Sword Master Level 999

Sword Master Level 999
Chapter 31 : Putri Pedagang Ternama


__ADS_3

Pada malam harinya kami telah dikepung Undead dari segala arah, mereka memiliki tubuh yang membusuk dan berjalan dengan lambat, sementara kami menyibukkan mereka, Noa sang dewi naik ke atas kereta. Dengan mata bersinar dia melebarkan tangannya.


"Fufu sudah kuduga hal seperti ini selalu terjadi, kalian beruntung karena Arch Priest sehebatku pergi bersama kalian."


"Cepatlah lakukan tugasmu, mereka dalam bahaya loh."


"Hah, apa itu sikap seorang yang meminta bantuan terlebih padaku, lagipula kau juga duduk di sana selagi meminum teh."


"Aku hanya sebagai pengawas."


Alice berteriak setelah mendorong musuhnya.


"Aaaah cepatlah Noa, kami dalam kesulitan."


Aku kasihan pada mereka yang harus sekelompok dengan gadis ini.


"Baik, aku mengerti... sekarang kalian semua rasakan kekuatan suciku."


Lingkaran sihir muncul di setiap kepala Undead, dan Noa melanjutkan dengan rapalan singkat.


"Get Home Undead."


Tiba-tiba para undead berhenti lalu menguap lebar sebelum berjalan ke dalam hutan. Semua orang duduk sementara aku merasa ada janggal.


"Mereka mau pergi ke mana?" tanyaku.


"Tentu saja pulang ke rumah, sihirku barusan membuat mereka kangen rumah jadi akhirnya pulang deh."


Dewi ini.


Aku menarik pipinya.


"Awawa."


"Kau gagal sebagai Arch Priest, harusnya kau memurnikan jiwa mereka, kau tahu?"


"Kalau aku lakukan orang-orang yang datang sesudah kita, tidak akan merasakan rasanya dikerumuni Undead, bukannya itu yang namanya sensasi dalam berpetualang," balasnya selagi mengacungkan jempol.


Aku ingin mengubur dewi bodoh ini.


Jika Undead barusan menyerang kereta lain jelas akan berbahaya, kalau petualang level atas mungkin tidak masalah, namun jika mereka pedagang mereka jelas akan mati.


"Melvin kamu mau kemana?" tanya Latisha dan aku melambai padanya.


"Aku akan mengurus undead barusan."


"Kau terlihat tak peduli tapi sejujurnya sangat baik, aku beruntung."

__ADS_1


Abaikan saja perkataannya, dari awal aku memang betugas untuk membersihkan kesalahan dewi ini.


Aku melesat di antara para undead yang berjalan di depanku hingga mereka berjatuhan, aku mengarahkan tanganku dan lingkaran sihir suci muncul serempak.


"Turn Undead."


Bersamaan perkataanku mereka semua berubah jadi bola-bola cahaya dan menghilang. Barusan hanya sihir sederhana tapi syukurlah itu efektif.


Aku kembali menyisir wilayah sedikit lebih jauh dan menjatuhkan beberapa lagi sebelum teriakan orang terdengar jelas, itu berasal dari seorang gadis.


Aku menendang undead tersebut hingga terhempas jauh ke samping.


"Kau tak apa?"


"Terima kasih banyak."


"Nona Claudia," teriak salah satu pria yang terlihat seperti penjaga.


"Aku tak apa."


"Mereka terlalu banyak," kata pria lain dan disusul pria yang lainnya lagi.


"Kalau begini kita tidak bisa melawan mereka."


Aku menebas satu yang mendekat padaku lalu melakukan permurnian.


Aku bisa saja menggunakan sihir api hanya saja aku tidak ingin merusak hutannya, beberapa penjaga sudah terbunuh dan beberapa Undead berusaha hidup kembali.


"Aku akan sangat berterima kasih."


"Kalau begitu lakukan bisnis, dengan 6 koin emas aku akan mengalahkan mereka."


"Itu terlalu banyak."


"Kalian menerobos hutan tanpa menyewa petualang atau tanpa seorang pendeta maka inilah yang kalian dapat."


"Aaaargh kenapa ini terjadi? Barusan hanya sedikit undead-nya tapi malah jadi sebanyak ini."


Aku tahu alasannya tapi tak ingin bilang.


Gadis bernama Claudia merangkul lenganku.


"Tolong bantu kami tuan, aku berjanji akan memberikan uang itu."


Dia tipe gadis imut dengan dada rata, bukan aku membencinya tapi dadanya juga lembut.


Melihat pandanganku dia menyentuhkan kedua tangannya di sana.

__ADS_1


"Aku berharap ini sedikit tumbuh."


"Aku akan mengalahkan mereka."


Dalam waktu singkat aku menjatuhkan mereka lalu mensucikan jiwa mereka tanpa kesulitan


Para penjaga yang masih selamat terduduk di tanah selagi mengatur nafas mereka yang terengah-engah.


Tiga dari mereka sudah mati.


"Kami benar-benar berterima kasih."


"Lupakan soal itu, berikan cepat uangnya haha."


"Entah kenapa tuan seperti penjahat saja, tapi aku suka ini seperti tipe penjahat berbudi seperti dalam novel-novel yang pernah kubaca."


Aku hendak mengambil uangnya namun dia menariknya kembali.


"Aku akan menambahkan dua kali lipat asal tuan mau mengawal kami dalam perjalanan."


"Sayangnya aku juga sedang dalam perjalanan bersama rekanku."


"Kemana?"


"Ibukota."


"Tujuan kita sama bukan, tak masalah kalau pergi bersama... tak hanya semakin ramai bukannya kau akan punya banyak uang."


"Tapi nona Claudia, jumlah sebanyak itu?"


"Tak apa, itu bukan masalah bagi putri tunggal pedagang Asterix sepertiku."


Aku mengulang kata putri tunggal.


"Ah maafkan aku, biar aku perkenalkan."


Dia mengibaskan rambut pirangnya yang berkepang lalu berputar selagi mengangkat klinan ujung gaunnya.


"Namaku Claudia Asterix, aku adalah putri dari keluarga pedagang ternama di kerajaan ini."


Aku sepertinya bertemu dengan seorang yang penting lagi. Aku memeriksa belakang kereta dan menemukan pria gemuk dengan rambut hanya tumbuh di bagian sampingnya saja, serta pakaian pelayan.


"Sepertinya ada satu undead lagi di sini."


"Tolong hentikan, Inyong bukan undead, Inyong pelayan nona Claudia."


"Tapi wajahmu mencurigakan."

__ADS_1


"Nona, selamatkan Inyong."


"Kau ternyata bersembunyi di sana, dia memang penakut tapi dia orang baik."


__ADS_2