Sweet Temptation

Sweet Temptation
Sedikit tak hiraukan Selly


__ADS_3

"Jadi.?" Tanya Aliya setelah mereka berkumpul di ruang tamu.


Reyno dan Selly duduk berseblahan dan Aliya duduk di hadapan mereka menatap dengan penuh pertanyaan. Tak ada di antara mereka yang berucap, membuat susana di selimuti ketegangan dan keheningan sampai Revandra mencoba mencairkan suasana.


"Aliya...!"


"Ay.! diam. Aku ingin mendengar langsung dari papa dan Aunty Selly.


Revandra kembali diam, sedang Reyno dan Selly saling melirik, hingga Aliya kembali bertanya.


"Aliya minta penjelasan, kenapa tidak ada yang mau berbicara."


"Aliya maafkan kami, jika kami mngecewakan mu tapi..." ucap Selly yang akhirnya memberanikan diri menjawab Aliya.


"Tapi apa aunty.?"


"tidak ada maksud kami untuk menyembunyikan hubungan kami pdamu nak,!"


"Jadi sejak kapan itu.?"


"Sejak aunty kembali.?"


"Apa.? sudah sejak saat itu, tapi papa tega menyembunyikannya semua ini pada Aliya."


"Maafkan kami nak.! kami tidak bermaksud."


"Jadi kapan kalian akan menikah.?"


Reyno dan Selly terkejut dengan pertanyaan terakhir Aliya, mereka memang sedang menjalin asmara, tapi belum ada fikiran untuk menikah,


"Kapan kalian akan menikah.?" Tanya Aliya kembali, ketika tidak mendapat jawaban.


"Eng...! kami belum memikirkannya Aliya."


"Baik."


Aliya kemudian beranjak dari tempat duduknya dan menaiki anak tangga lalu masuk ke kamar Revandra. Tak ada yang mengerti apa maksud Aliya.


"Bagaimana ini Revan.? apa Aliya marah.?" Tanya Selly pada Revandra.


"Mana aku tau, kalian hrus menyelesaikan masalah yang kalian buat sendiri." Ujar Revandra, kemudian menyusul Aliya masuk ke kamar.


Sebentar setelah Aliya dan Revandra berlalu, Reyno dan Selly saling menatap


"Tuan Reyno apa Aliya marah ya.?"


"Saya juga tidak tahu Selly."


"Jika memang Aliya tidak menyukai hubungan kita, sebaiknya kita akhiri saja."

__ADS_1


"Apa maksudmu Selly. saya bukan seorang pria bajingan yang akan membuang wanitanya setelah puas bermain."


"Tapi tuan Reyno, Aliya..."


Reyno kemudian menarik Selly dalam pelukannya, dan berbisik lembut di telinga wanita itu


"Tenanglah, mungkin putriku masih terkejut, kita akan menjelaskan semuanya setelah dia tenang. Dan jangan sekali-kali mengucapkan kata pisah, saya sungguh tidak menyukainya. Apa kamu paham Selly.?"


Selly hanya mengangguk. Setelah beberapa waktu, Reyno berpamitan pada Selly dan meninggalkan rumah Revandra. Tak mau menganggu Aliya, Selly kembali ke kamar dan segera membaringkan tubuhnya di samping Aren yang sudah terlelap. Sedangkan Aliya yang berada di kamar Revandra duduk termenung di kursi depan cermin, menatap bayangannya sendiri di cermin itu.


Revandra kemudian melangkah ke arahnya dan sedikit menunduk, memeluk bahu Aliya dari belakang.


"Apa yang kau pikirkan sayang.?"


"Tidak ada.?"


"Apa kau marah dengan papamu dan Selly.?"


"Tidak, hanya saja, Aliya sedikit terkejut Ay.!"


Revandra kemudian memutar tubuh Aliya hingga menghadapnya, lalu berjongkok di depan gadis itu seraya meremas jari-jari Aliya.


"Sayang.! papamu juga adalah lelaki normal, dia juga butuh penghangat tempat tidur, apa lagi sudah lama ia berpisah dengan bibimu."


"Lalu apa yang harus Aliya lakukan Ay.?"


"Biarkan mereka menikmati cintanya,"


"Nah, itu baru gadis kecilku, kau tampak cantik dengan senyum seperti itu."


Revandra kemudian perlahan mendekatkan wajahnya dan menjatuhkan kecupan pada bibir mungil gadis itu, baru kemudian menuntun Aliya ke tempat tidur, mereka saling berpagut, melepaskan kehangatan malam itu.


