
"Aunty kita ada di mana.?" Tanya Aliya ketakutan sesaat setelah ia sadar dan mendapati dirinya berada di tempat yang asing.
Kedua tangan dan kakinya diikat, begitu pula dengan Selly, ia tak bisa bergerak sama sekali, melihat Aliya ketakutan Selly mencoba menenangkan gadis itu.
"Sayang.! jangan takut, kamu harus tenang." Gadis itu mengangguk pelan.
Dua jam sebelunya Selly dan Aliya masih berada di parkiran menunggu Reyno sedang menerima panggilan, tetapi tiba-tiba dua pria besar muncul dari arah belakang mendekap mulut Selly dan Aliya dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius. Dua pria itu kemudian membawa Selly dan Aliya ke sebuah tempat yang terpencil di pinggiran kota.
Di tempat lain Reyno, Revandra, sudah pusing mencari keberadaan Aliya dan Selly, hingga malam, tapi mereka tak kunjung menemukan Aliya dan Selly di manapun. Revandra juga memberi tahu Axcel dan Danile masalah menghilangnya Aliya dan Selly, sedang Andre dan Aren tidak diberitahu karna Andre sedang melakukan perjalanan bisnis, dan Aren ikut bersama.
Kembali pada Aliya dan Selly yang semakin ketakutan, terlebih lagi dua pria bertubuh kekar menghampiri mereka dengan tatapan penuh nafsu.
"Si...siapa kalian.? mau apa.?" tanya Aliya dengan ketakutannya.
"Tenang saja cantik, kami di perintahkan untuk menikmati tubuh kalian" Ujar salah satu pria itu sambil menjilat bibir bawahnya, membuat Aliya menatapnya sangat menjijikan.
Kedua pria itu semakin mendekat, lalu berjongkok di hdapan Selly dan Aliya, kemudian memegang dagu Aliya penuh nafsu.
"Lepaskan tangan menjijikanmu dari wajahnya." ucap Selly geram.
"Rupanya kau sudah tidak sabar ya manis, tenang saja, setelah bermain dengan gadis ini, kami juga akan bermain denganmu."
Karna takut Aliya menangis sekencang-kencangnya, tubuhnya semakin gemetar di kala salah satu pria itu merobek lengan kaos yang ia kenakan,
"Tolong, tolong jangan, jangan lakukan itu padaku." Teriak Aliya memohon dalam tangisnya, tapi kedua pria itu terus merobak baju Aliya, sedangkan Selly hanya bisa bertetiak meminta mereka menghentikan perbuatannya.
Hingga sobekan baju Aliya sampai di bagian dadanya, memperlihatkan bra warna hitam yang di kenakan oleh gadis itu, membuat pria yang merobeknya semakin berg*irah, seolah-olah hampir meneteskan air liurnya. Saat pria itu hendak meremas d*da kenyal Aliya, tiba-tiba tindakan pria itu terhenti ketika dua orang lelaki datang.
"Lepaskan tangan menjijikanmu dari gadis itu,"
Mereka serentak menoleh, ke arah lelaki yang baru saja datang, Lelaki itu semakin mendekati mereka, lalu menarik kerah baju pria itu.
"Kak Axcel, kak Danile..." Panggil Aliya yang masih dalam tangisnya.
Axcel dan Danile kemudian menghajar kedua pria tersebut,
"Tangan mana yang kau gunakan untuk menyentuhnya.? atau kau menyentuhnya dengan kedua tanganmu.?" Tanya Axcel geram.
"Siapa kau, kenapa kau mengacaukan urusan kami.?"
Axcel tak menjawab pria itu melainkan memelintir kedua tangan pria itu hingga patah, kemudian memutar lehernya sampai pria itu terbaring tak berdaya, tak samapi di situ, Axcel kembali menginjak kedua tangan pria itu. Sedang pria yang di tangani oleh Danile sudah tidak bernyawa, lantaran Danile membunuhnya karna sangat marah mereka melecehkan adik kesayangannya seperti itu.
Setelah selesai dengan kedua pria tersebut, Axcel segera melepaskan ikatan tangan Aliya, sedang Danile melepaskan ikatan Selly. Aliya segera memeluk Axcel dengan tubuh yang masih gemetaran. Axcel kemudian membuka jasnya dan membalutkan ke tubuh gadis itu.
__ADS_1
"Dari mana kalian mengetahui keberadaan kami.?" Tanya Selly.
"Sebelumnya maafkan aku Aliya, aku sangat takut jika sesuatu terjadi padamu, jadi aku menyelipkan alat pelacak pada sepatu yang ku berikan padamu tempo hari, kebetulan hari ini kau memakai sepatu yang kuberikan dan dari situlah aku tau di mana keberadaan kalian, apa kau marah.?" Aliya menggeleng membuat Axcel bernafas lega.
Pok pok...!
Suara tepuk tangan menghentikan percakapan mereka, lalu menoleh ke sumber suara itu. Mereka terkejut dengan kedatangan seorang wanita yang mereka kenal dengan beberapa orang pria berbadan besar dan bertato di sampingnya.
"Wah...wah...!, romantis sekali kalian ini, Kau sunggu seorang gadis j*lang Aliya, kau sudah bersama Revandra, tapi kau justru berpelukan mesra dengan lelaki lain di sini."
