
Andre yang sejak tadi berada di hadapan Revandra menganga dan memperhatikan glagat Revandra hingga matan mereka bertabrakan baru kemudian pamit pada Revandra.
"Aku pergi dulu,"
"Ok, jangan lupakan apa yang aku minta padamu tadi, mengapa ibu Aliya pergi dari kelurganya. secepatnya aku tunggu kabar darimu."
"Ok," jawab Andre lalu vangkit dari duduknya dan segera meninggalkan Revandara, dan cepat-cepat melangakhan kakinya, takut kalau-kalau Revandra memintanya melakukan hal-hal lain.
Sangat sulit Andre untuk percaya semuanya. selama ia mengenal Revandra, ia tidak pernah melihat sahabatnya itu bangkit hanya karna membayangkan gadis kecilnya. dulu Revandra akan melakukannya dengan wanita-wanta di luar sana saat hanya sedang butuh saja, tapi lihat sekarang, hanya dengan membayangkan tubuh gadia kecilnya, naluri lelakinya bangkit.
Andre benar-benar tak habis pikir dan masih begitu belim percaya dengan semua yang terjadi pada sahabatnya itu. Revandra yang tenag menjadi sangat tidak sabaran hanya karna gadis kecil yang ia besarkan dengan tangannya sendiri.
Di dalam mobilnya Andre kembali bergumam pada dirinya.
"aku tidak menyangaka Revan benar-benar menyukai gadis kecil itu. tapi sejujurnya aku masih penasaran dengan rasa yang Revand miliki terhadap putrinya, apakah benar-benar karna cinta, atau hanya karna gairahnya saja. Aku tidak ingin suatu saat nanti Revandra menyakiti putrinya sendiri. sejujurnya aku sangat menyayangi Aliya layaknya putriku sendiri." bergegas mengendarai mobilnya dengan laju rata-rata.
Di kamar hotel Revndra masih dalam lamunannya akan malam yang mendebarkan itu.
"Agrhh...! Aliya gadis kecilku, maafkan ayah sayang.!"
Revandara merindukan Aliya saat ini, ia sangat ingin memeluk tubuh gadis kecil itu, ingin sekali rasanya Revandra membawa Aliya ikut serta ke Amerika, tapi jika ia membawa Aliya maka study Aliya akan terhambat, apa lagi Aliya saat ini harus mempersiapkan materi-materi untuk semesster berikutnya.
****
Seminggu berlalu, Revandra telah kembali dari luat negri dan cepat-cepat melangkah ke kamar putrinya, ia sangat merindukan gadis kecil itu.
Pelan-pelan Revandra membuka kamar tidur Aliya, di dapatinya putrinya sudah terlelap karna waktu menunjukan pukul dua pulu lewat lima belas menit malam. Lelaki dewasa itu duduk di tepi pembaringan dan metap wajah gadis yang sedang terlelap di hadapanya itu.
Cup..!
Sebuah kecupan lembut mendarat di kening Aliya, gadis itu mengeliat dan terbangun, di diapatinya Revandra di hadapanya, ia langsung bangun dan memeluk sosok yang di rindukan selama seminggu ini.
"Aliya kangen ayah.!" sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Revandra.
"aku juga rindu padamu Aliya."
__ADS_1
Karna tak dapat menahan rasa rindunya, Revandra menc*um lembut bibir gadis itu, seketika gadis itu terbuai.
beberapa saat c*uman itu berlangsung hingga Aliya terengah-engah seperti hampir kehabisan nafas, Revanda menarik wajahnya dan melepaskan ciuman itu, baru kemudian membelai lembut rambut Aliya.
"Maafkan aku membangunkanmu Aliya."
"tak apa."
"Aku rindu padamu Aliya."
"Aliya juga rindu ayah,"
"Aku rindu tubuhmu."
Deg...! bedetak kencang jantung Aliya mendengar ucapan Revan yang vulgar itu, tapi Aliya berusaha bersikap tenang, bukankah selama ini memang itu yang gadis itu inginkan. Membuat Revabdra tergila-gila akan tubuhnya yang sexy dan tidak lagi mencari wanita di luar sana.
Aliya berinisiatif untuk menc*um Revandra, Rvandra menerimanya dengan senag hati, rupanya gadis itu sudah sedikit pandai dalam hal
menc*ium, apakah dia juga pandai dalam hal lain ? tanya Revandra dalam hatinya.
menc*umi Aliya, baru kemudian melepaskan satu persatu pakaian Aliya dan melemparnya ke sembarang arah, Aliya hanya menurut saja.
