
Sudah sejam Andre menunggu kedatangan Revandra, lelaki itu di temani oleh seorang gadis muda, ia mulai sedikit kesal, tapi kekesalan itu berubah seketika saat Revandra duduk di hadapannya tanpa suara.
"Jadi apa yang kau dapatkan kali ini
? tanya Revandra yang lagi-lagi bersikap tidak sabaran.
"lihatlah sendiri" sambil melemparkan map itu ke meja.
Sebelum Revandra mengambil map itu, ia terlebih dahulu beralih pandang pada gadis yang duduk di sebelah Andre,
"Apa kau sedang berkencan dengan gadis ini Andre.?"
"Ya, apa ada masalah.?"
"Tidak, taukah kau bahwa gadis ini adalah satu-satunya sahabat gadis kecil itu.?"
Tak,,,
Terkejut Andre mendengar ucapan Revandra, saat ini ia memang sedang memelihara Aren, tapi ia tak pernah tahu bahwa gadis yang ia pelihara adalah sahabat Aliya, sedang Aren diselimuti rasa takut, takut kalau-kalau Revandra akan melarangnya untuk bergaul dengan Aliya setelah lelaki itu tau tentang Aren.
"Ok, tak mesalah dengan itu, kau boleh tetap bergaul dengan Aliya," ucap Revandra, seakan-akan tahu apa yang di pikirkan Aren.
"Terimah kasih om Revan." jawab gadis itu sambil menunduk.
Tampa berlama-lama lagi Revandra meraih berkas yang di berikan Andre padanya, meneliti apa yang ada di dalamnya. Revandra mengkerutkan dahinya seakan tidak puas denga apa yang Andre berikan padanya.
"Apa hanya ini yang mampu kau dapatkan.?"
"Itu baru separuh Revan, yang lainnya akan menyusul beberapa hari lagi."
"kenapa harus menunggu beberapa hari.?"
"Tidak mudah untuk mencari tahu apa yang terjadi, seperti yang kau lihat pada berkas itu, ibu Aliya tidak di usir dari keluarganya, tapi ia dinyatakan meninggal bunuh diri dan mayatnya tidak ditemukan, tapi seperti yang kita semua tahu ibu Aliya meninggal karna serangan jantung mendadak. sepertinya ini tidak mudah Revan, aku sudah mengerahkan beberapa anak buahku untuk mencari tahu, tapi sepertinya semua jejak tentang ibu Aliya sudah di hilangkan dengan sengaja."
Sejenak Revandra berfikir, baru kemudian Andre melanjutkan ucapannya.
"Ada satu hal yang membuatku bingung."
"Apa itu Andre.?"
"Setelah ibu gadis kecil itu dinyatakan meninggal, tiba-tiba saja muncul kasus perselingkuhan antara ibu Aliya dan suami dari saudara kembar ibu Aliya. terlebih lagi tiba-tiba Ayah dari gadis kecilmu itu menikahi saudara kembar ibu Aliya tampa tau bahwa sebenarnya ibu Aliya tidak meninghal, mungkin ada konspirasi di dalam kerluarga itu," jelas Andre.
Revandra meneguk wine sekali dan berdiri hendak pergi, sebelum itu, ia kembali menatap Aren yang sejak tadi hanya diam mendengarkan percakapan mereka.
__ADS_1
"kuharap kau tidak memberi tahu Aliya tentang hal ini."
"Baik om Revan.!"
"Dan tetaplah menjadi teman yang baik untuknya, aku tidak ingin dia kesepian, dan tolong laporkan padaku jika ada sesuatu yang aneh tentang Aliya."
"Baik om"
Revaandra berlalu meninggalkan Andre dan Aren, Andre kemudian berbalik menghadap gadis itu.
"Aren, apa Aliya tahu pekerjaanmu.?"
"Tahu,!"
"apa dia tidak keberatan tetap berteman denganmu.?"
"Tidak.."
"Bagus, tapi tetaplah rahasiakan apa yang kau tahu hari ini, aku tak mau kau menjadi amukan Revandra jika sesuatu terjadi pada gadia kecil itu,"
Andre membelai lembut Rambut gadis di hadapanya, terbersit rasa ingin memiliki gadis itu sepenuhnya,
"Aren, apa kau merasa senang bersamaku.?"
"Lalu apa kau tidak keberatan jika tetap bersamaku.?"
Gadis itu terdiam, mencoba menagkap arti kata-kata Andre, sejenak ia tersenyum hangat pada lelaki di hadapannya itu.
"Maksud anda apa pak.?"
