
Setelah menyempatkan pergi ke guild pedagang, aku mengunjungi pandai besi di Kota Isbel, beberapa waktu lalu aku telah mampir untuk sebuah permintaan dan kurasa barangnya sudah jadi.
Toko ini dikelola oleh seorang Dwarf terkemuka dan ia sudah puluhan tahun bekerja di sini.
Meskipun dia masih meragukan permintaanku sambil berteriak-teriak.
"Orang seperti apa yang meminta membuat perkakas petani dengan bahan Mithril apa kau gila?"
"Tenangkan dirimu, kau sudah mengatakan itu puluhan kali."
"Aku masih tidak percaya kau tahu, bahan seperti itu sangat langka bagi petualang bahkan mereka berwarna biru tranparan."
Aku mendapatkannya di dalam menara surga, karena menaranya sudah menghilang, tidak ada yang serupa sekarang.
Aku meminta dibuatkan beberapa palu, cangkul, sabit, serta gunting untuk memotong rumput.
Aku puas dengan hasilnya, mereka menjadi peralatan yang setingkat harta nasional.
"Berapa sisa pembayaran yang harus kukeluarkan?"
"Dibandingkan itu, bisakah kau menggantikannya dengan satu permintaanku."
"Aku tidak keberatan, apa itu?"
"Beberapa hari ini aku kedatangan petualang dan mereka meminta peralatan yang bagus, aku bisa membuatnya sayangnya aku kehabisan stok material bisa kau ambilkan bahan-bahannya, materialnya bukan sesuatu yang langka hanya saja menurut kabar pertambangan di dekat sini telah diambil alih oleh Undead."
"Jadi karena itu kau kesusahan."
__ADS_1
"Begitulah, seperti yang kau tahu di sini hanya diisi petualang rendah, jika aku bisa membuatkan mereka senjata bagus paling tidak mereka tidak mudah dibunuh."
"Kalau begitu aku akan mengambil sebanyak yang kau inginkan."
"Aku berterima kasih."
Aku memasukkan semua peralatan tersebut sebelum berjalan menuju pertambangan yang dimaksud, aku menemukan dua gadis di mulut gua yang berniat masuk juga, dari peringkatnya aku pikir mereka sangat baru.
Satu orang berambut merah berekor kuda dengan sarung tinju besi, dan satu lagi wanita dengan pedang berambut pirang panjang bergelombang.
Mereka jelas amatiran.
"Ayo Lena."
"Baik Mira."
"Kalian berdua sangat ceroboh, aku yakin tempat ini adalah tempat yang seharusnya dijauhi petualang baru."
"Berisik, lepaskan aku... kami akan menjelajahi semua lantai," teriak Lena yang mengenakan sarung tinju dan yang pedang berarti Mira.
"Namaku Melvin, aku senior kalian... saat aku melihat orang seperti kalian yang akan mengobarkan nyawa dengan mudah maka sudah kewajibanku untuk memperingatinya."
"Kau mau bersikap seperti senior," ucap Mira.
"Kalian ini gadis bandel, kebetulan aku juga akan menjelajahi tempat ini, jadi kalian ikuti aku sebagai anggota party."
"Dia pria mencurigakan."
__ADS_1
"Aku juga berfikiran sama, paling keperawanan kita akan dicuri nanti."
"Kalian seolah menganggapnya tidak berarti."
Aku menjatuhkan keduanya hingga mereka mendarat selagi mengelus pantat masing-masing.
"Kau kasar sekali."
"Sikap petualang tidak didasari sopan santun mereka bebas bertindak."
Aku pikir mereka akan pergi namun kurasa mereka memilih mengikutiku, di lantai pertama dipenuhi oleh tentara tengkorak yang sangat mudah dikalahkan paling tidak olehku sementara kedua gadis yang bersamaku harus bersusah payah.
"Mereka kuat."
"Benar."
Mereka di kelas petualang yang bisa mengalahkan Slime kurasa.
"Kalian butuh bantuan?" tanyaku.
"Tidak usah, kami bisa mengatasinya."
"Baiklah."
Paling tidak aku akan biarkan mereka melawan satu saja, aku memotong-motong para tengkorak hingga tulang mereka berserakan, aku berfikir mereka akan bangkit namun tidak demikian.
Aku sepertinya tidak perlu menggunakan sihir suci.
__ADS_1
Lena dan Mira melakukan tugas mereka walaupun hanya melawan satu mereka perlu melakukannya 10-20 menit. Itu awalan yang bagus, paling tidak pengalaman akan membuat mereka semakin baik nantinya.