
Mendengar suara itu Laila sangat ketakutan, untuk menutupi niatnya, ia segera berbalik memperlakukan Aliya dengan lembut.
"Ti... tidak ada kok, aku... aku... hanya."
"Aliya apa kau tidak apa-apa.?" Mendengar pertanyaan itu, Aliya cepat-cepat menghamipiri sumber suara tadi.
"Papa... Aliya kepengen pulang kermah Aliya." memohon pada Reyno.
"Nanti papa antar yah.!"
"Sayang.! bukannya kamu ada di kantor, kok balik lagi.?"
"Diam.!" Bentak Reyno,
"Andai saja berkas yang kuperlukan untuk rapat hari ini tidak ketinggalan, aku tidak tahu apa yang sudah akan kau lakukan pada putriku." ucap Reyno dengan tegas.
"Sayang..! aku tidak melakukan apa-apa padanya." tapi Reyno tidak mengindahkan perkataan Laila.
Reyno juatru sangat khawatir pada putrinya, takut kalua Laila akan benar-benar menganiyaya gadis itu.
"Tunggu di sini ya Al.! papa mau ambil berkas dulu, setelah itu baru antar kamu kembali ke rumahmu." Gadis itu hanya mengangguk.
Sebentar kemudian Reyno berlalu, Laila sejak tadi sudah di selimuti rasa benci terhadap Aliya, berbalik sesaat untuk memastikan bahwa suaminya sudah tidak ada di sekitar. Baru kemudian melangkah ke arah Aliya,
"Kau sungguh seperti ibumu gadis sialan.! kenapa semua yang aku suka harus dia yang memilikinya.?"
Melihat bibinya yang seolah ingin melahapnya hidup-hidup, Aliya mulai gemetaran dan melangkah mundur.
"Apa kau tau gadis sialan.! aku yang menyebabkan ibumu meninggal."
Seketika jantung gadis itu berdegup kencang, tubuhnya terasa kaku, tak mampu untuk bergerak lagi, hanya air mata yang menetes di pipi mulusnya.
"Kau tau dengan cara apa aku membunuhnya ?, Dengar baik-baik, demi lelaki yang ku cintai, aku mengancam p*lacur sialan itu dengan foto saat ayahnya Danile sedang membantunya, sehingga dia menjdi depresi dan kabur dari rumah ini, seminggu setelah kepergiannya dari rumah ini, aku memalsukan kematiannya, walaupun saat itu p*lacur sialan itu belum mati, kau tahu Aliya, aku bahkan membut espekulasi tentang perseligkuhannya dengan ayah Danile yang membuat ayahmu membencinya dan aku terus membujuk ayahmu untuk menikahiku dengan alasan hanya dia yang bisa menyembuhkan sakit hatiku atas perselingkuhan itu.
"Tidak, bibi pasti berbohong hanya untuk menalutiku."
"Tidak Aliya, aku tidak berbohong. Saat itu aku melihat seorang pria mengantarnya ke rumah sakit untuk cek pemeriksaan, dan saat itulah aku menukar obat depresei ibumu dengan pil yang akan menyebabkan timbulnya serangan jantung mendadak, setelah ku dapatkan alamat rumah kalian yang lama, aku memerintahkan seseorang untuk menghubungi rumah kalian yang lama, megatakan pada ibumu bahqa aku telah menikahi suaminya. Saat itulah ibumu keget dengan berita itu dan terkena serangan jantung mendadak. aku juga tidak tahu bahwa yang bersama ibumu saat itu adalah Revandra, dia masih tampak muda saat itu, aku pikir itu adalah lelaki selingkuhan ibumu yang sesungguhnya " Ucap Laila di sertai dengam tawa puasnya.
Aliya semakin gemetaran, ia hanya bisa mengigit bibir bawahnya, sedang pipinya sudah berurai air mata, rasanya sakit sekali mendengar penuturan Laila, Meskipun Aliya sudah berurai air mata, tapi ia tak dapat mengeluarkan suaranya. Serasa itu terhenti di kerongkongannya, hingga akhirnya matanya berputar ke arah seseorang yang sejak tadi terpaku di belakang Laila. Barulah Aliya bisa mengeluarkan suaranya.
"Papa..."
__ADS_1
Mendengar Aliya memanggil papa, Laila berbalik dan mendapati Reyno sudah ada di belakangnya."
"Sa..sayang.!, sejak kapan kau ada di situ.?"
Tapi tak sepata katapun yang keluar dari bibir Reyno, matanya hanya melotot menatap Laila dengan samgar Emosi. Lalu melangkah mendekati Laila
"Sayang.! ka..."
Plak.!
Sebuat tamparan mendarat di wajah Laila. Membuat wanita itu terbelalak, itu sudah yang kedua kalinya Reyno menparnya.
Plak.!
Kembali Reyno menampar pipi sebelahnya sampai ujung bibir Laila mengeluarkan sedikit darah segar. Tapi Reyno belum juga puas, ia lagi-lagi memberikan tamparan ke wajah Laila tampa bersuara sama sekali.
Rasa sakit yang di terima Laila membuatnya tak mampu untuk tidak mengeluarkan suara tangisnya. Membuat Lelaki tua Mintle bergegas menghampiri mereka.
