bibir pria itu, Aliya menyipitkan matanya meneliti siapa pria yang besama Aren, rasanya tidak asing baginya, Aliya lebih memperhatikan lagi siapa pria itu, Astaga.! itu om Andre, ucapnya dalam hati.
Setelah pria yang mengantar Aren berlalu, gadis itu segera menghampiri Aliya yang sedang menganga karna kaget, ternyata yang memelihara sahabatnya adalah orang yang juga sudah Aliya anggap seperti ayahnya sendiri dan lebih parahnya, Aren sudah tinggal denga pria itu, beberapa hari yang lalu Aliya memang membantu Aren mengemas barang Aren untuk pindah ke rumah sugar dadynya, tapi Aliya tidak tau siapa sugar dady dari temannya itu,
Selama ini Aren memang tak pernah cerita siapa yang memeliharanya karna Aliya juga tidak pernah bertanya. tapi sekarang sudah beda, Aliya tau siapa yang mengantar Aren.
"Al.! kenpa kamu bengong gitu." lamunan Aliya dibuyarkan oleh Aren yang menyapanya.
"Ah,! Ren siapa yang mengantar mu.?" tanya Aliya, membut Aren sedikit gugup, jangan sampai Aliya tau bahwa yang menjadi sugar dadynya adalah Andre.
"Oh, itu.. itu..."
"Sudalah Re, jika kamu tidak mau memberitahuku tidak apa-apa." ucap Aliya seperti tau kalau Aren tak mau memberitahunya.
"Apa semuanya sudah hadir.?" ucap salah satu pemandu yang tidak lain adalah Axcel
"Sudah senior" serentak pelajar itu menjawabnya.
Mereka semua bergegas naik ke bus, Aliya dan Aren tetap duduk berdampingan. Sejak tadi Aren melihat sebuah mobil hitam yang mengikuti bus itu,
"Al, kenapa ya mobil itu sejak tadi mengikuti bus kita.?"
"Oh, itu pekerjaan pria tua mesum"
"Maksud kamu kita diintai sama pria tua mesum.?"
Plak...
sebuah pukulan manja mendarat di bahu Aren.
"hei kenpa kamu memukulku.?"
"Lagian pikiranmu itu asal nyablak aja. mereka itu orang yang dikirim ayahku untuk mengikutiku, tau sendirikan gimana posesivnya Revandra seorang pria tua mesum." Meledaklah tawa Aren mendengar Aliya memanggil Revabdra pria tua mesum, ia juga penasaran bagai mana ekspresi wajah seorang Revandra yang dikenal sebagai penguasa kota S yang kejam, malah dipanggil pria tua mesum oleh gadis yang ia cintai.
__ADS_1
Alya sebenarnya sangat tidak menginginkan suruhan Revandra mengikutinya, itulah sebabnya dia menyebut Revandra pria tua mesum, lantaran jengkel, sebelum pergi gadis itu tadi merengek di rumah agar tidak diikuti, tapi hasilnya tetap sama, Revandra tak mau terjadi seauatu pada gadis kecilnya itu.
"Aren bisa bertukar tempat duduk sebentar.?" tanya Axcel yang tiba-tiba menyela pembicaraan kedua sahabat itu. Aren hanya menurut meskipun sebenarnya ia tidak ingin berpisah tempat duduk dengan Aliya.
Pria muda itu kemudian duduk di samping Aliya yang sedang asik menikmati pemandangan di luar kaca jendela bus yang di lewatinya. ia tidak terlalu mengubris Axcel yang duduk di sampingnya. Bahkan ia merasa jengkel.
"Aliya, bisa saya berbicara denganmu sebentar.?"
"Hemm."
"Aliya... ak..." ucapan Axcel terhenti ketika ponsel Aliya berdering, segera saja Aliya menerima panggilan itu.
"Ayah,"
"Bagaimana perjalananmu, apa kau menyukainya sayang.?" tanya Revandra di ujung telfon.
"Aliya menikmatinya. Ayah ada yang ingin Aliya tanyakan."
"Apa itu sayang.?"
"Revan, bagaimana makan malam kita.?" ucap wanita itu.
"Bagaimmana kalau kita pergi sekarang.?" jawab Revandra.
"Ayah, siapa wanita di sampingmu.?"
"Oh, dia Emma. sudah ya sayang, ayah ada urusan, nanti aku hubungi kembali." Mengakhiri panggilan sebelum gadis itu menjawab.