"Berhenti memanggilku pak.! kita sudah lama bersama, bahkan pertama kalimu kau berikan padaku,"
Lelaki yang dua tahun lebuh muda dari Revandra itu, meraih tangan Aren, dan meremas jemari-jemari Aren. berdetak kencang jantung gadis itu, selama ini ia mejadi peliharaan Andre, tapi baru kali ini lelaki itu bersikap serius, dan biasanya lelaki itu hanya menghubunginya saat ia ingin melampiaskan hasratnya saja.
"Aren." panggil lelaki itu membuyarkan lamunan Aren.
"Ya.! "
"Jujur saja, selama ini aku menahanmu di sisiku bukan hanya karna aku ingin memeliharamu, tapi sejujurnya aku tidak ingin kehilangan kamu, beberapa waktu yang lalu Revandra menyadarkanku, bahwa umur tidak membatasi seseorang dalam percintaan.
"Maksud anda apa.?"
"Aren, menikahlah denganku.!"
__ADS_1
Dag dig dug !, berdetak kecang jantung Aren, ia tak menyangka sugar dedynya begitu menyukai dirinya.
"Tapi..."
"tak usah tapi-tapi, bosok kau kemas semua barang-barang di apartemenmu, dan pindah ke tempatku, aku juga hanya tinggal sendiri."
"Tapi, bagai mana dengan leluarga anda, apa yang akan mereka katakan."
"Suutt..! aku juga sepertimu Aren, aku tak punya siapa-siapa, andai saja waktu itu aku tidak bertemu Revandra, mungkin aku tidak sesukses sekarang."
Air mata Aren mengalir, deras, tenyata bukan hanya dirinya yang tidak punya siapa-siapa di dinia ini. melihat gadis itu meneteskan air mata, Andre menyekanya dan memeluk erat sambil mengusap lembut Rambut gadis itu.
"jadi bagaimana.? apa kau setuju pindah bersamaku.?" tidak ada jawaban yang keluar dari bibir gadis itu, ia hanya mengangguk menandakan setuju dengan Andre.
***
Siang itu Aliya baru pulang dari kampus dan mampir di perusahaan Revandra, ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan lelaki itu, segera saja ia berlari menuju ruangan Revandra, tak ada karyawan yang berani menegur tingkah Aliya, meskipun mereka tau bahwa di perusahaan tidak di perbolehkan berlarian oleh Revandra tapi aturan itu tidak berlaku bagi putri pemilik perusahaan.
"Mengapa kau berlari sayang.?" tanya Revandra setelah Aliya masuk keruangannya dan merebahkan tubuhnya di sofa ruangan itu
"Tidak, ! Aliya hanya pengen berlarian saja."
lelaki itu hanya tersenyum melihat tingkah Aliya yang menurutnya lucu.
"Ayah, Aliya lelah"
"Ok.! kamu bisa istirahat di dalam kamar itu." ucap Revandra sambil menunjuk ke arah kamar yang memang khusus di sediakan untuknya di ruang kerjanya.
Aliya hanya mengangguk dan berdiri melangkah ke kamar yang di tunjukan Revndra, di dalam kamar terdapat sebuah ranjang berseprai biru malam, seperti warna favorite Aliya, tak lupa dengan lampu dan lemari yang berisikan pakaian Revandra.
Aliya melepaskan pakaiannya dan mengantinya dengan salah satu kemeja milik Revandra yang ada di lemari, kemudian membaringkan tubuhnya di kasur busa yang empuk. Tak buruh waktu lama, Aliya tertidur pulas, karna hari ini ia memang sangat lelah, terlebih lagi ia membantu Aren mngemas barang-barangnya.
Waktu menujukan pukul dua puluh dua malam, Revandra telah selesai dengan pekerjaannya. lalu cepat-cepat masuk ke kamar dan ditemui gadis kecilnya sudah terlelap. ia kemudian melangkah ke arah ranjang dan duduk di tepi, mengusap lembut pipi gadis itu. baru kemudian mengecupnya lembut di kening, dan kecupan itu jatuh ke bibir mungil gadis itu.
Sebenarnya Revandra hanya berniat mengecup saja, tapi ternyata naluri kelelakiannya tidak bisa diajak berkerja sama, Aliya benar-benar sudah jadi candu bagi Revandra, hanya sedikit sentuhan saja, gairahnya pada gadis itu langsung timbul,
Revandra mengakui, gadis keci itu memang sangat berbeda dari gadis-gadis yang ia kencani, mungkin saja itu karna baru pertama bagi Revandra melakukannya dengan gadis yang benar-benar polos dan lugu. dan tidak ia pungkiri bahwa dirinya memang licik, menggunakan lepolosan Aliya untuk memuaskanya. Tapi dibalik itu semua, tentu saja Revandra juga tidak ingin lehilangan gadis kecilnya itu.
"Ayah...!" panggil lembut Aliya saat Revandra meremas p*yudarah Aliya.
Bersambung...
******
__ADS_1