Sweet Temptation

Sweet Temptation
Akibat kejadian di Mall


__ADS_3

"Polisi, angkat tangan, jangan bergerak !!" tidak menunggu waktu lama, beberapa polisi berdatangangan ke tempat itu."


"Presedir Revan." sapa salah seorang polisi yang hadir di tempat itu.


"Emmm.." hanya suara itu yang terdengar oleh polisi yang menyapa Revandra. Baru kemudian menjemput Aliya yang sedari tadi hanya menagis karna masih syhok. Revandra memakaikan jasnya kepada Aliya, yang sudah hampir telanjang,


"Aliya, semuanya akan baik-baik saja, aku sudah di sini, ayo kita pulang. ok.!" sambil menggendong Aliya. akhinya gadis itu berhenti menagis tapi masih terisak menahan sakit yang ada di di pipinya.


Di rumah


"Panggil semua menejemen di Mall Rubby untuk datang kemari, lalu tutup Magic cook Restaurant itu." Teriak Revandra yang sangat marah dengan kejadian yang menimpa putri kesayanganya. Kemudian membawa Aliya kekamarnya, seorang dokter telah menunggu untuk memeriksa keadaan Aliya.


"Dr.Lisa, tolong berikan pemerikasaan kepadanya, aku akan mengambilkan piayamnya."


"Baik Presedir Revan".


Setelah pemeriksaan selesai, Dr.Lisa hendak mengganti pakaian Aliya, namun gadis itu menolak.


"Dokter panggilkan ayahku." disela isak tangisnya, Dr.Lisa lelu memanggil Revandra dan meninggalkan kamar itu, Revandra masuk ke kamar di dampingi sekertarisnya.


"Apa semua menejemen Mall Rubby sudah datang.?"


"Ya tuan, dan beberapa orang yang anda inginkan masih dalam perjalanan"


"Ok, biarkan mereka menunggu terlebih dahulu."


Revandra melangkah ke arah Aliya dan hendak melepaskan jas yang di balutkan ke tubuh gadis itu bertujuan untuk menggantinya dengan piama. Tapi karna masih takut dengan apa yang menimpanya, Aliya menangis sekencang-kencangnya


"Tidak..."


"Jangan takut, kamu harus melepaskan pakaian mu sebelum mandi, dan luka-lukamu harus diberi obat agar tidak membengkak dan meninggalkan bekas"


"Ayah... seseorang yang lain telah melihat tebuhku."


"Sayang, tidak ada yang melihat, kamu melindungi dirimu dengan baik, tidak ada yang melihatnya."


"Benarkah.?" tangisnya mulai mereda setelah lelaki dewasa itu membujuknya, dan Aliya segera mandi.


"Tuan Revan, ini susu untuk Nona Aliya, dan semua orang yang anda inginkan sudah ada di sini." kata seorang pelayan setelah Revandra mempersilahkannya masuk,

__ADS_1


"Humm... biarkan mereka menunggu lebih lama." sambil mengerutukkan giginya.


"Ayah, apakah Aliya membuat masalah." kata Aliya yang sudah mengganti pakainya dengan piama,


"Tidak sayang, putri ayah tidak membuat masalah.


"tapi aku yang memukul pria botak itu duluan."


"Kalau begitu merekan pasti jahat."


"Tidak hanya jahat ayah, kedua wanita itu juga mencaci maki aku, mereka juga diam-diam mengambil foto ayah, bahkan meraka bilang akan membuka bajumu dan tidur di sebelahmu ayah." kata Aliya menatap wajah lelaki yang ia panggil ayah itu, entah mengapa, Revandra yang mendengar caci maki Aliya sangat senang, ada perasaan tersendiri dalam hatinya yang tidak bisa dia jelaskan.


"Jadi kamu marah karna itu ?" tersitat senyum yang tersembunyi di bibirnya.


"Mereka ingin menjadi istrimu, lalu Ayah, apakah ayah akan mencari istri.?"


"Tidak sayang, selama kau ada di sisiku" jawab lelaki dewasa itu sembali mengelus pipi Aliya yang membuat gadis cantik itu merasakan hal yang berbeda 'ah, hatiku yang kacau menjadi lebih tenang, apa karna tangan ayah hangat.?' pikir gadis itu dalam hatinya, Tak menunggu waktu lama, Aliya tertidur sambil duduk dalam pelukan ayahnya


"Ah, gadis ini tertidur sambil bersandar padaku," membaringkan tubuh Aliya yang sudah tertidur pulas.


Di lantai bawah semua orang yang diinginkan Revandra sudah berkumpul tak terkecuali si botak yang memukul Aliya, yang kini kondisinya sangat parah, tubuhnya dibalut dengan perban karna luka-luka yang ia dapatkan dari Revandra yang menghantamnya berulang kali.


"Kita sudah menunggu selama satu jam, kenapa Presedir Revan belum juga turun.?" salah satu menejemen yang ada di Mall Rubby membuka suara.


