
Aliya masih merajuk pada Revandra, lelaki itu juga tak henti-hentinya membujuk Aliya. Hingga pada akhirnya Revandra merasa bersalah pada gadis kecil itu,
"Sayang.! maafkan aku," ucap Revandra sambil meremas rambutnya dengan kedua tangannya menandakan dirinya mengalami depresi.
"Ayah, siapa Emma itu.?"
Revandra mengankat kepalanya, depresinya seakan langsung hilang ketika mendengar suara Aliya. Cepat-cepat Revandra lebih mendekat pada gadis itu, hendak memeluknya tapi tindakannya terhenti.
"Stop.! jangan peluk Aliya kalau ayah tidak bisa memberi tahu siapa Emma itu."
"Biklah aku akan menceritakan tentang Emma."
Revandra menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan, baru kemudian bercerita tentang Emma, tak terkecuali saat ia menitipkan Aliya pada Andre.
"Sungguh hanya itu yang terjadi ayah, apa ayah tak pernah tidur dengan Emma.?"
"Tidak sayang.!, sejak awal tak ada niatku untuk menidurinya, dan tak pernah sekalipun aku mengiginknnya."
"Sungguh ayah.?"
"Ya,"
"kalau begitu jangan bertemu dengannya lagi."
"Ok.!"
Gadis itu langsung tersenyum, raut wajahnya yang tadi murung kembali seperti biasa ceria dan riang.
"Lalu siapa anak laki-laki yang memelukmu tadi.?"
"Axcel, senior di kampus Aliya."
"Aliya, semua yang ada padamu itu milikku, tak seorang pun yang bisa menyentuhnya apa lagi memilikinya, aku berharap kamu bisa menjaga jarak dengan lelaki itu, apa kau paham sayang.?"
"Ya ayah."
Setelah berhasil membujuk dan menidurkan Aliya, Revandra merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya, lalu menelfon seseorang.
"Tolong urus pengalihan salah satu anak perusahaan yang ada di luar negri, ubah nama kepemilikan perusahaan itu. dan keluarkan dari naungan Gramentha grup."
"Baik Tuan." jawab seseorang di ujung telfon.
Revandra kembali duduk di tepi pembaringan dan menatap dalam wajah Aliya,
"Sayang.! apa pun akan aku lakukan utukmu, asal kau tidak marah padaku dan tidak meninggalkanku sayang.! oh Aliya gadis kecilku, maafkan aku," seraya membelai lembut pipi gadis yang tengah terlelap itu.
Merasa cukup puas menatap wajah Aliya, lelaki dewasa itu berdiri dan melangkah ke arah meja belajar Aliya yang ada di kamar itu, Ia meraih foto yang terpajang di meja itu, menatapnya lalu mengusap foto itu. "
"Laili maafkan aku, tidak bisa memenuhi keinginnanmu untuk memanganggap gadis kecil itu sebagai anakku lagi, perasaan seorang ayah yang kujaga selama ini telah hilang dan kini berubah menjadi perasaan cinta. Sunggu maafkan aku Laili." ucap Revandra pelan, lalu meletakkan foto itu ke tempat semula.
Tak lama Revandra dikejutkan suara ketukan pintu. lelaki dewasa itu lalu membuka pintu kamar itu.
__ADS_1
"Tuan, tuan Andre ada di bawah." kata pelayan itu
"Baik."
Revandra kemudian bergegas turun ke lantai bawah untuk menemui Andre, lalu duduk di sofa berhadapan dengan Andre.
"Apa kau sudah menemukannya.?"
"Lihat sendiri." sambil memberikan map berwarna coklat berisi berkas lengkap yang Revandra minta.
Lelaki dewasa itu meneliti setiap lembaran berkas di tangannya, baru mengerutkan dahinya. dan menatap Andre dingin,
"ternyata seperti itu konspirasi di dalam keluarga itu,"
"Lalu apa yang akan kau lakukan dengan mereka.?" tanya Andre
"Biarkan saja dulu, biarkan mereka bersenang-senang sebntar lagi," jawab Revandra dengan senyum licik
Beberapa saat ruangan itu jadi hening, tapi keheningan itu langsung hilang ketika seorang pelayan membawakan kopi untuk Revandra dan Andre, Mereka bersama-sama menyeduh kopi yang di bawa pelayan tadi.
"Andre aku perlu bantuan mu sekali lagi."
"Apa itu.?"
"Kau cari tau tentang pria yang bersama Aliya di taman, sepertinya dia memiliki niat tersembunyi pada Aliya."
"Maksud kamu boca yang bernama Axcel itu.?"
"Aren yang memberi tahu ku, Aren juga bercerita sedikit tentang keluarga bocah itu, tapi tidak terlalu jelas."
"Kalau begitu tolong cari tau dengan jelas."
"Ok, dan apa yang akan kamu lakukan mengenai Emma."
"Aku sudah punya cara tersendiri untuk menanganinya."
