Sweet Temptation

Sweet Temptation
Gangguan Emma


__ADS_3

"Revan.! ini adalah undangan untukmu," ucap wanita itu.


Revandra kemudian meraih undangan itu dengan wajah dingin dan tidak menatap wanita itu sedikitpun.


"Undangan apa itu.?" Tanya Aliya penasaran.


"Oh, ini undangan minggu depan peluncuran produk terbaru dari merek AAED yang selalu kamu pakai." Ucap Revandra setelah melihat undangan itu


"Boleh Aliya ikut.?"


"Boleh.! kau juga bisa mengajak Aren, toh Andre juga dapat satu." ucapnya sambil memberikan satu undangan pada Andre.


"Benarkah.?" tanya Aliya, Revandra hanya mengangguk, karna merek itu adalah merek vaforite Aliya, gadis itu sangat senang dan segera melayangkan kecupan ke pipi Revandra seperti biasanya, saat sesuatu yang ia inginkan dan mendapatkannya.


Sedang wanita yang memberi undangan tadi sangat tidak suka dengan perlakuan Aliya pada Revandra.


"Revan.! bisakah aku menjadi teman wanitamu dalam acara itu.?"


"Tidak, bisa. Apa kurang jelas bagimu.? kau sudah lihat sendiri, aku akan menghadiri pesta itu bersama Aliya."


"Tapi Revan, aku sangat mengharapkan pergi ke pesta itu bersamamu."


Melihat gadis itu memohon Aliya melangkah lebih dekat pada wanita itu.


"Jangan terlalu banyak bermimpi tante Emma." dengan senyum sinisnya.


"Kau...!"


"Apa.? mau memukulku.? coba saja.!"


Emma benar-benar sangat geram, tapi mengingat Revandra ada di situ, tidak mungkin baginya untuk melakukan sesuatu pada gadis itu. Ia hanya menggengam erat gaunnya. Tunggu saja kau gadis sialan.! kata Emma dalam hati,


Revandra dan Aliya berbalik meninggalkan tempat itu, di susul Aren dan Andre.


"Revan...!" Teriak Emma tapi lelaki itu tidak berbalik sedikitpun. Sedang Aliya yang berjalan sambil menggandeng lengan Revandra, berbalik lalu menjulurkan lidah ke arah Emma, membuat wanita itu semakin geram.


"Sialan, gadis kecil itu sungguh kurang ajar padaku, dia bahkan berani membentakku, awas kau gadis sialan...!"


Seperti yang sudah mereka sepakati, Aliya dan Aren pergi berbelanja, sedangkan Revandra dan Andre kembali ke perusahaan.


Di perjalan ke perusahaan Andre melihat ada sesuatu yang besemayam di pikiran sahabatnya itu, Ia lalu memberanikan diri untuk bertanya dengan hati-hati.


"Ada apa Revan.? bekankah gadis kecilmu sudah kembali kepadamu, dia bahkan sudah kembali seperti biasanya, bertingkah manja padamu, lalu apa lagi yang kau risaukan.?" tanya Andre yang sesekali melirik Revdra sambil mengemudi.


"Gadis kecilku memang sudah kembali, tingkahnya juga kembali manja, tapi semenjak ia kembali, gadis itu tidak pernah membiarkanku menyentuhnya sedikitpun."


"Apa.?" Andre yang sedang mengemudi tersentak membuat dirinya hampir menabrak kucing di jalan.


"Andre, apa kau ingin membunuhku.? jika kau ingin mati silahkan saja, tapi kau tak perlu membawaku ikut bersammu."

__ADS_1


Andre kemudian memarkirkan mobil agak menepi dari jalan, lalu berbalik menata Revandra dengan tertawa.


"Kenapa kau tertawa br*ngsek.?" ucap Revandra yang masih terkejut lantaran hampir menabrak kucing, yang mungkin saja bisa menyebabkan kecelakaan.


"Sangat lucu bagiku. Seorang Revadra yang sering bermain dengan wanita-wanita cantik, menjadi frustasi hanya karna seorang gadis kecil yang tidak memberi ijin untuk di sentuh."


"Berhentilah tertawa, dulu aku memang sering bermain dengan wanita-wanita jika hasratku muncul, tapi sekarang beda Andre, aku sudah mempuyai Aliya, dan aku tak mau membuatnya kecewa pdaku. Kesalah pahaman yang lalu saja sudah membuat gadis kecil itu hampir meninggalkanku. Dan aku tidak tau apa yang akan terjadi jika aku kembali seperti dulu,"


"apa kau sudah bertanya mengapa gadis kecil itu tat mengisinkanmu.?"


"Sudah."


"Lalu.?"


"Alasannya karna tak mau papanya merubah pandanganya terhadap kami. Selama Reyno tinggal di rumah kami gadis kecil itu sungguh sangat hati-hati."


"Menurutku Aliya ada benarnya juga, Saranku jika kau sudah tidak sanggup menahannya, kau bisa mengajaknya menyewa hotel yang nyaman."