Kini perasaan Aliya jadi tidak karuan, tiba-tiba saja ada seorang wanita bersama ayah, siapa wanita itu ? dan ada hubungan apa dengan Ayah.? tanyanya dalam hati. Matanya terasa hangat dan tak lama air matanya pun menetes, sekelabat pertanyaan tentang wanita itu berkecamuk dalam pikirannya. gadis itu menagis namun tak mengeluarkan suara hanya Axcel yang melihat dan tau hal itu.
"Hei kenapa kau memagis Al,?"
"Pinjamkan aku bahumu sebentar kak Excel." menyadarkan kepalanya di bahu pria muda itu walaupun pria itu belum menyetujiinya. namun jauh di dalam hatinya ia sangat senang Aliya berinisiatif menyentuhnya. Axcel dengan berani mengusap-usap rambut Aliya dengan lembut sampai akhirnya Aliya tertidur dalam tangisnya dan bersandar pada bahu Axcel.
***
__ADS_1
Di rumah keluarga Mintle, seorang lelaki tua sedang duduk di ruang kerjanya sambil memandangi sebuah foto gadis cantik yang berumur sekitaran dua puluh lima tahun.
"Laili, ayah sangat merindukanmu, ayah masih belum percaya kau sudah tidak ada lagi di dunia ini. jika memang kau telah tiada di mana kau menyembunyikan cucuku,? dan pada siapa kau menitipkan gadis kecil itu sebelum kau meninggal,? dan apa kah gadis kecil itu hidup dengan baik ? atau justru ikut pergi bersamamu.?"
Air mata lelaki tua itu menetes tak tertahankan, ia begitu merindukan putrinya yang sudah menghilang selama lima belas tahun, bahkan ia membawa putri kecil bersamanya. Pintu ruang kerja terbuka, dan seorang wanita yang mirip dengan wanita di dalam foto melangkah masuk. lelaki tua itu cepat-cepat menyimpan foto itu di laci meja kerjanya.
"Ayah, Laili sudah meninggal, tak bisakah ayah melupakannya.? sudah lima belas tahun berlalu, tapi ayah belum bisa menerima kepergianya."
"Laila, apa yang kau katakan.? saat itu dia pergi membawa seorang gadis kecil, dan kenapa tiba-tiba saja muncul kabar bahwa ia meninggal bunuh diri.? aku sepenuhnya tidak percaya, jika dia memang bunuh diri, dimana mayatnya.? dan tidakkah kau ingin mencari tauhu di mana gadis kecil yang ia bawa bersamanya saat itu.?"
Wanita itu meluap emosinya, seakan-akan tidak terima dengan ucapan ayahnya.
"Ayah Laili sudah mati, dan untuk apa selalu membahas wanita yang berselingkuh dengan suami kembarannya sendiri. atau mungkin saja gadis kecil yang ia bawa bersamanya bukan anak suami sahnya, mungkin saja anak itu adalah anaknya bersama pria liar yang tidak di ketahui asal usulnya. Laili hanya wanita pelac*r sialan" nada membentak
Plak...
Sebuah tamparan mendarat di wajah wanit itu,
"Berhenti memanggil Laili wanita pelac*r, dia saudaramu dan juga mantan istri suamimu yang sekarang. atau jangan-jangan yang berselingkuh bukan dia dan suamimu, tapi kau dan suaminya,"
Buk...
Sebuah benda berat sarasa menghantam tubuh wanita itu, ia gemetaran seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan. butiran-butitran keringat membasahi dihinya. Kata-katan yang di ucapkan ayahnya seolah membuatnya takut. takut pada apa.? tak ada yang tahu.
"Cukup Laila, jangan membuat masalah denganku, kau harus fokus terhadap putramu, umurnya sudah mencukupi untuk memimpin perusahaan." bentak lelaki tua itu dengan sangat emosi.
"Keluar dari sini, dan jangan berani kau menginjakkan kaki di ruangan ini."
wanita itu berbalik dan melangkah keluar dari ruang kerja ayahnya yang di penuhi berang-barang dan jejak dari Laili. Ia berlari masuk kekamarnya, yang dulunya adalah kamar Laili.
"Sayang kau kenapa.?" tanya suaminya yang tak lain adalah mantan suami kemebarannya.
"Tidak, aku hanya merindukanmu." jawabnya. baru kemudian memeluk suaminya. Ayah sudah mulai curiga terhadapku, aku harus segera mencari tau keberdaan Laili jika memang dia belum meninggal dan juga putri kecilnya itu. Aku tak mau anaknya merebut Reyno dariku, susah payah aku mendapatkannya agar di menjadi suamiku. Ucap wanita itu dalam hati saat memeluk suaminya.
Bersambung...
__ADS_1
******