
"Aunty Selly" Teriak Aliya dengan wajah yang sangat senang.
Begitupun dengan Selly, tak kuasa menahan rindunya pada Aliya, wanita itu segera berlari memeluk Aliya tampa memperhatikan bahwa Revandra tidak begitu senang dengan kehadirannya. Setelah beberapa saat memeluk Aliya, Selly baru beralih menyapa Revandra.
"Hai Revan.!"
"Untuk apa kau kembali.?" dengan nada sedikit kesal
"Aku merindukan gadis kecilku."
"Ack...! Rindu.? tidak puaskah kau sudah membuat gadis ini terluka dengan kepergianmu.? dia menagis sepanjang malam selama beberapa bulan karna tak terima kau meninggalkannya, Ia baru bisa berhenti menagisimu setelah dia bertemu sahabatnya." Bentak Revandra.
Selly adalah wanita tang pernah menjadi tunangan Revandra lima tahun lalu. Tapi hanya berpura-pura untuk menutupi rumor yang mengatakan Revandra adalah seorang homo, karna saat itu Revandra tidak membiarkan wanita manapun mendekatinya, Hanya Andre, Emma dan Aliya yang tahu bahwa Selly hanya berpura-pura. Selly tak sedikitpun menyukai Revandra, ia menerima tawaran itu lantaran menyukai Aliya saat pertama kali melihatnya.
Selama menjadi tunangan pura-pura Revandra, Selly menghabiskan waktu untuk membantu merawat Aliya layaknya putrinya sendiri, hingga ia tiba-tiba harus pergi setelah hampir dua tahun merawat gadis kecil itu, dengan alasan dirinya di tuntut oleh keluarga untuk melanjutkan bisnis di Ingris. Dan kepergian Selly membuat Aliya tak henti-hentinya menagis saat malam tiba, dan itu terjadi sampai beberapa bulan, Tangis itu berhenti ketika Aliya bertemu dengan Aren.
"Ayah.! Stop yah memaki Aunty.!"
"Tapi Al, apa kau..."
"Presesir Revan, apa kau sudah siap.?"
Suara seorang pria membuat ucapan Revandra terhenti, Sedang Selly beralih padang ke arah sumber suara itu. Matanya melebar tatkala ia melihat sosok pria dewasa melangkah ke arah mereka, dengan wajah yang menunjukan ketegasan di mana-mana, kancing bagian atasnya terbuka sehingga menampakkan otot dada yang menggoda, wajahnya di penuhi cambang yang tertata rapi, meskipun cambang itu sudah tercampur dengan warna putih tapi itu tidak mengurangi ketampanan pada pria dewasa itu.
"Apa kau sudah siap presedir Revan.?" kembali Reyno bertanya saat tidak mendapat jawaban dari Revandra
"Sebenarnya saya sudah siapa, tapi ada sesutu yang harus saya urus, bisakah anda menunggu saya sebentar di mobil.?"
"Baiklah." jawab Reyno tampa memperdulikan seorang wanita yang sejak tadi memandanginya tampa berkutik
Setelah Reyno berlalu, Revandra kembali pada Selly yang sejak tadi hanya diam melompong, bahkan bibirnya sedikit terbuka.
"Sudah puas memandanginya.?" Tegur Revandra membuat Selly seketika sadar dan segera menutup rapat bibirnya.
"Sampai di sini dulu, mari kita bahas setelah saya kembali dari pesta perjamuan, dan ingat jangan sampai terjadi apa-apa pada gadis kecil ini."
"Tenang saja, aku kembali bukan untuk menyakitinya, jadi pergilah, aku akan menjaganya." jawab Selly tampa keraguan
Revandra terdiam sejenak memikirkan sesuatu, baru kemudian bargegas meninggalkan Aliya yang sejak tadi sepertinya sangat ingin membawa Selly ke kamarnya. Beberap saat kemudian Aliya sudah ada di kamarnya bersama Selly.
"Aunty Selly, Aliya rindu sama Aunty.!"
"Aunty juga rindu sama kamu gadis kecilku, beberapa tahun tak melihatmu kau sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik."
"Tapi Aliya juga benci sama Aunty.?"
"Kenapa.?"
"Aunty jahat, meninggalkan Aliya." dengan wajah cemberut
__ADS_1
"Maaf sayang, waktu itu Aunty benar-benar harus pergi, tapi Aunty janji tidak akan meninggalkanmu lagi."
"Janji.?"
"Aunty janji."
Aliya kembali ceria, walau hanya hampir dua tahun ia bersama Selly, tapi gadis itu sangat senang, dan meskipun Aliya awalnya tidak setuju dengan pertunangan pura-pura itu, tapi setelah beberapa minggu ia bersama Selly, akhirnya Aliya bisa menerimanya bahkan sangat menyayangi Selly.
"Aunty ada sesuatu yang kepengen Aliya katakan, tapi Aunty jangan kaget ya."
"Apa itu gadis kecil.?"
"Aliya jatuh cinta sama ayah Revan, begitupun dengannya."
Apa.? bajingan sekali si Revan ini, bisa-bisanya dia menggoda gadis kecilku. ucap Selly dalam hati.
"Tapi itu semua salah Aliya Aunty, Aliya yang terlebih dahulu menggodanya."
