Sweet Temptation

Sweet Temptation
Cerita Aliya


__ADS_3

"Aliya" panggil Revadra pada Aliya yang sedang sibuk menikmati sarapanya.


"Ya ayah."


"Ayah harus pergi keluar negri, pesawat yang ayah kendarai berangkat siang ini." Aliya hanya tersenyum lirih pada Revandra.


Revandra merasa Aliya berubah sikap terhadapnya, seperti sedikit canggung untuk melihat lelaki dewasa itu.


"Ya sudah, Kamu lanjutkan makanmu, ayah harus segera pergi, selama ayah tidak ada kamu harus bersikap baik dan jangan menyebabkan banyak masalah."


Gadis itu hanya mengagguk tanpa mengeluarkan suara. Apakah ini gara-gara smalam ? tanya Revandra pada dirinya sendiri dalam hati, baru kemudian mencium kening Aliya tapi tetap saja gadis itu tidak merespon. Revanda kemudian meninggalkan Aliya yang masih dengan lahapnya menyantap makanannya.


Setelah Revandra berlalu, Aliya menarik nafas dan menghembuskannya pelan. sebenarnya ia sama sekali tidak merasa canggung, hanya saja ia sedikit kesal karna ayahnya ingin keluar negri tanpa membawanya, itulah makanya dia hanya diam saja. ingin sekali rasanya Aliya ikut namun tak berani meminta, karna jika dia ikut otomatis ia tidak akan kuliah, dan Aliya tau bahwa Revandra sangat mementingkan pendidikan.


Sebentar kemudian Aliya selesai dengan aktivitsnya di meja makan, rasanya malas sekali gadis itu untuk ke kampus hari ini, sehingga ia memutskun pergi ke kamarnya berencana untuk tidur saja.


Di kamar Aliya duduk di kursi tempat ia selalu belajar, gadis itu memandangi foto pernikahan ibunya dan Revandra lima belas tahun yang lalu, di ambilnya foto itu dan di tatapnya dalam-dalam


"Ibu apa kah Aliya salah jika Aliya tidak ingin kehilangan Ayah ? ibu, Aliya tidak tau perasaan apa yang Aliya punya untuk ayah, tapi setiap Aliya melihat ayah bersama dengan wanita yang berbeda-beda, Aliya sangat marah, ingin sekali Aliya menampar setiap wanita yang dekat dengan ayah itu. Ibu, apakah ini yang namanya cinta atau hanya sekedar perasaan tidak ingin kehilangan sosok ayah ?."


Begitu lama Aliya menatap foto itu, kemudian di lettakkannya kembali ke posisi semula, gadis itu berdiri dan berpindah posisi ke pembaringan. di ambilnya bantal guling lalu memeluknya dan mencoba memejamkan mata hendak tertidur.


Beberapa saat berlalu, Aliya tidak dapat tertidur walaupun sudah berusaha sekuat mungkin untuk memejamkan matanya. ia selalu saja teringat peritiwa semalam saat pria yang ia panggil ayah itu mencembunya dengan lembut, Aliya bahkn menikmatinya hingga mencapai kepuasannya.


(Setahuku akulah lovelymu, kau panggil aku beb, buatku merasa satu-satunya, tapi it...) nada dring ponsel Aliya, segera saja Aliya menerima panggipan itu setelah melihat nama Aren yang menghubunginya.


"Hallo, ada apa Ren.?"


"Kamu di mana kenap hari ini kamu tidak ke kampu Al, apa kamu sakit?" tanya Aren di ujung telfon.


"Aku tidak sakit, cuma malas aja, hari ini ayah berangkat keluar negri, jadi aku sendirian."


"Kalau gitu aku ke kerumahmu yah Al, tentu saja jika kamu tidak keberatan."


"Datang saja," jawab Alya singkat.


"Ok, tunggu aku." mematikan telfonnya dan bergegas kerumah Aliya.


Setelah panggilan berakhir, lagi-lagi Aliya terbayang dengan cembuan mesra Revandra. rasanya itu sangat sulit untuk di lupakannya, betapa tidak semua yang terjadi adalah pertama kali bagi seorang gadis yang tabu akan hal-hal seperti itu.

__ADS_1


"ahh....!" desah gadis itu sembari membenamkan wajahnya ke bantal yang ia peluk.


****


Aren sudah datang dan segera naik ke lantai atas di mana kamar Aliya berada setelah pelayan rumah itu mempersilahkannya masuk, cepat-cepat Aren masuk ke kamar Aliya dan mendapati sahabatnya itu tengah melamun.


"Aliya," panggil Aren, membuat Lamunan Aliya buyar.