***


Esok pagi Revandra sudah berangkat ke kantor, sedang Aliya tetap di rumah, gadis itu sengaja mengabil cuti di kampus, karna ingin fokus memikirkan tentang pernikahannya dua bulan lagi. Saat itu Aliya sedang bersantai di ruang tamu sambil menikmati cemilan-cemilannya dan tak lupa sebuah tab di tangannya untuk mencari gaun apa yang ingin i kenakan di pernikahannya. Selly nenghampirinya namun Aliya tetap sibuk dengan tab dan cemilan di tangannya.


"Aliya.! jika kau terus mendiamiku seperti ini, lalu apa gunanya aku tinggal di sini, sebaiknya aku kembali saja." Ucap Selly dengan hati-hati tapi Aliya tetap saja fokus pada tabnya.


Merasa tidak di hiraukan sama sekali, Selly beranjak dan hendak meninggalkan rumah itu.


"Aunty mau kemana.?" Tanya Aliya yang tiba-tiba mengejutkan dan menghentikan langkah Selly."


"Bukankah kau tidak menyukaiku, jadi sebaiknya aku pergi saja."


"Aliya tidak bilang, kalau Aliya tidak menyukaimu.?"


"Lalu mengapa kau mendiamiku Aliya.? apa kau tau hatiku sangat sakit saat kau tak mau berbicara padaku, dan bahkan mengabaikanku."


"Tidak Aunty, Aliya hanya tidak setuju jika papa dan Aunty hanya menganggap suatu hubungan sebagai jalan menyalurkan kehangatan saja. Aliya hanya kepengen hubungan papa dan aunty tidak sebatas itu, jadi Aliya pengen papa dan Aunty menikah sebelum pernikahan Aliya dan Revandra."

__ADS_1


Selly kembali duduk di hdapan Aliya, di satu sisi, ia senang Aliya tidak marah tentang hubungannya dengan Reyno, tapi di sisi lain, Aliya meminta sesuatu yang belum tentu bisa ia lakukan, menerut Selly pernikahan bukanlah sesuatu yang harus di putuskan begitu saja, semua harus ada persiapan dengan matang.


"Jadi bagaimana aunty.? apa aunty siap menikah dengan papa secepatnya.?"


"Siap sayang.!" Ucap Reyno dari arah pintu.


Pria dewasa itu melangkah masuk dan duduk di samping Selly,


"Papa siap menikahi Selly."


"Tapi tuan Reyno, pernikahan buknlah sesuatu yang hrus di putuskan dengan tergesa-gesa."


"Saya tidak tergesa-gesa Selly, putriku juga tidak keberatan, begitu pula dengan Danile."


Setelah Selly menyutujui untuk menikah dengan Reyno, Aliya senang, karna menurutnya jika Selly menikahi Reyno, itu berarti Selly tidak akan pergi lagi dari sisinya, seperti beberapa tahun yang lalu. Seminggu berlalu, setelah kesepakatan, Reyno dan Selly mendaftarkan pernikahannya di KUA, dan hanya mengelar pestas kecil saja. Revandra dan Aliya memberi ucapan selamat pada mereka.


"Apa kau bahagia Selly.?" Tanya Revandra,


"Ya,"


"Sekerang semunya sudah selesai, tinggal kalian, tentunya kalian juga harus fokus pada pernikahan kalian yang teraisa sebulan lebih." Sergah Reyno.


"Tenang saja papa, Aliya sudah fiting baju, dan tempat, tentunya resepsi pernikahan Aliya, akan bertempat di rumah kita. Apa papa keberatan.?"


"Tentu saja tidak sayang, papa justru sangat senang.!"


Malam hari setelah acara, Reyno dan Selly memilih menginap di hotel,


"Setelah ini, di mana kamu akan mebawaku untuk tinggal.?"


"Tentu saja di rumah keluarga Mintle,


"Tidak.! saya tidak pantas tinggal di sana."


"Tenanglah Selly, itu bukan permintaanku, tapi Danile yang memintanya, kita akan tinggal di rumah itu, hingga Danile menikah, setelah itu kita akan mencari tempat tinggal sendiri."


Selly hanya mengangguk. Reyno kemudian menatap wajah cantik wanita yang baru saja ia nikahi, Mengangat dagu wanita itu, kemudian melayangkan kecupan panas di bibir Selly, Beberapa lama kecupan itu berlangsung, hingga Selly terengah-engah. Sadar akan Selly yang hampir kehabisan nafas, Reyno melepaskan ciumannya, baru kemudian melepaskn gaun tidur Selly lalu menindihnya.


Seluruh bagian tubuh Selly telah tersapu dengan ciuman Reyno, membuat wanita itu sesekali memekik,


"Saya mencintaimu Reyno." Ucap Selly di sela desahannya.


"Saya juga." Jawab Reyno, lalu melanjutkan aktifitasnya, hingga wanita itu merasakan kenikmatan yang tiada tara.


Bersambung...


******


Just info para readesku yabg setia😍

__ADS_1


tersisa beberapa chap lagi😁


__ADS_2