
Di dekat kota ini ada sebuah altar dari sebuah reruntuhan yang dikelilingi oleh hutan, aku duduk di atas batu saat kelima orang yang disebut sebagai pahlawan muncul.
Lin turut duduk di bahuku.
"Yo, kalian sudah datang," aku mengatakannya dengan nada seorang penjahat.
Takumi yang lebih awal menimpalinya.
"Sebaiknya kau serahkan gadis ras rubah bulan itu termasuk peri di bahumu juga, kalau tidak salah itu milik pedagang Asterix bukan."
Aku sebelumnya mengirimkan surat untuk mereka datang kemari, tak kusangka mereka bergerak bersama-sama, benar-benar orang yang serakah.
"Jika kalian bisa mengalahkanku aku tidak keberatan, namun hentikan semua tingkah laku konyol kalian dan bertindaklah seperti pahlawan seharusnya jika kalian kalah."
"Jadi benar kau memang pahlawan yang dipanggil dewi juga."
"Tepat sekali, dia sangat kecewa karena kalian melalaikan tugas kalian," balasku pada Zhang Yue.
"Konyol kami bebas melakukan apa yang kami inginkan, itulah aturan yang kami buat."
Aku menghela nafas panjang lalu berkata pada Lin.
"Mode pembunuh iblis."
Dalam sekejap tubuhku terselimuti zirah besi hitam.
"Sudah tidak ada jalan lagi, satu-satunya adalah mengalahkan kalian."
"Memangnya kau bisa mengalahkan kami seorang diri?"
"Kenapa tidak? Majulah."
__ADS_1
Oliviera yang lebih dulu menyadarinya saat aku menarik pedangku dari punggung.
"Tidak mungkin, aku tidak bisa melihat statusnya."
"Dia pasti menggunakan Eyes Cancel pokoknya serang saja, lagipula kita lebih dulu tiba di sini darinya, level kita pasti jauh lebih tinggi," atas pernyataan Takumi mereka kembali percaya diri dan melesat ke arahku.
Skill mereka sangat banyak hingga aku tidak ingin repot-repot tahu apa saja itu.
Pertama mereka menggunakan sihir buff pada diri mereka lalu menggunakan penguatan pada senjata mereka.
Aku menahan pedang mereka lalu melemparkan seluruh serangan secara serempak.
"Dengan kekuatan sebesar ini harusnya kalian tidak kesulitan melawan satu komandan raja iblis."
Bahkan mereka semua menggunakan pedang yang cukup kuat.
Aku menggunakan skill Counter dimana ini mirip dengan skill mirip Selbi yang mana melemparkan mereka ke segala arah. Virginia menyeringai dengan gayanya.
"Aku pikir lebih hebat dari kalian."
Aku mengarahkan tanganku dan lingkaran sihir hitam muncul di sana.
"Hell of Darkness."
Junhyung berdiri di depan Virginia untuk memblokir seranganku, di saat yang sama Takumi telah muncul di belakangku, dia tak segan untuk memenggal kepalaku sayangnya itu tidak pernah menggores baju besinya.
Aku mencekik lehernya saat dia meronta-ronta.
"Sialan," teriaknya frustasi.
Tak lama Zhang Yue muncul di dekatku dia menyentuhkan tangannya di tubuhku dan dalam sekejap tulisan khas sebuah mantra muncul.
__ADS_1
"Rasakan ini bodoh."
Bam.
Tubuhku terlempar oleh sesuatu yang tak terlihat hingga tanganku melepaskan cengkeraman Takumi, sementara diriku terjungkal beberapa kali di tanah. Aku pikir aku akan menabrak pohon akan tetapi Olivier telah muncul di sana menggunakan pedangnya sebagai pemukul bola, dia menghantamnya tepat di punggungku membuatku sekali lagi terlempar ke sisi berbeda menabrak bebatuan hingga meledak dahsyat.
Lin di sebelahku terkapar pingsan yang secara otomatis aku kembali ke penampilan sebelumnya.
"Sakit sekali."
"Kerja bagus Lin, beristirahatlah sebentar."
"Kepalaku berputar.”
Kelima pahlawan yang memandangku tampak menunjukkan senyuman bangga.
"Sekarang kau tidak bisa menggunakan senjata rahasiamu, dengan ini kekalahanmu sudah dipastikan."
Apa yang orang ini katakan? Sudah jelas Lin bukan kartu As-ku.
Mereka masih meremehkanku kurasa.
Aku mengarahkan tanganku dan sekarang lingkaran sihir yang jauh lebih gelap muncul.
"Mungkin kalian pikir aku hanya bisa menggunakan satu sihir khusus, sayang sekali bahwa aku bisa menggunakan semuanya."
Dari atas langit ratusan lingkaran sihir muncul dan masih-masing mengeluarkan ujung pedang raksasa.
"Apa-apaan itu? Apa kau benar-benar Sword Master, jangan bilang?"
"Seperti yang kalian duga, levelku 999."
__ADS_1