"Kamu kenapa melamun gitu.?"


"Ren aku mau cerita boleh.?"


"Ya elah Al, cerita aja kali."


Sebentar Aliya bangun dan duduk berhadapan denga Aren, ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya kemudian


"Ren, benar apa yang kamu bilang, aku hanya bersikap seperti biasanya dan ayah benar-benar seperti ingin melahapku tanpa sisa.!"


Aren sebenarnya tidak mengeti apa yang di bicarakan Aliya, maka ia berusaha untuk menggali lebih dalam dan memahaminya.


"Apa makasud kamu ?"


"What.!"


"Kenapa kamu terkejut Ren, kan kamu sendiri yang mengajari aku untuk bersikap lugu di hadapan ayah, ya walaupun saya memang tidak terlalu mengerti dengan ****."


Aren terdiam sejenak lalu berkata pada gadis polos nan lugu di hadapannya itu.


"Aliya, aku terkejut bukan karna kamu benar-benar melakukan seperti apa kataku, aku terkejut karna... apa secepat itu kamu menggoda om Revan."


"Aku tidak menggodanya. aku hanya kepengen mencium pipi ayah seperti biasanya menandakan ucapan selamat malam sebelum tidur, tapi saat itu ayah memalingkan wajahnya dan kecupan itu menyambar bibir ayahku."


"Lalu apa selanjutnya yang terjadi.?" tanya Aren yang begitu penasaran. Aliya kemudian melanjutkan ucapannya karna tak tahan melihat wajah sahabatnya yang saat ini di penuhi rasa penasaran.


"Aku jadi kikuk dan sedikit kaget, aku hendak menarik bibirku tapi keburu di cium oleh ayah, aku tidak tau harus berbuat apa jadi aku hanya diam saja."


plak !


Sebuah tampran mendarat di kepala Aliya, tamparan manja dari seorang sahabat, Aliya jadi heran mengapa Aren berlaku demikian.

__ADS_1


"Apaan si Ren, mengapa kamu menampol kepalaku."


"Lagian kamu bodoh banget sih, kenapa saat om Revan menciummu, kamu malah diam saja."


Aliya sedikit sebel dengan Aren, belum juga Aliya melanjutka apa yang terjadi berikutnya Aren malah berkata seperti itu.


"Aku kan belum selesai ngomong kamu main tampol aja."


"Oh, belum selesai yah. sorry deh.! kalau gitu lanjutin dong.!"


Kembali Aliya melanjutkan ucapannya.


"Ayah, mencembuku, sampai aku terengah-engah bernafas, Saat ayah menyentuh bagian-bagian sensitifku rasanya begitu nikmat tapi juga menyiksaku. beberapa lama setelah itu ada seseuatu yang sangat nikmat, dan rasanya aku tidak bisa mendekspresikannya."


"Jadi om Revan sudah menodaimu."


"Tidak, Ayah tidak sampai melakukannya sampai sejauh itu, tapi Ren jujur meskipun hanya dengan cembuan ayah, aku sudah sangat puas dan berharap ayah tidak akan mencari wanita lain."


plak.!


kembali Aren menampol kepala sehabatbya.


"kenapa lagi kamu menampolku.?"


"Aliya, kalau hanya begitu saja, itu tidak menjamin bahwa om Revan tidak akan mencari wanita lagi."


"jadi aku harus apa Ren, aku kan sudah melakukan semuanya."


Begitu polos dan lugunya Aliya, ini semua karna om Revan terlalu membatasi Aliya dalam bergaul alhasil Aliya menjadi seperti ini. pikirnya.


"Aliya sayang, dengarkan aku baik-baik, kamu harus membuat om Revan melakukannya... ah, maksudku kamu harus membuat om Revan benar-benar menginginkanmu, bukan hanya sekedar cembuan tapi juga melakukan apa yang dilakunnya kepada wanita-wanita di luar sana, apa kamu mengeri Aliya.?"


Aliya hanya terdiam, sejujurnya ia tidak terlalu mengeti apa yang di maksud Aren, membut Aren benar-benar sudah kehabisan bahasa untuk menjelaskan pada Aliya.' Sudahlah percuma saja aku berbica panjang lebar pada gadis polos ini.' ucap Aren dalam hati.


Malam itu Aren menginap di rumah Aliya, Aren bahkan memperlihatkan vidio-vidio dewasa pada Aliya sambil menjelaskan apa yang terjadi di dalam vidio itu, berharap Aliya bisa mengerti setelah melihat vidio tersebut.


Bersambung...


******

__ADS_1


__ADS_2