Sweet Temptation

Sweet Temptation
Godaan Selly +


__ADS_3

Sontak Laila di kejutkan dengan suara seseorang yang menghentikannya, bukankah Aliya hanya datang berdua dengan temannya.? siapa wanita ini.? Tanya Lila dalam hati.


"Siapa kau.?"


"Kau tak perlu tau siapa aku."


"Berani sekali kamu.? apa kamu tidak tau siapa keluargaku.?"


"Ack.! hanya orang yang tinggal di goa saja yang tidak tau siapa kamu nyonya Mintle."


Selly sudah tau kalau Laila adalah saudara kembar ibunya Aliya, berdasarkan foto yang ada di kamar Aliya dan cerita-cerita Aliya yang terjadi akhir-akhir ini, membuat Selly bisa tau hanya dengan sekali melihat Laila saja.


"Jangan pernah berfikir bisa menyiksa gadis kecilku wanita kotor." Maki Selly


Tak terima di maki, Laila kembali mengangat tangannya hendak melayangkan tamparan pada Selly, tapi lagi-lagi niatnya ditahan oleh Selly, hingga tak sengaja Selly memutar bola matanya dan melihat Reyno baru saja masuk dari pintu restoran, karna posisi Laila membelakangi pintu, jadi ia tak melihat bahwa Reyno sudah mendekat.


Ternyata sebelum sampai ke restaurant, Aliya menghubungi Reyno untuk makan bersama sekaligus menjemput mereka untuk pulang. Dengan sergap Selly menuntun tangan Laila menampar wajahnya. Lalu berpura-pura terjatuh, Tentu saja Laila heran dengan tingkah Selly yang seperti itu.


"Apa yang terjadi.?"


Laila dikagetkan dengan suara suaminya yang bertanya dengan nada membentak.


"Sa...sayang, ak... aku tidak.!" Ujar Laila dengan terbata-bata ingin menjelaskan, tapi suaminya itu tidak perduli sama sekali padanya, dia bahkan berjongkok ke arah Selly dan memerika keadaan Selly, baru kemudian menuntun Sally untuk menegakkan tubuhnya dan duduk di kursi.


"Apa kau tidak puasa hanya dengan menganggu putriku.? makanya kau juga mengganggu orang lain."


"Aku tidak, sayang percaya padaku.!"


Tapi Reyno tidak mengindahkan perjelasan Laila, sedang Selly tersenyum puas seperti mengejek ke arah Laila, dan pas sekali Laila juga menatapnya.


"Lihat dia tersenyum, dia sudah berhasil membuat jarak di antara kita."


"Laila dengar, aku hanya percaya dengan apa yang aku lihat, bukan dengan apa yang aku dengar, terlebih lagi semua orang punya haknya sendiri untuk tersenyum. Oh.! dan satu lagi, sebelum adanya Selly, jarak di antara kita memang sudah ada, dan itu sejak aku mencintai almarhum istriku. Camkan itu."


Reyno kemudian mengajak mereka untuk pindak ke tempat lain, pria dewasa itu sudah tidak ada mood untuk makan di tempat itu. Sementara Laila terus memohon dengan uraian air matanya.


"Mari kita pindah dari tempat ini, mood ku sudah hilang"


"Tapi, makanan sudah di pesan papa.!"


"Tak apa, mari kita bayar makanan itu dan memberikannya pada pelayan restaurant agar tidak sia-sia, toh itu juga belum kalian sentuh sama sekali." Bujuk Reyno pada putrinya.


"Baiklah papa.!"


Reyno, Aliya dan Selly beserta Aren segera meninggalkan tempat itu setelah membayar pesanan yang belum sempat di antarkan ke meja mereka tampa memperdulikan Laila yang sangat sakit hatinya. Terlebih lagi Selly dengan berani mengandeng tangan sebelah kanan Reyno, sedangkan Aliya di sebelah kiri papanya. Sebelum keluar dari restaurant, tak lupa Selly mengajukan jari tengah ke arah Laila dengan senyum iblisnya, membuat Laila semakin geram hatinya.


Satelah selesai makan siang, Reyno mengantar mereka pulang, lalu kembali ke perusahaan. Di rumah Aliya menatap Selly penuh pertanyaan.

__ADS_1


"Aliya,! ada apa gerangan, hingga kau menatapku sedemikan


?"


"Tadi Aliya tidak bisa bertanya karna ada papa.!"


"Apa itu sayang.?"


"Apa yang Aunty lakukan tadi.? kenapa Aunty membiarkan bibi menamparmu Aunty.? padahal di awal Aunty sangat antusias melawan bibi."


"Aliya, kau ini pura-pura bodoh, atau memang tidak mengerti sih.?" sergah Aren.


"Aliya, nanti kamu akan tau sendiri, hari ini Aunty mau ke perusahaan Revandra, kau di rumah saja bersama Aren. Tak apa-apa kan.?" Aliya hanya mengangguk kecil lalu bergegas ke kamarnya bersama Aren.


***


Di perusahaan, Selly jadi pusat perhatian. lantaran pernah menjadi tunangan Revandra.


"Bukankah itu mantan tunangn presedir.?"


"Iya, benar. Untuk apa dia kembali.?"


"Mungkin ingin menggoda presedir lagi."


Bisik para karyawan yang tau bahwa Selly adalah mantan tunangan pemimpin mereka. Tapi wanita itu tidak terpengaruh sedikitpun. Ia tetap melangkah dengan anggun sampai di ruangan Revandra dan tampa basa-basi membuka pintu dan segera merebahkan diri pada sofa.


"Dasar kau bajingan Revan, aku baru saja mampir kau bertanya seperti itu padaku."


"Lalu apa yang membuatmu mampir.?