"Tante Emma.?" Sahut Aliya terkejut.
"Jadi kau yang merencanakan semua ini.?"
"Ya,"
"Apa.?"
Terdengar suara Revandra yang baru saja datang bersama Reyno dan beberapa orangnya, sebelumnya Axcel telah memberitahu lokasi Aliya pada Revandra setelah dia menemukannya
"Revan.?" Emma terkejut.
"Kau sungguh wanita laknat." Geram Revandra sambil melangkah ke arah Aliya lalu meraih gadis itu ke pelukannya. Sedang Selly berlari ke pelukan Reyno.
"Jika aku tidak bisa mendapatkan kau, maka gadis itu juga tidak bisa, sekalian saja kalian meti bersama."
"Emma, apa yang kau lakukan."
Tapi Emma tidak menjawab, ia kemudian menarik pelatuk
Dor...!
"Tidak..." Teriak Aliya sambil menutup kedua matanya, setelah beberapa saat, karna tak merasa sakit sedikitpun. Aliya kembali membuka matanya dan mendapati Axcel sudah terbaring di tanah dengan luka tembak di dada bagian kanannya, Aliya gemetaran melihat keadaan Axcel yang rela berkorban untuknya. Ia melepaskan pelukan Revandra dan tersungkur di tanah lalu meraih Axcel di pangkuannya.
"Kak Axcel, bertahanlah, kumohon." Ucap Aliya dalam tangisnya
"Aliya, aku mencintaimu." Sambil memegang pipi Aliya dengan tangannya yang berlumuran darah,
"Kak Axcel, kau pasti selamat, tolong bertahanlah."
"Kabulkan satu keinginanku Al,"
"Apa itu, aku akan mengabulkannya asalkan kak Axcel bisa bertahan."
__ADS_1
"Peluk aku untuk yang terakhir."
Aliya segera memeneluk Axcel setelah menatap dan mendpat persetujuan dari Revandra, sangat sakit bagi Revandra menyaksikan kejadian itu, tapi ia juga tidak bisa melakukan apa-apa terhadap orang yang sedang sekarat. Hingga tak ada lagi pergerakan dari Axcel, Aliya melepaskan pelukan itu dan menatap lelaki itu sudah tidak sadarkan diri. Aliya menagis sekencang-kencangnya dan juga ikut tidak sadarkan diri.
"Ack..! satu kekasih sudah lenyap, tinggal satu lagi, Kalau begitu aku akan menghabisi kalian semua." Kembali Emma menodongkan p*stol, tapi itu ke arah Reyno,
Dor...!
Kembali suara tembakan mengema di ruangan itu, betapa terkejutnya Reyno mendapati Danile menghadang tembakan itu. Emma lagi-lagi hendak menodongkan pistol tapi dengan sergap Selly melempar tangan Emma dengan sepatunya membuat p*stol itu terjatuh, lalu Selly meraihnya, dan berganti ia yang menodongkan pistol ke arah Emma, membuat wanita itu melangkah mundur
"Danile, kenapa kau melakukan ini nak.?"
"papa, meskipun anda bukan papa kandungku, tapi aku sudah menganggapmu seperti dia."
"Aku tidak pantas untuk itu Danile, aku, sudah membunuh ayah kandungmu."
"Danile tau papa.!"
"Lalu kenapa kau diam saja nak,?"
"Karna Danile merasa itu sudah berlalu, dan tak perlu untuk di ungkit lagi." Ucap Danile lalu tidak sadarkan diri.
Reyno sangat berapi-api, ia berdiri dan melangkah ke hadapan Emma, sementara orang orang yang ia bawah juga sudah membereskan pria-pria sewaan Emma. Sedangkan Revandra masih sibuk pada Aliya dan Axcel
"Ma...mau apa kau.?" Tapi Reyno tidak menjawabnya, ia kemudian mencengkram leher Emma, dengan sekuat tenaga.
"Reyno, apa kau tau istrimu juga terlibat dalam penculikan ini." Ucap Emma di sela-sela kesakitannya. Reyno terus mencengkramnya hingga Emma tidak sadarkan diri.
"Kau, bawa dia kerumah sakit, potong lidahnya, dan kedua kakinya, agar dia tidak datang untuk menganggu putri dan putraku lagi," Titah Reyno pada salah satu orangnya.
Mereka kemudian membawa Axcel dan Danile ke rumah sakit berharap bisa menyelamatkan nyawa mereka.
Di rumah keluarga Aliya, seseorang berseragam polisi datang dan menemui Laila.
"Nyonya Mintle, anda kami tahan karna kasus percobaan pembunuhan dan hampir menewasakan saudara Danile,"
Ucapan pria berseragam polisi itu di dengar oleh lelaki tua Mintle, membuat sesak nafasnya kambuh dan meninggal di tempat, hanya para pelayan yang menyaksikan hal tersebut
Dengan paksa Laila mengikuti pria berseragam itu, dan masuk ke mobil meninggalkan rumahnya. Di perjalanan ia sedikit heran karna mereka tidak sama sekali mengarah ke kantor polisi.
Bersambung...
******
__ADS_1