
Noa tersenyum bangga sementara aku tersenyum pahit. Hari ini di pagi hari yang cerah untuk pertama kalinya aku menjalankan rencana yang dimilikinya sejak awal, yaitu membuat kolam suci yang dinamai dengan namanya sendiri, Dewi Noa.
Siapapun yang menggunakan airnya akan segera tersembuhkan dari berbagai penyakit dan bahkan jika mereka kerasukan iblis atau hal lainnya semacam pemurnian dapat dilakukan.
"Dengan begini akan banyak orang-orang datang kemari untuk berdoa padaku dan akhirnya pengikutku akan semakin banyak haha."
Itulah tujuannya namun dia mengatakannya seolah sebagai tokoh penjahatnya.
"Kalau begitu kau bisa meminta Vista membangun kuil dengan patung dirimu di dekat sini."
"Oke, lalu kau mau kemana Melvin?"
"Aku harus mengecek pelabuhan."
Meninggalkan Noa, aku menggunakan teleportasi untuk sampai ke sana, tepat di depanku banyak orang yang sedang melakukan bongkar kapal yang menandakan bahwa bisnis benar-benar berjalan baik di sini.
"Tuan Melvin Anda datang untuk melihat," suara itu tidak asing tidak bukan adalah Claudia.
Untuk pelayannya dia juga sedang membantu mengecek barang di kapal berbeda.
"Bagaimana tentang situasinya?"
"Yap kita punya banyak permintaan, kamu bisa melihatnya di kantor, ada beberapa pedagang juga ingin menemuimu untuk membicarakan tentang buah-buahan yang baru mereka temui namun aku bilang itu rahasia dagang dan kami tidak bisa memberikan benihnya."
__ADS_1
"Itu memang benar, kita akan terus membuat satu-satunya menjadi pemasok untuk mereka."
Di ruangan kantor itu, aku duduk saling berhadapan di sofa selagi meminum teh bersama.
Tidak ada keraguan lagi bahwa penjualan di pelabuhan ini semakin meroket. Aku mengeceknya hal itu secara seksama.
"Beberapa meminta barter, demi reputasi aku melakukannya... tentu barang yang mereka berikan berkualitas baik malah lebih baik."
"Aku tak keberatan, kau mengambil beberapa benih tumbuhan di sini."
"Um... itu tumbuhan yang hanya tumbuh di daerah gurun pasir, dalam gua, lumpur dan tempat tak biasanya namun produk yang dihasilkan terbilang baik."
Pelabuhan kami tidak menjual ikan melainkan hal sepenting buah-buahan, produk desa dan hal lainnya.
"Banyak hal terjadi, tapi kedepannya kita akan semakin sibuk."
"Begitu... aku senang berada di sini, aku merasa hidup."
"Yah aku bisa melihatnya."
"Ngomong-ngomong soal pahlawan mereka hendak menyerang wilayah iblis yang tersisa secara serempak, aku pikir jika mereka berhasil hanya tinggal raja iblis saja yang tersisa."
"Mungkin sebagian besar aku dan partyku yang berjasa mengalahkan pemimpin yang kuat dan mereka hanya mengalahkan sisanya."
__ADS_1
"Kau terlihat tidak senang."
"Kami tidak menerima pengakuan apapun sampai sekarang dan sama sekali tidak menerima hadiah."
"Mau bagaimana lagi kalian melakukannya sembunyi-sembunyi, lain kali bertarunglah di tempat yang mencolok."
"Itu seolah kami harus membawa orang tak berdosa untuk terlibat."
"Benar," balasnya selagi tertawa kecil.
Aku mendesah pelan lalu terpikir sesuatu.
"Jika mereka menyerang serempak dengan kata lain kastil raja iblis kosong bukan."
"Benar."
"Kalau begitu aku bisa mengirim party Alice untuk melakukan penyerangan juga, berapa lama lagi mereka melakukannya?"
"Tiga hari lagi, para pahlawan sudah sepakat menyelesaikan di waktu tersebut."
"Kalau begitu bisa tulis pesan bahwa kastil raja iblis akan diserang juga oleh kelompok Alice."
"Itu bukan masalah, aku bisa merasakan akhir dari invasi iblis ini akan selesai."
__ADS_1
Karena ada aturan yang harus pahlawan sendiri yang membunuh raja iblis maka dari itu aku juga harus ikut. Semuanya akan ditentukan dalam tiga hari.