***
Dua minggu telah berlalu semenjak peristiwa di taman itu, Aliya juga seringkali menghindar dari Axcel, ia tak mau membuat Revandra marah. Sepulang dari kampus Aliya dan Aren berjalan-jalan di sekitar taman, dan timbul keinginan Aliya untuk minum di cafe yang ada di seberang jalan. Aren hanya menuruti keinginan Aliya.
Kedua sahabat itu masuk ke cafe dan memesan apa yang mereka inginkan. Tak butuh waktu lama untuk meraka menunggu, pesanannya telah datang. Seorang pria menghampiri mereka dan menarik kursi lalu duduk di samping Aliya. Gadis itu heran, mengapa pria yang tak di kenalnya tiba-tiba duduk di sampingnya.
"Kamu Aliya kan.?" tanya pria itu.
"Ya, dari mana kau tau namaku." jawab Aliya dengan nada kecut.
"Apa kau lupa dengan kejadian sebulan yang lalu di Mall xx.?"
Aliya kemudian mengingat-ingat kembali ada kejadian apa di bulan lalu. seketika raut wajahnya berubah menjadi emosi."
"Kau, kau pria b*jingan yang menyuruh asisten menejer Mall itu mengusirku, andai saja waktu itu ayahku tidak datang tepat waktu, mungkin saja aku sudah benar-benar dilemparkan ke jalan oleh kalian."
__ADS_1
"Maaf, maafkan aku, kenalkan aku Danile."
"Oh." jawab Aliya singkat baru kemudian kembali pada minumannya.
Pria itu sejenak menatap wajah Aliya, meneliti setiap inci wajah gadis itu. benar-benar mirip dengan ibunya, ucap Danile dalam hati. tak mau mengulur waktu ia memberanikan diri untuk bertanya pada gadis di sampingnya, berharap bisa mendapat jawaban dari rasa penasarannya.
"Aliya, apa boleh aku bertanya sesuatu padamu.?"
"hemm.."
"Aliya, apa saat ini kau tinggal dengan ayah dan ibumu.?"
"Tidak."
"Hei,,, untuk apa kau bertanya pada Aliya sesuatu yang bukan urusanmu." sela Aren, tapi Danile tidak memperdulikannya dan kembali bertanya pada Aliya.
"lalu di mana ibumu, apa ayah dan ibumu berpisah.?"
"Tidak, ibu ku meninggal lima belas tahun yang lalu, dan aku tinggal bersama ayahku."
Rasa penasaran Danile bukannya mendapat jawaban justru bertambah, sesaat ia berfikir Aliya adalah adiknya atau saudaranya, jika benar ibu gadis ini meninggal, lalu mengapa wajahnya begitu mirip dengan mama.? tanya Danile dalam hati.
"Aliya..." lagi-lagi ada seseorang yang memanggilnya, seorang wanita berpakaian seperti kekurangan bahan dan mencolok, akan tetapi itu tidak mengurangi kecantikannya. Aliya menoleh pada sumber suara, seketia ia ingat siapa wanita itu.
"Tante Emma.?"
"Ya.. aku pikir kau lupa"
"Mana mungkin aku lupa dengan wanita yang menghalagi ayah saat hendak membawakuku pulang."
Danile beranjak ingin segera cepat-cepat pulang.
"Al, aku pergi dulu, lain kali kita ngobrol lagi." ucap Danile meninggalkan Aliya, bersama Aren dan wanita yang baru datang itu.
Aliya tidak terlalu menanggapi kehadiran Emma yang duduk di kursi bekas Denile duduk tadi. gadis itu justru sibuk berbicara pda Aren.
"Aliya..." bentak Emma, membut Aliya berbalik menatap wanita itu tajam
"Aliya, kau sungguh gadis tidak sopan. mengabaikan orang di sampingmu.
"Maaf tapi aku tidak punya sesuatu untuk di bicarakan dengan tante.!" jawab Aliya datar.
"Kau ini sungguh gadis yang kurang ajar, lihat saja jika aku berhasil menikahi ayahmu maka kau akan ku tendang keluar dari rumah itu."
Terbelalak mata Aliya mendengar ucapan Emma, rasa jengkel pada Emma semakin bertambah. Tak mampu menahanya Aliya meraih gelas minuman yang ada di meja, lalu menyiram ke wajah wanita itu, membuat wanita itu semakin marah dan hendak menampar Aliya namun Aliya dapat menahanya dan kembali mengambil gelas milik Aren dan menumpahkan isi gelas itu ke kepala Emma,
"Kau ingin mendapatkan ayahku. huh.! mimpi saja kau." lalu berbalik pergi meninggalkan Emma yang diselimuti rasa malu, akibat orang-orang menatapnya."
"Kasihan sekali ya wanita itu, ingin menikahi ayah dari gadis itu, tapi kasar pada gadis itu, ya jelas lah gadis itu tak mau menikahkan ayahnya denga perempuan seperti itu, ucap salah satu pengunjung cafe.
Bersambung...
__ADS_1
******