"Reyno ada apa ini.? kenpa kau meyiksanya.?"
"Tanyakan saja padanya." Ucap Reyno dengan nada geram.
"Ayo Aliya.! kita pergi dari rumah ini."
Seketika Laila berdiri yang tadi sudah jatuh tersungkur ke lantai akibat tamparan Reyno yang terakhir terlalu keras. Ia kemudian meraih lengan Reyno dan memohon
"Sayang, kau mau kemana.?"
"Jangan sentuh aku."
"Tidak, kau tidak boleh meninggalkanku, aku sangat mencintaimu sayang.!" ucapnya memohon, tapi Reyno justru mendorongnya hingga Laila kembali terjatuh ke lantai. Baru saja Reyno ingin melangkah, Laila segera saja memeluk kaki suaminya. Karna sudah dikuasai Amarah Reyno menendang Laila agar menjauh darinya.
"Apa yang kau lakukan Reyno, kenapa kau begitu kasar,?sudah lama saya tidak pernah melihatmu marah sampai seperti ini, terakhir kau seperti ini saat kau tahu istrimu berselingkuh dengan ayah kandung Danile" seraga lelaki tu Mintle.
"Dia... Wanita ini, dialah yang menyebabkan kematian ibunya Aliya,"
"Apa.?" Tersentak lelak tua Mintle itu, tak kuasa menahan sesak di dadanya. Ia segera tak sadarkan diri.
"Ayah."
"Kakek.!" Serentak Aliya dan Laila terkejut melihat lelaki tua Mintle sudah tak sadarkan diri. Tapi Reyno tidak perduli sama sekali.
__ADS_1
"Ayo Aliya, kita pergi dari sini."
"Tapi papa, kakek..."
"Sudahlah, dia sangat sehat, hanya terkejut saja, ada pelayan yang akan mengurusnya." gadis itu hanya mengangguk, Bukanya tidak mau menolong kakeknya, hanya saja Aliya takut jika berada di rumah itu lebih lama, mungkin saja bibinya akan bertindak lebih gila lagi.
Laila hanya bisa menyaksikan kepergian Reyno, ingin sekali rasanya ia berlari dan menahan orang sang sangat di cintainya, orang yang menjadi obsesisnya selama ini. Tapi apa boleh buat, ia tak mampu untuk berlari lantaran rasa sakit yang di perolehnya dari Reyno.
Beberapa saat kemudian pelayan membawa lelaki tua Mintle keruang pemeriksaan yang ada di rumah itu. Sesak nafasnya kambuh ketika mendengar Reyno mengatakan bahwa Laila penyebab kematian Laili.
***
Di rumah Revandra, Aliya dan Reyno duduk di sofa ruang tamu menunggu kedatangan Revandra pulang dari kantor.
Sejam berlalu, Revandra sudah muncul dan segera duduk di dekat Aliya dan menghadap Reyno, Revandra melihat ada ketegangan di antara ayah dan anak itu.
"Ada apa pak Reyno.?"
"Aku sudah tahu semuanya." sambil meremas rambutnya frustasi.
"Ayah.! ternyata bibi..." ucap Aliya yang langsung bersimpuh air mata
"Kalian tenanglah. lalu apa yang anda rencanakan.?" tanya Revandra yang memeng sudah tahu semuanya sejak lama.
"Saya tidak tau presedir Revan. saya hampir saja gila mengetaui kebenarannya. Saya sungguh tidak menyangka, istri yang saya percaya ternyata menyimpan begitu banyak rahasia. Karna obsisinya terhadapku, wanita itu rela melakukan apapun termaksud memanipulasi kematian ibunya Aliya. Saya sungguh bodoh Presedir Revan.! saya sangat mencintai Laila, tapi dengan mudahnya meragukan kesetiaannya padaku."
"Tenanglah pak Reyno, mari kita sama-sama mencari jalan keluarnya. apa yang harus kita lakukan pada Laila."
"Tak usah, biar aku saja yang mengurusnya. Kau fokuslah terhadap Aliya. Jangan samapi gadis ini berpaling dari mu."
Revandra sebenarnya tidak mengerti makna ucapan Reyno, mungkin saja saat ini dia sedang tidak sadar sehingga mengucapkan kata-kata itu di sela kemarahannya pada Laila, Maka Revandra menepisnya, dan memilih untuk tidak berpikir yang bukan-bukan, tampa tau, bahwa ada sesuatu yang Reyno ketahui dan Revandra tidak tahu apa itu.
Bersambung...
******
Author note : Maaf banget yah kalau ada yang kurang srek dengan kata-kata di novel ini, atau mungkin haluku terlalu tinggi.ππ Tapi jujur saja, ini novel pertama yang aku buat dengan tingkat kehaluan yang amat sangat over, sebenarnya saya tipe penovel yang berbau-bau jaman dulu, dan sudah banyak juga novel yang ku buat bertema jaman dulu, contohnya
"CINTA SUCI GADIS DESA". πππ
Dan terimah kasih buat para readers sudah mau mengikuti alur yang terlalu mengada-ngada iniπ€£π€£π€£. Love you All...!
__ADS_1