"Aku hanya ingin bertanya, kapan kau akan menikahi gadis kecil itu.?"


"Saat umurnya sudah dua puluh."


"Berarti empat bulan lagi, itu artinya kau harus segera memperkenalkan Aliya sebagai calon istrimu,"


"Aku memang sudah merencenakan itu dua bulan sebelum pernikahan. Lalu kau sendiri kapan akan menikah.?"


"apa maksudmu.?"


"Selly kau sudah tidak muda lagi, umurmu sudah hampir tiga puluh empat, apa kau tidak memikirkan tentang pernikahanmu.?"


"Belum terfikirkan, Sudah aku pamit."


Sudah hampir sebulan sejak kedatangan Selly, ia bahkan sudah mulai berani mengoda Reyno, Semenjak Sally dan Reyno tinggal di rumah itu, Revandra tidak pernah lagi memikirkan hal-hal yang menyangkut gairahnya, lelaki dewasa itu hanya fokus pada pekerjaannya saja. Hingga pada suatu ketika saat malam kian larut Revandra sudah kembali dari perusahaan tapi Reyno belum. Selly kemudian bertanya pada Aliya setelah menerobos masuk ke kamar Revandra dan tidak memperdulikan keberadaan lelaki dewasa itu.


"Aliya, kenapa papamu belum pulang.?"

__ADS_1


"Mungkin masih lembur Aunty."


"Selly, jika kau ingin mencari tau keberadaan Reyno, pergilah ke perusahaan Mintle grup, jangan menganggu kami, semenjak kau ada di rumah ini aku tidak bisa menikmati waktuku bersama gadis ini."


Sejenak Selly berfikir, benar apa yang di katakan si bajingan mesum ini, sebaiknya aku mencarinya saja di perusahaannya!. Pikir Selly. Tampa berpamitan Selly berlari keluar kamar dari Revandra dan memerintahkan sopir mengantarnya ke tempat Reyno.


"Kenapa Aunty begitu antusias terhadap papa.?" tanya Aliya setelah Selly berlalu.


"Aliya, apa kau sangat menyukai Selly.?"


"Suka sekali, Aliya juga menyayanginya. Ada apa.? kenapa bertanya seperti itu.?"


"Tidak apa-apa hanya bertanya saja tidak boleh kah.?"


Gadis itu hanya tersenyum menawan, Revandra tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, mumpung Selly dan Reyno sedang tidak di rumah, Revandra kemudian mulai m*ncembu gadis itu, Karna Aliya juga sangat merindukan kehangatan dari lelaki yang ia cintai, gadis itu hanya menurut saja ketika Revandra sudah memulai aksinya.


Melihat keadaan polos Aliya, Revanda menuntun Aliya beranjak dari pembaringan sampai terpojok di dinding, baru kemudian kembali m*ncembui gadis itu, Revandra lalu bersimpuh di hadapan kedua paha Aliya dan langsung memainkan l*dahnya di sana. L*guhan-l*guahan bagai nyanyian merdu di keluarkan gadis itu, hingga Revandra kembali menegakkan tubuhnya lalu kembali menuntun Aliya ke tempat tidur, dan segera membenamkan miliknya pada milik gadis itu. Sampai berkali-kali mencapai kepuasannya.


Di perusahaan Reyno masih bekerja, Seketika ia kaget saat Selly masuk ke ruangannya hanya mengenakan gaun tidur berwarna merah muda yang tipis. Dengan seringai kecil Selly melangkah dengan menggoda menghampiri Reyno lalu duduk di atas meja kerja pria dewasa itu.


"Apa yang kamu lakukan Selly.?


Reyno menatap Selly yang ada di depannya, mengigit-gigit kecil bibirnya menggoda dengan tangan yang yang menurunkan lengan blus yang dikenakannya hingga d*da kembar besarnya itu semakin menampakkan diri membuat Reyno hanya menelan salivanya.


Bagaimanapun Reyno adalah pria normal yang akan menegang jika di suguhkan pemandangan menggiurkan seperti ini. Hingga pakaian berwarna merah muda itu sudah lepas dari tempatnya dan hanya menutupi perut dan bagian intinya saja.


"Lihat tubuhku lebih menggoda dari Laila, d*daku lebih besar darinya, tentu saja permainanku kan lebih n*kmat darinya, terlebih lagi imurku jauh lebih muda darinya." Ucap Selly sambil mencondongkan d*danta di hadapan Reyno


"Selly tolong berhenti menggodaku, aku juga hanya lelaki normal."


Selly sama sekali tidak mengindahkan permintaan Reyno, ia justru menuntun Reyno untuk berpindah ke sofa, entah apa yang merasuki Reyno, pria dewasa itu hanya mengikuti arahan Selly, Wanita cantik itu berbaring di sofa dan menarik tengkuk Reyno, Reyno sungguh tidak bisa menahan godaan itu, terlebih lagi semenjak berpisah dengan Laila, ia tak pernah b*rcembu dengan wanita.


Tampa menunggu waktu lama, Reyno akhirnya larut dalam permainan Selly. Pria dewasa itu m*ncembui Selly dengan lembut sampai titik di mana ia ingin membenamkan miliknya tapi,


"Kau masih p*rawan.?"


"Ya.?"


"Apa kau tidak akan menyesal.?"


"Tidak."


Setelah puas bermin selama hampir sejam, Selly seperti kehabisan tenaga, benar-benar luar biasa, meskipun usianya sudah empat puluh lima, permainnya sungguh tidak bisa diragukan. Ucap Selly dalam hati dengan senyum bahagia. Reyno kemudian memakaikan kembali pakaian Selly lalu berbaring di atas Selly hingga pintu ruangan terbuka membuat meraka berdua sedikit terkejut


Bersambung....


******

__ADS_1


__ADS_2