Semakin terkejut Selly mendengar kejujuran Aliya, wanita itu segera merubah pandangannya, tak masalah, toh dia juga bukan ayah kandung Aliya, lagian dia juga yang membesarkannya jadi tidak salah sih jika si bajingan itu tidak ingin gadis kecil ini di miliki pria lain. Kembali Selly berucap dalam hati
"Lalu siapa pria tampan tadi.?"
"Maksud Aunty papa.?"
"Apa.? jadi dia ayah kandung kamu.?"
"Betul sekali Aunty."
***
"Saya tidak sempat membahas ini tadi malam lantaran aku pulang dan kalian sudah tetidur."
"Apa sih.? Cepat dong, Aliya sudah lapar." sergah Aliya.
"Aliya sayang.!, tolong diam sebentar, ini antara aku dan Selly."
"Baik, kalau begitu Aliya tunggu di meja makan."
"Lelu berapa lama kamu akan tinggal kali ini.?" tanya Revandra sambil memicingkan matanya menatap Selly setelah Aliya berlalu.
"Saya tidak tidak tau pasti berapa lama, yang pastinya itu setelah Aliya menikah, atau mungkin saja setelah gadis itu sudah punya anak, kamu tau Revan, membayangkannya saja sudah membuat saya begitu bahagia."
"Dari mana kamu tau Aliya akan menikah.?"
Selly yang sedikitpun tidak takut pada Revandra bersadar pada sandaran sofa untuk merilekskan badanya, ternyata wanita ini tidak pernah berubah sedikitpun, dulu hingga sekarang, tak pernah merasa takut terhadapku. Kata Revandra dalam hati
"Kamu sungguh bajingan Revan.!"
"Apa maksudmu.?"
__ADS_1
"Kamu pikir saya tidak tahu hubunganmu dengan gadis kecil itu, heh, kau benar-benar bajingan."
"Selly berhentilah memakiku seperti itu."
"Baik, tapi kamu harus ingat,! jangan sekali-kali membuat gadis kecil itu terluka, jika itu terjadi, saya akan membawanya pergi dan akan saya pastikan kamu tidak akan menemukannya di manapun.! dan untuk sementara saya akan tinggal di sini."
"Tapi sudah tidak ada kamar kosong Selly.?"
"Saya akan tidur di kamar Aliya, gadis kecil itu juga tidak keberatan sama sekali."
"Terserah kamu saja."
Revandra hanya bisa pasrah, menerima Selly untuk tinggal di rumahnya, meskipun dalam hatinya sangat tidak ingin, karna itu akan membuat menikmati waktunya bersama Aliya semakin sedikit. Lelaki dewasa itu kemudian menuntun Selly ke meja makan untuk sarapan, di sana sudah ada Aliya dan Reyno sedang menunggu Revandra untuk makan bersama.
Selly yang melihat Reyno kembali terperangah, pandangannya selalu saja tertuju pada pria dewasa itu.
"Aunty, ini papa Aliya, papa.! ini Aunty Selly." Ucap Aliya memperkenalkan Selly pada papanya.
"Selamat pagi tuan Reyno." sapa Selly malu-malu
"Selamat pagi nona Selly, dan maaf semalam aku tidak sempat menyapamu, tentunya kau pasti lihat sendiri bahwa kami begitu terburu-buru." Sambil mengulurkan tangannya, Selly dengan senang hati meraihnya.
"Tak masalah tuan Reyno, toh kita pasti akan berkenalan juga pada akhirnya.
Sepanjang aktivitas makan, Selly tak henti-hentinya mencuri padang pada Reyno, membuatnya seringkali tersendak, dan itu membuat Revandra dan Aliya selalu tertawa namun tak menampakannya.
Setalah sarapan Reyno dan Revandra bergegas ke perusahaan, sedangkan Aliya dan Selly saling berbagi cerita, Aren juga sudah ada di rumah itu setelah tadi Aliya menelfonnya untuk datang, dan sudah memperkenalkan Selly pada Aren. Hingga waktu makan siang tiba, Aliya dan Aren sedikit sudah lapar.
"Aunty, Aliya lapar."
"Tunggu sebentar, Aunty suruh pelayan menyiapkan."
"Tidak Aunty, biasanya kalau siang begini, kami hanya makan di luar, kami makan di rumah kalau Ayah sedang libur saja."
"Kita ke restoran favorite Aliya saja Aunty.?" usul Aren.
"Baik."
Di restorant
"Kalian pesan saja dulu, Aunty ingin ke toilet sebentar."
"Aunty mau pesan apa.?"
"Seperti biasa gadis kecil."
kebetulan Laila yang juga sedang makan siang bersam teman-temannya dan tiba-tiba menghampiri Aliya dan Aren. Aliya seketika terkejut melihat bibinya sudah ada di hadapannya. Andai saja itu Emma, Aliya mungkin akan memberikan pelajaran, tapi itu adalah Laila, bibinya, terlebih lagi wajahnya sangat mirip dengan ibunya, membuat gadis itu tak bisa berbuat apa-apa. Laila kemudian mengangat tangannya hendak melayangkan tamparan pada wajah Aliya, tapi tangannya di tahan oleh seseorang.
"Apa yang kau lakukan pada gadis kecilku.?"
__ADS_1
Bersambung...
******