Sword Master Level 999

Sword Master Level 999
Chapter 65 : Benteng Utara


__ADS_3

Tidak ada tempat persembunyian di tempat ini karena itu aku sudah yakin bahwa Carol dibawa ke benteng Utara, benteng itu telah diambil oleh ras iblis jadi di sanalah satu-satunya tempat yang bisa mereka tempati.


Aku berbaring di rumput saat kaki Noa menginjak wajahku, dia memang melepaskan alasnya tapi ini tetap tidak sopan.


"Sampai kapan kau tidur?"


Aku memang bisa melihat ke dalam roknya namun ada cahaya suci yang menghalangi hingga tidak terlihat apapun, bagaimanapun di sana adalah wilayah absolute dari seorang dewi.


"Fufu seberapa kau berusaha, kau tidak akan bisa melihat cawatku."


"Paling tidak bisakah kau menarik kakimu."


"Aku baru saja menginjak kotoran ayam."


"Sialan, akan kulempar kau ke dalam kuburan."


"Siapa takut brengsek."


Sementara aku dan Noa saling bergulat, semua orang sedang asyik duduk bersantai dengan roti lapis di tangannya.


"Kalian berdua berhentilah bertengkar, rotinya akan kami habiskan loh."


Aku dan Noa tersenyum masam sebelum duduk melingkar bersama mereka, di depan sana adalah benteng dan kami menunggu malam hari untuk menerobos maju.


Noa berkata dengan ekpresi dibuat-buat.


"Bagaimana kalau Carol dilecehkan, dia akan berteriak kesakitan dan tak hentinya ditiduri."


"Iblis tidak sejahat dirimu."


"Apa?"


Terhadap aku yang mengejeknya, Noa mencekik leherku.


"Aku pikir Carol akan baik-baik saja, saat dia ditangkap mereka bilang tubuhnya cocok digunakan."


"Tubuhnya? Apa maksudnya?" aku berhasil melepaskan Noa lalu bertanya demikian pada Alice.

__ADS_1


"Entahlah, semuanya begitu tidak jelas."


Kami hanya akan tahu jika pergi ke sana. Setelah matahari tenggelam, kami mulai bergerak.


Walau para penjaga masih vit kami hanya menjadikan malam sebagai kamuflase saja.


"Lin tolong awasi dari atas."


"Siap 86."


Dia terbang ke langit dan kembali beberapa saat berikutnya.


"Ada sekitar 20 orang berada di atas, 5 orang di perkarangan dan orang yang suka mondar-mandir satu orang."


"Apa yang dilakukan orang mondar-mandir itu?" tanya Latisha.


"Aku pikir dia pengawas benteng," kataku demikian.


"Bukan, dia hanya bolak-balik kamar mandi."


"Sepertinya begitu," aku tidak ingin ribet menjelaskannya.


Aku mengeluarkan tali dengan ujung pengait yang kulempar ke atas. Aku selalu ingin mencoba hal ini.


Latisha bergerak lebih dulu, disusul Selbi dan Alice.


Aku setelahnya, memanjat selagi menggendong Noa di belakangku.


"Kau pahlawanku Melvin."


"Kau?"


Kami telah sampai di atas, kami membagi diri menjadi dua grup yang mana aku pergi bersama Noa dan sisanya pergi bersama, untuk Lin dia mengawasi dari atas.


Mari awasi Noa agar tidak mengacau.


Sementara mereka turun kami menjelajah bagian atas.

__ADS_1


Kami membungkuk di koridor markas musuh.


"Melvin lihat."


"Apa Carol?"


"Bukan, ada makanan enak tanpa penjagaan, mari gasak semuanya."


Dewi ini masih sempat-sempatnya mikirin perut.


Jika kami diketahui penjaga, nanti mereka akan bilang, Omae wa mou shindeiru. Meski mereka bukan ancaman bagiku tetap saja sebagai protagonis baik hati aku harus sedikit memberi kesempatan pada mereka untuk beraksi.


Aku mengkarate kepalanya.


"Bagaimana jika makanannya tidak enak?Makanan iblis mungkin dibuat dari daging busuk dan buah busuk."


"Benar juga, aroma mereka juga busuk mungkin karena itu."


"Siapa yang kalian bilang busuk?"


Kami tersadar oleh sebuah suara, di mana di belakang kami satu batalion ras iblis telah memegang senjata selagi tersenyum penuh arti.


Noa membusungkan dadanya.


"Fufu apa boleh buat, Melvin bunuh mereka.. Melvin? Sialan kau, kalau mau lari bilang-bilang napa"


Aku sudah lari lebih dulu soalnya.


"Whoaaa!!"


Noa berlari dengan jurus seribu langkah hingga bisa menyalipku seperti pengendara motor GP.


"Kejar mereka."


Dengan ini kami bisa mengalihkan perhatian mereka semua.


Sisanya kuserahkan pada kalian meskipun ini bukan rencana awalnya sih.

__ADS_1


__ADS_2