"Pelayan, kapan peresedir akan turun.?


"nanti setelah Nona Aliya menyelesaikan urusannya. Tunggulah sebentar lagi.


Satu setega jam berlalu, Revandra denga wajah yang dipenuhi amarah dan emosi itu akhirnya muncul menuruni anak tangga, lalu duduk di sofa layaknya seorang bos, pelayannya memberikan secangkir kopi kepadanya. Lelaki dewasa dengan amarahnya itu menyeduh kopinya sebentar dan berkata


"Berapa banyak dari kalian yang tahu bahwa ada kejahatan yang terjadi di Mall Rubby.?


"Apa ada yang terjadi.?" sahut salah satu pihak menejemen Mall Rubby.


"aku tidak diberi tahu apa-apa" sambung pihak menejemen yang lain.


Prang...!!!


Cangkir kopi yang di pegang Revandra dilemparkan ke depan para pihak menejemen Mall, dengan sangat marah Revandra berteriak di hadapn mereka.

__ADS_1


"Luar biasa, seseorang hampir saja meninggal di Mall, tapi tidak ada yang tahu, karna kalian tidak tahu apa-apa kenapa kalian tidak pergi saja.?"


"Presedir Revan, kami salah dalam hal ini, kesadaran kami dalam keamanan Mall kurang kuat, dan menejemen kami tidak ketat. Nantinya..." belum juga pihak menejemen itu melanjutkan kata-katanya, Revandra memotongnya dengan suara tegas dan penuh amarah.


"Tidak ada nanti, kalian semua dipecat."


"Presedir Revan, kami semua adalah karyawan lama, utuka kami dipecat dalam umur setua ini... kami punya orang tua dan anak-anak yang perlu diurus,"


Revandra kemudian berdiri dengan amarahnya yang meluap-luap


"apa kalian pikir aku melakukan program amal.?"


"Presedir Revan ini tidak adil, anda memecat begitu banyak karyawan hanya karna masalah sekecil ini ? tidak akan ada orang yang berani bekerja di perusahaan anda di masa depan." jawab pihak menejemen mall, yang membuat Revandra semaki bertambah amarhnya, ia kemudian menghentakan dengan keras kedua tanganya di meja dan menatap para pihak menejemen Mall dengan tatapan membunuh.


"Putriku, Putri Revandra Gramentha tidak hanya dianiyaya oleh seseorang, dia juga hampir saja kehilangan nyawanya, apa kamu mengatakan ini adalah hal kecil.?


"Apa...? serentak para pihak menejemen Mall terkejut dan menjadi takut,


"Kalian semua pergi dari sini." setelah para pihak menejemen berlalu, Revandra kembali duduk dan menatap beberapa orang yang berlutut di lantai dengan tangan mereka diikat, teman si botak itu memberikan penjelasan bawha kedua wanita itulah yang menyuruh mereka melakukannya, dan membayar si botak dan temannya dengan sejumlah uang


"kalian berdua adalah kryawan dari perusahaan Gramenta.?'


Salah satu wanita itu hendak menjawab, sesuatu terbersit dipikirannya, 'Kalau aku bisa merayu Presedir Revan, mungkin situasinya tidak akan seperti ini.' pikir wanita itu hendak merayu Revandra.


"Presedir Revan, sebenarnya aku..."


"Diamlah, aku tidak ingin melihat wajahmu yang sangat menjijikan, aku tidak main tangan dengan wanita sebelumnya, tapi aku tidak berncana melepaskan kalian. Serahkan si botak dan temanya ini ke kantor polisi. Dan untuk kalian berdua, hitung berapa banyak berapa kerugin yang didapat Putriku Aliya hari ini. Lalu biarkan mereka membayar kompensasinya, baru lemprrkan juga mereka ke kantor polisi.


Kepala pelayan mulai menghitung kerugian yang didapatkan Aliya.


"Ini adalah terusan mewah dari salah satu merek mewah AAED, dan ini di buat khusus untuk Nona Aliya oleh desainer merek tersebut, harganya lima ratus dua puluh sembilan juta, dan tas edisi terbatas ini, seharga lima ratus juta, jadi totalnya adalah satu meliar dua puluh sembilan juta, kalia berdua bayar kerusakannya sebelum kalian ke kantor polisi,"


Mendengar harga barang-barang yang di pakai Aliya tadi, kedua wanita itu terkejut,


"apa ? satu miliar lebih, tapi kami tidak punya uang sebanyak itu."


"Baiklah, kalau begitu kami bisa meminta pengadilan untuk memberi hukuman yang pantas, dan menyita properti kalian dan memelelangnya untuk membayarnya." jawab kepala pelayan itu, Lalu Revandra berbalik ke arah kedua orang yang sejak tadi hanya diam.


"Lalu siapa kalian.?"

__ADS_1


******


__ADS_2