"Berhentilah memberiku ide-ide seperti itu, aku bukan seorang pria br*ngsek yang akan mengajak gadisku berc*mbu di hotel lantaran tidak ada kesempatan di rumah."


"Terselah kau sajalah." Ucap Andre, lalu mengemudikan mobilnya kembali.


Di restoran Emma duduk dan merenung setelah Revandra pergi, lalu tiba-tiba bahunya di cengkram oleh seseorang.


"Apa kau sangat membenci gadis itu.?" ucap seseorang yang sejak tadi memperhatikan Emma yang memohon pada Revandra. Ia baru berani mendekati Emma setelah Revandra berlalu.


"Ya, tapi siapa kau, sepertinya kita tidak dekat untuk membicarakan hal seperti ini.?"


***


Tiba-tiba seorang pelayan menghampiri Aliya yang sedang membaca buku di ruang kerja Revandra.


"Nona Aliya, di bawah ada tamu, yang mencari anda." Ucap pelayan itu setelah Aliya mempersilahkannya masuk di ruang kerja Revandra.


"Siapa.?"


"Namanya Emma, kalau saya tidak salah, dulu wanita itu sering datang ke sini nona, saat anda sedang bersekolah." Jelas pelayan itu, yang memang sudah mengenal Emma lantaran dulunya Emma sering datang ke rumah itu jika Aliya sedang berada di sekolah.


"Usir dia.!"


"Tapi nona, Wanita itu sangat penting bagi Tuan Revan."


"Itu dulu, sekarang sudah berbeda. Jadi usir saja dia, katakan aku tidak ada waktu untuk bertemu dengan wanita seperti dia."


"Baik Nona. Silahkan lanjutkan aktikfitas anda."


Bebarapa saat setelah pelayan itu berlalu, Aliya sudah merasa capek dan menghentikan aktifitas bacanya, gadis itu kemudian keluar dari ruangan tersebut dan masuk ke kamar Revandra. Alangkah terkejutnya gadis itu sudah mendapati Emma sedang berada di sana.


Aliya lalu menghampiri Emma yang sedang mencoba beberapa pakaian Aliya yang ada di lemari Revandra, yang memang Revandra sengaja meletakkan pakaian itu untuk jaga-jaga saat Aliya sedang tidak ingin tidur di kamarnya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan di sini.?"


"Kau sudah lihat sendiri apa yang ku lakukan.!" jawab Emma cuek dan terus memilih-milih baju milik Aliya yang tetata rapi di lemari.


Sampai pada saat Emma Meraih baju vaforite Aliya dan hendak mencobanya, membuat Aliya semakin geram. Ia kemudian menarik baju itu, dan berteriak.


"Keluar dari kamar ini, kau tidak di perbolehkan berada di sini." Teriakan Aliya membuat beberapa para pelayan berkumpul di luar kamar


"Siapa saja, usir wanita ini."


"Maaf nona Aliya, tadi saya sudah menyampaikan pesan anda, tapi nyonya Emma berkata bahwa tuan yang memintanya kemari." kata pelayan yang memang sudah tau bahwa Emma pernah menyelamatkan nyawa tuannya.


"Kalau begitu aku akan menelfon Revandra dan bertanya."


Aliya kemudin meraih ponselnya, lalu menelfon Revandra.


"Halo, Ayah Revan, apa kau benar meminta tante Emma datang ke rumah kita.?" tanya Aliya ketika panggilannya sudah terhubung dan mengaktifkan louspakernya agar di dengar langsung oleh Emma.


"Tidak,"


"Aku tidak senang tante Emma ada di rumah kita, jadi apa kamu keberatan jika aku mengusirnya Ayah.?"


"Tidak"


"Ok."


Gadis itu mengakhiri panggilannya dan kembali menatap Emma.


"Kau sudah dengar tante Emma, jadi silahkan pergi."


"Aku tidak yakin, mungkin saja Revan berkata demikian hanya untuk menyenangkanmu."


"Kalau begitu silahkan tante Emma menghubunginya dan bertanya sendiri, aku yakin dia sudah memblokirmu."


Emma lalu meraih ponselnya dan menghubungi Revandra, seperti yang di katakan Aliya, dan benar Revandra sudah memblokir Emma.


'nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi.'


Mendengar itu Aliya tertawa mengejek pada Emma.


"Tidak, pasti salah, baik aku akan menghubunginya memakai ponsel lain." ucap Emma seraya meminjam ponsel kepala pelayan.


'Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.'


Kembali Aliya menertawai Emma, membuat Emma tidak terima, wanita itu melangkah lebih mendekat pada Aliya hendak melayangkan sebuah tamparan pada Aliya, tapi gadis itu segera menahannya. Lalu meraih salah satu koleksi botol yang berisi wine milik Revandra


"Astaga sejak kapan nona Aliya meraih botol itu, mengapa aku tidak melihatnya." ucap kepala pelayan yang mulai panik. Jelas saja botol wine itu adalah botol yang paling di sukai Revandra, ia mendapatkanya dengan susah payah.


Bersambung...

__ADS_1


******


__ADS_2