Lelaki dewasa yang sudah di kuasai oleh n*fsunya berbisik lembut ke telinga Aliya.
"Sayang, aku sudah tidak tahan. Bisakah aku melakukannya sekarang.?" gadis itu hanya mengangguk lantaran sedikit malu. setelah mendapat persetujuan Aliya, tampa berlama-lama Revandra segera saja menenggelamkan miliknya ke milik gadis itu.
"Agr.. Sakit," keluh Aliya.
"Maaf sayang, aku akan pelan-pelan" sambil menc*mbu bagian tubuh Aliya yang lain.
sesaat kemudian darah p*rawan segar mengalir membasahi seprai warna putih itu. Membuat Revandra tersenyum puas, sesuatu yang ia jaga selama lima belas tahun terahir, akhinya ia sendiri juga yang menikmatinya.
Malam itu Revandra melakukannya berkali-kali dan mencapai kepuasan berkali-kali pula, begitu pun dengan Aliya, mereka saling melepaskan kehangatan dengan cahaya sinar rembulan yang masuk lewat sela-sela jendela kamar Aliya.
Setelah merasa lelah, Revandra menghentikannya dan memeluk tubuh polos di sampingnya. Aliya yang terlihat sangat letih, menurut saja perlakuan Revandra.
__ADS_1
"Ayah, Aliya cinta sama ayah."
"Aku juga Aliya. aku akan menikahimu saat kuliah mu selesai."
"Kenapa harus saat kuliahku selesai.?"
"Aliya sayang, pendidikan itu penting.!"
Seketika Aliya melepaskan pelukan Revandra dan mengubah posiainya membelakangi Revandra. ia merajuk, sebenarnya ia sangat tidak ingin bersekolah lagi setelah mengakui perasaannya pada sang Ayah, yang ada di pikirannya saat ini adalah, merawat lelaki dewasa itu agar tak di rebut wanita lain.
"Aliya..." panggil Revandra sambil memeluk tubuh polos Aliya.
"Aliya tidak ingin sekolah, menurut Aliya buat apa sekolah tinggi-tinggi, toh juga nanti akan jadi ibu rumah tangga."
"Aliya... pendidikan itu sangat penting, meskipun nantinya juga akan jadi ibu rumah tangga, toh pengetahuan yang di dapat di sekolah bisa di ajarkan untuk anak-anak kelak."
"Buat apa, kan sudah ada Ayah yang mengajarkannya untuk anak-anak nanti, tugasku hanya merawat kalian saja." ucap Aliya sebal.
Revandra membalikkan tubuh Aliya supaya menghadapnya, ia lebih mendekatkan wajahnya ke wajah Aliya. dan mencoba membujuk gadis itu.
"Sayang, jika kamu tak ingin sekolah yang tinggi, setidaknya kamu harus tammat S1, setelah itu aku tidak akan memaksamu lagi."
"Benarkah.?"
"Ya..." melayangkan kecupan pada gadis itu, dan mendekapnya erat.
Malam kian larut, Revandra dan Aliya terlelap setelah saling melepas kehangatan. Perasaan Revandar kini benar-benat berubah, tak ada lagi rasa bersalah, ia akan berusaha menjaga Aliya seperti yang telah ia janjikan pada almarhum ibu Aliya. Meskipun lima belas tahun yang lalu Revandra menikahi ibu Aliya, namun tak sekalipun ia menyentuhnya, Ibu Aliya juga tak pernah meminta itu pada Revandra.
Pernikahan hanya berjalan seminggu saja, saat itu setelah mendapat sebut telfopon dari seseorang ibu Aliya tiba-tiba terkena serangan jantung, padahal tidak ada riwayat serangan jantung pada saat pemeriksaan kesehatan sebelumnya.
Hingga lima belas tahun berlalu, tak ada seorangpun yang tau kenapa ibu Aliya terkena serangan jantung yang begitu tiba-tiba. dan apa yang dikatakan oleh sipenelfon. Baru sekarang Revandra ingin mencari tahu semua itu, selama ini ia hanya bersikap cuek dengan penyebab meninggalnya ibu Aliya, karna Revandra fokus untuk merawat dan membesarkan Aliya
Tapi sekrang semua telah berubah, semenjak perasaan Revndra pada Aliya berubah, semua itu tak bisa lagi ia abaikan, ia benar-benar harus tahu apa yang terjadi, sehingga ibu Aliya pergi dari keluarganya, dan apa penyebab dibalik kematian Ibu Aliya. Revandra tak mau jika suatu saat keluarganya mengetahui keberadaan Aliya dan merebut Aliya darinya.
Bersambung...
__ADS_1
******